I Love You Queen

I Love You Queen
S2 : Berusaha Masuk


__ADS_3

Jonas kembali ke ruangannya. Ternyata Queen sangat kuat. Ia melupakan bahwa Saat SMA hanya Queen yang mampu menumbangkan seorang Galang—Sang Preman Sekolah, hebatnya Queen sama sekali tidak kehilangan kekuatannya, padahal mungkin saja wanita itu tidak berlatih. Jonas benar-benar kesulitan mengangani rasa sakit di antara selangkangannya. Pria itu pun duduk di kursinya.


Tiba-tiba pagernya berbunyi, tanda sesuatu yang tidak diharapkan terjadi. Jonas sambil menahan rasa sakit menerima panggilan tersebut.


"Katakan!" perintah Jonas.


"Ada orang aneh, Tuan ... Mereka sepertinya bukan bagian dari kita dan ... Waw!" Anak.buahnya malah terpukau dengan apa yang ia lihat di seberang sana.


"Apa? Apa yang kamu lihat? Kenapa lebih terdengar gembira?" penasaran Jonas.


"Cloudy! Saya fans beratnya, Bos!" seru Anak buahnya girang.


"Cloudy? Cloudy dari CLD?" tebak Jonas, tentu dia juga fans-nya.


"Ya ampun, besok mereka konser!" ujar Jonas, Ia sudah membeli tiketnya. Namun, Pria itu segera menyadari percakapan aneh mereka.


"Hey, fokus! Jangan ngelantur! Cloudy mana mungkin ada di sini! Kamu pasti salah lihat!" omel Jonas.


"Benar, Bos ... Eh, hilang. Mereka hilang!" seru anak buahnya lagi.


Jonas pun menghela napas kasar. Ia bisa menebak, bahwa anak buahnya ini hanya berhalusinasi melihat Cloudy dari CLD, tetapi tentang orang mencurigakan itu pasti bukan halusinasi.


"Sudah, kabari yang lain dan tetap waspada. Jangan sampai ada orang yang mengetahui tempat ini!" perintah Jonas.


"Siap, Bos!" Tepat saat itu sambungan berakhir. Jonas meletakkan pagernya dengan sorot mata yang tajam.


"Aku harus berhasil memuaskan diri malam ini, aku tidak ingin ketinggalan konser CLD besok malam!" tekad Jonas.

__ADS_1


***


Awan kaget saat sampai lokasi, ini adalah sebuah perumahan elit, banyak bangunan mewah di sekitarnya. Kenapa GPS ponsel Queen bisa menunjukkan lokasi ini. Apa yang Queen lakukan di sini? Hingga mereka sampai di sebuah rumah besar dengan pagar yang sangat tertutup sehingga tak bisa melihat bentuk rumahnya. Awan pun melirik ke arah Iskandar yang sedari tadi bersamanya.


"Bagaimana masuk ke dalam sini, Pa?" tanya Awan.


Iskandar berpikir, pasti rumah ini dijaga demgan sangat ketat, mereka setidaknya harus masuk secara resmi, tetapi bagaimana caranya? Ini sudah malam. Iskandar sama sekali tidak bisa memikirkan sebuah skenario.


"Papa sama sekali tidak bisa memikirkan skenario apapun ..." ujar Iskandar, di dalam pikirannya sekarang terus saja berputar berbagai spekulasi yang terjadi pada putrinya. Dirinya tahu harus segera masuk, tetapi tiba-tiba saja pikirannya blank.


"Apa kita panjat saja, Pa? Tapi, terlihat mencolok tidak?" tanya Awan sambil memandang pagar setinggi 5 meter itu.


"Mungkin kita bisa masuk, tetapi belum tentu bisa keluar," ujar Iskandar.


Awan terkesiap, kini pikirannya galau, jika tidak bisa keluar, mungkin ia akan me gecewakan jutaan fans yang telah membeli tiket konser terakhirnya sebelum vakum.


Iskandar langsung tahu maksud ucapan Awan. Pria itu pun mengangguk dan mulai mengetikkan sesuatu di ponselnya.


"Semoga dia sedang tidak berada dalam tugas," ujar Iskandar.


"Pa, kalau begitu, ayo kita masuk, semoga nanti kita bisa kekuar dengan bantuan kenalan Papa," ujar Awan. Iskandar pun mengangguk. Ia bersyukur tidak pergi sendirian.


Mereka berdua pun memanjat, tentu Awan dan Iskandar mampu memanjat pagar tinggi itu dengan mudah karena mereka selalu berlatih ketangkasan secara rutin tiap bulan. Sayang, keduanya tidak sadar bahwa mereka telah terpantau oleh seseorang.


Awan dan Iskandar mendarat dengan mulus. Mereka kini berada di dalam dan mendapati halaman luas nan sepi. Awan dan Iskandar masih heran, kenapa GPS Queen mengarah ke sini. Tempat apa sebenarnya ini?


Namun, daripada memikirkan itu, mereka berdua segera mengendap-endap masuk memgikuti arah GPS, semoga ini bukan tipuan.

__ADS_1


"Siapa kalian!" gertak seseorang ketika Iskandar dan Awan hendak memasuki bangunan di balik pagar tinggi tersebut. Lamgkah mereka pun terhenti dan berbalik. Ternyata mereka sudah diaambut oleh belasan orang bersetelan hitam. Awan pum melirik Iskandar.


"Pa, Papa masih mampu melawan sepuluh orang sekaligus?" tanya Awan.


Iskandar pun tersenyum sambil menggulung lengan bajunya.


"Jangankan sepuluh, dua kali lipatnya, juga masih bisa!" ujar Iskandar. Kini darahnya seolah mendidih melihat orang-orang yang hendak menyerangnya. Entah sudah berapa lama ia tidak merasakan sensasi ini.


"Oke, Pa, Awan akan lawan sisanya!" seru Awan.


"Tidak perlu, cari saja pintu masuk, dan cari Queen, setelah selesai di sini, Papa akan ke dalam!" ujar Iskandar.


"Papa yakin?" tanya Awan.


"Dua ribu persen sangat yakin!" seru Iskandar. Mereka pun bertukar ponsel.


"Segera pergi dan selamatkan Queen!" titah Iskandar. Awan pun menggenggam erat ponsel Iskandar dan mengangguk percaya diri.


"Kalian kira kami akan membiarkan kaliam lolos?" Tepat setelah itu puluhan orang itu mulai menyerbu, sementara Awan segera lari dari sana. Pasti ada jalan masuk, kalau pun harus menghancurkan, maka Awan akan menghancurkan apapun yang ada di depannya. Ini semua demi keselamatan Queen.


Awan berlari mencari pintu atau jendela yang visa dimasuki. Rumah ini sangat besar dan mewah, puluhan orang tadi pasti berasal dari dalam. Namun, mereka lewat mana?


"Baik, Bos ... Sudah kami tangani ..." Tiba-tiba Awan mendengar sebuah suara, ia pun mengendap-endap dan memerhatikan sosok yang sedang bicara dengan pagernya. Awan bisa melihat ada kartu akses bertengger di leher Pria itu. Ia pun punya rencana.


***


Jangan lupa like, favorite dan komen yaa

__ADS_1


__ADS_2