I Love You Queen

I Love You Queen
S2 : Jangan Sentuh Aku!


__ADS_3

"Kalian istirahat, ya! Besok kita akan gladi bersih sekali lagi sebelum konser diadakan! Semoga konser bersok berhasil! Mari satukan kekuatan!" seru pengarah sambil mengulurkan tangannya yang diikuti Awan, Liza, Sera dan jajaran tim lainnya.


"Bisa, bisa, pasti sukses!" seru mereka semua kemudian bertepuk tangan untuk diri sendiri. Namun, tepat saat itu, Awan buru-buru membereskan barangnya dan pergi, tak lupa ia mengajak asistennya.


Sera dan Liza yang melihat gelagat aneh Awan merasa ada yang aneh.


"Apa kamu mendengar sesuatu dari Awan, Liza? Kamu 'kan yang terakhir bicara sama dia," tanya Sera.


Liza mengendikkan bahunya. Sejak percakapannya dengan Awan tentang Queen, mereka tidak lagi bicara.


"Mungkin dia tidak mau tertinggal siaran serial drama favoritnya," kekeh Liza. Sera hanya mengangguk-angguk saja. Sejak dulu, Awan memang begitu. Dia pasti butuh energi untuk konser besok.


"Kalau begitu ayo kita juga pulang!" ajak Sera, Liza pun mengangguk dan menggandeng tangan sahabatnya itu.


Di sisi lain, Awan melihat lokasi yang Iskandar kirimkan. Ya, kali ini ia pulang dengan menyetir sendiri, sementara ia menyuruh asistennya pulang duluan.


Iskandar bilang, kemungkinan besar Queen ada di sana, tetapi jika memang ia bersama ponselnya. Namun, Iskandar belum benar-benar menjelaskan apa yang terjadi pada putrinya. Apakah Queen di sana atas kemauannya atau justru karena pemaksaan orang lain.


Pria itu memukul setir mobilnya. Apanya yang "Awan bagi Sang Ratu"? Sampai akhirnya ia tidak bisa melindungi Queen. Awan yang dulu selalu melindungi Sang Ratu kini telah tertiup angin dan membiarkan Ratunya kepanasan. Hubungan Awan dan Queen sudah mulai meregang. Andai saja Awan tidak lengah.


***


Suara kunci pintu yang hendak dibuka sontak membuat Queen semakin tegang. Bohong jika tidak ada rasa takut dalam dirinya. Terlebih ia diikat seperti ini. Ilmu bela dirinya bisa-bisa tidak dapat digunakan dengan maksimal. Jika itu Pria, ada kemungkinan ia kalah.


"Pria? Ugh, apa yang diinginkan Pria itu bisa-bisa tercapai!" geram Queen. Lagian, kemana Jonas? Ia sangat ingat terkahir dirinya tertidur di mibil Jonas. Apakah temannya itu dirampok kemudian tidak berdaya melawan para penjahat, sehingga dirinya disandera begini. Bagaimana keadaan Jonas sekarang? Apakah ia babak belur seperti saat SMA dulu? Adakah yang menolongnya?


Semua pertanyaan terus berputar di keoala Queen. Setidaknyabitu lebih baik, dibandingkan meresapi rasa takutnya.


CEKLEK!

__ADS_1


Tubuh Queen terhenyak. Namun ia langsung memejamkan matanya. Di posisi begini, ia tidak bisa membiarkan lawannya waspada. Justru akan lebih aman jika Sang Lawan merasa tidak akan ada perlawanan. Toh, ia masih bisa agak bebas menggerakkan kakinya, kepalanya mungkin juga akan berguna. Queen pun melemaskan tubuhnya, seakan ia tak berdaya.


"Cantik sekali ..." Terdengar suara seorang Pria yang begitu familiar di telinga Queen.


"Kecantikan Queen memang tidak pernah pudar ..." ujar Pria itu lagi.


"Suara ini ... Mirip suara Jonas?" tebak Queen dalam hati.


"Setelah ini, mau diapakan, Bos?" tanya seorang Pria dengan suara yang lebih berat.


"Untuk apa kamu tahu? Itu urusanku!" ketusnya.


"Ma-maaf, Bos!" Pria bersuara berat itu langsung ketakutan mendemgar kekesalan bosnya.


