
Galang tersenyum lebar pada Gibran yang sedang berdiskusi di ruang diskusi perpustakaan,
"kakak Gibran, ngomong-ngomong, siapa orang asing yang ada di samping kakak Gibran? Apa dia tidak tahu kalau di sini adalah tempat untuk berdiskusi. Bukan bermain-main?" Tanya Queen.
Ia cukup tegas kalau soal peraturan. Sama seperti Iskandar, Queen tidak pernah pandang bulu, meskipun orang itu lebih tua atau lebih tinggi derajatnya.
"Queen, lu jangan teralu kejam. Kasian Galang, nanti pundung...," Ledek Barlie, teman sekelas Galang yang tergabung di tim yang sama dengan Queen dan Gibran.
"ehm ! Gue cuman mau memastikan, kalau My Queen baik-baik aja di antara dua laki-laki ini...," kata Galang cari-cari alasan.
"Abaikan saja dia Queen. Ayo kita lanjutkan diskusinya. " Kata Gibran yang sebenarnya juga tidak merasa nyaman. Queen hanya menatap Galang sinis.
*
Galang mengikuti Queen dari belakang,
"Ya ampun..., Kak Galang ! Gak bosen apa ngintilin aku Mulu ? Biasanya kak Galang juga main basket,kan di lapangan?" kata Queen yang mulai gerah.
Galang malah tersenyum,
"jadi, lu suka merhatiin gue main basket,ya?" kata Galang malah Ge-er.
Queen memutar bola matanya,
"hello, kak Galang ! Bukan itu poinnya. Poinnya, intinya, adalah aku mau kak Galang pergi !" kata Queen.
"hah?!!"
"emangnya lu mau kemana?" tanya Galang.
"Aku mau ke toilet. Puas ? Udah, sana balik ke kelas !!!" kata Queen lalu pergi.
"Queen !!! Sampai jumpa hari Sabtu !!!" Teriak Galang.
Mendengar itu, Queen malah menghentikan langkahnya,
"sampai jumpa hari Sabtu? Maksudnya?" Gumam Queen.
"duuh.. bodo ah.., kebelet !" kata Queen langsung lari ke kamar mandi.
__ADS_1
*
Galang yang tidak berhasil mengikuti Queen, kini mulai merecoki Gibran di kelasnya,
"Sebentar lagi,kan masuk, Lang..., Sana balik ke kelasmu !" Usir Gibran. Meskipun mereka kembar, tetapi mereka memang ditempatkan di kelas yang berbeda.
"Gibran, lu mau,kan bantuin gue? Secara, Queen ada di tim lu. Tuhan benar-benar berpihak sama gue ! Lu emang ditakdirkan untuk membantu kakak kembar lu ini...," kata Galang sambil memeluk Gibran.
"ih.., apaan, sih?" kata Gibran.
"Ayolah..., Lu sayang,kan sama gue?" Galang mulai mengeluarkan senjata ampuhnya.
"ya__, iya, sih sayang...," kata Gibran.
"gue juga sayang sama lu. Nah, makanya, gue kasih lu jalan pintas buat deketin Liza." kata Galang lagi.
"Hah? Siapa yang mau deketin Liza?? Asal kamu tau, ya..., Mama bahkan gak suka sama dia. Nama Liza itu udah di blacklist sama Mama!" kata Gibran yang sudah kehabisan alasan untuk menjelaskan pada saudara kembarnya ini, bahwa dia tidak memiliki perasaan apapun pada Liza.
"di blacklist? Wew.., Justru itu...," kata Galang.
"Justru apa?"
"Lu harus perjuangin___,"
"Nih, udah bel. Sana pergi ! Balik ke kelas sana !!!" Usir Gibran.
