I Love You Queen

I Love You Queen
S2: Kelepasan


__ADS_3

Ini adalah hari terkahir Awan dirawat di rumah sakit, Setelah melakukan konsultasi yang cukup panjang bersama dokter terkait luka di perutnya dan rawat jalan yang harus ia jalani, akhirnya Awan bisa pulang. Dia sudah teralu lama di rumah sakit. Namun kini, ia ditemani oleh Galang yang juga belum lama keluar dari rumah sakit.


"Queen gak dateng?" tanya Awan. Aneh, kenapa Galang yang malah hadir. Lantas keempat sahabatnya kemana?


Galang duduk di sofa kamar inap Awan.


"Gue kangen sama lu. Jadi gue yang jemput elu," jawab Galang. Atensi Awan yang sedamg membereskan pakaiannya beralih.


"Jangan bercanda, Galang!" kesal Awan.


Galang malah terkekeh.


"Bi nanti datang, tapi dia lagi beli makanan. Laper katanya tadi, Kalau Queen, nanti tanya Bi aja, chat gue bahkan gak dibaca sama dia. Apa gara-gara nyokap, ya?" Galang menatap ke arah Awan yang juga sedang mengernyit. Ia lupa, kalau Amara, ibunya Galang sempat mengutuk Queen sebagai pembawa sial.


"Lu ... Lu gak berpikiran sama kayak Nyokap lu?" Tiba-tiba pertanyaan itu tercetus di benak Awan. Itu karena sampai terakhir Queen bersamanya, Ia masih menyalahkan diri bahwa Awan seperti ini karena diri wanita itu.


Kemudian Galang menggeleng.


"Meskipun kata Papa Iskandar, pelakunya Jonas. Toh, gue dulu juga berdosa sama tuh anak," timpal Galang santai.


"Jadi impas," lanjutnya malah cengengesan. Pria ini memang agak gesrek, tetapi tingkahnya justru mampu mengundang senyum Awan.


"Kayaknya sekarang kamu jadi mirip sama Bi," gurau Awan. Sekalipun Bi sama barbarnya dengan ketiga sahabat lainnya, tetapi Bi juga cukup bijaksana dalam mengambil keputusan dan memberikan penilaian pada orang lain.


"Gue jatuh cinta sama Bi karena dia begitu ... Gue juga suka dengerin wejangan dari bokapnya yang menurut gue gila, tapi bener," kekeh Galang. Hidup Pria ini benar-benar sudah membaik. Kemudian atensi Galang beralih pada Awan yang hanya mengangguk-angguk saja.


"Kalau lu sendiri? Lu gak nyalahin Queen?" tanya Galang.


Awan terhenti. Pertanyaan yang sudah sangat ia tahu jawabannya. Ia pun menggeleng.


"Gue cinta sama dia—" Awan langsung menghentikan ucapannya dan menoleh ke arah Galang yang kini terbelalak.


"What?" seru Galang kaget, begitu juga Awan yang kaget karena lidahnya berucap tanpa dipikir dulu. Awan langsung menatap wajah kaget Galang.

__ADS_1


"Gue denger apaan barusan?" kekeh Galang sambil memicingkan matanya. Pria itu berdiri dan merangkul pundak Awan yang berdiri di samping tempat tidur.


"Luigi Awananda Lorenzo cinta sama Queen? Waw! Sejak kapan, Bro?" selidik Galang.


Awan hanya terkekeh. Ia sangat ingin mengalihkan pembicaraan ini.


"Kamu salah denger!" ujar Awan sambil menyingkirkan tangan Galang dari tangannya.


Galang sekali lagi terkekeh kemudian loncat dan duduk di atas tempat tidur. Ia menatap iseng wajah Awan yang sekarang memerah.


"Kalau lu emang cinta, ya bilang aja lu cinta sama dia. Ngapain lu tutup-tutupin?" ujar Galang lagi yang membuat aktivitas Awan terhenti.


