I Love You Queen

I Love You Queen
S2: Pengakuan Queen


__ADS_3

"Queen?" Sahutan Awan akhirnya membuyarkan lamunan Queen. Ya, wanita 20 tahun itu mungkin telah menatap Awan selama lebih dari 5 menit sambil bertanya-tanya, detak jantung siapa yang ia dengar. Mungkin kah miliknya, atau milik Awan.


Queen langsung memalingkan pandangannya. Sebenarnya apa yang ia pikirkan. Kenapa juga memikirkan hal itu di saat Awan sedang berbagi kesedihannya. Padahal jarang sekali Awan mengungkap perasaannya selain kebahagiaan.


"Are you oke, Queen?" tanya Awan sekali lagi. Queen pun menorehkan senyumannya sambil mengangguk. Awan pun ikut tersenyum sembari membelai rambut gelombang Queen yang tergerai.


"Give me one more hug!" pinta Awan dengan nada manja, ya ampun, ini lah Awan yang Queen kenal sebelumnya. Tanpa pikir panjang, Queen kembali memeluk tubuh Pria itu. Entah kenapa ia merasa kehangatan yang berbeda dari biasanya. Kehangatan dari pelukan kali ini terasa lebih nyaman. Queen benar-benar tidak mau pelukan ini segera berakhir.


"Wah, wah ... Sorry, gue masuk gak ketuk dulu!" seru suara seorang laki-laki yang membuat Queen tersadar. Ia pun langsung melepas pelukannya dan mendapati Galang dan Bianca ada di hadapannya sedang memandang mereka.


Ya ampun, Queen malu setengah mati jadi tontonan begini. Tunggu? Queen malu? Kenapa? Bukankah memeluk Awan adalah hal biasa? Ini semua gara-gara ucaoan Galang!


Queen pun memandang Galang dan Bianca secara bergantian.


"Kok? Ka-kalian gak ketuk pintu dulu?" sahut Queen yang berusaha terlihat baik-baik saja, meskipun masih agak malu, ia bahkan langsung turun dari tempat tidur, sementara Awan hanya terdiam dengan wajah tanpa dosa, seolah berpelukan dengan Queen adalah hal wajar.


Galang malah geleng-geleng kepala.


"Padahal gue buru-buru ke sini sampe gak ketuk pintu karena gue kira lu lagi sedih gara-gara tadi serius banget ngomong sama Om Alan, eh ternyata lagi mesra-mesraan—" Sontak Bianca menyikut pinggang Galang.


"Bi!" protes Galang, tetapi Bianca malah melempar senyumannya pada Queen tanpa menggubris pacarnya.


"Gue yakin, Queen itu sedang menghibur Awan ..." sahut Bianca, tetapi Queen malah ternganga, ia memang sedang menghibur Awan, tetapi pelukan tadi lebih dari sekedar menghibur. Apakah semudah itu terbaca oleh Galang?


"I-itu ..." Queen berusaha menjelaskan, tetapi ia malah jadi bingung sendiri.


"Iya, Queen bilang mau jemput aku terus aku curhat, deh sama dia ..." timpal Awan yang langsung dapat tolehan kepala Queen. Entah kenapa dari cara bicaranya, Awan seperti menyembunyikan sesuatu.


Bianca pun menepuk pundak Awan sambil menatapnya dengan penuh empati.


"Gue juga udah denger dari Sera dan Liza soal grup lu. Katanya mau diumumkan di media minggu depan, ya?" ujar Bianca yang ternyata tidak ketinggalan berita.

__ADS_1


Awan tertegun, kemudian menunduk sambil mengangguk.


Galang pun menarik napas dalam-dalam. Ia bisa menyadari kehancuran dalam hati Awan.


"Woy, Awan! Lu ... Lu boleh sedih, tetapi lu harus sadar bahwa jalan kesuksesan lu gak berhenti di sini," hibur Galang. Ia sendiri juga tahu rasanya ketika dunia hancur karena kecerobohannya sendiri.


"Lagian lu itu jenius. Lu bisa jadi komposer atau bikin studio rekaman. Bokap lu juga gak miskin kali," cetus Galang lagi yang langsung dapat tatapan sinis pacarnya.


"Apa salahku, sih, Bi?" protes Galang lagi.


Queen yang memperhatikan interaksi sepasang kekasihnya itu malah geli sendiri. Padahal mereka belum lama pacaran, tetapi terlihat begitu serasi. Bagaimana jadinya jika posisi mereka digantikan dengan dirinya dan Awan. Sontak kedua mata Queen membulat.


"Apa yang aku pikirkan, maksudnya aku dan Awan pacaran?" tanya Queen dalam hati. Entah kenapa sejak tadi dirinya terus saja berekasi dan memikirkan hal aneh. Sebenarnya apa artinya ini semua?


