I Love You Queen

I Love You Queen
S2: Pilihan yang Tidak Pernah Salah


__ADS_3

Queen dan Scarlett berbincang sambil bercanda. Hal itu membuat Awan yang diam-diam mengikuti dua wanita cantik itu tersenyum. Namun tanpa ia sadari ada seseorang yang menghampirinya.


"Awan, apa yang kamu lakukan?" Seketika kedua pundak Awan naik. Pria itu langsung memutar tubuhnya dan mendapati seorang Pria berkacamata sedang berdiri di belakangnya. "Ryu?" kaget Awan, tetapi arah pandang Ryu langsung berpaling pada Queen dan Scarlett yang sedang tertawa bersama. Tanpa sadar, sebuah senyuman terlukis di wajah Ryu.


"Akhirnya ..." ucap Ryu kemudian melempar senyumnya pada Awan yabg sedang mengerjapkan mata. "Akhirnya? Apa maksudmu?" tanya Awan heran. Ryu menggerakkan bola matanya ke arah Queen dan Scarlett tanpa berhenti tersenyum. "Hubungan mereka sempat tegang beberapa tahun terkahir ini, tetapi sekarang mereka bisa kembali tertawa bersama lagi," ujar Ryu seraya memandang dua wanita yang dulu mengisi masa mudanya.


Awan pun kembali memandang pemandangan yang selalu ia nantikan. Kebahagiaan Queen dan hilangnya ketegangan antara Queen dan Scarlett. "Ya, Aku juga senang melihat mereka bisa tersenyum bersama. Andaikan mereka tidak memperebutkanmu, pasti hubungan mereka seperti ini dari dulu. Mau bagaimanapun, Scarlett dan kamu adalah sahabat Bang Ran yang juga memiliki kenangan indah tersendiri bagi Queen," beber Awan.


Ryu mengangguk. "Ini semua berkat kamu ..." ujar Ryu yang mampu menarik atensi Awan. "Aku? Kenapa?" tanya Awan.


Ryu tersenyum. "Aku sadar bahwa aku telah berbuat egois karena mengabaikannya selama ini. Aku juga yang membuat adikku, Queen sedih karena tidak bisa membalas perasaannya. Namun, karena kamu terus setia berada di sisinya ... Senyum Queen yang sempat hilang telah kembali," tutur Ryu.


"Adik, ya?" tekan Awan sambil geleng-geleng kepala. Ryu mengangguk. "Sampai kapan pun, Queen adalah adikku. Aku tidak bisa mengubah perasaan itu dalam hatiku ..." jujur Ryu. "Namun sekarang aku sudah lega karena Queen sudah tidak memiliki perasaan itu lagi padaku. Mau bagaimanapun itu semua berkatmu. Terima kasih, Awan," ujar Ryu lagi.


Awan malah terkekeh. "Bukan. Bukan karena aku, Ryu ..." Awan memandang kembali ke arah wajah Queen yang terlihat begitu bahagia. "Itu adalah karena keputusan Queen sendiri. Dia yang berjuang kerasa untuk menata hatinya dan bergerak maju dari cintanya padamu yang semu," tutur Awan seraya memandang Ryu yang kini memandangnya. Pria berkacamata itupun tersenyum sambil mengangguk.


Awan langsung menaikkan dagunya. "Lagipula, berada di sisi Queen dan setia padanya akan tetap aku lakukan apapun yang terjadi pada Queen," tambah Awan lagi. Ryu tertawa sambul menepuk-nepuk pundak Awan. "Ya, Abang satu ini hanya mengkhawatirkan adiknya," dalih Ryu. Awan hanya mengangguk-angguk saja sambil terkekeh.


"Namun, syukurlah jika seperti itu. Aku berharap hubungan kalian bisa segera bergerak ke jenjang yang lebih serius," harap Ryu lagi. Awan pun berterima kasih pada harapan Ryu untuknya dan Queen.


