
Awan langsung masuk ke kamarnya begitu sampai di rumah. Yah, saat kepulangannya ia tidak dijemput oleh kedua orang tuanya karena mereka sedang ada urusan di luar negri, begitu juga Sang Adik yang sedang berkompetisi di Italia. Meskipun begitu, mereka tetap berkomunikasi.
"Apa aku menginap di rumah Queen aja, ya biar gak kesepian?" pikir Awan. Sebenarnya ia agak sedih karena keluarganya tidak bisa menemaninya sampai ia sembuh. Namun rencana mereka ke luar negri sudah dibuat jauh-jauh hari sebelum kecelakaan Awan terjadi.
Di ruang obrolan keluarga, Sang Ibunda tak henti-hentinya memberikan arahan bagaimana hidup sendirian. Bahkan menawarkan suster untuk merawat Awan, tetapi Awan menolak. Menurutnya, ia masih bisa mengurus segalanya sendiri.
Namun sebuah notifikasi tiba-tiba saja masuk, membuat lamunan Awan pecah. Ketika ia membaca balon notifikasi di layarnya, matanya langsung terbelalak. Ia membaca sekali lagi dari siapa pesan yang baru saja diterima.
"Ryu?" gumam Awan.
Ryu: Awan, aku dengar kamu kecelakaan? Hari ini aku baru saja sampai di Indonesia untuk menjengukmu. Tapi maaf, aku hanya sendiri karena Scarlet ada Show. Bisa kirimkan alamat rumah sakit tempatmu dirawat?
Awan menghela napas panjang, padahal jelas-jelas di sana Ryu ingin menemuinya, tetapi ada dua hal yang membuat Awan jadi was-was. Pertama, Ryu datang ke Indonesia, kedua Ryu datang tanpa Scarlet. Bukankah jika Ryu datang ke Indonesia, dia akan menyempatkan diri mengunjungi rumah Queen dengan dalih ingin menemui Iskandar?
Awan pun melempar ponselnya tanpa menjawab pertanyaan Ryu ke atas tempat tidur. Ia juga membanting dirinya ke atas kasur empuknya.
"Kenapa aku jadi gugup, ya?" gumam Awan sambil memegang perutnya yang mulai terasatak nyaman.
***
Sementara itu Queen baru saja turun dari mobil Bianca. Ya, selama di Indoensia, Galang terus saja menempel pada pacarnya itu, bahkan kalau kemana-mana selalu menggunakan mobil Bianca.
__ADS_1
"Oke, jadi tinggal satu siswa lagi gue antar!" gurau Bianca ketika Queen hendak membuka pintu mobil. Diam-diam Queen tertawa, apalagi ketika Galang mendelik kesal.
"Bi, aku bukan anak kecil! Kamu, mah!" protes Galang sambil menggembungkan pipinya. Justru dirinya yang merajuk jadi lebih mirip anak kecil. Padahal dulu Galang itu dikenal sebagai Lelaki garang, tetapi dia bisa beriskap manja di depan Bianca. Queen benar-benar iri.
"Iya-iya, Aku turun. Aku gak akan ganggu pasangan yang mau mesra-mesraan," sindir Queen sambil turun dari mobil yang langsung dapat protes dari Bianca.
"Apaan, sih Queen?" serunya sambil melirik ke arah Galang yang sudah menyeringai.
"Boleh juga ide lu, Queen ..." iseng Galang.
"Galang!" protes Bianca yang langsung mendapat gelak tawa Galang.
"Hahaha, panik banget, sih Sayang. Kamu kayak gak percaya aku aja. Paling aku minta ini ..." Galang malah memanyunkan bibirnya.
"Kak Galang, Awas loh, kalau macem-macem, diturunin di tengah jalan!" ledek Queen sambil cekikikan sendiri.
"Tenang, Gak akan, gue lebih takit kalau dia mode sangar—Aduh!" Belum selesai bicara, Galang sudah mendapat jeweran kuping dari Bianca.
"Haha, Kalau gitu aku pamit, terima kasih atas tumpangannya!" ujar Queen langsung menutup pintu. Ia sendiri tidak mamou lagi membendung rasa iri menyaksikan kemesraan sederhana antara Bianca dan Galang.
Andaikan Queen menjadi kekasih Awan, mungkinkah mereka akan menjakani kemesraan yang manis dan sederhana itu? Atau malah canggung karena sebelumnya bersahabat? Sontak lamunan Queen dipecahkan ketika Bianca membunyikan klakson.
__ADS_1
"Kami pamit, ya Queen!" seru Bianca dari dalam mobil. Queen pun melambaikan tangannya sampai mobil Bianca tak terlihat lagi.
Sepebinggalan sahabatnya, Queen malah kembali melamun. Semenjak sadar bahwa ia memiliki rasa lebih pada Awan, pikirannya terus dipenuhi oleh sosok Awan. Wanita itu pun menggelengkan kepalanya kemudian menepuk-nepuk pipinya.
"Mari kita pastikan, Queen!" serunya, meskipun ia tidak tahu bagaimana cara memastiaknnya.
Queen kemudian berjalan masuk ke dalam rumahnya. Namun langkahnya terhenti begitu mendapati sepatu Pria yang agak asing di pintu masuknya. Sepertinya ada tamu. Mungkin tamu Sang Papa atau mungkin Sultan. Ah, adiknya itu jarang-jarang bawa teman ke rumah, sih. Mau siapapun tamunya, Queen harus tetap menyapanya sebelum masuk ke kamar.
Queen kemudian berjalan ke ruang tamu.
"Jadi kamu ke sini karena mau menjenguk Awan?" Terdengar suara Sang Papa dari ruang tamu. Mata Queen mengerjap, kenapa tiba-tiba bahas Awan? Ini bukan karena pikiran Queen dipenuhi dengan Awan 'kan?
"Iya, Pa ..." Sontak langkah Queen terhenti saat ia mendengar suara yang menimpali pertanyaan Sang Papa. Jelas ia sangat mengenal suara itu. Langkah Queen pun semakin cepat, mungkin kah orang yang namanya muncul di kepalanya ada di ruang tamu sekarang?
"Tapi, Awan tidak menjawab pertanyaanku ... Apa lukanya sangat parah—"
"Ryu!" seru Queen reflek ketika melihat sosok yang kemarin sempat singgah dalam hatinya selama bertahun-tahun, tetapi sampai akhirnya menghempaskannya ke dasar bumi dengan undangan pernikahan.
Pria berkacamata yang kini duduk di hadapan Sang Papa pun menoleh. Ia memperhatikan Queen sejenak kemudian malah tersenyum.
"Hai, Queen!" sapanya sama sekali tak ada sedikit pun ada rasa canggung.
__ADS_1
Seketika kaki Queen terasa lemas, untungnya tubuhnya tak merosot ke lantai. Ia hanya mematung sambil memandang Ryu. Ryu ada di rumahnya sendirian. Kemana Scarlet? Kenapa dia datang ke sini? Seketika jantung Queen kembali berdebar. Wanita 20 tahun itu sama sekali tidak mengerti, kali ini, apa arti debaran jantungnya?