
Iskandar dan Rin membaca sama-sama hasil laporan penyelidikan kecelakaan Galang. Dalam laporan tersebut dikatakan bahwa terduga pengendara truk yang menabrak taksi online yang dinaiki Galang bersaksi bahwa ia disuruh oleh seseorang untuk mengincar kendaraan yang dinaiki Galang, sehingga dapat disimpulkan bahwa ini adalah rencana pembunuhan. Namun, orang yang disebutkan oleh pengendara truk itu masih berada dalam pencarian karena mengenalkan identitas palsu pada Sang Pengendara Truk.
"Siapa dan kenapa?" gumam Rin yang menarik atensi Iskandar.
"Apakah Levi atau Galang sendiri pernah punya musuh?" ujar Iskandar. Rin mengendikkan bahunya.
"Harusnya masalah itu sudah selesai," ujar Rin.
"Tidak mungkin 'kan anak yang dicelakai Galang 5 tahun lalu menyimpan dendam?" gumam Rin dalam hati.
"Apa Queen sudah pulang?" tanya Iskandar yang membuyarkan lamunan Rin. Wanita berkacamata itu menatap suaminya.
"Kayaknya belum ..." jawab Rin. Sedari tadi, ia memang tidak melihat batang hidung anak perempuannya itu.
Iskandar mendongakkan kepalanya, melihat jam dinding yang terpasang di kamar mereka.
"Sudah jam delapan lewat, tetapi dia belum pulang?" Suara Iskandar tiba-tiba meninggi. Ia paling tidak suka jika anak-anaknya melanggar aturan rumah. Apalagi Queen adalah anak perempuan.
"Tenang Iskandar! Dia pasti mengabariku!" bujuk Rin yang langsung mengambil ponselnya. Ia mencari ruang obrolan bersama putru saru-satunya itu.
Rin pun menemukannya dan meligat bahwa Queen mengirim pesan kalau ia pergi jalan-jalan bersama Jonas. Rin kemudian menunjukkannya pada Sang Suami.
"Dia izin, tapi ..."
Mata tajam Iskandar menelaah tiap huruf, angka dan tanda baca di layar ponsel istrinya.
"Dia izin pukul lima sore dan sekarang sudah lewat jam delapan malam!" geram Iskandar. Entah kenapa tiba-tiba jantungnya berdebar, instingnya seolah mengatakan terjadi hal yang buruk.
"Baik lah ... Coba kita hubungi dia dulu, ya ... Tenang, ya," ujar Rian sambil mengusap punggung suaminya. Wanita itu pun mulai melakukan panggilan pada putrinya.
"Nomor yang anda panggil tidak menjawab atau berada di luar jangkauan ..."
DEG!
Sontak rasa takut mulai menghantui Rin. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan ketakutan dan kekhawatiran dalam dirinya. Wanita itu mencoba menelpon putrinya lagi.
__ADS_1
Sayang, lebih dari 3 kali ia menelpon putrinya, tetap tidak menjawab.
"Kemana anak itu?" geram Iskandar kemudian mengambil ponselnya.
"Kamu mau apa?" tanya Rin. Ia tidak bisa membiarkan Iskandar yang marah bicara pafa putrinya. Iskandar memang tidak akan membentak, tetapi Pria ini akan mengeluarkan kata-kata yang menusuk.
"Jika tidak bisa dihubungi, maka kita lacak ponselnya!" ujar Iskandar. Untuk jaga-jaga, ia memasang GPS yang tersambung di ponselnya pada ketiga anaknya.
Iskandar pun membuka layar ponsel dan pergi ke aplikasi pelacak tersebut. Di sana ia bisa lihat bahwa keberadaan Queen yang diwakilkan dengan ponselnya sedang verada di tempat yang cukup jauh di rumah mereka. Anehnya, bukannya mendekat ke rumah, justru Queen malah menjauh.
"Apa yang anak ini lakukan? Apa dia tidak ingin pulang?" geram Iskandar.
"Tenang lah Iskandar. Gunakan kepala dingin!" ujar Rin yang sebenarnya juga mulai berspekulasi buruk di otaknya.
"Atau, kita telepon Jonas! Aku meminta nomornya pada Queen karena mereka sering pergi bersama akhir-akhir ini!" ujar Rin langsung menelpon teman putrinya itu.
"Baiklah. Mungkin dia bisa memberikan petunjuk," ujar Iskandar yang mulai agak lega.
Sementara Rin menelpon Jonas, tiba-tiba ponsel Iskandar berdering. Tertera nama Awan di layar ponsel Pria itu. Iskandar pun mengangkatnya.
