
Queen berlari menjauh dari Awan. Ia berlari sejauh mungkin dari Awan. Ia terduduk di atas pasir pantai sembari mengatur napasnya yang terengah-engah.
Ia memegangi dadanya, tempat ia bisa merasakan detak jantungnya yang berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Hah ... hah ... hah ... kenapa detak jantungku begitu aneh? Ini tidak seperti biasanya ... Aku tidak pernah merasakan ini ..." gumam Queen kebingungan sendiri.
Ia lalu memandang ke arah seharusnya Awan berada.
"Kenapa belaian Awan begitu mempengaruhiku? Biasanya aku tidak merasakan begini. Apa karena masih terpengaruh dengan mimpi itu?" duganya sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Tidak mungkin!!! Aku tidak mungkin, kan beralih pada Awan? Itu hanya mimpi!!! Awan adalah Awan, dia tidak bisa jadi milikku seorang! Dia milik Liza, milik Bi, juga milik Sera!!" sergah Queen berusaha meluruskan hatinya.
"Tunggu? Memangnya kenapa aku harus mengharapkan Awan? Dia siapa? Haha ..." tawa Queen sendiri.
PLAK!
Queen menampar dirinya sendiri untuk segera sadar. Napasnya terengah-engah sekarang entah kenapa penyebabnya.
"Ini tidak boleh terjadi. Tidak boleh. Kenapa kamu cepat sekali move on, Queen? Apalagi pada Awan?" ujarnya panik sendiri.
"Queen?" Tiba-tiba ada yang menyebut namanya dari belakang, Queen segera menoleh ke belakang dan menemukan sosok perempuan bagai bidadari yang paling jarang ia sadari. Sekalipun mereka satu geng, tetapi dibanding yang lain, Queen paling jarang berinteraksi dengannya. Namun sosok itu selalu hadir di setiap yang lainnya benar-benar sedang kebingungan dan butuh tempat bersandar.
"Sera?" ucap Queen agak panik. Selain dirinya, orang yang paling dekat dengan Awan adalah Sera. Itu karena Awan dan Sera bukan hanya sekedar sahabat, tetapi teman seperjuangan.
"Kenapa kamu duduk sendirian di sini, Queen? Tidak mau lanjut main Limbo?" tanya Sera sembari mendekati Queen lalu duduk di sampingnya.
Mata Queen tidak bisa lepas dari wajah Sera yabg tersenyum ramah padanya. Ia lalu menggigit bibirnya, seolah menahan semua emosinya.
"Sera ... hwaaa!!!" tangis Queen, Sera segera membawa Queen ke dalam pelukannya agar Sang Sahabat bisa lebih tenang.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu menangis? Apa masih--"
"Bukan!" potong Queen segera melepaskan pelukan Sera dan menatap sahabatnya itu.
Sera mengernyitkan dahi.
"Lalu?" tanyanya.
"Aku sedang bingung ... dan kebingungan itu sungguh membuatku jadi pusing sendiri," ucap Queen bingung.
"Hah? Bingung kenapa? Apa ini ada hubungannya dengan Ryu?" Sera juga sangat tahu seberapa besar cinta Queen pada Ryu, tetapi kini ia harus benar-benar melepasnya.
Namun lagi-lagi Queen menggeleng, membuat Sera makin heran dan penasaran.
__ADS_1
"Lalu?" selidik Sera.
Queen menatap Sera dengan serius lalu meletakkan telunjuknya di depan bibirnya.
"Tapi Sera harus janji, jangan bilang siapa-siapa. Ini rahasia di antara kita," pesan Queen.
Sera menghela napas.
"Haduh, kenapa, sih aku selalu jadi tempat penampungan rahasia anak-anak ini?" gumam Sera dalam hati, tetapi setelah itu ia mengangguk.
"Ya, katakan, jika aku bisa memberikan solusi, maka akan aku berikan," ucap Sera berusaha agar membuat Queen lebih tenang.
Queen mengangguk. Ia lalu berpikir sejenak seolah mengatur kalimat yang akan ia ungkapkan mengenai kegundahannya.
"Uhm, jadi begini, Sera ... Menurutmu, uhm, kita, kan bersahabat sejak kecil ..." ucap Queen memulai.
"Uhm ... lalu?"
"Aku, kamu, Bi, Liza dan Awan. Empat perempuan dan satu laki-laki ..." lanjut Queen.
Sera mengernyitkan dahinya.
"And then?"
