
Ghibran benar-benar syok dengan tamparan yang barusan ia dapati.
"PENG-KHI-A-NAT!!!" sergah Liza dengan wajah yang sudah bercucuran air mata.
"Apa?" Ghibran tak mengerti apa yang dibicarakan oleh wanita pujaannya itu. Darimana ia jadi pengkhianat. Hingga detik ini nama wanita di hatinya masih Eliza Sendo Azzam. Bukan nama lain.
Ghibran berusaha memegang kedua bahu Liza, tetapi Liza berusaha menolaknya.
"Jangan sentuh Liza!!!!" pekik Liza sambil menangis sejadi-jadinya.
"Tidak!! Aku tidak mengerti kenapa kamu bilang aku pengkhianat??? Aku tidak pernah mengkhianatimu sedetik pun, Liza!!!" ujar Ghibran berusaha mencari pembelaan sembari menatap wajah Liza.
"Kamu pengkhianat!! Kamu pengkhianat!!!" tuding Liza hingga akhirnya terduduk karena tak sanggup lagi dengan rasa sakit di dalam hatinya.
Ghibran terdiam mendapatinya, sekalipun kesal, ia ingin berusaha berpikir jernih di sini. Ia lalu menutup pintu sambungan itu dan duduk di hadapan Liza. Ia menatap lekat-lekat wajah pujaan hatinya itu.
Ibu jari ya menyentuh wajahnya dan menghapus setiap bulir air mata yang menetes.
"Jelaskan padaku, apa salahku? Kumohon ... jangan seperti ini. Dadaku sesak jika melihat kamu seperti ini, Sayang ..." bujuk Ghibran dengan suara lembutnya. Ia berharap Liza mau mengerti.
Kini wanita itu menoleh ke arah Ghibran dan menatapnya tajam.
"Eben ..." lirih Liza yang mulai melunak.
"Hm? Apa, Sayang?"
"Kenapa kamu hari ini datang bersama Queen? Kenapa dia memeluk lenganmu, kenapa bahkan kamu yang berusaha menenangkannya di saat ia menghadapi Ryu??" tanya Liza menatap mata kekasih hatinya itu dalam-dalam.
Ghibran langsung paham. Ia sebenarnya sudah tahu akan begini jadinya, tetapi seingatnya ia sudah minta izin sebelum datang ke acara pernikahan ini. Tanpa berkata apa-apa, Ghibran langsung memeluk Liza.
"Maafkan aku, Liza ... Jika itu menyakitimu, maafkan aku," ucap Ghibran sembari mempererat pelukannya.
Liza menyentuh lengan Ghibran yang memeluknya.
"Aku ingin tahu alasannya, bukan permintaan maaf," ucap Liza lirih.
Ghibran langsung melepas pelukannya dan menatap wajah Liza.
"Uhm ... sebenarnya ini karena aku kesal tidak bisa datang ke acara ini bersamamu. Aku juga kesal karena kemarin tidak bisa memelukmu saat aku datang ke hotelmu. Aku yang bodoh karena menggunakan permintaan Queen agar menarik perhatianmu ..." ujar Ghibran mengakui segalanya. Ia tidak mau munafik. Ia menyetujui permintaan Queen karena memang itu alasannya.
__ADS_1
Liza menyentuh kedua pipi Ghibran.
"Queen yang memintamu?" ucap Liza lembut. Ghibran menganggukkan kepalanya.
"Awalnya aku juga tidak mengerti, tetapi saat menyaksikannya tadi, aku paham kenapa Queen tidak mau sendirian menghadapi Ryu ... Maaf, ya, uhm ..."
Liza mengernyitkan dahinya lagi.
"Ada apa? Apa lagi yang ingin kamu bilang?" tanya Liza.
"Sebenarnya aku sudah memberitahumu kalau aku pergi dengan Queen ... tetapi sepertinya kamu tidak baca, makanya aku tidak mengerti kenapa kamu menamp--"
Liza mengecup bibir Ghibran singkat dan langsung menatap mata lelaki itu.
"Maaf. Aku juga ingin minta maaf. Pasti sakit, ya tamparanku," kata Liza merasa bersalah.
"Tidak jika kamu mencium--"
Liza langsung mencium pipi Ghibran yang tadi ia tampar.
"Sekarang bagaimana?" tanya Liza nakal.
"Sudah lebih baik," jawabnya sembari menyentuh pipi Liza, hendak menciumnya, tetapi Liza mencegahnya.
"Kenapa? Tidak mau kucium?" tanya Ghibran merajuk.
Liza menggeleng pelan.
