
Sakura memegang karton besar bertuliskan nama Sultan. Kini ia sedang menunggu pujaan hatinya itu datang ke Bali. Akhirnya ia benar-benar bisa bertemu secara langsung dengan seorang Sultan setelah sekian lamanya yang hanya bisa mengagumi lewat video call.
"Sultan!!!" seru Sakura girang menyambut kedatangan Sultan di bandara Ngurah Rai.
Sultan hanya memalingkan pandangannya. Ia jadi malas melihat seorang Sakura, terlebih lagi Kakaknya, Ryu baru saja menyakiti kakak kesayangannya Queen.
"Sultan!!!" Sakura berteriak dan berlari ke arah Sultan, tetapi Sultan mengabaikannya dan melewatinya.
"Sultan! Aku menyambutmu!! Sultan!!!" teriak Sakura yang merasa dicampakkan.
"Sultan, mana sopan santunmu?" tegur Iskandar yang muncul dari belakang Sakura.
Sakura berbalik.
"Papa Iskandar, Selamat datang," sapa Sakura langsung memeluk Iskandar.
"Terimakasih, Sayang," balas Iskandar sambil membelai rambut gadis kecil itu. Matanya langsung mencari keberadaan Sulta. yang sedang memasang headset-nya dan masih bersikap acuh.
"Sultan!! Kamu dengar Papa???" tanya Iskandar. Sultan melirik ayahnya itu. Iskandar langsung memberi kode untuk menyapa Sakura.
"Ck, Ya, terimakasih Sakura!" seru Sultan terpaksa. Ia lalu pergi duluan.
"Sultan!!!" bentak Iskandar, tetapi Sultan perhi begitu saja.
"Biarkan saja," kata Rin sambil memegang pundak Iskandar.
"Tapi--,"
"Dia masih terpukul," kata Rin berusaha menengahi. Iskandar hanya bisa menghela napas kasar untuk berusaha bersabar.
"Mama Rin, selamat datang!" sapa Sakura memecahkan suasana, ia masih berusaha tersenyum. Sebenarnya hatinya sangat sakit karena respon Sultan padanya.
"Ya, terimakasih, Sayang, uhm ..." balas Rin lalu menggantung kalimatnya.
"Kamu ke sini sendirian, Sayang?" tanya Rin.
Sakura menggeleng.
"Bersama Nenek Minami, tetapi Nenek menunggu di restoran Donat. Ayo, kita hampiri Nenek!" seru Sakura bersemangat.
***
Sementara itu.
Awan memandang ruang chatnya bersama Queen. Ia sudah mengirimi lebih dari 50 pesan, tetapi tak kunjung dibalas atau bahkan dibaca oleh sahabatnya itu.
"Mince," panggil Awan yang mulai merasakan khawatir.
"Ya, Sayang?" tanya Mince yang duduk di depan. Kini mereka semua baru saja sampai di Bali dan hendak pergi ke hotel dengan mobil travel.
"Apa kita ada waktu sebelum waktu pemotretan?" tanya Awan.
Liza dan Sera langsung tahu apa yang dimaksud dengan Awan.
"Sebentar, ya, Mince lihat dulu," Mince mengecek tabletnya yang berisi jadwal artisnya itu.
"Hemm ... masih ada waktu satu jam, sayang? Tapi saran Mince waktu satu jam itu kalian gunakan untuk beres-beres di kamar dan istirahat sejenak," ujar Mince lagi.
Awan, Liza dan Sera saling lirik.
"Lalu, pemotretan akan selesai jam berapa kira-kira?" tanya Awan.
"Tenang, Sore kelar, kok. Dan kalian punya waktu bersenang-senang di pulau penuh hiburan ini, Aww!" seru Mince heboh.
Awan, Sera dan Liza saling pandang dan mengangguk.
__ADS_1
"Oke, kalau begitu, sepulang dari pemotretan antarka. kami ke suatu tempat," pinta Liza.
"Duh, mau kemana, sih? Misterius banget," komentar Mince.
Ting!
"Alamatnya udah aku kirim, nanti antar kita ke sana, ya," pinta Sera.
Mince langsung mengecek lokasi yang dibagikan oleh Sera melalui chattingnya.
"Cottage? Kalian mau ngapain ke sana?" tanya Mince penasaran.
"Ketemu seseorang," jawab Awan.
"Seseorang? Jangan bilang teman kalian yang namanya Queen itu?" tebak Mince.
"Of course ..." seru Awan, Liza dan Sera.
Mince memutar bola matanya.
"Oke, tapi ingat istirahat, ya karena besoknya kalian masih ada pemotretan, jadi harus tetap fresh," pesan Mince.
"Sure, Thanks, Mince!!" seru Awan, Liza dan Sera girang.
***
Ting-Tong ...
Ting-Tong ...
Ting-Tong ...
Queen yang sedang menghibur dirinya dengan melihat video konser teman-temannya langsung di kamar berlari membukakan pintu cottage-nya.
"Papa ..." kata Queen.
"Queen!!" seru Rin yang langsung datang dan memeluk putrinya.
"Mama ..." tangis Queen pecah begitu Sang Mama datang. Ia memeluk ibunya dengan sangat erat.
