I Love You Queen

I Love You Queen
S2 : Salting


__ADS_3

Awan memandangi setiap gerak-geriknya melalui pantulan cermin di ruang latihannya. Ia masih harus menghafal gerakan bagiannya untuk mempersiapkan penampilan khusus di sebuah acara musik salah satu saluran televisi. Pasalnya fandom-nya juga akan datang ke sana.


"Argh!" Teriaknya ketika dirinya sudah mulai tak sanggup. Pikirannya kalut dan kacau memikirkan tentang rencana Queen. Ia membanting dirinya ke atas lantai dan memandangi langit-langit ruangan.


"Kira-kira apa yang akan terjadi pada Queen? Kenapa aku begitu takut? Jonas bukan Galang. Namun siapa saja bisa diselimuti kegelapan jika patah hati," tukas Awan.


"Bahkan awan putih bisa menjadi awan gelap yang terus melemparkan tongkat halilintarnya!" Awan langsung menjambak rambutnya yang basah karena keringat. Ia menoleh ke arah ponselnya yang diletakkan di atas bangku berasama cairan isotonik.


"Haruskah aku hubungi Queen?" pikirnya.


Ceklek!


Lamunannya buyar begitu saja saat ada yang masuk ke dalam ruang latihannya. Awan segera mendudukkan diri dan memandang cermin besar. Ia bisa melihat pantulan bayangan orang yang datang.


"Kau sangat bekerja keras, Cloudy," ledek Sera—orang yang ternyata masuk ke dalam ruangan latihan.


"Tentu saja, aku tidak bisa tidur, makanya latihan saja. Toh ada beberapa gerakan yang belum sempurna," tukas Awan.


Sera mengambil sesuatu di atas speaker Audio. Ia lupa tadi menaruh gelang pemberian Yanuar di sana saat latihan bersama para dancer. Sera segera memakainya lagi.


"Kau mau apa datang ke sini?" tanya Awan yang memperhatikan gerak-gerik Sera. Sera segera menunjukkan pergelangan tangannya.


"Gelang. Aku ambil ini. Tadi Yanuar V-call aku, dan dia menanyakan lenganku yang tidak mengenakan gelang pemberiannya. Pria itu semakin tua, semakin manja," kekeh Sera sambil membayangkan wajah Yanuar tadi.


Awan terkekeh.


"Jadi kau akhirnya jadian dengan Yanuar? Apakah Daddy Alan tahu?" tanya Awan.


Sera malah tersenyum lebar sambil menggeleng.


"Sayangnya tidak. Jika Daddy tahu, maka sama saja aku melanggar kontrak, maka sama saja aku cari mati!" pungkas Sera.


"Uhm ... Ini rahasia, loh! Awas kau bocor!" ancam Sera panik sendiri.


Awan hanya tertawa.


"Siapa sangka, dua rekan se-timku ternyata melanggar kontrak." Awan tertawa lagi.


"Hei, tugasmu hanya harus merahasiakannya. Toh kontrak kita akan berakhir dalam waktu empat tahun, kan?" ujar Sera.


Awan langsung memutar tubuhnya menghadap Sera.


"Kau memangnya tidak mau memperbaharui kontrak?" tukas Awan.


Sera menggeleng.

__ADS_1


"Sebenarnya menjadi grup vocal begini juga bukan impianku. Aku hanya sedang berpetualang, dan ingin mencari tantangan yang baru setelah dunia entertain ini selesai," pungkas Sera.


"Mencicipi dunia baru, atau jalan baru, tetapi tetap di entertain?" tanya Awan.


"Mungkin dunia baru. Uhm, kau juga setelah kontrak ini berakhir, ungkapkanlah perasaanmu pada Queen. Jangan sampai menyesal karena tidak mengungkapkannya," nasihat Sera.


Awan menghela napas dan memeluk kakinya.


"Entahlah ... Kukira dulu jika Queen sudah tidak mencintai Ryu, aku bisa masuk dalam hidupnya, tetapi dia malah menutup dirinya rapat-rapat." Awan terdiam dan menyenderkan dagunya di antara dua lututnya.


"Aku juga tidak henti-hentinya memikirkan hubungan Queen dan Jonas. Apakah Queen akan baik-baik saja?" ucap Awan.


Sera tersenyum miring.


"Mungkinkah karena itu kau di sini?" selidik Sera.


Awan langsung menoleh ke arah Sera dan memandangnya.


"Ba-bagaimana kau tahu?" tanya Awan.


