
Ryu keluar dari kamar karena seharusnya sekarang adalah waktunya makan malam. Ia pergi ke ruang makan. Di ruang makan ia tidak melihat Queen. Ryu melirik ke arah jam dinding, jam menunjukkan pukul 20.05 malam.
"Mama Rin. Queen dimana ?" tanya Ryu. Ia berharap bisa bicara dengan Queen malam ini.
"Bukankah kalian baru saja mendatangi acara Liza di cafenya?" tanya Iskandar.
"I,iya.., tapi karena satu dan lain hal..., Ryu pulang duluan...," kata Ryu sambil membenarkan kacamatanya.
"Queen menginap di rumah Liza...," kata Rin sambil menaik-turunkan alisnya pada Ryu.
Entah kenapa Ryu merasa tertohok dari tatapan Rin. Rin seolah tau apa yang terjadi di cafe tadi.
"kenapa Queen sampai menginap? Apa Liza ada masalah?" tanya Iskandar.
"ada lah..., masalah cewek...," kata Rin lalu melirik ke arah Ryu lagi.
"ehm ! Oh.., be,begitu, ya Mama Rin...," kata Ryu sambil mengambil makanan ke atas piringnya. Sedangkan Sultan di sampingnya meliriknya tajam.
"Kau tahu sesuatu Rin?" tanya Iskandar dingin. Jika Iskandar sudah memanggil nama Rin di depan anak-anak, itu berarti ia sedang kesal. Iskandar merasa ada sesuatu hal buruk yang terjadi, meskipun bukan pada putri kandungnya, tapi pasti hal ini mungkin saja ada hubungannya dengan Queen.
"uhm.., ya.., Nanti saja Mama Rin jelaskan, yah, Papa Iskandar.., sekarang makan malam dulu." kata Rin lalu mengambilkan lauk pauk ke atas piring Iskandar.
*
"Liza ditolak oleh Ryu? Liza suka dengan Ryu??" tanya Iskandar kaget. Ia sangat tahu, putri kesayangannya menyukai laki-laki yang sedang menginap di rumahnya itu, tetapi seorang Liza? Dia benar-benar sebaik Papanya dalam hal menyembunyikan perasaan.
"ah.., menurutku suka-sukaan seperti itu sungguh konyol..., tapi hampir setiap remaja pasti melewati fase itu." kata Iskandar sambil mengancingkan piyamanya.
"kayak gak sadar diri aja lu !" kata Rin. Kini mereka hanya berdua di dalam kamar. Rin bebas mau menggunakan bahasa seperti apa pada Iskandar.
Iskandar meliriknya tajam,
"kalau gue yang suka sama lu itu beda lagi. You are my true love, honey !" kata Iskandar malah bergombal ria.
"ih, apaan, sih? Udah tua juga lu !" kata Rin malu.
Iskandar duduk di samping istrinya, lalu memeluk pinggangnya,
"tapi, Iskandar..., lu juga gak boleh gitu, bisa jadi Ryu adalah cinta sejatinya Liza." kata Rin.
Iskandar melepas pelukannya,
"ah, lu emang benar-benar gak peka. Ryu menyimpan satu nama gadis di hatinya. Tapi gue jamin itu bukan Liza." kata Iskandar.
"sok tahu !"
"emang tahu !" kata Iskandar lalu naik ke atas ranjangnya dan menarik selimutnya, Rin langsung menyusulnya,
"kasih tahu, dong..," Pinta Rin yang mulai kepo. Sifat keponya semakin menjadi-jadi kalau sudah berhubungan dengan anak-anaknya itu.
__ADS_1
"enggak ah. Itu juga belum pasti. Hanya tebakanku saja." kata Iskandar menidurkan tubuhnya dan berusaha memejamkan matanya.
Rin langsung tiduran di samping Iskandar, dan menjadikan lengan suaminya itu bantal,
"ayo, dong.., kasih tahu.., kasih tahu, ya...," pinta Rin.
"Kamu perhatikan saja sendiri. Kamu akan tahu jawabannya. udah ayo tidur !!" kata Iskandar malah membawa Rin ke dalam dekapannya.
*
Idho baru saja pulang dari acara charity yang diadakan oleh komunitasnya. Rumahnya terlihat sangat sepi. Ia bahkan tidak menemukan istrinya yang biasanya menunggu kepulangannya. Idho langsung masuk ke kamarnya.
Ceklek!
Idho membuka pintu dan langsung bisa menemukan Sherin yang melamun dan bersedih di atas tempat tidur mereka.
Idho tersenyum lalu mendatangi istrinya itu, ia berlutut di hadapan Sherin.