"Ugh, kenapa tidak jawab saja, suapaya aku bisa berjaga!" gerutu Queen dalam hati.


"Kalau begitu, saya permisi, Bos ..." pamit Pria itu yang melangkah jauh dari posisi Queen terbaring sekarang.


"Oke, sekarang apa berikutnya? Pria tadi sudah pergi ... Ugh, rasanya aku mau membuka mata saja! Aku mau tahu, apakah Pria yang ada di sini benar-benar Jonas, atau suaranya saja yang mirip?" gerutu Queen agak gemas. Sebagian dirinya agak tidak percaya jika Jonas adalah orang yang mengikatnya seperti ini.


Kemudian, Queen merasa guncangan pelan daru tempat tidur yang ia tempati, menandakan bahwa Pria yang mirip Jonas itu sedang menaikinya. Ia juga bisa merasakan suhu hangatbtubuh manusia yang mulai mendekatinya.


"Queen, Sayang ... Kenapa kemarin kamu menolakku?" Terdengar nada kecewa dari Pria itu. Sontak Queen merasa tertohok. Ucapan Pria itu seolah mewakikkan kekecewaan Jonas. Ya, Pria terkahir yang ia tolak perasaannya adalah Jonas.


"Aku 'kan jadi sedih ..." lanjutnya lagi dengan nada manja, tetapi malah membuat Queen jadi kesal.


Kemudian Queen mulai merasakan belaian lembut di kakinya.


"What? Dia ngapain? Awas aja kalau berani macam-macam!" geram Queen dalam hati.

__ADS_1


Tangan itu mengelus lembut betis hingga paha Queen. Ia agak menyesal mengenakan celana kulot hari ini. Ingin sekali wanita itu bertindak, tetapi ia tidak boleh gegabah. Mangsa tidak akan tertipu, jika pemburunya gegabah. Ia harus bertindak di waktu yang tepat.


"Kulitmu bahkan lembut, padahal kamu cewek tomboy ..." komentarnya yang kini mulai mengurung tubuh Queen.


"Jika dia bertindak melewati batas, sudah bisa dipastikan, dia adalah pengecut nomor satu!" geram Queen dalam hati.


"Kamu bahkan terlihat lebih cantik dari dekat, apa lagi ddengan wajah polos begini ..." Kini Pria itu mengelus pipi Queen dengan lembut dan mulai mengendus aroma wanita itu dengan menghirup aroma dari leher Queen.


Queen mengumpat dalam hati. Ia benar-benar gerah, ingin segera bertindak. Namun, ia harus melakukan satu kali serangan yang dapat melumpuhkan Pria kurang ajar ini hanya dengan kakinya. Jika ia melilit dada hingga pinggang Pria ini dengan kedua kakinya, itu agak sulit, karena kaki Queen memiliki pergerakan terbatas. Apa yang harus ia lakukan?


"Kamu wangi, aku jadi ingin memilikimu seutuhnya ..." ucapnya lagi kemudian mulai mencium leher Queen, yang membuat Queen sendiri ingin muntah. Jika tidak terikat, sudah ia habisi Pria ini sampai tak bernyawa. Tunggu, apa ini tujuannya.


"Ups!" ucap Pria itu yang membuat Queen penasaran. Kenapa dia berucap begitu? Apakah telah terjadi sesuatu.


"Hey, junior, belum saatnya kamu bangun!" ujarnya geli sendiri. Queen yang mendengarnya serasa ingin muntah. Kenapa juga dia tertawa? Tunggu, jika junior yang dia maksud adalah junior yang mampu memberikannya kenikmatan dunia seharusnya Queen bisa membuatnya kehilangan sebentar kemampuan juniornya itu.


"Apa yang kira-kira bisa aku gunakan?" Queen berpikir, bagian kaki apa yang paling dekat dengan junior Pria kurang ajar ini.


"Lutut!" seru Queen dalam hati.


"Jadi lah milikku—" Seketika dunia Pria itu berhenti sessaat ketika ia mendapati serangan tiba-tiba di antara kedua pahanya.


"Siapa juga yang mau jadi milikmu?" ujar Queen yang kemudian membuka kedua matanya seraya menatap penuh kemenangan Pria yang kini membeku dan akhirnya terjatuh ke bawah tempat tidur.


***


Jangan lupa like, favorit dan komen ya.


happy reading guys!

__ADS_1


__ADS_2