
"Ga-galang??!!!" seru Awan, Sera dan Queen.
"Hallo Calon Kakak Ipar," sapa Liza enteng. Tiga temannya langsung melirik ke arah Liza yang sama sekali tidak kaget.
"Calon Kakak Ipar??!!!" tanya tiga temannya itu.
"Lu percaya diri banget, sih Liza ... Emangnya Ghibran masih mau sama elu, pft ..." ledek Galang. Liza langsung cemberut diledek seperti itu. Ia tidak bisa memungkiri kalau masih mengharapkan seorang Ghibran. Namun apa daya, ia masih terikat kontrak yang melarangnya memiliki kekasih.
"Tapi, tunggu, kenapa Galang dengan santainya bisa meluk-meluk Bianca???" protes Queen.
"Kenapa? Jealous lu, ya?" timpal Galang iseng.
"Ewh banget, aku jealous, hiiy," kata Queen sambil memutar bola matanya.
"Ahahaha ..." tawa Galang puas. Ia sudah tidak mempan dengan kalimat itu.
"Wait, tapi Bianca, jadinya kamu ke sini kapan?" tanya Sera berusaha menghentikan obrolan yang sudah melenceng ini.
"Besok--"
"Besok gue sama dia berangkat," potong Galang, Bianca langsung menoleh ke arah Galang.
"Lu juga?" tanya Bianca.
"Iyalah ... Uhm, gue juga dapet, tuh undangannya ..." jawab Galang lalu melirik ke arah Queen yang langsung pundung ketika Galang membahas undangan. Ia jelas tahu undangan apa yang dimaksud.
"Hah, sia-sia, dong gue waktu itu ..." ucap Galang yang membuat semua orang memelototinya kecuali Queen. Mereka tentu tahu apa yang dilakukan Galang 5 tahun lalu pada Ryu. Awalnya hal itu ingin disembunyikan, tetapi sampai akhirnya tersebar juga.
"Diamlah, Galang ..." kata Bianca yang menyadari wajah sedih Queen.
"Baiklah gue diam," ujar Galang.
"A-aku ... Aku ... Aku mau istirahat saja," kata Queen yang tiba-tiba berdiri.
"Eh? Loh?" kata Sera, Liza dan Awan.
"Ka-kalian bicara saja," ucap Queen lalu langsung pergi ke kamarnya.
Selepas Queen pergi, Awan, Sera dan Liza menatap sinis ke arah Galang.
"Apa?" tanya Galang yang sama sekali tidak merasa bersalah.
"Argh ... padahal kami ingin menghiburnya ... tetapi kamu-- Ugh!" kesal Awan.
"Asal kamu tau, ya Galang! Queen itu sedang berada di masa terpuruknya, kenapa kamu malah membuatnya semakin sedih???" kesal Sera.
"Ya, Kenapa lu gak menyadari situasinya??? Kenapa malah banyak membual?!!!!" ketus Liza. Ia juga kesal karena ledekan Galang barusan.
__ADS_1
"Membual??!!" ujar Galang tak terima.
"Eits ... sudah-sudah ... jangan bertengkar," kata Bianca menengahi.
"Apa lu masih menyimpan dendam sama Queen, hah??!!!" lanjut Liza sewot.
"De-dendam?? Sembarangan!" Galang juga ikutan sewot.
"Liza hentikan ..." perintah Awan.
"Bagaimana gue bisa berhenti??!!! Dia tidak tahu rasanya ditolak sampai seperti itu??!! Ryu sudah membuat penantian panjang seorang Queen sia-sia!!!!!" sergah Liza kesal. Ia dulu mengikhlaskan seorang Ryu untuk Queen, tetapi Ryu malah pergi ke wanita lain.
"Heh, Liza??!!! Lu pikir gue gak pernah ditolak??? Hidup gue juga hancur karena Ryu!!! Karena Queen teralu mencintai Ryu!!!" Galang juga tidak mau kalah, meskipun ia selalu berusaha melupakan itu, tetapi kesalahannya di masa lalu adalah penyesalan terbesarnya dalam hidup.
"Gue juga sama bencinya dengan Ryu!! Sayangnya gue gak mau mengulangi kesalahan yang sama!!" pekik Galang. Kalimat Galang barusan berhasil membuat Liza bungkam. Sesaat mereka semua terdiam.
"Sudahlah ... bukan saatnya kita bertengkar," lerai Awan.
"Ya, kita semua memang membenci Ryu ..." kata Sera tiba-tiba yang berhasil membuat semua orang memperhatikannya.
"Kamu membenci Ryu?" tanya Awan tak menyangka.
"Sejak kapan?" tanya Liza.
