
Bianca berjalan cepat mendahului Queen. Sementara Queen berlari-lari kecil di belakangnya, berusaha menyusul Bianca.
"Bi ... Tunggu aku, kenapa kamu berjalan begitu cepat?" panggil Queen. Bukannya tidak sadar, Queen tahu bahwa Bianca kesal padanya, tetapi ia harus memastikan alasan sahabatnya itu kesal padanya.
"Bi--" Tiba-tiba Bi malah berhenti, membuat Queen hampir saja menabraknya.
"Bi, Kamu baik-baik saja?" tanya Queen agak merasa bersalah.
Bianca langsung membalikkan badannya menghadap Queen sembari memaksakan senyumnya.
"Yah ... tentu saja baik, Hahahaha ... emangnya gue kenapa?" ucap Bianca berusaha tegar.
"Tidak!!" sergah Queen mendekati Bianca untuk bisa menelisik ekspresi wajahnya.
"Kalau kamu tidak ada apa-apa, kenapa berjalan cepat di depanku?" cecar Queen. Sekalipun Bianca tak bilang, Queen bisa merasakan kecanggungan di antara mereka yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
"Ugh ... Queen, kumohon jangan memaksa gue! Gue cuman gak mau berprasangka buruk sama lu!" tekan Bianca yang berusaha menahan emosinya.
Queen menggigit bibir bawahnya. Ia sebenarnya tahu kalau ada secerca rasa cemburu di hati Bianca. Queen lalu mengambil tangan Bianca.
"Bi ... jika memang kamu mencintai Galang, maka percayalah sama dia. Dia memang dulu pernah menyukaiku, tetapi sekarang dia milikmu," ucap Queen berusaha membuat Bianca mengerti.
Bianca lagi-lagi memaksakan senyumnya.
"Iya, Queen ... gue tahu. Tenang saja. Lu jangan khawatirkan apapun. Akhir-akhir ini lu juga udah lelah. Gue gak mau nambah beban lu, oke?" ucap Bianca lalu merangkul sahabatnya.
"Ya, Bi ... Tapi jika ada beban di hatimu, tolong jangan disimpan sendiri. Jika ingin marah atau memukulku, lakukan saja!" seru Queen yang masih merasa bersalah.
"Apaan, sih. Udah, ayo! Lanjut main, kapan lagi, kan?" kekeh Bianca langsung membawa Queen bersamanya.
***
Semua orang bertepuk tangan dengan meriah ketika Awan berhasil menyelesaikan tantangan dari permainan Limbo. Ia bisa melewati jarak pendek antara tanah dan tongkat yang dipasang.
"Cotton Candy!! Cotton Candy!!! Cotton Candy!!!" seru mereka semua.
"Ada yang mau menantang Awan lagi??!!!" tanya Liza sebagai pembawa acara di permainan ini.
"Aku!!!" seru Queen yang muncul dari belakang kerumunan.
Awan membelalakkan matanya saat melihat sosok wanita itu.
"Wow ... Kalau begitu kami persilahkan!" kata Liza memberikan tempat. Awan segera bergabung dengan teman-temannya yang menyaksikan permainan mereka.
"Ehm!" Tiba-tiba Awan ditegur oleh Sera.
Awan memandang Sera heran.
"Kenapa kamu? Aneh banget. Kalau mau ngomong, ya ngomong aja," sahut Awan sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Aku cuman mau bilang congrats, ya!" bisik Sera sambil cekikikan.
Awan langsung terkekeh.
"Cuman permainan begini, gak usah lebay, deh," timpal Awan.
"Yah, congrats aja ... siapa tahu penantian panjangmu akan segera berakhir," ujar Sera memberi kode.
Awan malah heran dengan maksud dari penuturan sahabatnya itu.
"Penantian panjang? Memangnya aku menantikan apa--" Awan segera sadar maksud dari perkataan Sera.
Ia memandang Sera dengan matanya yang melotot.
"Apa yang kamu ketahui Sera?" cecar Awan.
"Hemm ... Apa, ya? Apa aja," jawab Sera enggan mengatakannya dengan jelas.
"Apa ini berkaitan dengan Queen?" cecar Awan lagi.
"Udah ... ikutin aja alurnya. Bersikaplah seperti biasa, oke?" saran Sera malah membuat Awan semakin penasaran.
"Ayolah ... Pasti Queen telah mengatakan sesuatu padamu, kan?" tebak Awan yang kini merasa gatal di dadanya. Ia seolah hendak menangkap kertas yang diterbangkan oleh angin.
Sera menggeleng.
"WOW!!!!" seru sahabat-sahabat lainnya yang bersorak karena Queen berhasil melewati tantangan Limbo yang sama dengan Awan.
