
Sakura memaksa Sultan untuk berjalan mengelilingi Pasar Seni bersama. Sultan sama sekali tak berkutik karena ia juga agak dipaksa oleh ibunya sendiri.
"Sultan ..." panggil Sakura yang kini memeluk lengan Sultan sambil mengenakan topi rajutan bertuliskan Bali yang ia beli barusan.
"Hm?" balas Sultan cuek.
"Mungkin gak, Sultan sebenarnya suka juga sama Sakura?" Sakura melemparkan sebuah pertanyaan yang selama ini membuatnya penasaran.
"Pikir aja sendirian!" ketus Sultan seraya memandang ke sekeliling pasar, mencari barang yang unik yang hendak ia beli.
"Sultan, jika Sultan benci Sakura karena Ryu, maafkan Sakura--"
"Aku gak benci kamu, kok," potong Sultan. Kini langkah mereka terhenti.
Sultan menoleh ke arah Sakura.
"Beri aku waktu. Aku masih sakit hati atas yang Ryu lakukan pada Kakakku," lanjut Sultan lagi lalu melepaskan tangan Sakura dari lengannya. Sementara Sakura hanya memandangnya.
"Ma-maksud Sultan adalah mungkin?" tanya Sakura meyakinkan.
Sultan menghembuskan nafasnya kasar.
"Pikir sendiri!" ketusnya lalu berjalan meninggalkan Sakura.
Sebuah senyuman merekah begitu saja di wajah Sakura.
"Sultan!!! Tunggu!!!" ujarnya girang sembari mengejar pujaan hatinya itu.
***
Sementara itu Pangeran berjalan menyusuri pasar adik perempuannya. Mereka baru saja membeli kain khas Bali dan langsung memakainya. Queen bahkan membeli kalung yang berhiaskan kerang-kerang kecil.
"Aku cantik, kan?" pamer Queen seolah berpose ala model.
Pangeran hanya geleng-geleng kepala.
"Ya, lu emang cantik, puas?" timpal Pangeran sambil terkekeh.
Queen segera menghampiri Abangnya itu dan menggandeng tangannya.
"Kalau gitu, ayo kita lanjut!" serunya girang. Berbelanja memang salah satu hobinya.
"Oh, iya Bang Rang ..." sahut Queen.
"Hm?"
"Abang gak menghabiskan waktu gitu sama calon istri Abang?" tanya Queen. Ya, Pangeran semalam sudah memperkenalkan Amanda bukan hanya sebagai pacarnya, tetapi juga calon istrinya.
"Dia juga balik, tuh hari ini. Nanti aja jalannya pas Mas balik ke Sulawesi, mampir sebentar di rumahnya yang ada di Makassar," jawab Pangeran enteng.
"Kak Amanda gak protes gitu?" tanya Queen.
Pangeran tersenyum.
__ADS_1
"Sekalipun manja dan agak betein, tetapi dia sebenarnya cukup pengertian dan fleksibel. Itu yang bikin Abang jatuh cinta sama dia," cerita Pangeran sembari senyum-senyum sendiri.
"Sejak kapan?" tanya Queen.
"Sejak kapan?" Pangeran malah balik tanya, tetapi ia segera berpikir.
"Hemm ... Setahu Bang Ran, Amanda itu cinta pertama Bang Ran ... tapi mersakam cinta itu kapan pertama kali ada, Bang Ran gak begitu engeh," jawab Pangeran. Ia memang tidak begitu memperhatikan kapan hatinya berlabuh pada seorang Amanda.
"Mungkin karena dia mulai kasih perhatian lebih sewaktu Bang Ran di dalam ikatan dinas kali, ya, Jadi merasa spesial gitu, gak cuman ledekan dari kamu, haha ..." tawa Pangeran.
Queen tersenyum melihat wajah bahagia Abangnya. Terlukis jelas bahwa Sang Abang masih kasmaran dengan kekasihnya itu.
"Ugh, bikin iri. Di saat adiknya patah hati, eh, Abangnya malah lagi anget-angetnya me jalani cinta," sindir Queen.
Tawa Pangeran meledak.
"Hahahaha ... belum anget, masih dingin, kok. Nanti kalo udah halal, baru anget," ledek Pangeran.
Wajah Queen langsung memerah karena mengerti maksud Abangnya.
"Ih, Bang Ran!! Udah gak sabar kawin, ya??!!!" tekan Queen malu sendiri.
Pangeran langsung mencubit hidung adik perempuannya gemas.
"Hush!" tegur Pangeran yang masih tertawa.
"Lagian, Bang Ran, ih!!!" sungut Queen yang mengelus-elus ujung hidungnya.
"Yah, lu harus berusaha bangkit, lah Queen ... Jangan terus-terusan terpuruk di cinta tak terbalas. Sedari awal gue juga tahu kalau Ryu gak ada perasaan yang sama kayak lu, tetapi lu, kan mau berusaha," ucap Pangeran mengakui.
