I Love You Queen

I Love You Queen
S2: Datang Kembali


__ADS_3

Akhirnya Queen pulang bersama Iskandar setelah janji yang Iskandar ucapkan pada Amara. Iskandar meminta Queen untuk menenangkan diri saja terlebih dahulu dan fokus pada studinya. Permasalahan tentang Galang akan dibereskan oleh Iskandar juga beberapa kenalannya di kepolisian.


Akhirnya keadaan tenang hingga Queen kembali masuk kuliah. Ia berusaha sekuat tenaga menjalani kesehariannya seperti biasa sambil diam-diam menanyakan keadaan Galang yang masih belum sadarkan diri. Di sisi lain, ia juga disibukkan dengan persiapan pernikahan Abangnya, Ran.


Dikarenakan Pangeran adalah seorang abdi negara perlu ada beberapa acara khusus dan persyaratan untuk menikah.


Selain itu, Ia juga jadi agak jarang berinteraksi dengan Awan dan dua sahabat lainnya yang tengah disibukkan oleh kegiatan entertain mereka juga beberapa panggilan televisi. Belum lagi mereka punya acara khusus sendiri yang memang dibuatkan oleh manajemen untuk memanjakan fans.


Sementara kasus kecelakaan Galang masih dalam penyelidikan. Satu hal yang Queen dengar, sopir truk yang menabrak taksi online Galang menghilang tanpa jejak dan plat nomor truk itu adalah nomor bodong, begitu juga surat mobil yang tidak terdeteksi. Hal itu menaruh kecurigaan bahwa kecelakaan yang terjadi bukan lah akibat kelalaian melainkan kesengajaan yang bisa diduga percobaan pembunuhan. Sayang, sopir truk itu masih dikejar dan dicari keberadaannya.


Kini Queen sedang berada di Coffeshop sendirian sembari mengerjakan tugas kuliahnya. Acara Ran kemarib sungguh menguras habis energinya, sehingga ia mumet berada dalam suatu ruangan. Ia pun pergi ke coffeshop yang memiliki tempat minum outdoor dengan pemandangan eycatching.


Dirinya fokus mencari referensi sambil mengenakan headset agar konsentrasinya semakin baik. Namun tiba-tiba ada seorang laki-laki yang duduk di meja yang sama dengannya, membuat Queen terusik. Ia pun menghentikan aktivitasnya dan mengangkat kepalanya.


Kedua mata Queen membulat ketika melihat seorang laki-laki berkacamata yang tengah mendinginkan kopi pansanya duduk dengan santai di mejanya.


"Jonas?" Queen mengucapkan nama lelaki itu. Sebenarnya masih ada sedikit rasa canggung karena pernah menolak perasaan lelaki ini, tetapo Queen berusaha terlihat baik-baik saja.


"Lama gak ketemu, Queen. Kabarmu gimana?" tanya Jonas yang sama sekali tak canggung.


Queen malah lebih heran, kenapa lelaki ini begitu luwesnya duduk di meja yang sama dengannya tanpa permisi. Wanita itu pun menyisir seluruh isi cafe, kemudian memastika dengan seksama lelaki di hadapannya.


"Ada apa, Queen? Ada yang aneh?" tegus Jonas.


Tatapan Queen menajam.


"Kamu yang aneh!" tukas Queen, yang sontak membuat Jonas mendelik, tetapi masih visa disembunyikan. Lelaki itu pun kembali memasang senyumnya.


"Aneh? Apa yang aneh?" pancing Jonas.


Queen mengernyitkan dahi.


"Kenapa kamu bisa tiba-tiba di sini? Kenapa kamu juga tiba-tiba duduk di mejaku?" selidik Queen. Ia mengenal Jonas, lelaki ini agak pemalu, tetapi tingkahnya yang begitu tiba-tiba seolah menggambarkan kepribadian orang lain.


Jonas malah menyeruput kopinya.


"Semua orang bisa berubah, Queen ..." jawabnya enteng.


"Lagipula aku memang kebetulan ingin minum kopi kemudian tak sengaja menemukan kamu sedang serius di sini ..." Jonas memandang ke sekeliling.

__ADS_1


"Toh, ini tempat yang bagus, bisa sedikit refreshing," ujar Jonas sambil tersenyum.


Namun Queen bisa merasakan, senyuman itu menyimoan arti lain. Ia hanya bisa menatap lelaki di hadapannya ini penuh curiga. Ia jadi agak merinding menghadapinya.


"Ka-kamu tidak marah padaku, Jonas?" pancing Queen.


"Marah? Marah kenapa?" tanya Jonas lagi.


