
Sebelum pulang ke rumahnya, Bianca menyempatkan diri untuk pergi ke salah satu cabang Cafe milik keluarganya. Setidaknya ia bisa bersenang-senang sebentar dengan para kelinci di Rabbit Cafe miliknya.
Jam masih menunjukkan pukul 07.00 pagi dan cafe masih belum buka. Namun Bianca biasa pergi ke cafe-cafe milik keluarganya hanya untuk sidak atau sekedar merawat kelinci-kelinci di sana.
Namun langkahnya terhenti ketika melihat seseorang di sana yang sedang memberi makan kelinci-kelincinya,
"Galang?" Bianca menyebut nama si empunya nama.
Orang itu, alias Galang menoleh,
"Bi,Bianca??" Ia malah lebih kaget lagi ketika melihat sosok Bianca di hadapannya,
"Lu ngapain di sini? Tunggu, ini di Bandung. Bukannya rumah lu di Jakarta? Kapan lu sampe?? Kok bisa di sini?? Siapa yang mengizinkan elu masuk ke sini ?!!!!" Bianca melemparkan pertanyaan bertubi-tubi.
Galang meletakkan seledri di tangannya dan berdiri,
"Lah ?? Yang ada elu ! Kenapa lu ada di sini?" Tanya Galang.
"Ini Cafe bokap gue !!" Kata Bianca.
"Cafe bokap lu??" Galang malah lebih kaget lagi,
"jadi.. dia beneran little Bunny?" Batin Galang.
"Hadeeh.., Ada apa ini ribut-ribut?" Tanya Teguh yang datang sambil membawa vitamin untuk kelinci-kelincinya.
"Ayah !! Ayah kenal sama anak Badung ini ??" Tanya Bianca sambil menunjuk Galang.
"Kenal lah ! Dia,kan anaknya Papa Levi. Bi tau,kan Papa Levi?" Kata Teguh.
"Papa Levi ????" Kata Bianca,
"iya, itu nama bokap gue ! Lu tau?" Tanya Galang.
"Ta,tau.., tapi..," Bianca terdiam.
"kalau dia anaknya Papa Levi, berarti, Gibran juga anaknya Papa Levi, dong? Terus yang mana yang janji menikah sama gue? Galang atau Gibran?" Batin Bianca.
"Nah, kalau ingat, berarti kalian harusnya berteman baik, dong.., Ya udah.., Ke sini mau bantuin Ayah, kan ngurus Kelinci-kelinci imut ini?" Tanya Teguh yang disusul dengan anggukan Galang dan Bianca.
"Good. Kalau gitu, ayo kita kasih mereka treatment..," Ajak Teguh. Galang dan Bianca saling menatap sinis dan hanya mengikuti Teguh.
*
Setelah mengantarkan Liza pulang, kini Queen memegang kedua lututnya karena gugup. Kini ia berhadapan dengan Papanya yang memasang aura intimidasinya,
"Apa kamu sedih?" Tanya Iskandar sambil mengelus Fernando.
"sedih kenapa, Pa?" Tanya Queen.
"tidak mau cerita pada Papa?" Tanya Iskandar lagi.
__ADS_1
"uhhm..., Apa Mama tidak cerita pada Papa?" Tanya Queen.
"cerita. Tapi Papa mau mendengarnya darimu." Kata Iskandar.
"Ditolak. Queen ditolak, Pa. Menurut Papa kenapa?"
"dia memberikan alasannya kenapa?" Tanya Iskandar.
"Queen disuruh fokus dengan pendidikan dan karir...,"
"begitu?" Iskandar melepaskan Fernando dari pangkuannya,
"ternyata Ryu sudah sungguh dewasa...," Komentar Iskandar yang membuat Queen mengernyitkan dahi,
"Papa tau kalau Queen menyatakan perasaan pada Ryu???" Tanya Queen.
"tentu."
"lalu, apa maksudnya?" Tanya Queen.
"maksud apa?"
"maksud Papa yang bilang Ryu sudah dewasa?"
"Dia tau apa yang harus jadi prioritasnya sekarang." Jawab Iskandar.
"lalu, apa cinta bukan prioritasnya?" Tanya Queen jadi pundung.
"Apa cinta begitu mengganggu?"
"Ya, untuk beberapa orang mengganggu. Bahkan ada yang memutuskan untuk tidak menyentuhnya." Kata Iskandar lagi.
"Pa...," Panggil Queen.
"hm?"
"Apakah sekalipun Queen menikah dengan Ryu, Ryu tidak akan mencintai Queen?" Tanya Queen.
Iskandar tersenyum, lalu membelai kepala putrinya,
"entahlah..., Itu adalah keputusan Ryu..," Kata Iskandar lembut
*
Queen POV
"entahlah.., itu adalah keputusan Ryu..,".
