I Love You Queen

I Love You Queen
S2: Tidak Biasa


__ADS_3

Awan hanya diam sembari menunggu Queen berhenti menangis. Tidak ada gunanya bicara jika hati Queen masih belum tenang. Ia mungkin akan semakin menuding dirinya sendiri.


Di sisi lain, Awan juga agak kesal dengan orang tua Galang. Kenapa malah menyalahkan Queen? Ini adalah takdir dan memang harus dilalui. Kecuali jika kecelakaan ini memang disengaja. Namum belum tentu juga penyebabnya adalah Queen.


"Tunggu, disengaja?" gumam Awan dalam hati. Mungkin kah kecelakaannya memang disengaja? Awan pun melirik ke arah Queen. Tiba-tiba di benaknya muncul sebuah nama jika memang Queen penyebabnya.


"Jika memang benar, bukan kah mereka hanya saling balas dendam?" gumam Awan. Namun Pria itu langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Apa, sih yang kamu pikirkan, Awan? Kenapa malah menuduh orang lain lagi?" omelnya pada diri sendiri. Hal yang jauh lebih penting bagi Awan adalah menenangkan Queen. Semoga saja kemarahan ibunya Galang juga hanya kemarahan sesaat, sehingga tidak menjadi masalah yang berkepanjangan.


Tiba-tiba ponsel Awan berdering, membuat atensinya beralih. Awan pun mengambil ponselnya dan melihat nama Iskandar—Papanya Queen menelpon.


"Queen, aku angkat telepon dulu, kamu tenangkan lah dirimu, oke?" izin Awan. Queen yang masih tenggelam dalam kesedihan hanya mengangguk. Awan pun pergi ke belakang mobil dan menerima teleponnya.


Awan:"Ya, Papa Iskandar?" jawab Awan.


Iskandar:"Awan, Apa Queen sedang bersamamu?" tanya Iskandar di seberang sana yang membuat Awan heran. Namun Awan mengiyakannya.


Iskandar:"Papa dengar Galang kena kecelakaan, apa kamu tahu bagaimana keadaannya sekarang?"


Awan :"Awan belum tahu, Pa .... Saat Awan datang, Awan bertemu dengan Queen dan sedang menemaninya," jawab Awan.


Iskandar:"Menemaninya? Apa Queen begitu terpukul?" Tentu Iskandar tahu bagaimana hubungan putrinya itu dengan Galang. Aneh jika Sang Putri satu-satunya sampai terpukul.


Awan:"Yah, Uhm, Awan juga tidak begitu paham kronologinya, Pa .... Tapi tante Amara melampiaskan kesedihannya dengan menyalahkan Queen, makanya dia jadi merasa bersalah sekarang," lapor Awan.


Iskandar mengjela bapas di seberang sana. Ia berusaha memahami posisi Amara, tetapi tidak membenarkannya juga.


Iskandar:"Baiklah, banti Queen menenangkan dirinya dulu, Papa dan Mama Rin sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Nanti kita bertemu saat sampai, ya?" ucap Papa Iskandar. Awan mengiyakannya, setelah itu telepon pun ditutup kemudian Awan kembali ke tempat Queen menangis tadi.


Ketika kembali, Queen sudah lumayan bisa mengendalikan emosinya. Awan pun menghampirinya.


"Kamu sudah lebih baik, Queen?" tanya Awan memastikan.


Queen pun mengangguk. Melihatnya, membuat Awan sedikit tenang, tetapi ia tahu bahwa Queen masih butuh sedikit hiburan.

__ADS_1


"Mau Awan peluk, hm? Mungkin Queen akan merasa lebih baik?" tanya Awan langsung membentangkan kedua tangannya dan hendak memeluk Queen, tetapi reflek, Queen menghentikannya, sehingga membuat keduanya jadi canggung.


"Queen menolak pelukanku? Kenapa?" batin Awan heran.


"A-aku kenapa? Ti-tidak biasanya tubuhku reflek menolak pelukan Awan?" bingung Queen dalam hati.


Awan pun berdehem.


"Y-yah ... Jika kamu belum terali nyaman, maka aku tidak akan memelukmu," ujar Awan berusaha mencairkan suasana sambil garuk-garuk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


Queen bahkan tak bisa berkata apa-apa dan hanya mengangguk sambil menghindari tatapan Awan. Kini wanita itu malah merasakan hal aneh lainnya, membuat diri ya heran sendiri. Tangannya merember ke dada kiri karena jantungnya terus saja berdebar-debar tanpa alasan.