"Karena aku menolakmu," ujar Queen.


Sontak Jonas menghentikan aktivitasnya.


"Uhm, tidak apa-apa. Toh, kamu memang sedang mengobati hatimu, 'kan?" ucapnya agak bergetar.


"Jika masih marah padaku, seharusnya kamu jangan menahannya, Jonas," ujar Queen.


Lelaki itu mengangkat kepalanya dan memandang Wanita di hadapannya.


"Aku juga tak berharap kamu memaafkanku ... Pikirkan lah dirimu, kamu juga berhak bahagia," ujar Queen.


"Justru aku bahagia jika bersamamu!" teriak Jonas dalam hati.


"Aku mau kita bisa jadi teman seperti dulu. Atau setidaknya sama-sama fans CLD," ujar Jonas yang membuat Queen tertegun kemudian tertawa.


"Fans CLD? Ya ampun, aku baruningat kamu juga nge-fabs sama mereka." Queen malah geli sendiri, tetapi sebenarnya ia sangat merindukan ketiga sahabatnya itu.


"Boleh jika mau. Aku adalah fans pertama mereka," ujar Queen.


Seketika terbit senyum cerah di wajah Jonas.


"Queen, jika kamu butuh seseorang, jangan segan menghubungiku. Please, jangan canggung," mohon Jonas.


"Maaf, Jonas, aku canggung karena merasa gak enak sama kamu. Aku juga maunya kita temenan kayak biasa, tapi ..." Queen berhenti, bukankah ia terlalu frontal?


"Tapi?" ulang Jonas.


"Uhm, tidak. Maaf, Jonas," ujar Queen lagi.


Jonas tersenyum.

__ADS_1


"Jangan berkata maaf lagi, aku tidak mau mendengar itu. Yang aku mau kita jadi teman lagi. Uhm, bisa kan kita saling tukar nomor dan chatting-an?" pinta Jonas yang membuat Queen kaget. Lelaki ini sungguh bukan Jonas yang ia kenal dulu, tetapi mungkin Queen yang memang tidak mengenalnya begitu dalam.


Wanita 20 tahun itu berpikir sejenak, ia menelisik Jonas dari atas kepala hingga ujung kaki. Apakah akan baik-baik saja jika mereka berhubungan? Mungkin Jonas tidak merasa canggung, tetapi Queen yang justru canggung.


"Jonas, kamu tidak ada niatan lain selain menjadi temanku 'kan?" curiga Queen. Pasalnya, jika lelaki itu masih mengharapnya, maka Queen tak bisa mewujudkannya.


Jonas sempat terdiam sambil terus memasang senyumnya.


"Tentu saja tidak, Queen. Aku hanya merasa sayang, dulu kita adalah teman, tetapi karena pengakuanku, kita malah jadi tidak bisa berteman," ucap Jonas sambil memasang raut sedih.


"Apa aku coba ikuti saja kemauannya? Atau sebaiknya aku menjauh saja? Firasatku buruk. Pertemuan dan arah percakapan ini agak memaksakan bagiku," gumam Queen dalam hati.


"Jadi, mau bertukar nomor? Uhm ... Sejak hari itu, aku tidak bisa menghubungimu, Queen," sedih Jonas.


"Jelas saja! Aku yang memblokir nomormu!" ujar Queen dalam hati.


"Baik lah," ujar Queen akhirnya memutuskan, membuat kesedihan di wajah Jonas sirna.


"Kita boleh jadi teman," ujar Queen lagi.


"Aku mempercayaimu, Jonas!" tekan Queen berusaha mengintimidasi Jonas, tetapi wajah lelaki itu malah terlihat cerah dan ceria.


"Terima kasih, Queen. Akhirnya aku bisa kembali berteman dengan satu-satunya temanku!" uhar Jonas girang.


Queen tertegun dengan ucapan Jonas, dia tidak salah dengar bahwa dia adalah satu-satunya teman Jonas?


"Jadi, boleh aku minta ponselmu?" tanya Jonas.


"Untuk apa?" tanya Queen.


"Tentu untuk memasukkan nomorku!" seru Jonas.


Queen pun mengambil ponselnya dan mengutak-atik layar ponselnya. Ia sengaja menghapus nomor Jonas kemudian memberikannya pada lelaki itu.


"Nah, sudah selesai. Sekarang kita sudah terhubung!" ujar Jonas. Queen hanya mengangguk sembari berusaha tersenyum.


"Queen, kamu pasti akan jadi milikku," gumam Jonas dalam hati.


***

__ADS_1


Jangan lupa Favorit, like and komen yaa


__ADS_2