Lagi-lagi kalimat itu terngiang di benakku. Apa aku bisa mengubah keputusan Ryu? Apakah benar kata Awan, sudah ada seseorang di dalam hatinya? Jika iya, siapa? Mungkinkah diriku? Namun dia sembunyikan karena cinta bukan prioritasnya? Lalu apa yang jadi prioritasnya? Karirnya sebagai komikus? Atau dia bahkan ingin jadi seorang Animator?
Jika bertanya, kenapa aku begitu mencintainya, aku juga tidak tahu jawabannya. Dari dulu aku sangat menyukainya. Kepribadiannya yang begitu ramah dan suka tersenyum. Dirinya yang setia mendengarkan ocehanku, menemaniku, peduli padaku. Bolehkah aku berharap dia sebenarnya mencintaiku, tetapi belum mau mengungkapkannya ?
__ADS_1
"Queen.., Woy ! Queen !!!" Tegur kak Barli yang sedang duduk di hadapanku, ya ampun, aku melamun di saat sedang diskusi.
"Eh, iya, Kak.., Maaf, maaf..," Kataku.
"Lu kenapa? Mikirin siklus krebs apa mikirin doi?? ahahaha..," Kak Barli ini emang sukanya ngeledek, tetapi ledekannya sebenarnya adalah fakta yang selalu berhasil membuatku tertohok, sekalipun fakta itu bukanlah fakta tentang diriku.
"apaan, sih kak Barli..., Itu udah pelajarin tentang Kerajaan Hindu, Budha dan Islam? Tentang Penjajahan, terus tentang Paleolitikum, megalitikum, terus lain-lain??" Balasku. Dia bertanggungjawab di Sejarah dan Ekonomi.
"Yee.., gue mah jenius, semua itu udah bersarang di otak gue, nih, latihan soal juga udah gue kelarin...," Kak Barli menunjukkan setumpuk soal yang sudah dia selesaikan.
"Nah, elu.., mana? Udah kelar berapa soal? Kenapa berhenti di soal siklus Krebs? Masih harus pelajarin tentang kromosom,kan? Tentang kingdom udah belum?" Entah kenapa aku yang sebagai anak IPA merasa bodoh di hadapan anak IPS seperti Kak Barli.
"Barli.., jangan ngomel-ngomel.., mecah konsentrasiku, tau, gak ?!" Protes Kak Gibran yang juga sedang mengerjakan soal matematika. Kak Gibran bertanggung jawab di soal Matematika dan Fisika, sedangkan Aku di Biologi dan Bahasa Inggris.
"heh, bapak ketua, dia tuh ngelamun, mikirin si doi aja.., belajar woy, belajar..., Gue gak mau,ya kita kalah gegara elu gak bisa jawab. Habis lu sama gue !!" Ancam kak Barli.
"haish.., udah-udah.., Queen !" Kak Gibran angkat bicara,
"Aku tau, kamu abis patah hati, tapi tolong, fokus dan jangan baper. Kalo mau baper-baperan, entar aja !" Tegas Kak Gibran. Dibandingkan Galang, sebenarnya Kak Gibran lebih bijaksana.
Kak Gibran memukul-mukul tumpukan soal di atas meja,
"kamu lihat tumpukan soal ini,kan?" Tanya Kak Gibran, Aku hanya bisa mengangguk, dia agak seram kalau sedang marah,
"selesaikan ini dulu, baru kamu boleh bebas ngegalau! Paham?!" Tegas Kak Gibran.
"I,iya..," Kataku.
"selesaikan sebelum Bu Beatrice kembali, kamu tau,kan sekiller apa Bu Beatrice?" Benar juga kata Kak Gibran. Bu Beatrice adalah Ibu tiri di cerita Cinderella dan Ratu di cerita Snow White.
"Baik, kak!" Kataku dengan tegas.
"Minggu depan, kita udah belajar terpisah, gak akan ada yang bisa ingetin kamu. Jadi, tolong sadar diri !! Ini kesempatan kamu menabung prestasi. Jangan disia-siakan !!" Nasihat Kak Gibran lagi. Ya ampun, dia kok mirip Papaku, ya?
"Iya, kak Gibran ! Akan Queen ingat !" Kataku.
"Baru lu mau dengerin. Dasar !" Timpal Kak Barli. Aku agak kesal, tetapi memang aku yang salah.
Ternyata setelah dipikir, benar kata Ryu, Fokuslah pada pendidikan dan karir. Ryuuji, lihat saja, jika aku sudah menggapai kedua hal itu, aku akan menyatakan perasaanku lagi dan membuatmu tidak bisa menolaknya. Camkan itu !
.
.
.
Apakah Queen akan berhasil meraih Prestasi dan Cintanya? Penasaran?
Ikuti terus cerita ini dengan klik hati/ favorite novel ini, jangan lupa tinggalkan kesan kalian di kolom komentar dan kalau kalian suka, jangan lupa klik jempol di setiap episode.
Salam Mama Uzda 🙏🙏♥️♥️
__ADS_1