"Sepertinya jagoan kita akan segera gugur!!!" seru Liza mengompori.
"Apa?!!! Tidak bisa dibiarkan!!!" kata Awan malah terpancing yang seketika lupa dengan rasa penasarannya. Sementara Sera yang ditinggalkan hanya tersenyum melihat kekonyolan teman-temannya yang sedang bermain Limbo.
***
Keesokan harinya.
Hari ini Queen juga keluarganya hendak kembali ke Jakarta, tetapi sebelum kembali mereka hendak berburu oleh-oleh. Namun baru saja mereka mau berangkat tiba-tiba sudah dicegah oleh kehadiran seorang gadis manis bernama Sakura.
Pangeran berdiri di hadapan Sakura seraya tersenyum dan mengacak-acak rambut gadis itu.
"Ohayou Sakura?" sapa Pangeran.
Sakura bukannya menjawab malah cemberut karena rambut yang sudah ia tata se-rapih mungkin malah diacak-acak.
"Ugh! Bang Ran, Sakura menata rambut ini hanya untuk Sultan, tetapi Bang Ran menghancurkannya!" keluh Sakura sembari merapikan rambutnya lagi.
"Sengaja, supaya Sultan melihat betapa jeleknya lu!" ledek Pangeran yang berhasil membuat bibir Sakura mengkerucut.
"Ugh!!!" keluhnya sambil menghentakkan kakinya.
__ADS_1
"Hahaha ..." tawa Pangeran meledak begitu saja
"Oh, iya, Sakura, Ngapain lu ke sini? Bukannya lu juga harus bersiap-siap kembali ke Jepang?" tanya Pangeran.
Sakura yang matanya kemana-mana, mencari sosok pujaan hatinya, langsung melirik ke arah Pangeran.
"Ya, apa lagi kalau bukan menemui Sultan untuk terakhir kali sebelum Sakura kembali ke Jepang?" jawab Sakura yang sebenarnya ingin masuk ke dalam cottage dan mencari keberadaan Sultan, tetapi ia tidak enak meninggalkan Pangeran sendirian.
"Memangnya Sultan mau menemuimu? Dia iru, kan judes," ujar Pangeran mengumbar fakta. Sakura tahu itu, tetapi ia tetap berusaha mengabaikannya.
"Memangnya kenapa, Bang Ran?" tanya Queen yang datang dari belakang Pangeran.
"Aku sudah merestuinya, kok," ujar Queen sambil tersenyum lebar.
Pangeran meliriknya.
"Merestui? Lu yakin? Jika adik kita benar-benar bersamanya, mungkin lu bakalan berinteraksi dengan Ryu, loh." Queen tertegun mendengar penuturan Pangeran. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca, Ia segera mengepalkan tangannya untuk menahan emosinya.
"Uhm ... yah, aku hanya perlu menghindar saja, kan? Karena saat ini aku sedang berusaha move on," timpal Queen.
Sakura segera menggenggam tangan Queen.
"Kak Queen ... maaf," ucapnya jadi merasa bersalah.
Queen langsung mengeluarkan senyuman simpulnya.
"Tidak apa-apa, Sakura. Aku juga paham bagaimana perjuangan untuk meraih cinta laki-laki yang aku sukai, sekalipun aku tidak berhasil." Queen terdiam.
"Aku tidak mau kalau karena cintaku ditolak oleh Ryu, malah membuatku memusuhumi, tenang, aku akan bersikap adil mengenai ini," tutur Queen panjang lebar. Pangeran tersenyum miring mendengarnya.
"Ya sudah, kalau begitu Sakura, apa lu mau ikut kita jalan-jalan juga? Sekalian menghabiskan waktu bersama Sultan?" tawar Pangeran. Sakura mengangguk cepat.
"Mau!!!" serunya girang.
"Kak Queen, Bang Ran! Ayo kita ke mobil--" Sultan yang muncul tiba-tiba saja terhenti saat melihat sosok Sakura. Ia langsung menatap tajam ke arah gadis itu.
"Kenapa pengganggu ini ada di sini?" ketusnya sembari memakai jam tangannya.
Pangeran segera menarik Sakura dan merangkulnya.
"Tentu saja, dia juga akan membeli oleh-oleh bersama kita," ujar Pangeran.
Sultan langsung mengernyitkan dahi, matanya yang tajam itu langsung melirik ke arah tangan Pangeran yang merangkul pundak Sakura.
"Terserah!!!" ketusnya lalu pergi melewati mereka begitu saja.
Queen, Sakura dan Pangeran hanya saling pandang.
"Sudah-sudah, ayo kita pergi!" ucap Pangeran lalu merangkul Queen juga dan membawa dua perempuan itu bersamanya.
__ADS_1