I Love You Queen

I Love You Queen
Bagian 67


__ADS_3

Ryu POV


"Uhm ..., mau kuantar pulang ?" tawar Gibran padaku.


"hah ? pulang ?" Mata sudah mulai berat, sebenarnya aku kenapa ?


"Kamu terlihat lelah, Ryu." kata Gibran lagi.


"Iya, tapi..., tidak biasanya aku selelah ini."


"kalau mengantuk, ayo aku antar kamu pakai taksi." tawar Gibran.


"ide bagus, hoaammh..., maaf, kita jadi hanya bisa berbincang-bincang sebentar."


Tiba-tiba semua gelap, mungkin aku tertidur. Ya, itu yang terakhir aku ingat sehingga terbangun lagi dengan keadaan tubuh berkeringat dan posisi duduk. Aku ingin bangun, tetapi sulit. Ah, aku diikat. Kenapa aku bisa diikat ? Sebenarnya apa yang terjadi ? Aku diculik ? Tapi kenapa ?


"Harus kita apain nih orang ?" Aku mendengar suara lelaki yang tak jauh dari diriku.


"kata Bos, tunggu dia sadar. Sabar." jawab lawan bicaranya.


Aku berusaha membuka mataku yang terasa berat ini. Sebenarnya aku ada dimana ? Aku bermimpi atau ini kenyataan ? Kaki dan tanganku diikat di kursi. Bagaimana aku bisa melepaskannya ?


"Ugh ...," Aku mulai mengeluarkan suara dari bibirku, coba kita pancing.


"Eh, udah bangun, tuh orang ...," kata salah satu dari mereka.


"cepet, hubungi Bos !" perintah lawan bicaranya.


"Bos ? kenapa mereka harus menghubungi seseorang yang disebut Bos saat aku terbangun ?" pikirku.


"Bos, dia udah bangun ? Kita apain target, Bos?"


"lakukan apa yang kalian inginkan. Habisi juga boleh." suara dari telepon itu terdengar sangat familiar. Seperti suara Gibran? Atau Galang ? Tidak mungkin. Mungkin hanya perasaanku saja. Di dunia ini banyak orang yang memiliki suara mirip.


Aku akan angkat kepalaku saja dan lihat reaksi mereka,


"Ugh ..., aku ada dimana?" lirihku agar terdengar lemah.


"Hahahaha ...!!" Mereka berdua malah tertawa.


"Heh, curut !" Mereka menyebutku curut ? Teralu imut.


"Kau mau tau, kau ada di mana ?" tanya pria berotot besar. Tunggu, berotot besar ? Sepertinya bisa kumanfaatkan.


"aku ..., ada dimana ?" lirihku lagi, sebenarnya kepalaku agak pusing, tapi masih bisa kutahan. Saat ini aku harus benar-benar menggunakan otakku untuk bisa keluar. Nenek dan Kakek pasti mengkhawatirkanku.


"Kau ada di gerbang ajalmu, Hahahaha...!" jawab pria bertubuh jangkung.


"ajal ? Ternyata bukan cuman mau menculik, tapi membunuh." pikirku.


"tapi, kenapa ?" batinku.


Pria jangkung tiba-tiba mendekatiku, aku mendongak sambil memandangnya,


PLAK !


"Apa lu lihat-lihat ?" tanyanya.


Aku ditampar.

__ADS_1


"cuman begitu doang ? sebelahnya belum !" seru pria berotot.


PLAK !


Kini pipiku yang satunya yang ditampar.


"ugh ...," rintihku. Tamparannya tidak sekuat tamparan Queen.


"Cuman segitu doang ? Habisi dia !! Itu perintah Bos !!" perintah si pria berotot.


BUG !


Kali ini bukan ditampar, tapi dipukul, wajahku mungkin membiru. Posisiku tidak mendukung untuk menghindar, tetapi aku bisa lepas jika kursi ini dihancurkan. Aku melirik si pria berotot yang hanya berdiri di belakang kawannya. Sepertinya dia memang bisa digunakan.


BUG !


Lagi-lagi sisi wajahku yang lain dipukul. Lengkap sudah. Mungkin wajahku akan berubah. Sakit, tetapi bukan saatnya meresapi rasa sakit itu.


"Kurang !! Habisi dia aku bilang ??? Kau dengar tidak, t*lol ??!!!" teriak si tubuh berotot.


"Sialan !!! Seenaknya kau panggil aku t*lol !!!" Si tubuh jangkung malah terprovokasi dan menghampiri kawannya. Tunggu, provokasi ? Mungkin aku bisa menggunakannya.


"Kau__,"


"Hey ..., segini saja ?" kataku dengan nada menantang, membuat Si Jangkung terhenti.


"Sok kuat curut satu ini !!!" kekeh Si Jangkung .


"Bukannya sok kuat, tapi dari tadi aku heran, kenapa hanya satu dari kalian yang menyerangku ? sepertinya kau yang dari tadi teriak-teriak hanya besar badan saja. Sebenarnya kamu sangat lemah, bahkan lebih lemah dari curut sepertiku ...," Aku mungkin sudah gila, bisa saja aku benar-benar mati setelah ini. Semoga rencanaku berhasil.


