I Love You Queen

I Love You Queen
Bagian 66


__ADS_3

Ryu membaca pesan dari Gibran sambil mengunyah kacang goreng. Ia sedang bermain-main dengan Momo-chan sekarang.


"Apa kamu ada acara lagi, Ryu ?" tanya Nenek Minami sambil menggendong Momo-chan yang sedang tidur dengan nyamannya di pangkuan Ryu.


"Nenek ingat si kembar ?" tanya Ryu.


"oh, Si kembar Romero ? Tentu Nenek ingat. Jangan kamu pikir nenekmu ini sudah tua dan berubah jadi pikun. Nenek bahkan sangat ingat kapan pertama kali bertemu dengan kakekmu, hahaha ...," Nenek Minami malah menyombong diri.


"Mereka juga ada di sini. Salah satu dari mereka ingin bertemu denganku. Ah, jam berapa ini ?" Ryu melihat ke arah jam dinding.


"Jam setengah tiga ...,"


"Heh, ingat, sholat dulu baru pergi." kata Nenek Minami.


"Iya, Nek. Ryu balas dulu dan bersiap-siap !" kata Ryu lalu mengetik sesuatu di ponselnya dan beranjak.


"dasar kamu ! Besok-besok jangan kemana-mana, Kakek dan Nenekmu juga butuh teman !!!" pesan Neneknya.


"Iya, Nek. Besok dan seterusnya udah di booking sama Nenek dan Kakek !" ledek Ryu.


"Dasar cucuku ...," kekeh Nenek Minami.


*


Gibran menghentakkan kakinya, menunggu kedatangan seorang Ryu. Ia kini menunggu di sebuah cafe sendirian dengan dua minuman yang sudah ia pesan terlebih dahulu di atas meja.


Gibran memandang minuman yang ada di atas mejanya,


"haruskah aku lanjutkan ? Rasanya tidak adil bagi Ryu jika aku melakukan ini padanya. Aku teralu berlebihan ....," gumam Gibran dalam hati.


Ting !


Sebuah pesan masuk,


*From : Galang


to : Gibran


Heh, culun ! Awas lu ! Jangan sampe lu berhenti di tengah jalan !! Kalo enggak lu yang harus tanggung semuanya* !!


Gibran menarik napas panjang membaca pesan dari saudara kembarnya sendiri,


"sekalipun ingin berhenti, rasanya juga tidak bisa. Kenapa aku bisa-bisanya tidak menggunakan pikiran jernihku dan mengambil keputusan dengan emosi ? Sial !" keluh Gibran merutuki dirinya sendiri.


"Gibran !" Tiba-tiba ada yang menyebut namanya, Gibran langsung mengangkat kepalanya dan menemukan Ryu yang sudah ada di hadapannya,


"Ryu ? Kamu sudah sampai ?" tanya Gibran basa-basi.


Ryu duduk di hadapan Gibran dan langsung mengambil minuman yang tadi ia pesan melalui Gibran terlebih dahulu,


"cepat juga minumannya datang, haha ...," tawa Ryu.


"orang ini setelah menyerang dua gadis sekaligus masih bisa tertawa lepas seperti ini ?? Benar-benar menyebalkan !" batin Gibran.


"ah, i,iya ..., Mungkin karena pelanggannya juga tidak banyak." kata Gibran lagi.


Ryu melihat ke sekeliling, hanya ada 3 sampai 4 meja yang terisi termasuk meja mereka,


"kamu benar juga." kata Ryu lalu meminum minumannya lagi.


"Oh,iya, apa yang kamu lakukan di sini ?" tanya Ryu sambil terus menyeruput minumannya.


Gibran malah melotot melihatnya, ia khawatir sesuatu terjadi pada Ryu karena di dalam minuman itu sudah ia campur dengan bubuk yang diberikan oleh Galang.


"uhm ..., Ryu, kamu haus,ya ?" tanya Gibran.


"aah__, arghh ...,"

__ADS_1


"ada apa Ryu ?" tanya Gibran.


"tidak. Tidak apa-apa. Sepertinya aku kelelahan. tadi aku ke sini dengan berlari karena sangat senang bertemu denganmu." kata Ryu memegangi kepalanya.


"ya ampun..., kenapa aku jadi merasa bersalah ?" batin Gibran.


"kamu, terlihat bahagia, apakah ada sesuatu yang membuatmu senang Ryu ?" tanya Gibran.


Ryu malah terkekeh,


"senang ? Ternyata kamu jeli, Gibran." kata Ryu lagi.


"hah ?"


"Aku memang bahagia, tapi, sebelum aku cerita, coba katakan, apa yang kamu lakukan di sini ? Sepertinya kamu banyak pikiran, jadi lupa dengan pertanyaanku." kata Ryu masih tersenyum lebar.