"Loh? Kalian berdua ngapain di sini?" seru Scarlett yang langsung memecah suasana. Ryu dengan sigap langsung menghampiri istrinya itu. "Scarlett! Aku mengkhawatirkanmu!" ujarnya sambil memapahnya. Dahi Awan mengernyit, kenapa Ryu begitu perhatian pada Scarlett?

__ADS_1


"Apa terjadi sesuatu pada Scarlett?" selidik Awan. Queen langsung menyenggol lengan kekasihnya. "Dia hamil," beber Queen. Seketika mata Awan langsung melebar. "Hamil? Sungguh?" Scarlett dan Ryu langsung mengangguk sambil saling memandang. "Congrats!" seru Awan yang mendapat kabar bahagia ini.


"Terima kasih, Awan," ujar Scarlett seraya tersenyum. "Uhm, ngomong-ngomong, tadi Liza menelpon, katanya mau foto bareng. Sebaiknya kita segera mendatangi mereka sebelum dia mulai meledak," ujar Queen. "Benar, jika tifak, siap-siap telinga kita jadi panas!" gurau Awan. Mereka pun langsung pergi dari Rest Room menuju Photo Booth.


...—End—...


...****************...


...Extra Story...


"Bunda! Apa kita bisa mulai sarapan sekarang?" tanya seorang gadis kecil berkulu putih bening dan rambut keriting seraya memandang Queen dengan pupil matanya yang membesar. Queen yang baru saja memindahkan hidangan yang abru matang ke dalam mangkok saji pun membelai rambut keritung gadis kecil itu. "Bangunkan ayah dulu, kita harus saraoan bersama," imbuh Queen dengan lembut. "Bangunkan ayah? Serahkan itu pada Luna!" seru gadis kecik itu bersemenagat dan langsung berlari menuju kamar ayahnya. "Luna, hati-hati!" seru Queen.


Kini Gadis Kecil bernama Luna itu membuka pintu yang gagang pintunya setinggi dirinya. Ia bahkan perlu berjinjit untuk membuka pintu itu.


"Ayah ..." panggilnya lagi seraya melangkahkan kaki kecilnya masuk ke dalam ruangan itu. Tepat saat kedua kakinya masuk, Luna segera berlari menuju tempat tidur. "Ayah!" jeritnya segera memanjat ke atas tempat tidur. Namun Pria yang masih terlelap dengan damai di balik selimut itu sama sekali tidak bergerak.


Luna menggembungkan kedua pipinya hingga memerah. Ia mengguncang-guncangkan tubuh Pria berkulit putih yang masih setia memejamkan matanya. "Ayah ... Ayah ... Bangun," ujar Luna lembut. Seketika Pria yang ia sebut ayah itu menarik napas panjang seraya membelai lembut rambut keriting Luna. "Sebentar lagi, sayang ..." ujar Pria itu dengan suara beratnya.


Luna kembali memggembungkan pipinya sambil mengerutkan dahi. Gadis kecil itu bahkan melipat tangannya seraya memandang wajah polos sang Ayah. Gadis kecil itu langsung menaikkan kedua sudut bibirnya kemudian mendaratkan bibir mungilnya ke pipi sang Ayah. Seketika sang Ayah membuka lebar-lebar kedua matanya.


"Yeay! Ayah bangun!" girangnya dengan senyum yang super cerah. Hal itu membuat sang Ayah ikut tersenyum dan menunjuk pipinya lagi. "Sekali lagi," pintanya dengan manja. Luna dengan senang hati, kembali mendaratkan bibir mungilnya di pipi ayahnya.

__ADS_1


"Thanks My Little Fairy ..." ucap Pria 28 tahun itu, tetapi malah kembali memejamkan matanya. "Ayah!" rengek Luna kembali mengguncang tubuh sang Ayah. Hingga pintu kamar tersebut kembali terbuka membuat Luna menoleh.


