
Suasana Mall cukup ramai. Queen sudah membuat janji dengan Jonas di sini. Namun ia memang sengaja datang lebih awal. Kini Queen sedang duduk sendirian di restoran cepat saji yang tak jauh dari bioskop sambil memandangi ponselnya, atau lebih tepatnya ruang obrolannya bersama Awan.
"Dia tidak mengirimiku pesan setelah telepon semalam?" keluhnya. Ia sudah bolak-balik membuka ruang obrolan itu sejak tadi bangun tidur. Namun pria itu tak kunjung membalasnya.
"Aku tahu dia sibuk karena jadwal yang padat, tetapi kenapa tidak mengirimiku pesan? Setidaknya menyapaku, Kek!" gerutu Queen. Ia lalu pergi ke ruang obrolan grup-nya yang sekarang cukup sepi. Ia menuliskan kata "Morning" hanya untuk menyapa mereka semua.
Sayangnya malah ada sebuah foto Bianca yang sedang memberi makan kelinci bersama kekasihnya Galang. Pasangan itu kini benar-benar kasmaran. Apalagi Galang berencana untuk tidak kembali ke Berlin dan mempelajari perusahaan Ayahnya.
Queen yang melihatnya semakin mengerucutkan bibirnya. Ia kesal karena semua sahabatnya kini punya pasangan. Ia juga tahu tentang hubungan Sera dan Yanuar.
"Jadi, hanya aku yang jomblo sekarang??? Ugh!" gerutunya.
"Uhm, Queen." Namun keluhannya berhenti ketika seorang pria dengan kacamata ber-frame tebal dan gaya yang cukup casual datang menghampirinya. Queen buru-buru mengubah raut wajahnya jadi tersenyum.
"Hai, Jonas!" sapa Queen dengan nada gembira. Jonas membalas senyuman Queen lalu duduk di meja yang sama.
"Maaf, pasti lama, ya, menungguku," ujar Jonas agak merasa bersalah.
Queen buru-buru menggeleng.
"Aku sudah biasa datang lebih awal di setiap janji, haha," tawanya, padahal ia sengaja datang lebih awal agar membuat Jonas tidak nyaman.
"Iya, sih, tapi ..." Jonas menggaruk-garuk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Aku hanya merasa aneh saja. Biasanya, wanita yang telat, pria yang menunggu, tetapi kamu—"
"Aku berbeda. Iya, kan?" potong Queen sambil tersenyum cerah. Jonas refleks tersenyum juga.
"Ya, kau memang berbeda, Queen," timpal Jonas.
"Itulah mengapa aku jatuh cinta padamu. Bahkan sampai sekarang," batin Jonas sambil memandangi wajah cantik seorang Queen.
"Jadi, kamu mau pesan apa?" tanya Queen langsung mengalihkan pembicaraan.
"Ah, aku ... Aku tidak mau makan. Bukankah filmnya akan mulai sebentar lagi? Bisakah kita membeli popcorn saja dan bersiap-siap?" usul Jonas sambil menunjuk ke arah bisokop dengan ibu jarinya.
"Kau benar!" timpal Queen lalu beranjak.
"Sekarang bagaimana kalau kita memesan makanan. Pasti akan bosan menonton film horror-thriller jika tidak mengunyah sesuatu, kan?" tukas Queen sambil tersenyum miring.
Sedangkan Jonas malah mengeluarkan keringat di pelipisnya.
"Ho-horror dan thriller? Ke-kenapa kamu memilih film itu?" panik Jonas.
Queen malah mengernyitkan dahinya, seolah tak merasa bersalah.
__ADS_1
"Bukankah kau membebaskanku untuk memilih film apa yang mau kita tonton?" tanya Queen.
"I-iya, tetapi ..." Jonas sampai akhirnya tidak membantah. Padahal ia hanya berusaha menyenangkan hati Queen. Sayangnya niat itu malah membuat dirinya terjebak dalam malapetaka.
Akhirnya mereka nonton. Keringat mulai bercucuran di pelipis Jonas. Ia benar-benar tidak sanggup nonton film dengan genre ini. Ia hanya bisa memejamkan matanya. Sayangnya ingatan akan kekejian Galang malah beprutar di otaknya. Ia benar-benar tak bisa memejamkan mata.
"Uhm ... Queen ... Aku permisi sebentar," ujar Jonas langsung keluar dari sinema tanpa menunggu jawaban Queen. Mendengar itu, Queen diam-diam tersenyum.
Tak lama kemudian, Film berakhir. Queen pergi mendatangi Jonas yang kini ada di restoran cepat saji tak jauh dari bioskop.