"Lagian, sekarang lu gak ada saingan. Kalau dulu, saingan gue ada dua, Si Ryu sama Si Jonas," ujar Galang sambil menatap langit-langit kamar.


Sekali lagi ucapan Galang mampu menohok Awan.


"Saingan, ya?" Tiba-tiba nada bicara Awan jadi angkuh.


"Tiga? Maksud lu, lu suka sama Queen dari dulu? Sejak gue ngejar Queen?" selidik Galang lagi yang langsung ditimpali dengan anggukan Awan. Galang langsung geleng-geleng kepala. Dia bahkan tak menyadari perasaan Awan sedikit pun .


"Wah, parah, jadi lu main cantik, ya?" seru Galang yang langsung dijawab kekehan Awan.


"Luar biasa, padahal lu yang paling gak garang di antara kita!" seru Galang lagi.


"Kata siapa? Kamu belum lihat aja kalau aku keluarkan ilmu judoku," sombong Awan.


"Iya-iya, deh. Kalau gitu, tunggu apa lagi? Tembak lah Queen. Lagi kosong tuh dia!" provokasi Galang. Jika memang Pria ini mencintai Queen dari dulu, dia sangat hebat karena bisa mengendalikan emosinya sampai sekarang.


Namun tatapan Awan berubah jadi nanar.


"Enggak, sekarang bukan saat yang tepat. Aku khawatir, Queen menerima perasaanku karena rasa bersalah," ujar Awan lirih.


"Iya juga, sih ..." Galang tidak berpikir sampai di sana.

__ADS_1


"Terus, rencana lu gimana?" tanya Galang lagi.


"Aku mau serius pedekate sama dia sebagai seorang Pria mulai sekarang. Aku mau, dia sadar kalau aku mencintai dia sebagai sorang laki-laki," tutur Awan. Galang mengangguk-angguk sambil bertepuk tangan pelan.


"Gue dukung lu, Bro!" seru Galang kemudian pintu kamar tiba-tiba terbuka, tetapi bukan Bianca yang datang, melainkan sosok Pria paruh baya dengan tatapan yang tajam. Awan sangat mengenal sosok itu. Sosok yang selama ini ia nantikan.


"Daddy Alan?" Awan menyerukan nama Pria itu.


Alan pun melirik ke arah Galang.


"Bisa tinggalkan kami berdua?" pinta Alan dengan tatapan agak memaksa.


Untungnya Galang langsung mengerti, meksipun ia tidak begitu mengenal siapa Pria ini. Namun dari cara Awan memanggilnya, sepertinya ini adalah orang penting. Galang pun bangkit seraya menepuk pundak Awan.


"Gue tunggu di luar, ya, Bro!" ujar Galang kemudia melenggang pergi meninggalkan Awan berdua dengan Alan.


Tepat setelan pintu kamar ditutup, Alan berjalan mendekati Awan.


"Daddy sudah berdiskusi dengan dokter terkait lukamu ..." ucap Alan.


Awan tertegun, perasaannya mengatakan akan ada hal buruk yang akan ia dengar.


"Harusnya Mince yang datang menjemputmu, tetapi Daddy memilih datang langsung ..." Kini sorot mata tajam Alan sungguh tak bisa Awan hindari.


"Maaf, karena Daddy memutuskan untuk membicarakan ini saat kamu belum sembuh sepenuhnya," dingin Alan.


Awan menelan salivanya.


"Dad ... Apa ini ada kaitannya dengan Konser?" tanya Awan yang langsung mendapati senyum miring Alan.


"Benar ... Daddy hanya ingin bilang, bahwa Daddy tak bisa lagi mendukungmu di dunia entertain ini lagi!" Sontak perkataan Alan membuat Awan terkesiap. Ia menarik napas dalam-dalam berusaha untuk tenang.


"Bisa jelaskan secara detail, Dad?" pinta Awan yang kini tatapannya berubah jadi serius.

__ADS_1


__ADS_2