"Sejak awal. Sejak kenal dia. Aku tidak suka dirinya yang selalu bersikap sok baik pada Queen. Namun aku tidak bisa melakukan apa-apa karena Queen menyukainya. Bukan hanya itu ... Bahkan Liza juga jatuh cinta padanya ..." lirih Sera yang kini sudah bercucuran air mata, ia mengeluarkan uneg-unegnya lalu menatap ke arah Awan. Awan langsung menggelengkan kepalanya pelan, tanda bahwa Sera tidak boleh mengungkapkan tentang perasaannya pada Queen.
"Hatiku ... hatiku juga sakit melihat Queen yang bersedih ...." lanjut Sera lagi.
"Ugh ... Sera ..." Awan dan Liza segera memeluknya, berusaha menenangkan Sera.
Bianca hanya memandang iba teman-temannya. Mungkin hanya dia satu-satunya yang tidak sedih. Entah, mungkin karena Ryu adalah idolanya. Namun ia jadi merasa bersalah. Ia merasa bersalah karena masih mengangumi seorang Ryu.
"Meskipun begitu ..." Bianca memecah suasana. Semua orang jadi menatapnya.
"Meskipun begitu, kita tetap harus menunjukkan bahwa kita semua baik-baik saja. Tunjukkan pada Ryu kalau kita tidak terganggu dengannya," ujar Bianca.
"Sekalipun dia memang tidak berniat menyakiti siapapun, setidaknya jangan tunjukkan kita lemah," lanjut Bianca lagi.
"Kenapa tidak kita tunjukkan saja kebencian kita dan hancurkan acaranya!!!" kata Liza terbakar emosi.
"Ayolah, Liza, kamu ini adalah seorang idola, Ryu juga seorang animator sekarang, bahkan Scarlett adalah seorang desainer yang cukup terkenal di Jepang," ujar Awan mengingatkan.
"Lalu?" tanya Liza enteng.
"Lalu?? Kalian semua adalah public fugure, bahkan jika tidak ada wartawan, orang-orang akan mulai bergossip dan menulis hal buruk tentangmu, sehingga jika reputasimu jadi buruk. Hal itu juga akan berimbas pada reputasiku dan Sera sebagai anggota di satu grup denganmu lalu akan berlanjut ke reputasi ANT entertainment yang menaungimu, yang ada nanti kamu kena pinalti. Kamu jangan lupa tentang itu," ujar Awan panjang lebar.
Liza mendengus kesal sambil melipat tangannya.
__ADS_1
"Hal menyebalkan lainnya adalah Scarlett masih ada hubungan keluarga dengan gue, sekalipun masih keluarga jauh, ugh!" keluh Liza.
"Sudah, gue setuju sama apa kata gue, ke ih baik kita berikan selamat pada Ryu nanti di pesta pernikahannya agar ia menyadari kebencian kita," kata Galang.
Semua orang mengernyitkan dahi.
"Ucapan selamat agar ia sadar kebencian kita?" tanya Awan, Liza dan Bianca, sedangkan Sera tersenyum.
"Aku mengerti. Buat hidupnya tidak tenang dengan mengetahui kalau kita membencinya. Itu lebih berpengaruh pada seorang Ryu, tetapi agak jahat," kata Sera.
"Benar juga!" timpal Liza.
"Oke! Gue setuju!" seru Liza.
"Aku juga sangat setuju!" seru Sera.
Sedangkan Awan masih terdiam. Meskipun Ryu adalah rivalnya, ia juga cukup memahami kepribadian seorang Ryu. Membuatnya merasa bersalah adalah senjata yang dapat diibaratkan seperti bom atom bagi Ryu. Ia memang kesal pada Ryu, tetapi tidak berniat menghancurkannya.
"Aku juga setuju!" kata Bianca yang membuat Awan tertegun.
"Heh, Awan, lu gak setuju?" tanya Galang.
Awan menelan ludahnya.
"Aku akan berusaha melakukannya!" ucap Awan.
"Apa maksudnya itu?" tanya Liza.
"Sudah, pokoknya aku juga akan melakukannya!" kata Awan.
"Oke, kalau begitu kita semua harus hadir di acara pernikahan Ryu!" tekad Liza bersemangat.
"Iya, itu pasti!" ujar yang lainnya.
Diam-diam Queen yang masih belum tidur mendengarkan semua pembicaraan sahabat-sahabatnya.
"Sebenarnya kamu tidak bisa move on atau karena hal lain, Queen?"
Tiba-tiba terngiang pertanyaan Sang Papa tadi.
"Sebenarnya kenapa aku tidak bisa berhenti menyukai Ryu di saat aku tahu diriku tersakiti? Bahkan Sahabat-sahabatku juga tersakiti karena itu ..." lirih Queen sambil menitikkan air matanya.
"Sebenarnya apa yang kucari dari seorang Ryu?" ucap Queen tak habis pikir.
***
Ada yang bisa tebak kenapa Queen gak bisa berhenti move on dari Ryu?
__ADS_1
Jangan lupa Favorite, rate 5, like, vote dan kasih hadiah, supaya mama Uzda semangat terus updatenya