"lebih lemah dari kau ??? Dasar curut sialan !!!" Pria berotot itu langsung berlari dengan langkah besarnya menuju tempat aku berada sambil mempersiapkan tinjunya. Aku harus hitung dari getaran langkahnya, jika lewat, aku akan mati.


BRAAKKK !!!


Pria berotot itu terhempas ke tanah bersamaan dengan hancurnya kursi kayu reot yang aku duduki.


"Lepas !" seruku dalam hati.


"Ugh ..., sialan kau !!!" umpatnya.


Sedangkan Si Jangkung hanya terpaku kaget dengan apa yang barusan terjadi. Ya, sebenarnya itu salah mereka. Mereka mengikatku di kursi, bukan mengikat tangan dan kakiku juga, selain itu mereka hanya mengingkat betisku, padahal harusnya pergelangan kakiku juga diikat agar sulit untuk berdiri.


Saat tinggal satu langkah lagi dia menyerangku, aku berdiri dan menghempaskan kursi ini ke tubuhnya yang kokoh itu.


"Kalau begini, baru adil." kataku. Jantungku berdetak sangat kencang, antara takut atau bersemangat. Jika aku berhasil keluar dari sini, maka aku harus berlatih untuk bisa mengalahkan Papa Iskandar.


"Adil ??" tanya Si Jangkung, sementara Si pria berotot berusaha berdiri lagi.


Aku melepas kacamata yang dari tadi setia melekat di mataku dan melemparnya sembarangan,


"bukankah kalian mau menghabisiku ? Setidaknya biarkan aku melawan kalian agar aku tidak menyesal !" kataku sambil memasang kuda-kuda.


"Dia mau melawan katanya ?" kekeh Si Jangkung.


"Sialan !! Kau tidak akan hidup setelah ini !!" teriak pria berotot dan langsung berlari ke arahku.


*


Author POV

__ADS_1


"Nomor yang anda panggil sedang sibuk atau berada di luar jangkauan ...,"


Liza mematikan lagi teleponnya,


"Eben juga gak angkat telepon Liza ...," kata Liza.


"Haduh ! Tuh anak kemana, sih ? Bisa-bisanya ngilang di saat seperti ini !" gerutu Barlie.


"Iya ..., gak tau kita pada mau pulang ! Atau jangan-jangan dia udah balik ke hotel duluan ?!" tebak Hana sambil memeluk pinggang Barlie.


"tuh, kan cewek gue galaknya mulai keluar__, Aww !" Di saat yang bersamaan Hana juga mencubit pinggang Barlie.


"Biar Queen yang tungguin Kak Gibran di sini. Dia pasti balik ke sini. Lagian Queen masih mau tungguin Jonas sampe sadar." kata Queen.


"Liza akan temenin Queen !" kata Liza mengajukan diri.


"Hey, Queen, gue tau lu khawatir sama Jonas, tapi bukan berarti lu habisin waktu lu di sini. Jonas lagi masa pemulihan, dia pasti akan sadar tiga atau tujuh hari lagi. Lu gak usah khawatir." kata Barlie.


"tau darimana si bapak ?" tanya Hana.


"Gue juga pernah gitu waktu SD." jawab Barlie enteng.


Semua orang langsung memandangnya kaget,


"kenapa ? Heran ? Gue masih baik-baik aja tuh." kata Barlie enteng.


"Ugh ..., laki gue ..., sini Gue peluk.., ya ampun, kuat banget, sih gue punya laki ...," ujar Hana sambil memeluk erat pacarnya.


"tapi, apa Jonas akan baik-baik saja, kak ?" tanya Queen.


"Dia harus baik-baik aja. Dia pasti kuat. Gue gak tau pasti, sih, dia dihabisin kayak apa, tapi pasti dia dikeroyok." kata Barlie.


"Yah, yang kita bisa lakukan cuman berdoa saja." kata Barlie lagi.


Queen langsung memeluk Awan yang berdiri di sampingnya karena sedih, Awan langsung merangkulnya agar Queen tenang,


"Tenanglah, Queen. Jonas pasti akan sembuh." kata Awan.


"Iya, kita harus percaya itu. Lagipula di sini udah ada orang tuanya Jonas, hari juga udah mulai gelap." kata Barlie lagi.


"enggak, Queen mau tetap di sini. Nanti Queen akan pulang kalau Queen merasa emang udah waktunya pulang." tegas Queen.


"Anak-anak ...," Bu Agatha menghampiri Queen dan yang lainnya,


"Gimana ? Gibran bisa dihubungi ?" tanya Bu Agatha.


"Masih belum, Bu." jawab Barlie.


"Ya sudah, lebih baik kalian pulang, nanti biar ibu yang menghubunginya, Bu Beatrice juga akan ada di sini untuk mendampingi Jonas." kata Bu Agatha.


Mereka saling pandang,


"uhm ..., Bu Agatha, Queen boleh di sini,kan ?" tanya Queen.


Bu Agatha terdiam.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2