
Gibran melepaskan bibirnya dan menempelkan keningnya pada kening Liza,
"Maaf ...," lirih Gibran.
Liza malah menatapnya kesal,
"kenapa malah minta maaf ?" tanya Liza.
"Aku sudah merebut ciuman pertamamu ..., Padahal mungkin saja kamu tidak suka dan jadi benci aku," kata Gibran yang kini tak berani menatap Liza,
Liza melepaskan keningnya dari kening Gibran, ia lalu memegang kedua pipi Gibran,
"Sekarang tatap gue. Lu mau bicara, kan sama gue ?" tanya Liza.
Gibran jadi terpaksa menatap mata Liza,
"Apa arti ciuman itu ? Jawab yang sebenarnya, mungkin akan gue pikirkan, gue harus benci sama lu atau enggak." pinta Liza.
"Ehm .., aku ..., aku tidak pandai mengungkapkan perasaan, jadi ...," Gibran ragu-ragu. Ia langsung melepaskan pelukannya dan mundur satu langkah. Ia khawatir jika ia mengungkapkannya, Liza malah semakin menjauhinya.
"Katakan. Jadi apa ?" tanya Liza malah menatapnya.
Gibran malah memejamkan matanya,
"Aku sayang sama kamu__,"
CUP !
Liza langsung mengecup singkat bibir Gibran, Gibran langsung membuka matanya lebar-lebar karena kaget,
"Liza ..., kamu ...,"
"Kenapa ? Mau Liza cium lagi ?" Liza malah senyum-senyum sendiri,
"Enggak, tapi ...,"
"Liza juga suka Gibran __, Eh ? Liza lancar panggil nama Gibran !" serunya girang sendiri.
Gibran malah heran, ia malah merasa asing dengan nama Gibran yang keluar dari mulut Liza,
"Kamu menyukaiku ?" tanya Gibran.
Liza langsung memeluk Gibran,
"Iya ..., Kalau dipikir, Liza lebih suka Gibran daripada Ryu. Ng, Enggak, deh, Liza sukanya sama Gibran aja, hehe ...," kata Liza sambil mendongakkan kepalanya dan tersenyum lebar karena Gibran lebih tinggi darinya.
"Suka sama aku aja ?"
"Iya, Liza suka banget sama Gibran !" katanya sambil mempererat pelukannya,
"Gibran juga lebih enak dipeluk, hehe ...," tambah Liza lagi.
Gibran tersenyum dan memeluk Liza,
"Aku juga sangat menyukaimu Liza." ungkap Gibran lalu mengecup singkat puncak kepala Liza,
"Tapi, panggil saja aku Eben. Kamu bilang itu,kan panggilan spesialmu padaku." pinta Gibran.
Liza mengangkat kepalanya,
"Eben ? Baiklah. My Eben." kata Liza lagi.
Wajah Gibran langsung memerah dipanggil seperti itu,
"Ugh..., kenapa kamu malah menggodaku ? Dasar." protes Gibran jadi malu.
"Oh,iya, Eben." Liza melepaskan pelukannya,
"Apa ?"
__ADS_1
"Tadi kata Eben, Eben tau kalau Ryu gak salah pas bicara sama dia. Tapi kenapa Eben tetap melanjutkan tindakan Eben untuk mencelakai Ryu ?" tanya Liza.
Gibran terdiam. Lagi-lagi ia dilema. Haruskah ia ungkapkan kalau Galang adalah otak dari kejadian ini ?
"Apa ini ada hubungannya sama Kak Galang ?" tanya Liza.
Gibran malah kaget karena Liza seolah bisa membaca pikirannya,
"Ng, itu ...,"
"Eben, Coba ceritakan semuanya pada Liza. Liza janji gak akan bertindak gegabah." kata Liza dengan tatapan mata yang serius.
Gibran memandang wajah serius Liza. Ia terdiam sejenak seolah berpikir,
"Eben, percayalah pada Liza,"
Gibran sekali lagi hanya memandang Liza, lalu ia tersenyum,
"Baiklah, akan aku ceritakan semuanya," kata Gibran.
*
Kini Queen tinggal berdua dengan Ryu karena Sera pergi keluar untuk membeli makanan buat Queen. Queen terduduk lemas setelah mendengar cerita Ryu.
"Jadi kak Galang ?" lirih Queen.
"Kamu jangan membencinya, Queen. Dia hanya belum dewasa," Ryu masih saja membela Galang.
"Kenapa kamu terus-terusan membelanya. Dia ingin mengambil nyawamu, Ryu !!! Kamu tidak tahu, betapa khawatirnya diriku karenamu ??!!!" ujar Queen sambil memijit-mijit keningnya.
"Aku tahu, Queen," Ryu termenung.
"Tapi orang sepertiku tidak seperti dirimu," ucap Ryu.
"Kenapa dia bilang begitu ?" batin Queen kecewa.
"Bagiku sekalipun disakiti, bahkan sampai mengambil nyawa, kita tidak perlu membencinya. Itu melelahkan dan merepotkan," lanjut Ryu. Ia terdiam sejenak lalu tiba-tiba tertawa,
Ryu menoleh ke arah Queen dan memandang wajahnya,
"Aku bersyukur, Queen. Kamu masih mengkhawatirkanku. Kukira kamu juga membenciku karena kata-kata jahatku. Kamu juga sudah menamparku, haha ...," tawa Ryu agak memaksakan.
Queen malah berkaca-kaca mendengarnya. Kenapa ia bahkan tertawa di saat seperti ini.
"Kenapa kamu malah tertawa Ryu, hiks !" ucap Queen sesenggukan.