Gibran menaikkan alisnya sebelah,


"Ng.., aku .., aku ikut kompetisi di sini. Bersama Queen." jawab Gibran.


"Oh ..., kamu__,"


"aku dan Queen satu sekolah dan satu tim."


"Ya ampun ? Kenapa kemarin aku tidak bertemu denganmu ? Padahal aku sempat bertemu dengan Queen, Liza dan Awan." kata Ryu lagi.


"gue gak ketemu sama lu karena lu abis bikin anak orang mewek, woy...," geram Gibran dalam hati.


"entahlah. Aku juga setelah ikut lomba asyik berkeliling, mungkin karena itu jadi tidak bertemu." jawab Gibran sambil memaksakan senyumnya.


"jadi, coba katakan, kenapa kamu terlihat bahagia ?" tanya Gibran.


Ryu tersenyum lagi,


"bahagia ?" Ryu terkekeh.


"karena aku akhirnya bisa jujur pada Queen dan Liza__," Ryu teringat sesuatu.


"status?" tanya Gibran.


Ryu tersenyum lagi,


"Ya, kini aku sudah jadian dengan orang yang kusukai selama bertahun-tahun." jawab Ryu.


"Liza sudah tahu." gumam Gibran.


"tapi, mungkin Liza sudah tahu dari Queen." Raut wajah Ryu berubah khawatir.


"ada apa, Ryu?" tanya Gibran yang menyadari perubahan suasana hati Ryu.


"Sebenarnya aku masih merasa bersalah pada Queen dan Liza. Namun aku tidak bisa memaksakan segalanya. Sudah kucoba."


Deg !


"sudah kucoba ? Apa maksud dia ?" batin Gibran.


"apa yang kamu coba Ryu ?"


"mencoba mengubah hatiku, untuk mencintai Queen. Ah, kalau Liza aku memang tidak bisa. Dia adikku." ungkap Ryu lagi.


"tunggu. Bukankah Ryu hanya berusaha jujur ?" pikir Gibran.


"kenapa, Ryu ?" tanya Gibran.


"Ah.., kenapa kamu berkaca-kaca, Gibran ?" tanya Ryu.


"karena aku ingin mencelakaimu ...," batin Gibran.

__ADS_1


"tidak, aku hanya kelilipan." kata Gibran mencari-cari alasan.


"ahaha..., aku bukan ingin cerita sedih, Mungkin gara-gara aku Queen jadi__, Aduh ..., kenapa rasanya aku jadi mengantuk, ya ?" kata Ryu.


"mengantuk ? Mungkin karena kamu teralu lelah, Ryu." kata Gibran.


"Hoaamh ..., maaf, aku menguap..," ujar Ryu sambil menutup mulutnya,


"tidak apa-apa."


"sepertinya kamu benar, aku hanya kelelahan." kekeh Ryu.


"tapi aku tidak pernah semudah ini lelah." kata Ryu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan memandang keluar,


"Eh ? Galang ?"


Mendengar itu, Gibran langsung menoleh ke belakangnya,


"Galang ?" tanya Gibran.


"Apa Galang juga akan ke sini ?" tanya Ryu.


"tidak. Dia tidak di sini." kata Gibran.


"Galang bukannya udah di lokasi ? dia gak mungkin di sini ..., tapi gak salah juga, sih..," batin Gibran.


"Oh,iya, sampe mana tadi ?" tanya Ryu.


"Oh,iya. Ayo kita lanjutkan."


*


Awan dan Sera datang ke rumah sakit dan di sana sudah ada Queen dan Liza yang duduk di ruang tunggu. Mata Queen sembab karena menangis.


"Queen ? Kamu baik-baik saja ?" tanya Awan yang segera menghampiri Queen.


"Awan..., huhuhu ..., mau peluk !!" pinta Queen sambil membuka tangannya lebar-lebar.


Awan segera duduk di sampingnya dan memeluknya,


"apakah lebih baik ?" tanya Awan.


"iya..., lebih baik." kata Queen.


Di belakang Awan, Liza malah berbisik ke Sera,


"entah kenapa adegan ini terlihat seperti modus." kata Liza.


Sera melirik ke arah Liza,


"modus ? Siapa ? Awan ?"


Liza menggeleng,


"bukan, Queen." bisik Liza.


"Queen ?" tanya Sera,


"mungkinkah ?" pikir Sera.


"kamu jangan teralu banyak mengkhayal. Queen, aku, kamu atau Bi, sering minta dipeluk Awan. Itu hal wajar." kata Sera.


"Ya, itu terlintas begitu saja. Abaikan.., abaikan." bisik Liza lagi.


"tapi, jika emang ada niat modus, mungkinkah Awan tidak bertepuk sebelah tangan ?" batin Sera.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2