"Jangan jalan bersama wanita atau perempuan lain, sekalipun itu sahabat atau bahkan saudaraku. Kamu tahu, kan aku pecemburu," ujar Liza memperingatkan.
Ghibran mengangguk.
"Aku sangat tahu makanya begitu sulit menjaga hatimu, dan tidak akan aku sia-siakan," kata Ghibran sambil tersenyum pada Liza.
Liza langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Ghibran dan memejamkan matanya. Ghibran langsung tahu apa yang diinginkan wanitanya.
"Aku mencintaimu, Liza," ungkap Ghibran lalu mencumbu wanitanya itu dan mengangkatnya ala bridal style ke atas ranjang.
***
__ADS_1
Di sisi lain.
Tubuh Awan masih membeku saat Queen mengecup bibirnya. Kecupan itu sungguh sangat singkat, tetapi berhasil menghentikan detak jantung Awan sesaat. Sialnya, setelah membuat seorang Awan membeku, Queen malah tidur lagi dengan nyamannya sambil memeluk Awan, seolah lelaki di sampingnya adalah sebuah guling.
Berciuman. Padahal itu adalah hal biasa yang Awan lakukan, apalagi ia sudah beberapa kali bermain dalam sebuah drama romantis di atas panggung ataupun di depan kamera. Bahkan ia juga pernah berciuman dengan lawan mainnya saat melakukan projek video klipnya.
Namun perasaan saat berciuman dengan mereka, hilang seketika, bahkan malah canggung setelah selesai melepas bibirnya. Beda halnya dengan yang terjadi sekarang.
Awan memandang wajah polos Queen yang sedang tidur dengan nyamannya. Ia mengepalkan tangannya sekuat tenaga, berusaha menahan gairah yang tiba-tiba membuncah dari dalam dirinya.
"Ah! Masa bodo! Pers*tan dengan perasaan ini!!!" seru Awan lalu menarik pipi Queen dan melahap bibir wanita yang sedang tertidur itu.
Mungkin ia sekarang bisa dihitung sedang melecehkan sahabatnya sendiri. Ia mencuri ciuman bibir Queen ketika wanita itu sedang tertidur, sedang lelah, sedang rapuh, tetapi ia juga sama lelahnya, sama rapuhnya. Rasanya semua perasaan yang sudah meluap-luap ini ingin ia sampaikan meskipun hanya sebentar.
"Hah!" Awan melepas bibirnya dan memandang wajah Queen yang masih tertidur pulas. Ia hanya ingin memastikan kalau Queen tidak terbangun dan membencinya ketika terbangun.
Melihat wajah lelap Queen dengan bibirnya yang memerah karena ulahnya membuat Awan merutuki dirinya sendiri. Ia memukul-mukul kepalanya. Menyesali perbuatannya sendiri.
"Kamu gila, Awan. Laki-laki paling gila!!!" lirihnya. Sekalipun ingin berteriak, ia tidak mampu karena Queen sedang tertidur lelap di sampingnya.
Awan memandang wajah Queen lagi yang sekarang malah mempererat pelukannya. Awan mengigit bibir bawahnya.
"Queen, maafkan aku yang mencuri ciumanmu di saat kamu terlelap ..." lirihnya sambil meneteskan air matanya seraya menatap sendu ke arah sahabatnya itu.
Awan mengelus pipi Queen lembut. Ia menelan ludahnya karena gugup.
"Queen, sebenarnya aku mencintaimu dari dulu, bukan sebagai teman atau sahabat, melainkan sebagai seorang pria yang mencintai wanitanya," ungkap Awan sambil meneteskan air matanya.
"Semoga kamu mendengar ungkapanku, meskipun hanya di dalam mimpi," lirih Awan lagi lalu mengecup puncak kepala Queen lembut.
"Maafkan aku yang sudah jahat padamu, aku sangat mencintaimu, Queen ..." tangis Awan di dalam kebisuan. Ia tidak bisa lagi mengeluarkan suaranya, khawatir Queen terganggu. Awan segera mengambil ponselnya, sedangkan tangan satunya masih merangkul Queen dan membelai rambutnya agar Queen nyaman di dalam dekapannya.
Ia mulai mengetikkan sesuatu di sana, menghubungi Cecil.
Awan : Cecil, panggil Pak Baron. Kita pulang sekarang. Antar Queen dulu ke cottage-nya.
Begitulah isi pesan Awan. Setelah mengiriminya, ia mencium sekali lagi puncak kepala Queen.
"Aku selalu mengharapkan kebahagiaanmu, Queen. Lakukanlah apa saja yang membuatmu bahagia," bisik Awan di telinga Queen.
__ADS_1
***