"Aku juga sudah menyakitimu, setidaknya kita impas. Makanya aku mengkhawatirkanmu lagi," ungkap Queen.
"Jangan melakukan hal yang sia-sia, Queen," lirih Ryu. Queen menoleh cepat sambil menatap wajah Ryu lekat-lekat,
"Dia bahkan masih mau mengusirku dari hidupnya, hiks !" batin Queen dalam hati makin sedih.
Queen malah menangis karena perkataan Ryu, Ryu jadi bingung menghadapi seorang Queen,
"Queen ..., Maaf," ujar Ryu lembut,
"Gak perlu minta maaf !! Kan udah aku bilang, kita impas !!" sergah Queen sambil menghapus air matanya.
"Aku hanya merasa harus mengatakannya, Aku tidak mau melihatmu sedih lagi. Aku tidak mau merasa bersalah lagi, Queen,"
"Jika tidak mau merasa bersalah, kenapa tidak terima saja perasaanku ?? Kenapa malah jadian sama orang lain ??" sergah Queen lagi.
"Aku sudah mencobanya, Queen," jawab Ryu yang membuat Queen menatapnya,
"Aku sudah mencoba untuk mencintaimu, tetapi tidak bisa. Aku lebih nyaman untuk mencintai Kejora," lanjut Ryu jujur.
"Bahkan dia memanggilnya dengan nama asli," batin Queen iri.
Queen tersenyum kecil, ia menghapus air matanya,
__ADS_1
"Kalau begitu, lihat saja !" ujar Queen. Queen lalu berkacak pinggang,
"Lihat saja, kamu akan membalas perasaanku !! Kamu kira aku akan menyerah, Hah ??" tanya Queen.
Ryu tersenyum lalu menegakkan tubuhnya,
"Benarkah ? Aku rasa tidak, Queen. Jika itu bisa terjadi, maka itu harusnya terjadi dari dulu," sanggah Ryu.
"Setidaknya aku harus tau, apa yang membuat kamu mencintai Scarlett !" Kini Queen melipat tangannya dan berpikir. Sebenarnya ia mengatakan hal ini hanya untuk menyemangati dirinya yang cintanya bertepuk sebelah tangan.
Ryu malah tertawa kecil,
"Aku tidak butuh alasan untuk mencintainya, Queen," balas Ryu tak mau kalah.
"Tapi, setidaknya kamu pernah mencoba mencintaiku, pasti sedikit lagi, perasaanmu terhadap Scarlett akan beralih padaku." kata Queen percaya diri.
Ryu malah geleng-geleng kepala, Ia merasa Queen yang ada di hadapannya adalah Queen yang berusia 5 tahun yang sedang menginginkan es krim miliknya. Namun sekarang berbeda, yang diinginkan oleh Queen adalah hatinya.
"Daripada menginginkan perasaanku, kenapa kamu tidak mencoba beralih, bukankah ada banyak laki-laki yang mencintaimu ?" tanya Ryu. Ia sangat penasaran dengan hal ini.
"Sialan kau Ryu !" umpat Queen yang akhirnya memecah gelak tawa Ryu.
"Hahaha ..., Kenapa kamu malah mengumpat?" tanya Ryu sambil berusaha menghentikan tawanya.
"Memangnya siapa yang mencintaiku. Kak Galang ?? Dia yang seperti itu tidak akan mencintaiku. Aku tahu," ucap Queen sambil cemberut.
"Menurutku orang yang bisa mencintai dengan benar adalah kamu, Ryu. Kamu dewasa, kamu pengertian, kamu juga perhatian, kamu bahkan tidak keberatan jika kami mengkhawatirkanmu," ucap Queen lagi.
Ryu tersenyum,
"kemarilah ...," pinta Ryu.
Queen mendekatinya, Kini Queen tepat berada di samping tempat tidur Ryu,
"Kemari ..., duduk di tempat tidurku," perintah Ryu.
Queen mengikutinya saja, ia duduk tepat di samping Ryu. Lalu tangan Ryu yang tidak di gips menyenderkan kepala Queen di bahunya,
"bahumu baik-baik saja ?" tanya Queen.
"Baik-baik saja." jawab Ryu tenang.
Queen lalu memeluk pinggang Ryu,
"Aku sangat mengkhawatirkanmu, kukira kamu akan mati." ungkap Queen lagi dengan sedih.
"Tidak. Aku tidak akan mati semudah itu ...," jawab Ryu yang kini membelai rambut keriting milik Queen.
"Tapi kejadian ini memberikanku sebuah pelajaran," kata Ryu lagi.
"Pelajaran apa ?" tanya Queen
"Pelajaran kalau aku harus mengalahkan Papamu. Aku harus bisa melindungi orang yang kusayangi di masa mendatang nanti." ucap Ryu lagi.
Queen langsung mengangkat kepalanya,
"Apa kamu mau menikah denganku, Ryu ?" tanya Queen girang.
Ryu mengernyitkan dahinya heran dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Queen,
"Hah ? kenapa kamu terpikir ke sana ?"
"Karena, syarat untuk jadi suami Queen adalah harus bisa mengalahkan Papa, hehe ...," Queen kini tersenyum sangat lebar.
Ryu tertawa kecil lalu mengacak-acak rambut Queen,
"Dasar !"
"Benar atau tidak, pokoknya Queen sangat mencintai Ryu !" kata Queen tak peduli dan memeluk Ryu lagi. Ryu hanya tertawa mendapatinya.
__ADS_1
Sayangnya di sisi lain ada Awan yang terdiam sambil mengepalkan tangannya,
"Sial !! Sia-sia aku berlari sekencang mungkin karena mengkhawatirkan Ryu !" batinnya yang dibakar oleh api cemburu.