I Love You Queen

I Love You Queen
Bagian 64


__ADS_3

Henry sibuk menata posisi anak-anak drama asuhannya karena berhasil memenangkan juara 1 setelah berbagai kendala,


"Ayo.., Awan, lu di belakang, dong ! Lu,kan tinggi !" perintah Henry. Awan langsung pindah posisi mengikuti arahan Henry,


"Oke, setelah gue hitung sampe tiga, lu semua bilang buncis, ya," kata Henry memberi aba-aba.


"Siap, Bang Henry !" seru mereka semua.


"satu, dua, tiga ...,"


"BUNCISSS ...!!"


*


Kini Awan dan Sera mencari Liza dan Queen,


"kira-kira mereka juga berhasil menang, gak ya ?" tanya Sera yang berjalan di samping Awan.


"entahlah ...," kata Awan agak khawatir. Sera lagi-lagi curiga dengan reaksi Awan,


"kenapa kamu terlihat khawatir. Khawatir mereka tidak menang atau khawatir yang lain ?" selidik Sera.


Awan menoleh ke arah Sera,


"hmm.., sebenarnya ..., aku membuat sebuah janji dengan Queen." kata Awan jujur.


"janji ? Janji apa ?" tanya Sera penasaran.


"Intinya, aku akan mengungkapkan perasaanku padanya jika dia menang. Haah ...," Awan menghela napas pasrah.


Sera menghentikan langkahnya sambil melotot, Awan juga jadi ikut menghentikan langkahnya,


"kenapa ?" tanya Sera.


"entahlah ..., aku yang bodoh. Mungkin aku tidak akan bisa berada di sampingnya lagi." ujar Awan sedih.


"karena kamu tau hati Queen bukan untukmu ?" tanya Sera lagi.


Awan mengangguk,


"Entah sampai kapan hatinya untuk Ryu ? Namun ia harus menerima kenyataan atau mungkin sekarang bisa mengubah kenyataan." ucap Awan.


"maksudnya ?" Sera tidak mengerti.


"kamu kayak gak tau sifat Queen aja ..., Dia tahu, Ryu dan Scarlett sudah menjadi sepasang kekasih, tetapi Ryu belum menikah dengan Scarlett, itu berarti dia masih punya kesempatan__,"


"wait ! Ryu jadian sama Scarlett ??? Ya ampun ?!!!" seru Sera bahkan sampai menepuk jidatnya.


"kamu ..., kok bisa-bisanya sekaget itu?" kekeh Awan.


"enggak. Aku cuman gak nyangka aja. uhm.., udah ganti topik ! Jadi kamu bakalan bilang ke dia soal perasaan kamu kalo Queen menang ?" tanya Sera.


"iya."


"terus, kalo kalian canggung gimana ?"


"berarti ulang dari awal. Pedekate lagi dari awal sama Queen." jawab Awan.


Sera tersenyum miring,


"ya ampun ..., ternyata tidak semua urusan bisa diselesaikan dengan cepat, ya ?"

__ADS_1


"ya, kadang kita harus menggunakan kesabaran untuk mendapatkan timing yang pas dan memastikan keberhasilannya." lanjut Awan.


Sera meninju lengan Awan pelan,


"Dasar ! Ya, udah ayo cari mereka !" kata Sera sambil merangkul sahabatnya itu.


*


Liza datang ke ruang tunggu peserta lomba cerdas cermat sambil membawa 5 tangkai bunga mawar imitasi yang ia beli tidak jauh dari hotelnya. Ia membelinya untuk berjaga-jaga kalau tim Queen memenangkan kompetisi.


"menang tidak menang, Liza tetap harus apresiasi mereka." gumam Liza sambil tersenyum lebar.


Saat masuk, Liza langsung menemukan Queen dan timnya sedang beres-beres hendak meninggalkan ruangan tersebut. Liza buru-buru menghampiri mereka.


"Loh ?? Kalian mau kemana ? Kalian menang atau tidak ?" tanya Liza.


"Liza ...," Gibran malah teralihkan karena kehadiran seorang Liza.


"kami menang, tapi__,"


"serius ?? Woaaah..., kalo begitu terima ini !" kata Liza memotong perkataan Barlie dan memberikan Barlie setangkai mawar imitasi itu. Gibran langsung mengernyitkan dahi.


"ini untuk kak siapa ini ?" tanya Liza pada Barlie.


"Gue Barlie." jawab Barlie.


"owh..., Barlie ? Selamat Barlie ..., ini Liza apresiasi dengan bunga mawar ini ...," kata Liza lalu segera mendatangi Queen,


"What ? Dia seumuran sama gue ?" gumam Barlie tak terima, tetapi tetap menerima bunga mawar dari Liza.


"My Queen !!! My Sister !!! Congratuletion Baby !!!" seru Liza sambil memeluk Queen yang berwajah muram.


"ini, Liza beri bunga mawar. Congrats ya ...., muachh !" Liza bahkan mencium pipi Queen.


