
Liza benar-benar lelah. Rasanya ia mau tidur dan istirahat hingga sore nanti saat acara LIVE streaming-nya tiba. Liza berjalan dengan terlunta-lunta ke arah kamarnya.
"Ugh ... kenapa gue merasa pusing, ya?" keluhnya sambil mengeluarkan kartu kamarnya.
Ia tadi jalan sendiri ke kamarnya dan meminta Justin meninggalkannya karena ia ingin beristirahat.
"Liza ..." Tiba-tiba ada seorang lelaki yang memanggil namanya. Liza menoleh, mencari siapa pemilik suara itu. Ia memicingkan matanya begitu melihat sosok lelaki dengan masker dan topi yang menutupi matanya.
"Lu ... Lu siapa?" tanya Liza.
Lelaki itu bukannya menjawab malah mengambil kartu hotel kamar Liza.
"Kita bicara di dalam saja," ujar orang itu.
"What--" Orang itu langsung menunjukan matanya pada Liza.
"Eb--"
"Ayo, kita masuk!" pinta lelaki itu yang sebenarnya adalah Ghibran.
"Awas, ya, jangan bikin scandal ..." Tiba-tiba Liza teringat kata-kata Mince. Ia lalu menatap mata Ghibran yang sedang memandangnya penuh harap.
"Kita ketemu di acara pernikahan Ryu saja ..." Liza mendorong Ghibran agar menjauh darinya.
"Gue mau istirahat," lanjutnya lalu membuka pintu kamarnya dan masuk begitu saja.
"What? Di-dia mengusirku?" gumam Ghibran tak menyangka. Rencananya yang ingin berpuas-puas melampiaskan rasa rindunya gagal.
***
Ghibran berjalan sendirian di pinggir pantai untuk menghilangkan rasa rindunya yang sudah gagal ia lampiaskan. Ia berjalan mendekati bibir pantai hanya untuk sekedar merasakan air laut yang menyapu pantai.
"Ugh ... dingin--"
Ting!
Tiba-tiba ada pesan masuk di ponselnya. Ghibran buru-buru membuka pesan itu.
My Liza♥️: Ebeeen ... huhuhuhuhu, I'm so sorry ...
Sebuah pesan singkat dari seorang Liza mampu membuat kedua sudut bibirnya terangkat. Gadisnya masih sama rupanya, sekalipun mereka sedang berada di dalam hubungan tanpa status.
Ghibran pun membalas pesan manis dari pujaan hatinya itu.
Ghibran : Kenapa kamu minta maaf? Harusnya aku yang minta maaf karena teralu egois merindukanmu.
__ADS_1
My Liza ♥️ : Liza yang sudah egois karena marah pada Eben ... Merindukan Liza bukan kesalahan ...
Ghibran mengernyitkan dahi.
"Marah? Kenapa dia marah padaku?" gumamnya heran.
SPLASH!
Tiba-tiba air ombak membenturkan dirinya pada kaki Ghibran begitu keras, hingga Ghibran hampir kehilangan keseimbangan.
"Waa!!" teriaknya yang hampir melepaskan ponselnya. Ia langsung menghela napas lega ketika berhasil tidak menjatuhkan ponselnya ke dalam air laut.
Ia lalu tiduran begitu saja di pasir pantai sambil menatap layar ponselnya.
Ghibran : Kamu marah padaku, Beib? Marah kenapa?
Jantung Ghibran berdebar-debar sembari menantikan jawaban dari Sang Pujaan Hati. Pasalnya ia tidak suka jika harus membuat seorang Liza marah padanya.
My Liza ♥️: Sorry to say, kamu bicarakan Ryu di saat pesan pertamamu setelah satu bulan gak ketemu. Aku kesal!!! Kenapa semua orang membicarakannya?? Tidak bisa, kah kamu menanyakan kabarku aja???
Ghibran menaikkan alisnya sebelah saat membaca pesan itu. Tiba-tiba ia jadi teringat Queen, Rival Liza untuk memperebutkan Ryu. Bukankah harusnya ia sedang patah hati? Ia tidak seperti Liza yang move on padanya.
Ghibran lalu mengirim sebuah pesan suara.
"Maaf, kan aku Liza ... Tentu aku sangat merindukanmu. Aku penasaran dengan keadaanmu, aku ingin menanyakan kabarmu, aku bahkan ingin mencium bibirmu ... ah, kenapa aku bilang--" belum sempat ia menghapus pesan suara itu, pesan suara itu sudah keburu terkirim dan sudah langsung diterima dan didengarkan oleh Liza.
My Liza ♥️: Dasar mesum!
