
Ting!
Saat sedang menaiki taksi untuk kembali ke cottage, tiba-tiba Queen mendapatkan pesan masuk dari Awan.
My Cotton Candy: Bisa aku telepon?
Queen mengerjap-ngerjapkan matanya sembari bertanya-tanya di benaknya.
"Ada apa? Kenapa pesan ini seolah genting sekali?" gumam Queen lalu segera menjawab pesan dari sahabatnya itu.
Queen : Boleh.
Queen segera mengirimnya dan tak selang berapa lama Awan langsung menelponnya.
Queen : "Halo--"
My Cotton Candy : "... Kalian tahu, kan kalau kalian dicurigai punya pasangan, akan seheboh apa? Itu juga akan dianggap melanggar kontrak dan otomatis kalian akan dapat sanksi." Terdengar suara lain dari sebrang telepon, tetapi Queen tahu suara siapa ini.
My Cotton Candy : "Sekalipun pasangan HTS kalian datang, jangan terlihat terlalu akrab. Biasa saja, jika ditanya, katakan kalau kalian bersahabat." Suara itu terhenti di situ.
Queen : "Uhm, kenapa kamu memperdengarkan aku rekaman itu, Awan?" Queen sangat tahu kalau itu adalah suara rekaman.
My Cotton Candy : "Yah ... aku hanya bisa merekam dari situ ..." ujar Awan yang sama sekali tak menjawab pertanyaan Queen.
Queen : "Lalu?" tanya Queen lagi.
My Cotton Candy : "Aku ... Mungkin kita tidak bisa jadi pasangan, Queen. Maafkan aku. Apakah kamu akan baik-baik saja jika datang ke acara itu?" tanya Awan khawatir.
Mendengar penuturan Awan di sebrang telepon, langsung membuat Queen tertegun. Ia seolah baru saja mendapat kabar buruk, tetapi ia memang sejenak lupa kalau Awan adalah seorang penyanyi yang memiliki banyak fans dan masih terikat kontrak.
My Cotton Candy : "Queen? Halo?"
Queen langsung tersadar.
Queen : "Y-ya halo? Iya, Awan ..." ucap Queen dengan suara kecil. Sebenarnya ia kecewa dan takut. Ia khawatir tidak bisa menghadapi Ryu sendirian. Ia butuh Awan dan butuh memeluknya di hadapan seorang Ryu.
My Cotton Candy : "Maafkan aku, Queen. Aku tidak bisa terlihat bersamamu, tetapi kita bisa jalan bersama tanpa bergandengan tangan. Bagaimana? Kamu mau, kan?" usul Awan dari sebrang.
Sebenarnya tidak apa-apa juga. Namun apa jadinya jika perasaan takut dan sedih itu datang? Apakah Queen sanggup jika tidak memeluk Awan? Setidaknya memeluk lengannya.
"Ah, aku baru sadar. Gelagatku dengan my Cotton Candy terlihat seperti sepasang kekasih," gumam Queen dalam hati.
__ADS_1
My Cotton Candy : "Halo, Queen? Halo?" seru Awan dari sebrang.
Queen : "I-iya, Halo, uhm ..." jawab Queen.
My Cotton Candy : "Jadi bagaimana, Queen? Apakah kamu baik-baik saja? Aku bahkan tidak boleh terlihat seperti punya kekasih, makanya--"
Queen : "Tidak apa-apa, Awan. Aku bisa. Aku tetap akan datang. Aku harus mengatakan pada Ryu kalau aku akan move on. Aku juga tidak mau mengusik hidupnya dan ingin melupakan perasaanku padanya, jadi ... aku rasa aku harus datang ...". ujar Queen panjang lebar.
Awan malah terdiam. Sebenarnya ia merasa terenyuh dengan niat seorang Queen. Ia bisa memahami posisi Queen karena ia juga berada di posisi yang sama dengan Queen sekarang, tetapi apakah ia akan meneruskan perasaan ini atau tidak masih ambigu. Apakah seorang Queen bisa mengubah perasaan untuknya dari sahabat jadi cinta juga masih ambigu.
My Cotton Candy: "Baiklah. Jika kamu tidak kuat, temui aku di mobil Van-ku. Di sana kamu boleh menangis dan memelukku sepuasnya, oke?" pesan Awan.
Queen :"Ya, pasti. Aku pasti akan melakukan itu," balas Queen dengan suara berat. Entah kenapa air matanya tiba-tiba keluar lagi.