"Jangan teralu sering mengkhawatirkannya, tetapi tidak mengusahakannya. Setidaknya Jonas lebih baik daripada kamu karena menunjukkan bahwa dirinya menyukai Queen," pungkas Sera.


"Yah, kau juga perlu belajar dari Yanuar, dia mengejarku selama bertahun-tahun juga, loh. Kalau begitu, aku keluar. Aku mau tidur. Besok Mince ngomel jika kita tidak bangun pagi, kan?" pamit Sera lalu langsung keluar dari ruang latihan.


Sementara Awan hanya tersenyum miring. Ia lalu beranjak dan mengambil ponselnya dan menelpon wanita yang terus saja berputar di dalam pikirannya.


Awan : "Kamu harus tanggung jawab!" tukas Awan tiba-tiba.


Queen : "Hah? Apaan, sih tiba-tiba?" keluh Queen.


Awan : "Aku ... Aku tidak bisa tidur karenamu ..." ucap Awan dengan suara yang semakin mengecil. Namun tiba-tiba suasana jadi hening. Queen terdiam.


Awan : "Queen? Are you with me?" tanya Awan.


Queen : "Uhm, ya, aku masih di sini."


Awan : "Lalu, kenapa diam?" tanya Awan.


Queen : "Karena ... Karena kamu— ugh! Menyebalkan! Kenapa juga kamu sok-sokan berlagak seperti pacarku??" omel Queen si seberang sana.


Awan tertegun mendengarnya. Wajahnya memerah.


"Andai saja kita memang pacaran ..." batin Awan.


Awan : "Apaan, sih? Biasanya juga begini. Kenapa kamu jadi heboh sendiri?" kekeh Awan yang diam-diam tertawa kegirangan. Jantungnya kini benar-benar memompa darahnya dengan lebih cepat. Rasanya darahnya mendidih.

__ADS_1


Queen : "Kenapa jadi aku? Kamu yang aneh!! Sudah! Jangan bertengkar. Kenapa kamu telepon aku?"


Awan : "Uhm, Aku ... Aku hanya mengkhawatirkanmu. Kau besok akan kencan, kan?"


Queen : "Yah ... Kenapa? Kamu mau menemaniku?" tanya Queen sambil cekikikan.


Awan :"Kalau bisa. Sayangnya tidak bisa ... Uhm, hubungi aku jika kau butuh sesuatu, ya," pinta Awan. Namun Queen malah tertawa.


Queen :"Menghubungimu? Aku hanya akan menghancurkan karirmu. Kau itu sekarang sangat sibuk, Awan ... Jangan paksakan diri."


Awan : "Sungguh, aku mengkhawatirkanmu. Kau jangan memberikannya harapan teralu tinggi, ya. Kau juga jangan menghempaskannya teralu keras ..."


Queen : "Bicara apa, sih? Aku juga tahu harus bagaimana. Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku." Queen berusaha meyakinkan Awan.


Awan : "Queen ... Aku ..." Awan menggantung kalimatnya.


Queen : "Kau kenapa?"


Awan : "Aku hanya mengkhawatirkanmu. Kamu jagalah dirimu. Kabari aku. Jangan buatku khawatir,"


Queen : "Apaan, sih?" ujar Queen dengan suara kecil.


Awan : "Queen ... Selamat malam ..." ucap Awan lembut.


Queen : "Kau juga. Istirahatlah yang cukup. Jangan teralu memaksakan diri. Good night," pamit Queen.


Awan : "Good night." Telepon langsung terputus. Awan terdiam, Ia masih berusaha mengendalikan perasaannya. Wajahnya kini terasa panas.


"Dia mengkhawatirkanku. Oh, ya ampun. Padahal dia sudah sering begini," girangnya lalu segera beranjak.


"Aku harus segera istirahat. Supaya Queen tidak khawatir." Ia segera mengambil ponsel dan botol air isotoniknya dan keluar dari ruangan latihan.


Di sisi lain.


Queen yang tadi sudah sempat bermimpi kini tak bisa tidur.


"Aku ... Aku tidak bisa tidur karenamu ..."


Kalimat Awan terus saja berputar-putar di kepalanya. Entah kenapa sekarang kalimat, bahkan suara Awan begitu mempengaruhi detak jantungnya. Padahal dulu biasa saja. Queen memegangi dadanya.


"Ugh, perasaan apa ini? Mengapa aku jadi seperti ini?" bingung Queen.


***


Mungkinkah Queen sudah move on?

__ADS_1


Jangan lupa favorit, like, vote dan komen ya


__ADS_2