I Love You Queen

I Love You Queen
Bagian 70


__ADS_3

Queen dan Liza berlari ke IGD, Sera juga mengikutinya di belakang. Perasaan Queen kini campur aduk, ia sangat tahu Ryu menyakitinya kemarin, tetapi ia tidak bisa memungkiri kalau sekarang ia sangat mengkhawatirkannya.


SREK !


Queen membuka tirai pemisah di tempat tidur yang kata Sera adalah tempat tidur Ryu. Di sana mereka menemukan Gibran dengan keadaan babak belur juga, tetapi sudah diobati sedang berbincang-bincang dengan Ryu yang tangannya diberi gips.


"Eben !!!" seru Liza langsung menghampiri Gibran, Gibran sampai kaget dibuatnya.


"Eben kemana aja ??? Liza telepon Eben tahu !! Duuh ..., kenapa Eben bisa kayak gini ?" tangis Liza melihat keadaan Gibran yang babak belur.


"Liza mengkhawatirkan aku ?" batin Gibran sambil diam-diam tersenyum.


"Aku baik-baik saja, Liza." jawab Gibran sambil tersenyum dan membelai kepala Liza lembut, berusaha membuat Liza tidak khawatir.


Liza menangis dan langsung memeluk Gibran,


"Hwaa ..., setidaknya beri kabar ..., Liza sangat khawatir tau, hwaa ...," tangis Liza pecah begitu saja.


Ryu, Queen dan Sera tersenyum menyaksikannya,


"syukurlah, Liza baik-baik saja. Sepertinya dia sudah menemukan orang yang dicintainya." gumam Ryu dalam hati.


"Ehem !" Queen berdehem, membuat Liza berhenti menangis, tetapi masih memeluk Gibran.


"Heh, ini rumah sakit, gak boleh ribut !" kata Queen mengingatkan.


"Iya, Liza tau ! Santai aja, kek Queen !" balas Liza tak terima ditegur. Liza malah menyenderkan kepalanya di dada Gibran.


"Oh,iya, sebenarnya apa yang terjadi padamu, Ryu ? Kenapa bisa berakhir di sini ?" tanya Sera yang dari tadi diam.


"Ya ampun, baru kali ini seorang Sera mengkhawatirkan aku, hahaha...," tawa Ryu.


Sera hanya memutar bola matanya dan kembali dengan caranya yang menatap tajam pada Ryu.


"jawab Ryu ! Queen juga penasaran !" tegas Queen.


Ryu berhenti tertawa, ia lalu melirik ke arah Gibran,


"Ng, hanya ada masalah sedikit__,"


"gara-gara aku !" potong Gibran mengaku. Liza kaget, ia langsung melepas pelukannya,


"Gara-gara Eben ?" tanya Liza tak percaya sambil mundur satu langkah.


Ryu bahkan melotot mendengar pengakuan Gibran,


"jika aku rahasiakan, aku yang tidak bisa tidur." lirih Gibran.


"tapi, Gibran __,"


Queen menarik kerah kemeja Gibran,


"Apa yang kakak lakukan pada Ryu ??!!!" bentak Queen, membuat seisi IGD memperhatikan mereka.


"Queen, tenangkan diri dulu. Kita dengarkan baik-baik." kata Sera sambil memegang pundak Queen.

__ADS_1


Gibran menunduk. Tubuhnya gemetar, antara takut mengakui dan merasa bersalah,


"Eben ..., Eben gak mungkin ...," ujar Liza kecewa.


Gibran menarik napas panjang lalu membuangnya,


"aku yang sengaja menjebaknya agar dihabisi__," jawab Gibran lagi,


"EBEN !!" teriak Liza yang tangannya hendak memukul Gibran, tetapi ia tahan karena ia tahu wajah Gibran juga membiru. Liza hanya bisa mengepalkan tangannya dan menyembunyikannya.


"kenapa ?" lirih Queen.


Gibran terdiam, Ia bingung harus berkata-kata seperti apa.


"Eben, katakan !!!" kata Liza menyudutkan Gibran.


"Gibran, mending kamu jelaskan pada Liza, biar aku yang jelaskan pada Queen dan Sera." kata Ryu.


"kamu masih mau membelanya, Ryu ?? Dia berniat menghabisimu !!!" seru Queen tak habis pikir.


"Queen. Tenangkan dirimu__," pinta Sera.


"bagaimana aku bisa tenang ? Dua orang yang aku sayangi sudah terluka. Ada yang berusaha menghabisi mereka. Huhuhu..., bagaimana aku bisa tenang ?" tangisan Queen akhirnya pecah.


Ryu memandang Queen sambil berusaha tersenyum,


"kemarilah, Queen ...," pinta Ryu.


"buat apa ? Hiks!" isak Queen.


"tapi ...,"


"katanya kamu menyayangiku ?" kata Ryu lagi.


"Ugh ! Dasar menyebalkan !!!" Queen langsung memeluk Ryu. Liza yang melihatnya langsung memalingkan pandangannya,


"Ugh ...," keluhnya.