"Jonas? Apakah kau baik-baik saja?" tanya Queen.
Jonas yang lemas sekarang hanya bersender di atas meja dan melirik ke arah Queen.
"Maaf, Queen ... Aku tidak bisa nonton bersamamu ...." ucap Jonas agak kecewa.
"Aku benar-benar tidak sanggup menonton genre itu," lanjutnya lagi
Queen lalu duduk di hadapan Jonas. Ia tersenyum lebar.
"Tidak apa-apa, Jonas ..." Queen memegang tangan Jonas yang jadi sandaran.
"Aku yang salah. Seharusnya aku bertanya padamu." Queen pura-pura merasa bersalah.
"Tidak, Queen ... Aku ... Maksudnya, kau tidak salah. Aku saja yang tidak bisa menjadi lelaki yang kuat," kecewa Jonas yang kini menunduk.
"Lelaki yang kuat?" Queen mengutip kata penting dari kalimat Jonas.
"Untuk apa kau jadi lelaki yang kuat, Jonas?" tanya Queen.
Jonas lalu menatap wajah Queen yang kebingungan.
"A-aku ..." Jonas melipat bibirnya. Mungkinkah ini waktu yang tepat? Bukankah sekarang hati Queen sedang kosong?
"Kau kenapa, Jonas?" tanya Queen lagi.
Jonas pun meneguhkan hatinya.
"Ini adalah saatnya!" tekadnya dalam hati. Ia lalu menggenggam tangan Queen dan menatap mata wanita itu lekat-lekat.
Queen tentu sadar dengan gerak-gerik Jonas. Namun ia masih ingin melihat apa yang terjadi selanjutnya.
"Queen ... Aku ... Sebenarnya aku ..." Tiba-tiba muncul keraguan di hati Jonas.
"Kau kenapa, Jonas?" tanya Queen lagi dengan nada yang lembut.
__ADS_1
Jonas jadi agak salah tingkah, wajahnya memerah.
"Uhm, Aku ..." Jonas masih tetap memandang wajah Queen yang seolah menantikan kalimat selanjutnya.
"AKU MENYUKAIMU SEJAK SMA, QUEEN!" ucap Jonas dalam satu kali napas lalu menundukkan kepalanya.
Mata Queen membulat, tetapi memang ini yang ingin ia dengar.
"Bukankah setelah ini akan jadi lebih mudah?" pikir Queen sambil diam-diam tersenyum miring.
"Mungkin ini teralu cepat. Aku tau, kau baru patah hati, tetapi ... tetapi aku berharap bahwa aku ..." Jonas mengangkat kepala dan menatap wajah Queen lagi.
"Aku berharap bisa menjadi obat hatimu," tukas Jonas begitu yakin. Namun sayangnya Queen tidak menunjukkan wajah yang bahagia melainkan bingung.
"Dia benar-benar menyukaiku ..." gumam Queen dalam hati, lalu menarik tangannya. Jonas sontak menatap Queen heran. Reaksinya tidak seperti seorang wanita yang baru saja mendengar pernyataan cinta.
"Jonas ... Maaf," ucap Queen yang kini menatap Jonas dengan serius.
"Apa? Maaf?" Jonas agak tak terima dengan penuturan Queen.
"Maaf. Maaf untuk hari ini," ujar Queen.
Jonas mengernyitkan dahinya.
"Maaf untuk hari ini? Apa maksudmu, Queen?" tanya Jonas tak mengerti.
"Maaf untuk kencan yang buruk. Maaf untuk memaksamu menyatakan perasaanmu, tetapi aku rasa kau tidak bisa jadi obat hatiku," tukas Queen. Sorot matanya kini berbeda, terlihat lebih tegas dan yakin.
"Hatiku memang kosong sekarang, tetapi aku tidak mengizinkan siapapun untuk mengisinya. Jadi, maaf. Sebaiknya kau lupakan perasaanmu untukku. Jangan sampai kau mengeluarkan energi untuk hal yang sia-sia," pungkas Queen panjang lebar.
Namun Jonas malah menundukkan kepalanya. Ia malah terkekeh.
"Sia-sia? Jadi hatiku, perasaanku sia-sia menurutmu?" tanya Jonas lalu mengangkat kepalanya dan menatap Queen. Sorot matanya begitu tajam.
Queen mengernyitkan dahinya.
"Ups! Apa aku salah bicara?" batin Queen.
***
Kira-kira apakah yang akan terjadi selanjutnya?
Jangan lupa Favorit, like, vote, komen dan bagi-bagi hadiahnya.
Happy reading guys
__ADS_1