
Malam yang begitu gemerlap, dipadukan dengan suara ombak yang berlomba-lomba menuju bibir pantai, membuat suasana jadi semakin meriah. Namun, tidak untuk suasana hati Awan yang begitu sepi. Ia hanya duduk sambil memutar-mutar sedotan kelapa mudanya seraya memandang teman-temannya yang sedang bermain game Limbo.
"My Cotton Candy!" sapa Queen yang menyadari kesendirian Awan.
Awan langsung menoleh ke arah Queen. Tidak seperti biasanya, Kini responnya terhadap Queen lebih dari biasanya, apalagi kejadian di mobil Van-nya entah kenapa langsung terulang di benaknya.
Awan buru-buru mengalihkan pandangannya.
"A-ada apa? Kenapa ke sini?" Awan masih bicara terbata-bata.
"Kenapa pakai bertanya??? Aku ke sini karena melihat dirimu yang menyedihkan sendirian sambil memutar-mutar sedotan!!!" kesal Queen, tetapi tak pergi.
Awan tersenyum. Rupanya wanita di sampingnya masih memikirkannya.
"Terimakasih, ya ..." ucap Awan sambil membelai rambut keriting Queen.
Seketika Queen langsung merasakan ada sengatan listrik di tubuhnya. Ia langsung menoleh ke arah Awan.
"Uhm ... A-awan ... tidak perlu sampai seperti itu ..." ujar Queen langsung menyingkirkan tangan Awan dari rambutnya.
Awan langsung bisa menyadari kecanggungan di antara dirinya dan Queen. Hatinya langsung terasa gusar. Ia mulai merasakan sakit perut yang entah karena apa penyebabnya.
"Queen? Ti-tidak!!! Ini tidak boleh terjadi!!!" ujarnya panik dalam hati.
"Uhm, Queen? Bukankah aku sudah biasa melakukan ini padamu, kenapa kamu ..." Awan langsung menghentikan perkataannya ketika Queen memberikan telapak tangannya di hadapan wajah Awan. Awan langsung melirik wajah Queen. Matanya membulat ketika ia melihat wajah seorang Queen yang memerah.
"I-iya, tetapi entah kenapa, aku jadi merasa-- ah!" Queen langsung mengalihkan perkataannya sendiri.
"Aku merasa apa? Ahahaha ... Mungkin aku agak tidak nyaman karena jadi teringat Ryu, Aku, Uhm, aku mau ke belakang sebentar, permisi Awan!!!" ucap Queen langsung beranjak dan kabur.
Sementara Awan hanya bisa menatap kepergiannya dengan mata yang membulat. Ia merasakan suara detak jantungnya yang lebih terdengar jelas. Entah kenapa ia merasa Queen gugup menghadapinya.
"Tapi kenapa?" batin Awan.
"Mungkinkah dia sudah menganggapku berbeda?" lanjut Awan lagi di dalam hatinya sambil memegang dadanya.
Wajahnya seketika panas. Rasanya ia baru saja mendapat lotre.
"Tidak semudah itu, Louigi Awanda Lorenzo." Tiba-tiba ia mendengar suara seorang yang terdengar begitu dingin di belakangnya. Awan segera menoleh dan bisa menemukan Pangeran sedang menatapnya tajam.
__ADS_1
"Bang Ran ... Hai, Apa kabar?" sapa Awan ramah sambil mengulurkan tangannya, mengabaikan tatapan tajam Pangeran. Ia sangat tahu arti tatapan tajam itu, tetapi ia berusaha mencairkan suasana.
Namun Pangeran menyingkirkan uluran tangan itu.
"Apa yang lu berusaha lakukan? Mau pedekate sama gue?" ketus Pangeran berusaha menahan emosinya, tetapi tetap duduk di samping Awan.
Awan menggeser dirinya saat Pangeran berusaha duduk di sampingnya.
"Uhm, Maaf, Bang Ran ... Tetapi, bukankah masalah kita sudah selesai semalam?" tanya Awan. Ia bukannya tidak tahu kalau ia heran sejak semalam mencurigainya melakukan sesuatu pada adik perempuannya.
"Apa lu berpikir sebelum melakukannya?" cecar Pangeran mengabaikan pertanyaan Awan.
Langsung terlukis kepanikan di raut wajah Awan.
"Me-melakukan apa? Bu-bukankah sudah kujelaskan? Queen menangis karena harus menghadapi Ryu yang telah menikah dengan Scarlett. Aku hanya menemaninya, menghiburnya dan ... selesai ..." ujar Awan berusaha menjelaskan. Queen saja tidak boleh tahu, apalagi pria di hadapannya ini. Ia bisa-bisa langsung tinggal nama sekarang.
