I Love You Queen

I Love You Queen
S2 : Jadilah Pasanganku


__ADS_3

Ghibran tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Queen di Bali. Ia bahkan mengunjungi pantai secara random. Namun tidak hanya bertemu Queen, ia juga bertemu Perry-- adik sepupu Liza yang bagi Liza sudah seperti adik kandungnya sendiri. Ghibran tahu tentang itu, tetapi ia memang belum pernah bertemu dengan Perry karena gadis itu menetap di Bali.


Kini mereka bertiga sedang duduk berjejeran di pasir pantai sambil menatap lautan.


"Apa Kak Ghibran datang ke sini karena dapat udangannya?" tanya Queen yang meneteskan air matanya. Hidungnya kembang kempis berusaha menahan air matanya lagi.


"Queen ..." lirih Ghibran. Ghibran sangat tahu perasaan Queen pada Ryu.


Perry yang mendengarnya langsung memegang tangan Queen dan mengusap-usapnya.


"Kak Queen ..." ucap Perry khawatir.


Namun Ghibran mengerti jawaban seperti apa yang ingin didengar oleh Queen.


"Ya, aku akan datang. Tetapi aku ke sini bukan untuknya. Aku ke sini demi Liza," jawab Ghibran sambil membelai rambut keriting Queen agar Queen bisa lebih tenang. Queen memandang panutannya itu.


Queen langsung tersenyum begitu mendengar nama Liza dari mulut Ghibran.


"Bukannya kalian sudah putus?" tanya Queen.


Ghibran tertegun.


"Uhm ... putus ... kami, kan putus karena kontrak Liza dengan perusahaan entertainment-nya. Perasaan kami masih sama. Lagipula wanita yang bisa mengerti aku hanya Liza," ucap Ghibran sambil memikirkan pujaan hatinya itu.


Senyum Queen semakin lebar, Ia lalu memandang ke arah ombak yang menyapu bibir pantai.


"Aku iri ..." ungkap Queen tiba-tiba.


Ghibran menoleh ke arah Queen.


"Iri? Iri kenapa?" tanya Ghibran tak mengerti.


"Ya, aku iri aja ... Padahal kalian udah putus, tetapi masih saling mencintai. Liza juga tidak berhenti membicarakan kak Ghibran," tukas Queen sambil memeluk kedua kakinya.


Ghibran tersenyum sambil memandang ombak.


"Yah, setiap orang punya jalannya sendiri-sendiri, Queen ... iri pada orang lain hanya akan membuang-buang waktumu," timpal Ghibran lalu berpikir sejenak.


"Uhm ... Kalian berdua datang ke pernikahannya Ryu?" celetuk Ghibran.


"Aku?" tunjuk Perry riang karena akhirnya ia diajak bicara.


"Ya, kamu adiknya Liza, kan?" timpal Ghibran sembari menoleh ke arah Perry.


"Perry pasti datang, Kak Scarlett adalah kakak Perry juga," jawab Perry dengan nada manjanya.


"Eh? Scarlett kakakmu? Liza juga kakakmu, berarti sebenarnya kalian satu keluarga?" tanya Ghibran.


"Secara teknis memang begitu," jawab Queen yang memang sudah tahu silsilah keluarga antara Liza, Perry dan Scarlett.

__ADS_1


"Woaah??? Aku baru tahu ini!" seru Ghibran kaget sendiri.


"Itu berarti My Liza dulu bersaing dengan kakaknya sendiri ... Ugh ... untung akhirnya dia memilihku," ujar Ghibran heboh sendiri.


"Pft ..." Queen dan Perry malah tertawa melihat tingkah Ghibran.


"Loh, kok ketawa?" celetuk Ghibran bingung.


"Lagian aneh banget, Kak Ghibran banyak berubah, jadi lebih ekspresif, ya ..." jawab Queen di sela tawanya.


"Ternyata Kakak sangat menyukai kak Liza sampai memikirkannya begitu, terimakasih, ya," ujar Perry sambil berusaha menghentikan tawanya.


Perhatian Ghibran jadi teralihkan pada Perry.


"Aku memang sangat menyukai Liza. Dia cinta pertamaku ..." ungkap Ghibran malu-malu.


"Kalau begitu, apakah kakak akan jadi pasangan kak Liza nanti? Apa kalian akan datang bersama?" tebak Perry. Ia paling suka melakukan hal ini.


Queen melirik ke arah Perry.


"Itu tidak mungkin, Perry. Liza tidak boleh bersanding dengan siapapun. Di pernikahan Ryu banyak wartawan," timpal Queen.


"Apa??? Lalu?" ucap Ghibran panik sendiri. Sepertinya ia benar-benar tidak bisa mencumbu kekasihnya.