"Hah?! Bang Ran tau? Terus gak berusaha bantuin adiknya, gitu?" sungut Queen.
Pangeran tersenyum dan menggeleng.
"Enggak. Ngapain gue ikut campur di hubungan percintaan lu? Kalo gue kasih tahu Ryu udah ada hati sama Scarlett, emangnya lu mau nyerah? Enggak, kan?" timpal Pangeran.
Queen terdiam karena apa yang dibilang Abangnya benar adanya.
"Masalahnya, bukan lu doang yang gak mau nyerah, tetapi Ryu juga gak mau nyerah sama perasaannya terhadap Scarlett. Gue juga gak paham, sih gimana ceritanya tuh anak bisa suka sama Scarlett. Padahal dulu kita, kan berempat," ujar Pangeran menceritakan masa lalunya.
Queen mengernyitkan dahinya.
"Berempat?" ulang Queen.
"Ya, berempat. Empat sekawan, Scarlett cewek sendiri. Gue, Ryu, Scarlett dan Zach. Lu kenal Zach, gak? Dia sahabatnya Scarlett dari Shanghai. Orang tuanya deket sama Daddy Alan. Harusnya, sih Sera kenal," ujar Pangeran menceritakan sahabat masa kecilnya.
Queen menggeleng.
"Gak pernah ketemu, sih ..." ucap Queen.
"Yah, emang, dulu lu masih bayi, mana inget. Masih lajang tuh anak. Agak pemilih, sih, hahahaha...." Pangeran malah menertawakan sahabatnya yang memang lebih tua dari dirinya dan masih saja sendiri.
Queen malah geleng-geleng kepala melihat tingkah abangnya.
__ADS_1
"Haduh ... Dasar!" kekeh Queen.
"Yah ... Pokoknya gue gak mau lu berlarut-larut dalam kesedihan lu. Cepat bangkit dan move on, kalau lu mulai jatuh cinta sama seseorang, pokoknya kenalin ke gue dulu, nanti gue nilai, bakalan lolos gak dari penilaian Papa, hahaha ...." tawa Pangeran lagi.
"Penilaian Papa? Kalau kayak Awan-- eh? Kok malah mikir dia, sih??? Jangan-jangan kamu masih kepikiran mimpi itu, ya Queen?? Duuh .. lupain ... lupain!!" omel Queen dalam hati.
"Kalau emang lu beneran suka sama Awan, yah ..." Queen menoleh cepat dengan mata yang membulat ketika Pangeran menyebut nama Awan, seolah Abangnya itu bisa baca pikirannya.
"Kok tiba-tiba Awan, sih??!!!" kata Queen jadi jutek.
"Loh? Emangnya kenapa?" kekeh Pangeran.
"Enggak! Awan itu milik bersama!!! Mana boleh jadi milik aku doang!!!" tegas Queen.
"Oh, jadi kalo semisal Awan jadi suami kamu, tuh boleh poligami, gitu?' sindir Pangeran asal.
Mata Queen semakin melotot.
"Apaan poligami??? Gak ada!!!" Queen langsung tersadar kalau ia mengiyakan ucapan Pangeran yang mengatakan Awan jadi suaminya.
Pangeran tertawa puas melihat adiknya yang kikuk sendiri.
"Ahahaha ... Yah, terserah, sih, kamu mau sendiri dulu atau beralih ke cinta yang baru. Bebas, kkkkk ...." Pangeran geli sendiri melihat wajah adik perempuannya.
Queen mendelik kesal.
"Ugh! Bete, ah sama Bang Ran!!!" ketusnya seraya melepaskan tangannya dari lengan Pangeran.
"Lah? Ngambek?" ledek Pangeran.
"Iya!! Ngambek!!! Bye!!" Queen segera berjalan cepat mendahului Abangnya.
"Lah? Queen!! Tunggu!!? Idih, malah jalan sendiri tuh anak!!!" Pangeran segera mengejar adiknya itu.
Sedangkan Queen berlari tanpa arah karena terlanjur kesal dengan abangnya.
"Memangnya dia mau kalau adiknya dipoligam--" Tiba-tiba Queen malah menabrak seseorang. Orang itu sampai terpental dan terjungkal ke belakang.
"Ya ampun? Se-kokoh itu, kah diriku?" gumam Queen segera menghampiri orang yang ia tabrak yang rupanya seorang pria.
"Uhm, Mas ... maaf ..." ucap Queen merasa bersalah sembari membantu pria kurus itu berdiri.
"Kacamataku ..." ucap Pria itu yang masih menunduk. Mungkin karena tidak bisa melihat dengan jelas.
Untungnya Queen paham, ia segera mencari kacamata pria itu dan menemukannya terpental agak jauh. Queen segera mengambilkannya dan menyerahkan pada pria itu.
"Ini, Mas ..." Mata Queen terbelalak saat melihat wajah pria itu.
"Terimakasih ..." Pria itu juga kaget saat melihat sosok Queen.
"Jonas!"
"Queen!!"
__ADS_1
ucap mereka bersamaan.