"Jujurlah sekarang atau gue sendiri yang akan mengetahuinya dari mulut orang lain!!!" ancam Pangeran yang masih setia menatap Awan dengan tajam.
Awan tertegun. Tubuhnya membeku ketika Pangeran menatapnya dengan tatapan super tajamnya.
"Ah ... baiklah, tapi jangan katakan pada Queen." Akhirnya Awan mengaku. Ia sudah siap mati sekarang.
"Apa? A-abang gak marah?" tanya Awan malah heran.
"Gue ingin marah rasanya, tetapi bukan saatnya gue marah, toh lu gak teralu jauh melakukannya, kan? Atau lu udah lebih dari sekedar ini??!!!" tunjuk Pangeran pada bibirnya.
Awan menelan ludahnya.
"Ma-mana berani, Bang ... Aku juga tidak ingin melakukan lebih. Aku bukan sekedar mencintainya, tetapi aku juga menyayanginya. Aku tahu batasan, Bang," ucap Awan panjang lebar.
"Hanya saja ... hanya saja kemarin, aku tidak bisa mengendalikan diriku, makanya--"
"Lalu bagaimana jika lu gak bisa mengendalikan diri lu lagi? Apa gue bisa tenang dengan membiarkan lu berkeliaran di sekelilingnya?" tekan Pangeran yang masih setia menatap lurus ke arah mata Awan.
Ia paham perasaan Pangeran, mungkin ia juga tidak akan rela jika ada laki-laki yang mencium bibir Pelangi tanpa izinnya.
"Aku yang akan menjamin itu, Bang. Jika memang aku tidak pantas di sampingnya, maka aku akan menjauh. Toh, aku tidak boleh terlihat memiliki kekasih ... jika aku melanggar hak itu maka, bukan saja diriku yang dikeluarkan, tetapi aku juga harus membayar denda," ujar Awan.
Pangeran terdiam, seolah sedang berpikir. Ia juga sangat tahu kalau Awan punya arti penting tersendiri bagi adik perempuannya itu.
__ADS_1
"Jangan ..." Akhirnya kata itu yang keluar dari mulut Pangeran.
"Ja-jangan?" Sekalipun Awan mempertanyakannya, tetapi sebenarnya ia juga senang.
"Ya, bersikap saja seperti biasa. Lu dilarang mengungkapkan perasaan lu sampai pada waktunya. Jangan menyulitkan Queen, jangan berusaha mencuranginya. Jika sekali lagi lu ketawan berusaha mengambil keuntungan dari adik gue, Lu bener-bener akan habis sama gue! Gue akan melupakan hubungan baik orang tua kita, gue bahkan melupakan hubungan baik lu dan adik gue. Paham?" ancam Pangeran yang langsung disambut anggukan kepala Awan.
"Mungkin gue gak ada di sekitar lu, tetapi bukan berarti gue gak tahu. Orang-orang gue banyak, dan gue bisa tahu apa yang lu sembunyiin dari sorot mata lu. Camkan itu!" ancam Pangeran lagi.
Awan hanya bisa menganggukkan kepalanya. Sekuat apapun dirinya, ia tetap tidak bisa melawan seorang Pangeran karena dirinya sangat menghormatinya.
"Memangnya aku bisa melawanmu bagaimana?" tanya Awan.
Pangeran langsung berdecih mendengar penuturan Awan.
"Jika sudah waktunya, bertarunglah denganku di atas Arena, Nanti, aku yang akan menilainya, apakah kamu layak untuk Queen atau tidak," tekan Pangeran yang sontak membuat Awan bergidik ngeri. Jika Pangeran sudah mengajaknya bertarung di atas Arena, itu berarti dia akan segera habis.
"BANG RAN!!!!!" Tiba-tiba ada suara teriakan seorang wanita yang membuyarkan suasana mencekam sesaat di antara mereka.
Pangeran segera mencari asal suara itu dan matanya langsung membulat karena kehadiran wanita itu.
Wanita itu menghampiri Pangeran dan Awan.
"Bang Ran!!!" serunya langsung memeluk Pangeran. Pangeran sampai salah tingkah dibuatnya.
Awan yang ada di sana jauh lebih kaget lagi dengan kehadiran wanita itu.
"Amanda ..." ucap Pangeran malu.
"Kenapa??? Apa salah, jika aku memeluk pacarku sendiri???" kesal Amanda sambil cemberut.
"Hah? Pa-pacar?" Awan lebih kaget mendengarnya.
Amanda langsung melepas pelukannya dan tersenyum.
"Iya!" Amanda menggandeng lengan Pangeran.
"Aku dan Bang Ran sudah jadian, Yeay!" seru Amanda girang sendiri. Awan langsung memandang Pangeran dengan tatapan penuh tanya.
"Sejak kapan?" tanya Awan.
__ADS_1