"eh, Kak Idho !" kata Sherin yang sadar dengan kedatangan suaminya.
"Ada apa ini? Di luar sepi. Pas Kakak Idho masuk, My Hero malah bermuram durja?" tanya Idho yang selalu menyebut istrinya itu dengan sebutan My Hero.
"Apaan, sih? Udah, mandi dulu sana !!" kata Sherin malu.
Idho berdiri,
"oke, Gue mandi dulu, tapi elu hutang cerita,ya sama gue." kata Idho lalu mengambil baju dan handuknya, setelah itu masuk ke kamar mandi.
Sherin menjadikan perut sixpack suaminya sebagai bantal,
"kak Idho kenapa gak pake baju dulu,sih?" Protesnya.
"perasaan, tadi ambil baju, deh. Yang dipake malah celana doang!" Protes Sherin lagi.
"Udah, pake baju, mah gampang, Kakak Idho gak sabar mau tahu kenapa muka Sherin murung!" kata Idho sambil mencolek hidung istrinya.
Sherin langsung mengambil tangan suaminya lalu menciumnya singkat,
"Sherin sedih..., soalnya hari ini Liza pulang dengan mata yang sembab." kata Sherin.
Idho membelai rambut istrinya,
"dia nangis? kenapa?" tanya Idho.
Sherin mengelus-elus punggung tangan Idho,
"dia ditolak oleh Ryu...," Kata Sherin.
Idho mengernyitkan dahinya,
__ADS_1
"ditolak? Ditolak apanya?" tanya Idho.
Sherin langsung duduk,
"iih, kak Idho gak pengertian banget !! Ditolak cintanya lah !" kata Sherin jadi kesal sendiri.
"ooh.., pft...., ya, ya...," kata Idho jadi geli sendiri.
Sherin langsung mencubit pipi chubby suaminya,
"ih, anak gadisnya lagi sedih, dia malah ketawa. Gimana, sih ??!!!" Protes Sherin.
"Sorry.., sorry..., lagian elu, sih, yang berlebihan.....," kata Idho.
"kok berlebihan?!!!" Sherin mencubit pipi suaminya lagi.
"Aduuh..., pipi kakak Idho makin lebar ini !!" Protes Idho sambil mengusap pipinya.
"lagian, patah hati buat remaja seumurannya itu wajar, Sherin...," kata Idho. Sherin langsung menatapnya.
"Justru fase itu haru dilewatin. Dia harus mulai belajar kalau hidup itu gak semulus jalan tol." Kata Idho lalu menarik Sherin agar tiduran di perutnya lagi.
"tapi, Sherin gak tega aja, Kak Idho.., dia sedih banget." kata Sherin lagi.
"kalo menurut Kakak Idho, mending dia ditolak, daripada diterima tapi malah dipermainkan." kata Idho jadi ingat masa lalunya. Sherin langsung mengelus pipi chubby suaminya.
"kadang kekecewaan yang bikin kita jadi bangkit dan lebih kuat lagi, Sherin..., hanya saja...,"
"hanya saja apa?"
"setelah ini, kita sebagai orang tuanya yang nanti harus mengarahkan dia, untuk jangan berbuat hal-hal buruk atau merugikan orang lain." kata Idho lagi.
"tapi, apa dia kuat, kak Idho? Sherin tadi melihat kerapuhan dari matanya." kata Sherin.
"Ayolah.., dia itu putri kita ! Meskipun dia agak bar-bar kayak gue, tapi dia juga tangguh kayak Sherin !" kata Idho lalu mengecup puncak kepala istrinya.
"begitu?"
"berikanlah kepercayaan padanya, Sherin. Itu yang bisa membuatnya jadi pribadi yang lebih mandiri." kata Idho lagi.
"Oh,iya.., Kak Idho, ngomong-ngomong, Queen, Sera dan Awan mau nginap. Sekarang mereka lagi ada di kamar Liza." Kata Sherin.
"oh.., nginap__, eh ? Awan ??!!!" kata Idho, meskipun ia sangat tahu hubungan Awan dengan putrinya serta teman-temannya yang lain, tetap saja, bagi Idho Awan adalah seorang jantan yang masuk ke kandang para betina.
"Wah.., Dia dimana sekarang ??" kata Idho langsung bangun, untungnya Sherin juga buru-buru bangun sebelum kepalanya terjatuh dari sandarannya.
"di kamar Liza." kata Sherin.
"di kamar Liza ?!!! Gak bisa ini !!!" kata Idho lalu turun dari tempat tidurnya.
__ADS_1
"eh, kak Idho ! Kaosnya !" kata Sherin mengingatkan sebelum suaminya itu keluar dan ngomel-ngomel dengan bertelanjang dada.