"Menangislah, Sayang ... Mama dan Papa juga adikmu di sini. Luapkan semuanya pada kami, ya," lirih Rin yang juga tak kuasa menahan tangis. Iskandar yang menyaksikannya hanya memalingkan wajah sambil menghapus bulir air mata di sudut matanya.
"Papa, Papa sebenarnya juga kesal, kan?" tanya Sultan yang berdiri di sampingnya.
"Ya, kamu benar, tetapi Papa tidak boleh bersikap egois seperti itu. Toh, Ryu memang bukan kekasih Kakakmu," ujar Iskandar.
"Meskipun bukan, tetapi Sultan tetap kesal. Dari awal Sultan tahu kalau Ryu tidak memiliki perasaan yang sama dengan Kak Queen, hanya saja ..." Sultan memutus kalimatnya.
"Hanya saja Kak Queen terus-terusan menaruh harapan pada hati Ryu, Sultan juga sangat kesal dengan Kak Queen, tetapi Sultan lebih menyayanginya dibanding membencinya," ungkap Sultan. Iskandar tersenyum mendengar kalimat itu dari mulut putranya. Ia lalu merangkul Putra bungsunya. Sultan memandang Sang Papa dan melempar senyum padanya.
"Hey, Ayo masuk, kita bicarakan semuanya di dalam," kata Iskandar yang masih sadar berdiri di depan pintu.
Rin melepas pelukannya dan menoleh ke arah suami dan putranya.
"Papa benar juga," ujar Rin sambil menghapus air matanya.
"Kalau begitu, ayo kita masuk," ajak Queen yang masih sesenggukan.
Iskandar berusaha tersenyum di hadapan putrinya, meskipun sebenarnya hatinya juga sangat sakit. Mana tega ia melihat wajah sedih apalagi sembab putri satu-satunya itu. Hatinya teralu lembut menghadapi hal itu.
"Ayo," Iskandar menarik Sultan yang ada di dalam rangkulannya untuk masuk ke dalam cottage Sang Putri. Pintu pun ditutup. Di balik pintu itu Queen mengungkapkan semuanya sejadi-jadinya, segala hal yang tidak bisa ia ungkapkan dan semua yang ia simpan dalam dua hari ini.
Beberapa saat kemudian.
Kini Queen sedang duduk berduaan dengan Iskandar. Perasaannya kini sudah lebih baik ketika bicara dengan Sang Papa. Sang Mama sedang istirahat karena tak kuasa menahan tangis tiap mendengar isi hati putrinya, begitu juga Sultan, adiknya yang keras, tetapi hatinya lembut yang tidak pernah tega melihat kesedihan kakak perempuannya.
__ADS_1
"Pa ..." panggil Queen yang suaranya masih berat karena menangis tadi.
"Hm?"
"Menurut Papa, Queen bisa move on?" tanya Queen. Iskandar menoleh padanya.
"Uhm ... tentu saja bisa, Sayang ..." hibur Iskandar.
"Bagaimana caranya?" lirih Queen.
"Kenapa rasanya Queen sulit untuk pindah ke lain hati, Pa? Kenapa?" ujar Queen putus asa sambil memeluk dirinya sendiri.
Iskandar melirik ke arah putrinya, berusaha mencari alasan lain dari permasalahan seorang Queen.
"Sebenarnya kamu itu tidak bisa move on atau karena hal lain, Queen?" tanya Iskandar.
Queen menoleh cepat.
"Hal lain?" Pertanyaan Sang Papa membuatnya jadi berpikir dan menggali alasan lain ia tidak mungkin move on.
Iskandar tersenyum.
"Tapi kembali lagi, Sayang, itu keputusanmu mau mempertahankannya atau mau move on, begitukah?"
"Apakah mungkin Ryu akan berpaling suatu saat nanti pada Queen, Pa?" tanya Queen lagi.
Iskandar menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar pertanyaan putrinya.
"Papa tidak bisa jamin itu, Sayang ..." ucap Iskandar.
"Papa tidak mau berusaha menghibur, Queen ..." rengek Queen.
"Kamu seperti tidak kenal Papa, Lebih baik mengetahui hal yang pahit dan membuat pertahanan daripada hanya melihat keindahan yang fatamorgana," nasihat Iskandar.
"Hiks!" Queen terisak lagi. Mau bagaimanapun juga kata Papanya benar.
"Sudah," Iskandar membelai rambut putrinya.
"Sedih boleh, tetapi jangan berlarut-larut ..." pesan Iskandar.
Queen hanya mengangguk-angguk dan berusaha tegar.
"Queen akan berusaha, Pa--"
Ting-tong ...
Tiba-tiba bel cottage-nya berbunyi.
"Apakah ada yang mau datang lagi?" tanya Iskandar.
Queen mengendikkan bahunya.
"Queen akan buka!" seru Queen berinisiatif. Iskandar mengangguk.
Queen langsung berlari ke arah pintu dan membukanya.
"Queen!!!" seru seorang laki-laki heboh dan langsung memeluk Queen.
"Akhirnya aku bisa menemuimu," lirihnya.
"Ehem!" tiba-tiba suasana jadi mencekam karena deheman Iskandar.
"Uhm, Awan ... se-sebaiknya lepas dulu ..." ujar Queen memberi peringatan.
"Aduh, gawat!" gumam Awan.
__ADS_1