Ternyata Queen muncul dengan masih menggunakan celemek sambil berkacak pinggang. Luna segera menghampiri ibunya. "Bunda, Ayah gak mau bangun! Padahal Luna sudah cium pipi ayah dua kali!" adu Luna dengan mata yang berkaca-kaca. Queen hanya menghela napas sambil menatap tajam ke arah suaminya yang masih tertidur dengan nyaman di atas ranjang.


Queen kemudian berlutut dan mensejajarkan dirinya dengan putri kecilnya seraya membelai rambutnya dan memandang mata gadis kecil itu. "Luna ... Luna cuci tangan dulu dan tunggu di meja makan, ya? Biar Bunda yang akan membangunkan Ayah," tutur Queen lembut. Gadis kecil itu mengangguk. "Jangan lama-lama. Luna sudah lapar," rajuknya yang langsung dibalas anggukan oleh Queen. Gadis kecil itu pun langsung berlari keluar kamar.


Kini tinggal Queen yang harus membangunkan Awan—Pria yang telah mempersuntungnya jadi istri sejak tuga tahun lalu. Wanita 27 tahun itu menghampiri suaminya yang masih bermalas-malasan. Ia duduk di samoingnya.


"Awan ... Bangunlah ... Aku tahu, kamu baru pulang jam dua malam kemarin, tetapi bangun dan pergi sarapan, setidaknya bersama putrimu," bujuk Queen. Pria 28 tahun itupun membuka matanya kemudian memandang istrinya yang sedang memandangnya. Pria itu malah menunjuk bibirnya. "Berikan aku Morning Kiss dulu. Baeu energiku akan penuh," negonya yang membuat kedua mata Queen membulat.


"Morning Kiss? Bukankah tadi putrimu sudah memberikan dua ciuman di pipi?" kilah Queen. "Iya, tapi dari Bundanya belum ..." Awan langsung memutar tubuhnya telentang dan memonyingkan bibirnya. Queen hanya bisa geleng-geleng kepala mendapati tingkah manja suaminya. "Ayo, bibirku sidah siap," ujar Awan lagi sambil memejamkan matanya. Namun Queen tidak melakukan apa-apa, membuat Awan membuka kedua matanya dan bangkit.


"Queen—" Tiba-tiba wanita yang masih mengenakan celemek itu menarik kedua pipi suaminya dan membalut mesra bibir Pria itu, membuat Awan membeku seketika.


Queen pun melepaskam bibirnya dari bibir Awan yang sama sekali tidak melakukan balasan apapun. "Gosoklah gigimu. Kalau belum puas, nanti kita lanjutkan setelah aku mengantar Luna ke PAUD," ujar Queen yang semakin membuat tubuh Awan tak bisa bergerak. Wanita itupun turun dari ranjang.


"Cepatlah bersihkan dirimu, Awan. Jangan buat Luna Kita menunggu lama," ucapnya lagi sambil mengedipkan mata pada suaminya. Awan yang mendapatinya hanya menggelengkan kepala.


"Kebahagiaan macam apa yang diangugerahkan Tuhan untukku!" serunya dengan jantung yang berdebar-debar. Rasanya ia sedang berlari sekarang hanya karena hadiah dari putri kecilnya dan serangan panas istrinya barusan.


Awan tersenyum lebar sambil memegangi bibirnya. "Bertahan di sisimu dan tetap mencintaimu sampai menghadirkan putri cantik kita, memang pilihan yang benar dalam hidupku, sekalipun banyak yang harus dikorbankan," ujarnya malah bermonolog.

__ADS_1


"Ayah! Tolong Cepat bangun! Jangan tidur lagi!" teriak Queen yang langsung memcahkan lamunan Awan. Pria itupun segera turun dari tempat tidur. "Iya, Sayang!" ucapnya yang langsung membersihkan dirinya.


...—Extra Story End—...


__ADS_2