I Love You Queen

I Love You Queen
S2 : Mengkhawatirkan


__ADS_3

Di sela gladi resik, Liza selalu menyempatkan dirinya untuk melihat ruang obrolannya dengan Queen. Sayang, sama sekali tak ada balasan daru sahabatnya itu. Liza pun jadi geram.


"Masih belum dibalas?" tanya Awan yang hendak mengelap keringatnya dengan habduk kecil. Liza menggeleng.


"Ada apa dengannya? Mungkin kah dia ngambek?" tebak Liza.


"Entah lah ... Pesanku juga gak dijawab. Dia sepertinya memlokir semua nomor," kekeh Awan.


Liza melirik Awan yang tertawa getir.


"Kamu yakin baik-baik saja?" tegur Liza.


Awan pun menoleh.


"Tentu, aku baik-baik saja. Memangnya kenapa?"


"Biasanya, kalau Queen kenapa-napa, kamu yang paling kelimpungan. Paling heboh. Tapi ini ..." Liza memicingkan matanya seakan curiga pada Awan. Bisa jadi, ternyata Qyeen sedang bersembunyi di rumah awan.


"Apapun yang kamu pikirkan, bukan begiti kenyataannya. Aku juga khawatir, tetapi aku berudaha mengendalikan emosiku agar konser terakhir sebelum amsa vakum kita berjalan dengan lancar," ucap Awan.


Liza mengambil sebuah bitol air mineral dan membuka segelnya.


"Oh, ya? Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Liza sambil menenggak sebotol air mineral.


"Aku akan menyatakan perasaanku pada Queen—"


Sontak Liza menyembur air dalam mulutnya ke wajah Awan.


"Apa? Menyatakan perasaan apa?" kaget Liza. Ia baru dengar yang seperti ini.

__ADS_1


Awan mengelap wajahnya dengan telapak tangan.


"Memangnya kamu belum aku beritahu, ya?" Awan agak lupa, siapa saja orang yang mengetahui perasaannya pada Wanita berambut gelombang itu.


Liza mendelik kesal.


"Kebiasaan, deh kalian! Semuanya punya rahasia masing-masing! Sebenarnya kalian nganggep aku apa, sih?" kesal Liza. Dari hubungan Sera dan Yanuar, Hilangnya Queen juga perasaan Awan. Mereka semua merahasiakan itu semua dan terbebani sendiri. Meskioun Liza sibuk, ia bukan tipe orang yang akan mengabaikan sahabatnya jika ada masalah. Setidaknya bicara.


"Hey, Liza ... Jangan marah ..." bujuk Awan sambil mencubit pipi gembulnya.


"Yang penting, sekarang kamu 'kan sudah tahu ..." Pria itu malah cekikan sendiri.


"Heh, aku ini sedang marah!" tekan Liza sambil melipat kedua tangannya.


Awan pun merangkul Liza.


"Iya, aku tahu, maaf, ya Liza-ku yang cantik ..." bujuk Awan lagi sambil menyandarkan kepalanya di bahu Liza. Wanita yang tadinya memonyongkan bibirnya itu tak kuasa menaikkan kedua sudut bibirnya ketika Awan bertingkah manja begini.


"Aku akan menghubungi Papa Iska untuk tahu keadaanya. Queen tidak mungkin kabur dari rumah juga 'kan?" kata Awan.


Liza malah cengengesan.


"Yah, dia tidak mungkin bisa melewati benteng pertahanan Papa Iska, haha," tawa Liza.


"Sudah, kita fokus dulu untuk acara besok. Sekarang, kasih aku senyum manis Liza!" pinta Awan. Liza pun melebarkan senyumnya.


"Nah, gitu baru cantik, Ayo!" Awan mengajak Liza kembali bergabung dengan tim.


***

__ADS_1


Queen melihat jam tangannya. Ia mungkin akan pulang sangat larut akibat kemacetan jalan. Namun yang penting ia sudah mengabari kedua orang tuanya. Kini Queen duduk dengan manis di dalam mobil Jonas.


Namun mungkin karena bosan, mata wanita itu terasa sangat berat. Hari juga cukup larut, Queen yang terbiasa dengan jam tidur yang selalu sama, tak kuasa menahan kantuk. Apalagi hari ini cukup melelahkan karena ia mengunjungi beberapa spot yang bagus rekomendasi Jonas.


"Jonas ..." panggil Queen dengan suara yang berat. Kepalanya sekaramg merasa pusing karena menahan kantuk. Jonas yang fokus pada jalanan hanya menimpali dengan deheman.


"Jika sudah sampai rumah, bangunin, ya ... Aku ngantuk banget," ujar Queen.


Sontak sudut bibir Jonas terangkat sedikit.


"Baik lah Queen. Kamu pasti juga sangat lelah," ujar Jonas.


"Kamu juga, kalau capek, minggir aja dulu," ujar Queen memberi saran. Ia sangat paham bahwa menyetir di kemacetan padat merayap begini sangat melelahkan.


"Nanti aku gantikan," lanjut Queen lagi.


"Ahaha, tenang saja. Aku kuat, kok. Kamu tidur saja, Queen," ujar Jonas lagi.


Queen mengangguk sambil tersenyum.


"Baik, maaf, ya, tidak bisa menemanimu," sesal Queen sambil memejamkan matanya.


"Ya, tidak apa-apa," timpal Jonas sambil diam-diam tersenyum.


"Ya, kamu memang tidak akan menemaniku di kemacetan ini, tetapi kamu akan menemaniku sepanjang malam ..." batin Jonas sambil menjilat bibirnya.


"Ternyata bubuk minuman itu cukup manjur," gumamnya lagi. Pasti usahanya kali ini akan membuahkan hasil yang besar.


***

__ADS_1


Menurut kalian, apa yang akan terjadi pada Queen?


jangan lupa komen, like dan favorit ya


__ADS_2