"Ah, tidak usah mencumbunya, aku ingin memeluk Liza dengan erat!" teriak Ghibran dalam hati.


"Bagaimana kalau kita datang sebagai pasangan?" tawar Queen yang sontak membuat mata Ghibran terbelalak dan mulutnya terbuka lebar.


"Hah??? Apa maksudmu, Queen? Liza bisa marah padaku. Aku tidak mau membuat dia marah, aku tidak sanggup melihat kemarahannya," tolak Ghibran.


"Kakak Queen sudah gila! Kakak, kan tau kalau kak Liza itu cukup pencemburu," tambah Perry khawatir dengan ide yang keluar dari mulut Queen entah darimana.


"Lagian, masa aku sendirian? Aku tidak mau terlihat menyedihkan di depan Ryu!" ujar Queen.


Ghibran terdiam sejenak. Ia mencoba berpikir dan mempertimbangkan ide Queen.


"Aku juga akan terlihat menyedihkan dan pasti dibanding-bandingkan karena Galang kini sudah bersama Bi," gumam Gibran dalam hati.


"Bukankah ini bisa jadi alat pancing agar Liza menemuiku? Bagaimanapun caranya ia pasti akan cemburu dan menuntutku," lanjut Ghibran dalam hati.


Ghibran menoleh ke arah Queen.


"Jadi bagaimana?" tanya Queen.


"Baiklah. Aku hanya perlu memberikanmu lenganku, kan?" tanya Ghibran sambil tersenyum miring.


Queen mengangguk cepat.


"Ya, Kak Ghibran hanya perlu meminjamkan lengan kakak semalam," ucap Queen bersemangat.

__ADS_1


"Kalau begitu sampai jumpa di malam pernikahan Ryu dan Scarlett. Kamu harus kuat, ya, Queen..." hibur Ghibran lagi sambil membelai rambut keriting milik Queen.


***


Malam Pernikahan Ryu.


Bianca dan Galang hendak pergi menjemput Queen di cottage-nya. Mereka berencana berangkat bersama. Namun mobil mereka tidak kunjung berangkat.


"Tunggu apa lagi, Pak?" tanya Galang agak tidak sabar. Ia hanya ingin segera menjalankan rencananya lalu pulang setelah itu.


"Uhm ... sebenarnya--"


Tiba-tiba pintu depan terbuka dan muncul sosok yang mirip dengan Galang.


"Ghibran?" ujar Bianca kaget.


"Ghibran? Lu ngikut kita?" tanya Galang yang heran adik kembarnya itu malah satu mobil dengannya yang akan pergi menuju cottage Queen.


Ghibran yang baru masuk mobil dan duduk manis di sana hanya melemparkan senyumnya.


"Ya iyalah. Aku ikut kalian," jawab Ghibran enteng.


"Loh? Bukannya lu mau jemput Liza? Lu gak sama dia ke sana?" tanya Galang lagi. Ia juga tahu betul tujuan Ghibran ke Bali hanya untuk menemui Liza.


"Uhm ... itu ..." Ghibran malah bingung sendiri harus jawab apa.


Ia lalu mengambil ponselnya dan memeriksa ruang chat-nya bersama Liza.


"Masih ceklis satu. Bahkan belum terkirim. Apa ponselnya mati, ya?". gumam Ghibran dalam hati yang mulai merasa khawatir.


"Woy, Ghibran!!! Bukannya lu harus jemput Liza di hotelnya? Kita abis dari cottage Queen langsung ke ballroom hotel tempat resepsi Ryu," ujar Galang menjelaskan rute perjalanannya.


Ghibran menoleh ke arah Galang.


"Uhm ... aku juga mau ke cottage-nya Queen, kok!" balas Ghibran tak mau kalah.


"Ha? Untuk apa kak Ghibran ke cottage-nya Queen?" Kini Bianca yang bertanya.


"Ya ... Ya karena aku harus kesana," jawab Ghibran agak terbata-bata, lalu pandangannya teralihkan lagi pada ponselnya.


"Ugh, ini sudah lebih dari dua jam dan dia belum buka hapenya???" ujar Ghibran makin khawatir. Ia khawatir Liza salah paham dan marah padanya.


"Harus ke sana? Emang lu ada perlu apa sama Queen?" cecar Galang.


Ghibran lalu menoleh ke belakang, tempat di mana Galang dan Bianca duduk.


"Uhm, karena hari ini aku akan jadi pasangannya Queen," ungkap Galang yang sontak membuat sepasang kekasih itu terbelalak.


"APA??!!!"

__ADS_1


__ADS_2