Awan :"Selamat malam, Papa Iska ... Uhm, Awan cuman mau tanya, Pa ... Apakah Queen baik-baik saja?" tanyanya yang membuat Iskandar mengerutkan keningnya.
Iskandar :"Ya, Queen baik-baik saja. Memangnya kenapa kamu menanyakan itu?" curiga Iskandar, tidak, bukan saatnya ia mendenfarkan firasat buruknya.
Awan :"Uhm, begini, Pa ... Akhir-akhir ini kami sibuk, sehingga jarang menghubungi Queen ... tetapi sudah dua hari ini Awan dan Liza mengiriminya pesan dan Queen tidak menjawabnya. Apakah dia marah pada kami, Pa?" selidik Awan. Ya, mungkin saja Queen marah dan mulai mengabaikan dirinya.
Iskandar :"Tidak. Dia harusnya baik-baik saja. Hanya saja akhir-akhir ini agak sibuk ..." ungkap Iskandar.
Awan :"Harusnya?" gumam Awan.
Awan :"Lalu, apakah Queen ada di rumah, Pa? Awan mau coba bicara ..." pinta Awan agak cyriga dengan ungkapan Iskandar. Mungkin memang sedang terjadi sesuatu.
Iskandar :"Itu ..."
Tiba-tiba Rin memanggil Iskandar. Membuat Pria itu menjeda panggilannya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Iskandar yang melihat raut wajah khawatir istrinya.
"Jonas juga tidak bisa dihubungi ..." panik Rin. Sontak rahang Iskandar mengeras. Ia pun langsung beralih pada ponselnya.
Iskandar :"Awan, Papa tutup dulu, ya ... Mungkin kita kanjutkan nanti!" ujar Iskandar hendak menutup panggilannya, tetapi Awan buru-buru mencegah.
Awan :"Pa, jika memang terjadi sesuatu pada Queen, izinkan Awan ikut membantu!" sahut lelaki 21 tahun itu. Mau bagaimana pun, Awan harus membayar waktunya yang tidak bisa ia berikan pada Queen.
Iskandar :"Kamu yakin, bisa?" tanya Iskandar. Ia tidak mau membebani orang lain dalam masalah keluarganya.
Awan :"Ya, Pa! Justru, Awan yang tidak tenang jika memang ada apa-apa pada Queen,"
Iskandar :"Baik, tetapi jangan salahkan kami jika hal buruk terjadi padamu juga," ujar Iskandar. Awan pun mengiyakannya.
Iskandar :"Kalau begitu, bantu Papa cari Queen. Sepertinya ada yang aneh dengan gelagatnya!" Iskandar pun meminta untuk bertemu di luar. Ia memilih lokasi yang tidak jauh di tempat ponsel Queen berada. Semoga memang tidak terjadi hal buruk pada Queen. Jika pun memang terjadi, semoga masih bisa ditangani oleh mereka.
***
Queen terbangung setelah tertidur cukup panjang. Ia merasa tangannya agak pegal, mungkin ada yang salah dengan posisi tidurnya. Namun, kenapa sekarang ia ada di atas tempat tidur? Bukan kah terakhir dirinya tertidur di dalam mobil Jonas?
Queen pun mengumpulkan nyawanya. Kini ia benar-benar sadar dan mendapati bahwa kedua tangannya diikat. Bahkan kakinya juga, tetapi tidak seperti tangannya, kakinya diikat ke dua arag yang berbeda dan tali yang mengikatnya tak sekencang ikatan di tangannya. Ia masih bebas menggerakkan kaki, hanya agak terbatas.
Jantung Queen berdebar-debar. Jelas ia agak takut. Apakah ini mimpi? Namun mimpi apa yang seperti ini? Kenapa ia mimpi dirinya diikat. Terlebih, cara mengikatnya yang aneh. Jika ingin membatasi pergerakan Queen, bukan kah ikatan seperti ini agak tanggung?
"Ya ampun, aku harus memastikan ini mimpi atau bukan!" ujar Queen kemudian membeturkan tangannya yang terikat ke dipan tempat tidur.
"Aww!" rintihnya. Ini bukan mimpi. Ia sungguh diikat. Namun siapa yang mengikatnya? Tiba-tiba terdengar suara kunci diputar dari sebuah pintu. Atensi Queen pun beralih pada pintu tersebut. Mungkin kah itu pelaku? Atau orang yang akan menyelamatkannya?
***
Menurut kalian siapa?
Jangan lupa like, favorit dan komen ya.
happy reading guys!
__ADS_1