Perasaan Ghibran langsung pundung saat mendapati pesan seperti itu dari Liza. Ghibran langsung melempar ponselnya agak jauh dari dirinya dan bibir pantai.
Ia langsung mengacak-acak rambutnya.
"Arrghh!!! Dasar bodoh kau Ghibran!!! Kenapa malah menyebabkan hal seperti itu???!!!" geramnya pada dirinya sendiri.
SPLASH!!
Tiba-tiba kakinya dibenturkan lagi oleh ombak. Ghibran langsung terduduk dan menendang-nendang ombak-ombak kecil yang menyentuh kakinya.
"Ugh, aku benar-benar iri padamu ombak, kamu bebas mencium bibir pantai sesuka hatimu!" katanya malah ngelantur.
Ting!
Ada pesan masuk lagi. Ghibran langsung mencari keberadaan ponselnya. Ia langsung mengambilnya dan membaca notifikasi pesannya. Matanya langsung membelalak ketika membaca pesan dari pujaan hatinya. Wajahnya langsung memerah.
My Liza ♥️: Tapi, aku suka ...
__ADS_1
My Liza ♥️ : Sial!!! Aku teralu suka padamu!!!
"Arrrghhh!!!!!!" teriak Ghibran teralu bahagia. Rasanya seperti baru saja ditembak oleh seorang Liza. Jantungnya berdebar-debar sama kencangnya saat ia dan Liza saling menyatakan perasaan untuk pertama kali.
"AKU MENCINTAIMU!!!!" teriak Ghibran, ia langsung mengirim pesan suara.
"AKU MENCINTAIMU LIZAAAA!!!" teriak Ghibran. Orang-orang di sekitarnya langsung memandangnya sambil senyum-senyum.
"Muaach!" Ghibran bahkan mencium ponselnya. Ia langsung mengirim sticker cium pada pujaan hatinya itu.
Tiba-tiba Liza juga mengirim pesan suara. Ghibran langsung buru-buru mendengarkannya dengan volume paling kencang.
"AKU LEBIH MENCINTAIMU EBEEEN!!!" Begitulah isi pesan suara Liza yang membuat Ghibran menghempaskan tubuh begitu saja ke pasir pantai.
"Ah, mendengar ungkapanmu saja aku bisa mati ..." katanya yang lelah merasakan debaran jantung ini.
"Kak Ghibran bisa mati kenapa?" Tiba-tiba Ghibran mendengar suara seorang wanita yang tak asing baginya. Ia langsung celingak-celinguk mencari asal suara lalu segera terduduk begitu menemukan sosok Queen yang berdiri tak jauh darinya.
"Qu-Queen???!" ujarnya tak percaya.
"Halo Ghibran, long time no see," sapa Queen sambil tersenyum. Meskipun tersenyum, Ghibran bisa melihat mata Queen yang sembab.
"Ah ... apa Queen mempertahankan perasaanya sampai akhir?" batin Ghibran dalam hati.
Tiba-tiba dari belakang Queen muncul seorang gadis yang terasa asing bagi Ghibran.
"Oh ... jadi ini Ebennya kak Liza," ujar gadis itu dengan senyum manisnya. Ghibran mengernyitkan dahi. Sekalipun sosok gadis itu terasa asing, tetapi mata gadis itu terasa familiar.
"Ka-kamu siapa? Kenapa begitu mirip Liza?" tanya Ghibran.
"Perry, Shapira Aliana Roux. Adik sepulu Eliza Sendho Azzam," ujar Perry memperkenalkan diri.
Ghibran hanya menganggukkan kepalanya tanpa menjabat tangan Perry. Ia lalu langsung memandang Queen yang sedang tersenyum. Queen lalu duduk di sampingnya, begitu juga Perry yang ikutan duduk di samping Queen.
"Udah lama gak ketemu, Kak Ghibran udah gak teralu culun lagi gayanya," ucap Queen memulai percakapan.
"Dasar!" celetuk Ghibran malu sendiri sambil menggaruk-garuk tengkuknya.
"Apa ..." ujar Queen menghentikan kalimatnya, membuat Ghibran kembali menolehkan kepalanya pada Queen.
"Apa yang mau kamu katakan, Queen?" tanya Ghibran. Sesungguhnya terbesit rasa penasaran di hati Ghibran perihal keadaan Queen sekarang, apalagi ia juga sangat tahu sebesar apa cinta Queen untuk Ryu, tetapi sepertinya ada benteng yang menghalanginya untuk menanyakan itu.
Queen berusaha memberikan senyumnya pada Ghibran.
"Apa ... Apa Kak Ghibran ke sini karena mendapat undangan juga?" Air mata Queen langsung menetes begitu melontarkan pertanyaan itu.
__ADS_1
"Queen ..." lirih Ghibran.