"Udah, yuk ... Mending kita balik. Lu betah banget di rumah sakit!" celetuk Galang yang langsung mengambil tas Awan dan menggendongnya, Awan sempat mencegahnya, tetapi Galang malah keluar sambil menggantungkan tas besar itu di pundaknya.


Awan pun menatap Bianca yang hanya bisa geleng-geleng kepala akibat tingkah pacarnya.


"Uhm, Ayo pulang," ujar Bianca mencairkan suasana. Awan pun tersenyum sambil turun dari tempat tidur. Awan kemudian berjalan mendahului Bianca dan Queen.


"Ada apa Queen?" tanya Bianca sembari berbalik, tetapi ia kaget saat melihat wajah sahabatnya itu memerah. Bianca langsung mendekati Queen dan memegang keningnya.


"Queen? Lu sakit? Mau ke dokter? Mumpung di rumah sakit, nih!" tawar Bianca khawatir. Namun Queen menggeleng dengan cepat sembari menatap lekat-lwkat ke arah Bianca seolah meminta pertolongan.


"Bi ... Aku boleh gak tanya sesuatu sama kamu?" ujar Queen agak ragu. Dahi Bianca mengernyit, ia merasa ada yang aneh dengan nada bicara Queen, tetapi ia memilih mendengarkannya dulu.


"Tanya apa, Cantik?" sahut Bianca.


"Bi ... Kamu ... Waktu kamu tahu kalau kamu suka sama Kak Galang, A-apa yang kamu rasain?" tanya Queen yang mampu menambah kerutan di dahi Bianca. Kenapa juga Queen bertanya begini? Namun ia tak mau memikirkan macam-macam.


"Apa yang gue rasain?" Bianca bergumam. Ia sendiri tidak begitu ingat, ia sudah menyukai Galang sejak kecil, tetapi karena lelaki itu tak muncul, ia jadi lupa dengan perasaan itu. Kemudian, Galang muncul kembali saat sedang terpuruk. Sosok Galang yang terpuruk rasanya selalu minta Bianca peluk, Bianca pun melakukan sesuai nalurinya yang ingin memeluk seorang Galang, sehingga lambat laun perasaan empatinya berubah jadi cinta.

__ADS_1


Bianca jadi sering kesal kalau Galang mulai lebih memerhatikan cewek lain, tetapi Bianca selalu salah tingkah jika Galang malah berbalik memberikan perhatian padanya.


"Hanya itu? Kamu tidak merasa debaran jantung? Wajah yang panas atau berpelukan dengannya serasa tidak mau lepas?" tanya Queen setelah mendengar penjelasan Bianca.


Bianca sendiri mengernyit.


"Aku jarang berinteraksi langsung dengan Kak Galang, Kita komunikasi lewat video call ... Kalau debaran jantung ..." Bianca malah tersenyum.


"Sampai sekarang, sih masih. Berdiri di sampingnya kayak tadi aja udah bikin hormon kebahagiaanku meningkat," ujar Bainca sambil senyum-senyum sendiri. Queen pun hanya mengangguk-angguk mendengar penuturan sahabatnya.


Kini giliran Bianca yang menatap Queen.


"Memangnya, kenapa kamu bertanya begitu, Queen? Apa ada laki-laki yang membuatmu berdebar?" selidim Bianca.


Queen tertegun. Apa sejelas itu? Ah, tentu saja, Queen bahkan tadi bertanya secara gamblang pada Bianca. Queen pun bergumam. Ada sebuah nama yang muncul di dalam kepalanya, tetapi ia sendiri tidak yakin, pantas kah ia merasakan hal ini pada sang pemilik nama?


"Siapa? Mau kasih tahu gue, gak?" tanya Bianca yang antusias. Jika memang benar, ia akan senang karena akhirnya Queen bisa move on dari Ryuuji.


Queen pun melirik ke arah Bianca dengan tatapan ragu-ragu.


"Kamu jangan kaget, ya ..." ujar Queen yang langsung dijawab anggukan oleh Bianca.


"Jangan kasih tahu orangnya dulu," tambah Queen lagi yang membuat Bianca mengernyit.


"Gue kenal?" tanya Bianca sambil menunjuk dirinya sendiri. Queen langsung mengangguk sambil memejamkan matanya.


"Laki-laki itu adalah ..." Queen menarik napas dalam-dalam.


"Awan!" seru Queen


***

__ADS_1


Apakah kapal Awan dan Queen akan segera berlabuh? Ikutin terus ya. Mama uzda bocorin, Cerita ini OTW tamat yaa


jangan lupa Like, Favorit, Vote dan Komen.


__ADS_2