Queen berusaha mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Sera karena Sera sama sekali tak menimpali pertanyaannya. Dahi Queen mengkerut saat melihat raut wajah sahabatnya itu. Mata Sera terbelalak kaget seolah kalimat yang keluar dari mulut Queen tidak akan pernah terlontar.
"Ke-kenapa raut wajahmu seperti itu Sera? Apa pertanyaanku teralu aneh?" tanya Queen agak ragu.
"Queen dan Awan? Mungkinkah Queen sudah menyadari perasaan Awan? Atau sekarang Queen yang memiliki rasa pada Awan? Mereka saling suka, tetapi tak berani mengungkapkan? Yang mana yang benar?" Banyak sekali pertanyaan yang berputar-putar di kepala Sera sekarang. Salah satu hal yang menyebalkan ketika menjadi orang yang tahu segalanya, tetapi tidak berhak untuk membeberkan segalanya.
"Sera?" tegur Queen lagi yang sama sekali tak digubris.
"Oh!" Sera segera tersadar dari lamunannya.
"Uhm, Maaf, Queen, aku agak kaget mendengar pertanyaanmu ..." ucap Sera jujur.
Queen menunjukkan senyum simpulnya.
"Yah, aku paham. Memang teralu aneh jika sampai itu terjadi--"
"Tidak!" ucap Sera buru-buru.
"Posisiku disini adalah orang yang tahu segalanya. Bukankah aku hanya perlu mengarahkannya saja?" pikir Sera sambil tersenyum miring.
__ADS_1
Queen memandang Sera bingung.
"Tidak? Maksudmu?"
"Yah, tidak aneh jika Awan jadi milik salah satu dari kita. Toh memang hal itu bisa terjadi jika rasa nyaman yang tercipta di antara kita tumbuh menjadi rasa cinta," ujar Sera.
"Rasa nyaman tumbuh jadi cinta?" ulang Queen berusaha mencerna kalimat Sera.
Sera menganggukkan kepalanya.
"Ya, itu bisa saja terjadi. Tidak sedikit juga pasangan suami-istri yang awalnya adalah Sahabat. Lalu apa salahnya?" lanjut Sera lagi.
"Uhm ... kamu tidak pernah merasa begitu, Sera? Uhm, kamu dan Awan itu, kan sangat dekat. Kalian sering jadi pasangan di atas panggung. Bahkan kalian sudah pernah berciuman. Uhm, bagaimana rasanya berciuman dengannya?" Entah kenapa Queen jadi penasaran dengan hal itu.
"Berciuman? Kenapa topiknya jadi ke sana? Mungkinkah mereka bahkan sudah berciuman? Wah ... aku ketinggalan banyak!" ujar Sera dalam hati sangat menyayangkan.
"Uhm ..." Sera pura-pura berpikir. Ia memang pernah berciuman dengan Awan beberapa kali karena adegan, tetapi ia tidak pernah memikirkan rasanya berciuman dengan Awan. Mungkin karena baginya itu hanya demi profesionalitas saja.
"Rasanya, ya ... Uhm, rasanya Waw!" jawab Sera.
"Waw?" Queen malah makin bingung.
"Ah, sudahlah, coba kita kembali pada topikmu. Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan ini? Apa ada sesuatu yang terjadi antara dirimu dan Awan?" tanya Sera tanpa basa-basi.
Queen segera tertohok.
"Sera benar-benar peka. Haruskah aku mengatakannya dan meminta solusi darinya?" batin Queen bimbang.
"Uhm, Sera ... sebenarnya ..." Queen agak ragu mengungkapkannya, tetapi ia butuh diskusi untuk membuat perasaannya lebih baik. Ia tidak mau selamanya canggung dengan Awan hanya karena sebuah mimpi yang aneh.
"Sebenarnya apa?" tanya Sera.
"Uhm, tetapi janji, kamu jangan bilang siapa-siapa, ya ..." ujar Queen sambil mengulurkan jari kelingkingnya.
Sera menganggukkan kepalanya dan menautkan jari kelingkingnya.
"Janji ..." ujar Sera.
"Baiklah, aku akan mulai ceritanya, tetapi jangan meledekku, ya, dan tolong nilai diriku se-objektif mungkin ..." pinta Queen.
"Oke ... katakanlah," ujar Sera mempersembahkan.
Queen mengambil napas dalam-dalam untuk mempersiapkan dirinya.
__ADS_1
"Jadi begini ..."