I Love You Queen

I Love You Queen
S2 : Hukuman Tak Berujung


__ADS_3

Suasana seketika tegang. Queen seolah membeku mendengar perkataan Jonas. Bukan hanya bunyi kalimatnya saja, tetapi nada bicara Jonas seolah berubah lebih dingin.


"Bu-bukan begitu, Jonas ..." ucap Queen.


Tiba-tiba tangan Jonas menggenggam tangan Queen yang ia letakkan di atas meja. Pria itu menatap wajah Queen yang menunduk lekat-lekat.


"Apa kau tidak bisa setidaknya menjadikanku obat hatimu?" tutur Jonas penuh harap.


"Apakah tidak bisa kau membuka hatimu, hm?" mohon Jonas lagi.


Queen mengernyitkan dahi sembari memandangi tangannya yang digenggam oleh Jonas. Ia lalu menarik tangannya, membuat Jonas tertegun.


"Tidak bisa Jonas! Jika memang bisa, maka bukan kamu orangnya!" tegas Queen kali ini menunjukkan sorot matanya yang tajam.


Jonas diam-diam menggertakkan giginya.


"Mungkin terdengar kejam. Tapi aku mau jujur padamu, aku sengaja mengadakan kencan ini untuk mengatakan bahwa kau tidak perlu repot-repot menyimpan hati untukku lagi. Bebaskan dirimu dan temukan wanita yang juga mencintaimu!" pungkas Queen lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Kau mau kemana, Queen?" tanya Jonas seolah tak rela dirinya ditinggalkan.


"Urusan kita sudah selesai. Sampai jumpa, Jonas," pamit Queen lalu pergi begitu saja meninggalkan Jonas yang masih terbengong sendirian.


Selepas Queen pergi, Jonas mengepalkan tangannya kuat-kuat.


"Jadi ini balasanmu, Queen?" tukasnya sambil mengusap perutnya. Akibat dari kecelakaannya waktu itu ususnya harus dipotong karena jaringannya sudah mati.


"Jika kau tidak mau membalasku, maka aku akan memaksamu membalasnya!" tekad Jonas.


***


Queen duduk di taksi sambil menyenderkan punggungnya. Tadi napasnya sempat tercekat karena nada bicara seorang Jonas. Ia sadar, Jonas yang ia temui bukan lagi Jonas yang dulu. Ia merasa bahwa ada sebuah tekad yang kuat, tetapi memikirkannya saja membuatnya merinding.


"Kenapa perasaanku tidak enak—" Tiba-tiba ada panggilan masuk di ponselnya. Nama yang tertera di layar ponselnya seolah membuat hatinya terasa lega. Ia segera menerima panggilan tersebut.


Queen : "Awan!!!" seru Queen lega.


Awan : "Ada apa, Queen? Mengapa kau terdengar heboh begini? Kau lancar kencannya?" tanya Awan di sebrang sana.


Queen : "Iya! Sangat lancar!" Suara Queen agak bergetar, di saat yang bersamaan ia juga merasakan detak jantungnya yang berdebar-debar. Ia merasakan sebuah energi lebih muncul dari dalam dirinya ketika mendengar suara seorang Awan.

__ADS_1


Awan : "Lalu, kenapa suaramu bergetar, hm? Apakah dia sempat menyakitimu?" tanya Awan lembut di sebrang sana. Hati Queen semakin tentram mendengar suara lembut seorang Awan.


Queen : "Tidak. Dia hanya kecewa. Tapi semua orang jika diperlakukan seperti itu pasti kecewa," tukas Queen yang nada bicaranya sudah kembali seperti semula.


Awan : "Oh ... Kukira ada apa. Aku khawatir sampai tidak bisa menunggu hingga pemotretan selesai ..." kekeh Awan.


Queen : "Kau masih ada pemotretan?" tanya Queen.


Awan : "Ya, sekarang sedang menunggu para gadis ganti baju. Baru lanjut lagi," jawab Awan.


Queen : "Ooh ... Lalu, kapan kau selesai, Awan?" Sebenarnya Queen berharap bisa mengunjungi Awan hari ini


Awan : "Entahlah ... Masih ada talk show setelah ini. Jadwalku padat hingga malam," jawab Awan yang terdengar agak kecewa juga.


Queen : "Kau pulang ke mana?" tanya Queen lagi.


Awan : "Hah?" Awan berusaha menebak perkataan selanjutnya.