"Liza ....," lirih Gibran yang kesal dengan apa yang dilakukan Ryu dan Queen. Tanpa pikir panjang ia malah menggandeng tangan Liza, Liza memandang Gibran,


"apa ?" tanya Liza yang masih menatap Gibran kesal.


"ayo kita pergi." ajak Gibran.


Liza melirik ke arah Queen yang masih memeluk Ryu,


"Lu yang harus ikut gue !!" ujar Liza lalu menarik tangan Gibran dan membawanya pergi.


Sera sempat menoleh karena Liza dan Gibran tiba-tiba pergi, Ia lalu kembali fokus pada dua insan yang sedang berpelukan di hadapannya,


"jadi, bagaimana kronologisnya ?" tanya Sera.


"Ah, jadi begini ...," Ryu berpikir keras bagaimana ia harus menceritakannya, masalahnya ia tidak mau Queen salah paham.


*

__ADS_1


Liza menarik dan membawa Gibran ke taman Rumah Sakit, ia melempar tangan Gibran begitu saja,


"Liza__,"


PLAK !


Liza sudah tak bisa menahan tangannya, tangisannya pecah. Perasaannya berkecamuk antara tidak tega dengan Gibran dan marah pada Gibran karena melakukan tindakan yang gegabah.


Gibran merintih tanpa suara sambil mengusap pipinya yang membiru dan habis ditampar Liza,


"Kenapa ..?" lirih Liza lalu menarik kerah kemeja Gibran,


"Kenapa lu melakukan ini ??? Apa lu gak mikir pake otak pinter lu itu, hah ??!!! Lu punya hati, gak sih ???!!!"


"Apa salah Ryu sama lu, sampe-sampe lu ngejebak dia ??? Lu bikin dia babak belur !!! Lu mau bunuh dia, HAH ???!!!" tuding Liza dengan wajah yang sudah tidak karu-karuan karena air mata yang tak bisa dibendung lagi. Ia merasa jantungnya seperti diremas, paru-parunya tak sanggup berkerja, napasnya hampir habis.


"Iya, gue mau bunuh dia !!" seru Gibran mengakui, tangan Liza langsung terangkat hendak memukul Gibran lagi, tetapi ia menahannya,


"Kenapa ? Kenapa lu lakuin itu, hah ?!!!" tanya Liza sambil mendorong bahu Gibran,


"Gue kira lu punya hati, gue kira lu orang yang bisa bertindak dengan otak lu ...," Liza terhenti lalu terkekeh,


"Iya, lu pake otak lu, tapi, untuk mencelakai orang ..., tapi ..., Apa tujuan lu ? Lu gak punya masalah sama Ryu ! Oke, kalau Galang, dia suka sama Queen dan dia orang yang gegabah. TAPI KENAPA LU MENCALAKAI ORANG TANPA ALASAAN ??!!!" bentak Liza.


"Karena gue punya alasan, Liza ...," lirih Gibran yang dari tadi diam.


"Alasan ? APA ALASAN LU, HAAH ??"


"KARENA GUE GAK SUKA LU TERSAKITI KARENA DIA !!! GUE GAK SUKA LU YANG TERUS BERUSAHA DAPETIN DIA PADAHAL LU TAHU DIA GAK PERNAH LIHAT ELU !! Gue benci ketika lu menangis dan rapuh karena dia ...," ungkap Gibran yang kini juga menangis, ia meluapkan seluruh perasaannya yang dia pendam selama ini.


Liza terpaku, itu berarti penyebab dari tindakan Gibran adalah dirinya,


"Tapi gue tau setelah bicara sama dia. Dia juga menyadari kesalahannya, dia juga berusaha sebisa mungkin untuk membuat kalian berhenti, makanya __,"


"kenapa ?" tanya Liza dingin.


"Kenapa apanya ?" tanya Gibran tak mengerti.


"Kenapa lu gak suka ngeliat gue tersakiti karena Ryu ? Kenapa lu benci melihat gue menangis dan rapuh karena Ryu ? Kenapa ?? Gue gak paham ??!!" sergah Liza yang membuat Gibran terpaku. Ia hanya menatap Liza dengan tatapan kebingungan. Haruskah ia mengatakan isi hatinya,


"Kenapa diam saj__," Gibran langsung menarik pinggang Liza untuk mengikis jarak di antara mereka,


Liza jadi salah tingkah,


"Eben ...," ucap Liza, entah kenapa sentuhan Gibran membuatnya lebih tenang, kini Liza menatap mata Gibran yang juga sedang menatapnya,


"Eben, jangan diam saja, katakan se__, mmm ...," Gibran langsung membungkam mulut Liza dengan bibirnya. Gibran bahkan tak peduli rasa sakit di bibirnya akibat lukanya. Ia malah menarik tubuh Liza ke dalam dekapannya.


Liza melotot dengan apa yang dilakukan oleh Gibran, ia berusaha melepaskannya, tetapi Gibran malah semakin menjadi. Liza kalah, ia malah memejamkan matanya dan memeluk leher Gibran, Liza juga membalas aksi bibir Gibran,


"Ah, sepertinya aku suka dengan Eben ...," Gumam Liza dalam hati.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2