*
Gibran berjalan keluar gerbang sekolah, seperti biasa ia disuruh pulang sendiri oleh Galang karena Galang mau berusaha mengajak Queen pulang bersamanya. Namun langkahnya terhenti ketika melihat sosok gadis yang menyakiti matanya,
"Hai Gibran...," Sapa gadis itu yang sebenarnya adalah Liza sambil tersenyum lebar.
Gibran menaikkan alisnya sebelah, Ia memilih untuk mengabaikannya lalu melewati Liza.
"Iih ! Sombong banget, sih jadi cowok ! Lu gak tau sopan santun,ya kalau menghadapi gadis cantik seperti gue ini?" kata Liza yang membuat Gibran berhenti. Ia berbalik dan menghampiri Liza,
"sopan santun? Cewek kayak kamu gak pantes di kasih sopan santun !!!" Kata Gibran yang mulai kesal. Liza mengernyitkan dahinya.
"Gibran__,"
__ADS_1
"Asal kamu tahu...," Gibran menunjuk wajah Liza dengan telunjuknya, Liza tertegun.
"Aku sangat membenci kamu dan tidak pernah berharap kamu ada di hidupku !!!" Gibran mengeluarkan uneg-unegnya yang ia tahan selama ini.
"jadi, jangan pernah muncul di hadapanku, atau pura-puralah tidak mengenalku !!! Aku mau muntah setiap melihat atau bahkan mendengar suaramu !!!!" Kata Gibran yang kali ini membentak Liza sehingga mata Liza mulai berkaca-kaca, wajahnya memerah.
"A,apa.., Apa aku terlalu berlebihan? Kenapa dia diam saja? kenapa matanya berkaca-kaca__," batin Gibran jadi merasa bersalah, padahal dia baru saja merasa lega karena mengeluarkan isi hatinya.
"Padahal.., padahal..., Liza cuman mau bilang makasih sama Gibran...,hiks !" Mata Liza mulai mengeluarkan butiran-butiran bening.
"ah.., dia menangis. Gimana ini...," batin Gibran jadi merasa bersalah.
"Kalau emang Liza pernah bikin Gibran kesal sampai membenci Liza, Liza minta maaf..., setelah ini Liza gak akan nemuin Gibran lagi dan akan pura-pura gak kenal Gibran.., hiks !" Liza terisak lagi.
"Liza__," Liza sudah keburu pergi sambil berlari sebelum Gibran menjelaskan maksud kata-katanya.
"arghh.., kamu benar-benar laki-laki yang jahat. Bodo ah ! Emangnya aku akan bertemu dengannya lagi?" kata Gibran lalu pulang.
*
Queen baru selesai merapikan isi tasnya. Kalau pulang, ia memang selalu keluar terakhir karena punya kebiasaan merapikan isi tas sekolahnya sebelum pulang.
"QUEEEN !!!!" Tiba-tiba Liza datang sambil merengek. Queen bahkan sampai terhenyak kaget,
"Liza ??" Kata Queen kaget.
"Queen....," Liza langsung menghampiri Queen dan memeluknya. Queen yang tahu Liza sedang sedih langsung memeluk Liza dan mengelus - elus punggungnya.
"huhuhu....," rengek Liza.
"kamu kenapa, Liza? Siapa yang bikin kamu nangis?" tanya Queen.
"huhu..., hati Liza sudah terluka, kini malah disayat-sayat. Sakiit sekali rasanya...," Tangisnya.
"iya, Liza, tapi siapa yang bikin kamu nangis? kayaknya tadi di grup happy deh..., kan kita mau crazy shopping buat refreshing...," kata Queen lagi.
"itu.., Gibran....," Liza langsung menyebut pelaku utamanya yang membuat dirinya menangis.
"Kak Gibran? Kamu diapain sama dia? Sini, sini, curhat...," kata Queen mengajak Liza duduk di bangkunya.
__ADS_1
"hiks.., dia..., dia..., hwaaaa.....," Liza menangis lagi.
"haduuh...., nangis dulu deh sepuasnya baru cerita.. ," kata Queen berusaha bersabar.