"I,iya." Queen masih dingin.


"why ? kok lu menang malah sedih, sih ?" Liza memperhatikan semua orang di sekelilingnya yang tidak menunjukkan wajah bahagia.


"Eben !" Liza memanggil Gibran dan menghampirinya.


"Eben ..., kenapa kalian semua sedih ? Nih, Liza kasih tiga mawar untuk Eben biar Eben gak sedih, ya ?" kata Liza berusaha membujuk Gibran.


Gibran tersenyum,


"i,iya, terimakasih Liza." Gibran menerimanya.


"tapi kenapa kalian sedih ? Apakah ada masalah ?" tanya Liza.


"teman kami ada yang terkena musibah sehingga tidak bisa mengikuti kompetisi ...," kata Gibran.


"mu,musibah ? Musibah apa ?" tanya Liza jadi ikutan khawatir.


"Dia ditemukan babak beluk di parkiran hotel dan sekarang sudah masuk rumah sakit. Kami semua mau ke sana ...," tambah Queen.


"oh, ya ampun ! Siapa yang melakukan itu ??"


"entahlah. Makanya kami mau menjenguk dia. Semoga aja dia sudah sadar dan bisa memberikan kesaksian." kata Barlie.


"Liza boleh ikut ?" tanya Liza.


"bo, boleh saja." kata Queen.

__ADS_1


"jika memang harus ditangani polisi, Liza akan meminta Mami Hanna untuk menanganinya." kata Liza.


"hah ? Hana ?" kata Barlie saat mendengar nama pacarnya disebut.


"uhm..., Kakak perempuan papanya Liza namanya Hanna dan seorang polwan." kata Queen.


"Ooh...," ucap Barlie.


"kalau begitu, Ayo kita jenguk Jonas. Semoga aja dia udah sembuh. Bu Agatha sudah menunggu di luar." kata Gibran.


"Ayo !" seru Liza sambil menggandeng tangan Gibran, Gibran sempat kaget dibuatnya, bahkan Queen yang melihatnya juga kaget.


"jika Liza tidak punya perasaan apa-apa pada Gibran, harusnya dia menggandeng tanganku! Kenapa malah tangan Kak Gibran ? Ya ampun, temen aja aku cemburuin ..., dasar Queen !" batin Queen sambil geleng-geleng kepala.


"ya udah, Ayo !" Mereka semua segera pergi.


*


Di Mobil,


Ting !


Tiba-tiba ada notifikasi masuk di ponsel Gibran,


*From : Galang


to : Gibran


Woy, Culun ! jangan lupa, hari ini jam tiga sore. Jangan kelamaan lu lombanya. Karena rencana kita bisa dijalankan kalo ada elu ! Awas lu telat* !!!


Gibran menghela napas,


"kenapa Eben ?" tanya Liza yang masih setia menggandeng tangan Gibran.


"ah ? tidak.., tidak apa-apa. Aku cuman sedih karena Jonas terkena musibah." jawab Gibran berbohong.


"iya, Liza juga sedih. Semoga teman kalian bisa segera pulih dan sembuh. Dan yabg terpenting jangan sampai trauma." harap Liza.


"aku juga berharap begitu, Liza. Masalahnya Jonas itu sering mendapat perundungan di sekolah. Dan baru berhenti akhir-akhir ini. Aku gak nyangka bisa menghadapi hal yang sama di lingkungan yang jauh dari sekolah." kata Queen.


"dunia luar itu lebih kejam. Mungkin dia sudah melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kebiasaan di sini. Tapi entahlah. Sekalipun dia sadar, pun tidak bisa kita tanyai langsung. Pasti masih ada trauma sedikit." kata Barlie lagi.


"Barlie pernah mengalaminya?" tanya Liza.


"pernah, waktu SD, tapi gue bangkit dan gak mau hal seperti itu terulang lagi di kehidupan gue." jawab Barlie.


"woaaah..., pantas Barlie terlihat keren sekarang." kata Liza yang membuat Gibran tak nyaman.


"ehem !" Gibran malah berdehem, membuat kode pada Liza.


"Eben ? Eben haus ? Liza punya minum di tas Liza." kata Liza malah tidak paham kode dari Gibran. Gibran hanya menggeleng dan memaksakan senyumnya.


"aduh..., sama aja, gak Liza, gak Kak Gibran, sama-sama gak peka !" batin Queen.


"Ng,Iya, kak Barlie keren. Kak, semoga kakak nanti bisa bantu Jonas untuk gak trauma lagi ya ...," kata Queen buru-buru agar membuat pandangan pada Barlie keren adalah hal yang wajar dan bukan hal yang harus dipikirkan oleh Gibran.


"iya, rencananya gue juga mau begitu." kata Barlie lagi.


"Ibu juga berharap hal yang sama ...," tambah Bu Agatha yang dari tadi diam.


*

__ADS_1


__ADS_2