Awan : "A-aku ke asrama. Besok masih ada jadwal nyanyi on-air, jadi—"


Queen : "Boleh, kan aku ke sana?" Awan tertegun mendengar pertanyaan Queen. Ia merasa seolah ada panah cinta yang menusuk jantungnya.


Awan : "Uhm ... ah, Qu-Queen ... I-itu ..."


Awan : "Uhm, biar aku saja yang mengunjungimu," ucap Awan buru-buru. Bukannya tidak boleh, Awan tidak mau Queen harus repot-repot ke asramanya di perusahaan entertainment.


Queen : "Kapan?" Tiba-tiba nada bicara Queen jadi manja, Awan merasa seolah ada percikan kecil dalam dadanya.


Awan : "Queen ... Uhm, nanti aku kabari lagi. Para gadis sudah selesai. Uhm, Bye!" Awan menutup panggilannya secara sepihak begitu saja. Queen bahkan sempat terhenyak. Ia lalu memandangi layar ponselnya seraya berpikir.


Dulu ketika Awan, Liza dan Sera menyatakan ingin berjuang menjadi idol, Queen sangat mendukungnya. Ia merasa sebagai sahabat harus terus mendukung mimpi ketiga sahabatnya. Namun ketika ketiga sahabatnya itu telah mencapai mimpi mereka, rasanya Queen jadi sendirian.


Apalagi ketika ia tidak begitu bebas menghubungi seorang Awan karena kesibukan pria itu. Ia juga tidak bisa sebebas dulu menemuinya karena banyak fans atau paparazi yang mungkin saja mengejarnya.


Queen lalu menyenderkan punggungnya di sandaran jok mobil. Sepertinya hari ini begitu melelahkan. Melelahkan karena harus dilalui sendirian dan dengan perasaan kesepian.


Queen memandang keluar jendela.


"Apakah ini nasibku karena baru saja menyakiti hati seorang pria?" gumamnya.

__ADS_1


Tangan Queen merembet ke dadanya.


"Padahal luka di hatiku belum sepenuhnya sembuh, aku belum mampu membuka hatiku, kini hatiku sudah dilanda kesepian ..." gumamnya lagi.


Kemudian tiba-tiba muncul rintik-rintik hujan yang membasahi kaca jendela taksi. Queen yang kaget segera menegakkan tubuhnya. Lama kelamaan rintik hujan itu semakin deras.


"Wah ... Saya tidak menduga kalau hari ini hujan," tukas Sopir Taksi.


"Iya, padahal ramalan cuaca hari ini cerah," timpal Queen, ia kaku menggigit bibirnya.


"Apakah hujan ini sengaja diturunkan untuk mewakilkan kesedihan yang kurasakan?" batin Queen. Ia hanya menghela napas lalu kembali menyenderkan punggungnya di sandaran jok mobil menikmati pemandangan hujan deras dan suhu dingin yang ditimbulkan.


***


Tubuh Queen akhirnya basah kuyup karena hujan deras tak kunjung berhenti ketika ia sampai di rumah. Terlebih, ia lupa membawa payung, meskipun percuma, patungnya akan terbalik karena angin hujan juga begitu kencang.


"Queen?" Sebuah suara yang tak asing tiba-tiba menyebut namanya. Queen yang merasa hari ini sangat buruk sontak mengangkat kepalanya. Matanya membulat ketika mendapati sosok di hadapannya.


"Kakak Amanda?!" seru Queen gembira.


Amanda segera pergi ke belakang dan mengambil handuk lalu membalutkannya pada tubuh Queen.


"Kau kenapa bisa basah kuyup begini, Sayang ... Ya ampun,." Terlukis raut khawatir di wajah Amanda, seolah sedang mengkhawatirkan adik kandungnya sendiri.


Queen yang terharu malah terisak.


"Kakak Amanda ... Kenapa kakak bisa ada di sini?" tanya Queen yang sebenarnya terharu.


Amanda yang sadar bahwa calon adik iparnya ini sedang rapuh mengusap pipinya yang mulai dibasahi dengan bulir air mata.


"Tentu saja melakukan persiapan," tukas Amanda lembut seraya memberikan senyuman hangat pada Queen.


"Persiapan? Eh?!" Kesedihan Queen seolah sirna. Ia benar-benar lupa kalau sebentar lagi, wanita di hadapannya ini akan jadi kakak iparnya!


***


Ada yang penasaran dengan kisah cinta Pangeran dan Amanda?


Cus Next Bab Aja!

__ADS_1


Jan lupa Favorit, like, vote dan tebar hadiahnya ya.


Happy reading guys!


__ADS_2