I Love You Queen

I Love You Queen
S2 : Mengapa Aku Tak Bisa Melepasnya?


__ADS_3

Queen POV


Aku duduk sendirian di ruang tamu cottage-ku. Semua orang kini sudah tidur. Sedangkan aku diam-diam keluar dari kamar hanya untuk menikmati waktu sendiriku dan memikirkan jawaban dari pertanyaan yang masih berputar-putar di benakku.


Sebenarnya mengapa aku bisa jatuh cinta pada seorang Ryuuji Rahyudi? Apa yang membuatku tak bisa semudah itu melepasnya? Mungkinkah ini bisa diartikan sebagai bentuk dari kesetiaanku padanya? Namun jika memang itu bentuk kesetiaan, mengapa aku tetap tidak bisa melepasnya saat dia menolakku bahkan dengan undangan pernikahan ini?


Faktanya undangan pernikahan dalam bentuk video itu juga sudah dikirimkan padaku. Aku bahkan menontonnya berkali-kali. Berharap nama yang tertera di undangan itu adalah namaku. Bukan nama Scarlett. Namun apa daya, wanita yang dicintai Ryu adalah Scarlett dan nama itu juga yang dinikahi olehnya satu tahun lalu.


"Haruskah aku jadi pelakor?" kekehku putus asa. Sebegitunya putus asa kah diriku sampai berniat jadi perebut suami orang? Papa tidak akan mengakuiku lagi jika aku jadi pelakor.


Tiba-tiba air mataku menetes lagi.


"Ryu, sebesar itu, kah cintamu pada Scarlett??" gumamku sambil memutar ulang video undangan itu lagi.


"Bukankah harusnya aku patah hati? Mengapa aku masih mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi?" gumamku lagi.


Kalau dipikir lagi, kembali ke masa lalu, mengurutkan bagaimana awalnya aku jatuh cinta pada Ryu. Aku benar-benar tidak bisa mengingatnya. Seingatku, pertemuan singkat kami 15 tahun lalu dengan Ryu benar-benar berkesan.


Ryu datang ke rumahku bersama kedua orang tuanya. Ia menginap di rumah kami selama satu minggu. Dia begitu memperhatikanku yang 5 tahun lebih muda darinya. Tunggu. Mungkinkah perhatian itu yang membuatku menyukainya?


"Mau coklat panas?" Tiba-tiba suara lembut seorang lelaki ini memecahkan lamunanku. Siapa lagi kalau bukan Awan. Satu-satunya laki-laki yang tidak bisa aku anggap sebagai laki-laki. Dia teralu manja dan imut jika harus disebut laki-laki.


Aku mengambil cangkir berisi coklat panas di tangannya.


"Thanks ..." kataku sambil menyeruput coklat panas buatannya.


"Ternyata malam di sini dingin, ya ... Aku udah lama gak ke sini," kata Awan lalu meminum coklat panasnya.


"Ya, semakin dingin jika ... hiks!" Entah kenapa saat mendengar kata dingin aku jadi sedih. Air mataku ini tidak bisa berhenti dari kemarin.


Namun tiba-tiba sentuhan lembut membelai pipiku dan menghapus bulir air mata yang membasahi pipiku. Aku memandang si pemilik sentuhan itu. Laki-laki itu juga memandangku dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Queen ..." lirihnya memanggil namaku.


"hm?" tanyaku sambil terisak.


"Aku sedih saat melihatmu sedih. Rasanya dadaku sangat sesak ..." ungkapnya. Kenapa bisa sampai seperti itu? Apakah karena kami dekat?


"Tapi ... mana bisa aku melarangmu menangis? Aku selalu berharap kesedihanmu berkurang sedikit demi sedikit lewat tetesan-tetasan air matamu ini, sayangnya ...hiks!" Ia malah terisak. Air matanya juga menetes begitu saja.


"Sayangnya apa, My Cotton Candy?" tanyaku dengan suara yang berat. Aku juga jadi sedih melihatnya menangis.


"Sayangnya, kesedihan itu teralu banyak sampai-sampai tak kunjung berhenti ..." tangis Awan. Kini ia menghapus air matanya sendiri.


Tanganku segera mengusap pipinya yang basah. Tangisan Awan malah makin deras begitu aku mengusap wajahnya. Ia menggenggam kedua lenganku.


"Maafkan aku, Queen ... Harusnya aku tidak boleh terlihat lemah di hadapanmu, harusnya aku menguatkanmu, aku benar-benar bukan sahabat yang baik, hiks!" tangisnya.


Tanganku ini langsung menghapus semua air matanya. Aku tidak pernah tega melihat wajah manisnya itu menangis.

__ADS_1


"Kamu sudah cukup kuat Awan ..." kataku menghiburnya.


"Jangan menghiburku, Queen ..." pinta Awan. Ia sepertinya tahu kebutuhanku. Di antara keempat temanku, dia memang yang paling perhatian dan mengerti diriku dari dulu. Sekalipun aku sering mengerjainya, dia tidak pernah lelah menghadapiku dan tetap berada di sisiku.


Tunggu. Kenapa tiba-tiba aku merasa posisi Awan terhadapku mirip dengan posisiku terhadap Ryu?


Aku langsung menghapus sisi air mata dipipiku dan menatap Awan serius.


"Awan ..." panggilku.