"I-ini aku kenapa? Apa karena teralu takut dengan kemarahan tante Amara tadi?" bingung Queen lagi.


"Queen!" seru Awan yang membuyarkan lamunan wanita 20 tahun itu.


"Papa Iskandar sedang dalam perjalanan ke sini ... Dan maaf, tadi aku melapor tentang apa yang Tante Amara lakukan padamu," ucap Awan sebelum ia disalahpahami.


Atensi Queen pun beralih pada Awan.


"Papa hanya bilang akan menemuimu dulu ... Uhm, jadi ..." Awan malah tiba-tiba jadi kikuk, sesungguhnya ia masih canggung karena penolakan Queen barusan.


"Jadi?"


"Jadi, Ka-kamu jangan khawatir, oke? Se-semua akan baik-baik saja. Aku juga yakin bahwa Galang akan segera membaik," ujar Awan berusaha agar Queen juga berpikir positif.


Queen kembali mengangguk sambil termenung. Ia yakin, Sang Papa pasti bisa menengaji dirinya dan Tante Amara.


"Ucapan Tante Amara itu tak berdasar dan hanya merupakan pelampiasan. Jadi, kamu jangan merasa bersalah, Queen!" hibur Awan lagi.


Sekali lagi Queen mengangguk tanpa menatap wajah Awan. Entah kenapa seluruh anggota tubuhnya terus saja menghindari Awan, tidak seperti biasanya.


Padahal memeluk Awan dan menatapnya adalah hal biasa, tetapi kali ini, Tubuh Queen seolah membuat jarak pada Awan.


"Y-yah ... Mungkin kamu mau jalan-jalan agar bisa lebih tenang?" tawar Awan. Lagi-lagi Queen hanya mengangguk dan keluar dari mobil. Queen pun jalan mendahului Awan, sedangkan Awan berjalan mengikutinya di belakang.

__ADS_1


***


Rin sangat geram mendengar dari Sang Suami bahwa putrinya dijadikan pelampiasan oleh Amara. Sementara Iskandar hanya berusaha fokus pada jalan menuju rumah sakit. Tentu mereka juga dapat kabar tentang kecelakaan itu. Mau bagaimana pun, mereka juga punya hubungan baik dengan Amara dan Levi.


"Apa tidak ada pelampiasan lain selain Putri Kita? Kenapa dia malah menyalahkan Queen?" kesal Rin tak terima. Wanita ini memang pendiam, tetapi jika keluarganya diganggu, ia bisa berubah jadi singa betina.


"Tuduhan dia sama sekali tak berdasar! Gue udah tahu jalan pikirnya, pasti dia melakukan cocoklogi dengan kejadian lima tahun lalu, kemudian menganggap putri kita sebagai malapetaka!" ujar Rin penuh emosi.


Iskandar hanya melirik agar Sang Istri tidak merasa diabaikan, sekalipun telinganya sangat panas mendengar ocehan istrinya.


"Bukan kah dia berasal dari keluarga yang terdidik, tetapi kenapa masih percaya hal begituan! Rasanya ingin gue semprot pakai sumpah serapah!" geram Rin sambil melipat kedua tangannya.


"Jangan bertindak gegabah, Rin!" cegah Iskandar.


Rin langsung menghadapkan tubuhnya pada Sang Suami seraya menunjuk dirinya.


"Gue? Gegabah? Gue cuman mau kasih dia pelajaran karena berani-beraninya nuduh anak gue yang enggak-enggak!" bela Rin pada dirinya.


"Memangnya Queen apa, yang merencanakannya? Untuk apa juga dia merencanakannya?" gumam Rin masih kesal.


Iskandar pun meliriknya. Ucapan Sang Istri bagaikan petunjuk yang tak sengaja ia dengar. Namun Pria paruh baya itu hanya terdiam saja.


"Nanti biarkan aku yang bicara pada Amara," ujar Iskandar yang kini muncul kilatan tajam di sorot matanya.


"Mau bicara apa, Iskandar—" Rin terhenti begitu melihat ekspresi tajam suaminya. Rin sangat tahu bahwa Sang Suami lebih geram daripada dirinya.


"Akan aku buat dia bungkam dan berhenti menyalahkan putriku!" tekad Iskandar.


***


Menurut Kalian, Kenapa Queen tiba-tiba jadi canggung sama Awan? Apa karena perasaannya yang campur aduk, atau hal lain?


Jangan lupa Like, komen, Favorit yaa


Love you All

__ADS_1


__ADS_2