"Queen ..." ucap Perry yang duduk di sebelahnya. Dari tadi ia diam saja mendengarkan percakapan antara Awan dan Queen.
Queen langsung berusaha tersenyum pada Perry, agar Perry tidak teralu khawatir.
Queen : "Ya sudah, aku tutup dulu. Sampai jumpa di acara pernikahan Ryu." Tanpa mendengar jawaban dari Awan, Queen langsung menutupnya. Ia tidak mau Awan mendengar tangisannya lagi. Ia sudah cukup membuat Awan khawatir.
Perry langsung memeluk Queen, berusaha menenangkannya.
"Tenang, Queen ... Tenanglah ..." hibur Perry sambil mengusap-usao punggungnya.
"Hm?" tanya Perry.
"Bisakah kita ke pantai sebentar untuk menghilangkan penat?" pinta Queen yang masih sesenggukan.
"Tentu boleh. Kemanapun Kak Queen mau pergi, Perry akan menemani," jawab Perry sambil mengelus-ngelus punggung Queen.
"Terimakasih, Perry," lirih Queen lagi lalu memeluk Perry dengan erat.
"Tidak perlu berterimakasih, Kak Queen. Ini memang seharusnya Perry lakukan," ujar Perry.
"Ya, aku harus melakukan ini untuk menebus kesalahanku. Entah kenapa aku merasa bersalah karena aku adalah orang yang bahagia atas pernikahan Ryu dan Scarlett," ucap Perry dalam hati.
***
Akhirnya Perry membawa Queen ke pantai setelah menyimpan barang belanjaan mereka di cottage Queen. Namun saat mereka berdua sedang berjalan menuju pantai, tiba-tiba langkah Queen terhenti. Ia seolah melihat seseorang yang di kenalnya.
"Ada apa Kak Queen?" tanya Perry.
__ADS_1
"Uhm, sebentar. Aku ingin memastikan sesuatu," ujar Queen lalu berlari sekencang mungkin menghampiri orang itu.
"Kak Queen! Tunggu!" teriak Perry sambil mengejar Queen dari belakang.
Langkah Queen terhenti tepat di belakang seorang laki-laki berambut gondrong sebahu yang sedang duduk sendirian di pantai.
"Bukankah dia Kak Ghibran?" gumam Queen dalam hati yang berjalan pelan-pelan sembari mendekati seorang Ghibran.
"Arrrghhh!!!!!!" Sontak langkah Queen langsung terhenti begitu mendengar seorang yang diduganya Ghibran malah berteriak.
"AKU MENCINTAIMU!!!!" teriak lelaki itu yang langsung membuat Queen tertawa diam-diam.
"Kenapa Kak Queen tertawa--"
Queen langsung meletakkan telunjuknya di depan bibirnya.
"Shuut ... jangan keras-keras," bisik Queen sambil menunjuk ke arah laki-laki yang diduganya Ghibran. Perry bertanya lewat tatapannya, Siapa itu?
"Pujaan hatinya Liza--"
"AKU MENCINTAIMU LIZAAAA!!!" Belum sempat Queen menjelaskannya lebih detail, lelaki itu sudah mengikrarkan cintanya yang membuat Queen makin yakin kalau lelaki itu adalah Ghibran. Perry sampai melotot mendengar ungkapan lelaki itu.
"Ya ampun, ternyata ada seorang laki-laki yang begitu memuja kak Liza," batin Perry senyum-senyum sendiri.
"Muaach!" Perry dan Queen lebih kaget lagi saat mendapati Ghibran yang mencium ponselnya. Ia lalu menatap layar ponselnya dan langsung memasang volume kencang-kencang.
"AKU LEBIH MENCINTAIMU EBEEEN!!!"
Tiba-tiba terdengar suara Liza dari ponsel itu yang berhasil membuat dua gadis di belakang Ghibran terbelalak kaget.
Terbesit rasa iri di hati Queen.
"Ah, aku iri pada Liza. Ia mencintai laki-laki yang juga sangat mencintainya," gumam Queen dalam hati.
"Kak Queen, laki-laki ini aneh banget, sih," ujar Perry sambil cekikikan sendiri.
Queen menimpalinya dengan senyuman.
"Memang seperti itu," jawab Queen.
"Ah, mendengar ungkapanmu saja aku bisa mati ..." celetuk Ghibran yang sontak membuat Queen tertawa lagi.
__ADS_1
"Kak Ghibran bisa mati kenapa?" tegurnya yang membuat Ghibran celingak-celinguk dan sampai menoleh ke arahanya.
"Queen?!!" ujarnya kaget.