"Hm?" tanyanya yang juga sedang berusaha menghapus air matanya.


"Aku punya pertanyaan padamu?"


"pertanyaan apa, Queen?" tanya Awan.


"Apa kamu punya alasan untuk tetap berada di sisi kami?" Ya, tidak mungkin aku menanyakan alasannya untuk tetap berada di sisiku. Dia itu milik kami berempat, bukan salah satu dari kami.


Awan mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia seolah kebingungan.


"Hm ... Kenapa, ya?" katanya sambil berpikir.


Aku menantikan jawabannya yang masih berpikir. Ia lalu memandang wajahku dan tersenyum.


"Penasaran, ya-- Awww!!!" Aku langsung mencubit kedua pipinya. Aku benar-benar tak tahan dengan candaannya kali ini. Bisa-bisanya dia meledekku saat aku sedang sedih dengan wajah konyolnya itu.


"Dasar menyebalkan!!! Bisa-bisanya kamu bercanda saat aku sedih!" kataku ngambek sambil melipat kedua tanganku.


"Lagian, kamu serius amat," kekehnya.


"Ya iyalah, serius! Soalnya kesetiaanmu padaku itu sama seperti kesetiaanku pada Ryu! Jadi aku penasaran!! Aku sedang berusaha move on, tetapi tidak bisa!!!!" Aku melontarkan semua isi hatiku hingga membuat ia tertegun dan mematung. Apakah kalimatku ada yang aneh?


"Ka-kamu bilang, kesetiaanku padamu sama seperti kesetiaanmu pada Ryu?" ulangnya.


Aku menganggukkan kepala pelan. Entah mengapa aku merasa Awan merasa terhina dengan kalimatku itu.


Ia lalu terkekeh.


"Kesetiaanku padamu sama dengan kesetiaanmu pada Ryu?" kekehnya sambil memijit keningnya.


"A-apa ada yang aneh, My Cotton Candy?" tanyaku agak tidak yakin.


Awan berusaha mengerem kekehannya dan memandang mataku.


"Aneh? Tentu saja aneh. Andaikan dua hal itu memang sama, Queen," kata Awan.


"Apa ... Apa tidak sama?" tanyaku begitu polos.


"Tentu saja berbeda, Kamu itu terlalu terang-terangan mengungkapkan perasaanmu pada Ryu, sekalipun udah ditolak juga pantang menyerah," kekeh Awan.

__ADS_1


"Memangnya kamu gak begitu?" tudingku.


"Hah? Memangnya kamu pernah menolakku?" katanya begitu percaya diri, tetapi tidak salah. Aku tersenyum dan langsung memeluk pinggangnya. Memeluk pinggangnya adalah kesenanganku. Setiap memeluknya, aku merasakan kenyamanan dan ketenangan.


"Eeh?" Dia kelabakan dengan tingkahku yang tak terduga.


"Hati-hati, gelasnya nanti kesenggol!" ujarnya memperingatiku.


"Lagian, gunanya apa coba kamu datang kalau bukan buat dipeluk?" kataku sambil ngedusel-dusel di perutnya.


"Iih ... Queen! Geli!" katanya cekikikan.


"Cukup, Queen ... Aduh ...." kata Awan mohon ampun. Aku paling suka saat-saat seperti ini, tetapi aku cukup berbaik hati hingga akhirnya aku melepas pelukanku.


"Kamu ini keteraluan ..." keluh Awan sambil mengusap-usap area perut dan pinggangnya, mungkin ia masih merasa geli.


"Maaf, ya Awan ... Hanya dengan begitu perasaanku akan lebih baik, sekarang aku lebih baik, Yeay!" seruku girang. Entahlah, aku seperti mendapatkan energi baru setiap memeluk Awan.


"Haduh ... setidaknya aku bisa melihat senyummu lagi, itu sudah membuatku senang," kata Awan lalu tiduran. Aku juga ikut tiduran di sampingnya dan melingkarkan tanganku di pinggangnya. Aku menatap wajahnya yang sedang memandang ke langit-langit ruangan.


"Jangan menyerangku dengan mata jahat!" protes Awan.


"Siapa yang menyerangmu?" tanyaku lalu menyenderkan kepalaku di bahunya.


"Lalu? Kamu mengapa menatapku?" tanya Awan.


Aku mengeratkan pelukanku pada pinggang Awan.


"Awan ..."


"Hm?"


"Menurutmu, kenapa aku gak bisa move on dari Ryu?" tanyaku.


"Entah. Hanya kamu yang tahu. Lagipula move on itu tidak bisa dipaksakan. Kamu hanya harus coba mengikhlaskan," ujar Awan.


"Susah untuk ikhlas. Aku hanya merasa perjuanganku sia-sia selama lima belas tahun ini. Hanya satu nama di hatiku, tetapi nama itu juga yang mengkhianatiku, mirisnya aku malah terperangkap di perasaan yang hanya jadi angan-angan ini," lirihku sedih.


"Mungkin karena itu," celetuk Awan lalu mengelus tanganku yang memeluknya.


Aku mengernyitkan dahi


"Karena itu? Maksudnya?"


***


Karena apa hayoo?


Jangan lupa Favorite, rate 5, like, vote dan kasih hadiah, supaya mama Uzda semangat terus updatenya, Love you all

__ADS_1


__ADS_2