
Sudah hampir 1 jam lamanya Awan menemani Queen berjalan-jalan. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar di antara mereka berdua, meskipun sebenarnya Awan sangat penasaran dengan apa yang kini dirasakan oleh Queen. Namun ia berusaha memahami, bahwa Queen hanya ingin menikmati tenangnya malam.
Drrt ...
Tiba-tiba ada notifikasi pesan di ponselnya. Awan langsung memeriksanya. Rupanya itu dari Mince yang menyuruh dirinya untuk segera kembali karena sudah teralu lama. Mereka harus mempersiapkan diri untuk jadwal berikutnya.
Tidak lama grup Awan dengan Sera dan Liza pun ramai. Di sana mereka memberi tahu bahwa keadaan sudah membaik. Namun Masih ada kesedihan di wajah Bianca. Meskipum begitu, mereka harus sadar, bahwa mereka harus aegera kembali.
Awan pun menghela napas, ia memandamg punggung Queen dengan perasaan agak berat. Pasalnya, Iskandar belum sampai ke rumah sakit, mana mungkin ia meninggalkan Queen sendirian.
"Kamu mau balik, ya, Awan?" tegur Queen seolah tahu keadaan. Awan pun mengiyakan dengan agak ragu-ragu.
"Kalau begitu, pergi lah ... Aku tadi dapat pesan dari Mama, bahwa Mama dan Papa akan segera sampai," ujar Queen.
"Tidak, Queen, aku akan bilang pada Mince, kalau aku akan menemanimu sampai Papa Iskandar datang," ujar Awan, pasalnya ia sudah berjanji pada Pria yang hampir berkepala 5 itu.
"Tidak apa-apa ... Queen mau sendiri!" seru Queen malah berlari meninggalkan Awan.
Awan sendiri ingin mengejarnya, tetapi kakinya seolah tertahan.
"Hah ... Kadang Aku menyayangkan, kenapa aku tidak bisa sebebas duli berada di sampingmu, Queen ..." gumam Awan. Tepat pada saat itu ada telepon dari Mince. Awan sudah bisa menebak bahwa dirinya harus segera kembali. Tak lupa ia izin pada Iskandar akan kembali duluan.
***
Iskandar dan Rin berjalan beriringan menyusuri lorong menuju ruang ICU. Rin sebelumnya sudah menghubungi Queen untuk datang ke ruang tunggu ICU.
Rin tak berani berkutik melihat wajah Samg Suami yang begitu serius. Ia bisa menebak, ada yang Sang Suami pikirkan, tetapi aura kuat yang keluar dari Sang Suami, membuatnya bungkam sejak tadi.
Tepat saat mau ke ruang ICU, mereka berdua berpapasan dengan Queen. Rin pun segera menghampiri putrinya dan memeluknya.
__ADS_1
"Mama!" seru Queen lega. Seakan beban yang tadi ia pikul hilang begitu bertemu dengan ibundanya. Namun melihat itu sama sekali tak mengubah ekapresi serius dari wajah Iskandar.
"Ayo, cepat! Kita luruskan semua ini!" ujar Iskandar dengan nada suara yang agak dingin, membuat bulu kuduk siapapun yang mendengarnya berdiri.
Queen pun memandamg wakah Sang Mama, berusaha mencari tahu alasan Sang Papa mengeluarkan aura kuatnya. Namun Sang Mama hanya menganggukkan kepala. Mereka bertiga pun berjalan menuju ruang tunggu ICU.
Ketika sampai di ruang tunggu ICU, mereka menemukan Amara yang baru saja meminum teh yang Bianca bawakan. Kedua orang tersebut juga langsung menyadari kehadiran Iskandar.
Amara pun tertawa remeh.
"Masih berani menunjukkan batang hidung setelah apa yang putri kalian lakukan pada putraku?" sinis Amara yang masih menyalahkan Queen.
Iskandar diam-diam mengepalkan tangannya, tetapi tidak berusaha mendekati Amara, karena ia tahu, jika mendekati wanita itu, mungkin saja emosinya akan meledak. Sementara ia tahu ini adalah rumah sakit.
"Memangnya apa yang putri saya lakukan?" dingin Iskandar.
Amara pun menatap tajam ke arah Iskandar.
"Akibat perempuan ini, Putraku mengalami kecelakaan seperti ini! Untung saja ia masih bisa diselamatkan, tetapi kondisinya kritis!" tuding Amara menahan amarahnya yang meningkat.
Namun Iskandar masih memasang wajah serius dan datarnya.
"Kenapa anda bisa berpikir, Putri saya penyebab kecelakaan Putra Anda?" tanya Iskandar lagi.
"Wah, apakah Anda tidak tahu, sebelumnya Ada seorang siswa yang juga mengalami hal yang sama karena pernah jatuh cinta dengan putri Anda. Tapi tidak ... Tidak hanya itu!" ucap Amara.
"Putra saya hidupnya benar-benar hancur karena pernah tergila-gila dengan putri Anda! Bahkan ketika ia sudah melupakan perasannya itu, Ia masih saja kena karmanya!" pungkas Amara berusaha menahan tangisnya. Hatinya masih sangat terpukul akibat kecelakaan yang menimpa salah stau putranya.
"Kena karma hanyalah spekulasi, apa Anda sudah membuktikan bahwa Putri saya yang menyebabkan kecelakaan ini? Anda sudah bertanya pada polisi? Atau sejak tadi Anda hanya menangis sambil melampiaskan segala kesalahan tak berdasar pada putri saya?" tekan Iskandar yang membuat semua orang membulatkan matanya.
__ADS_1
Jelas, Ucapan Iskandar cukup kejam pada seorang Ibu yang sedang terpukul. Seketika Amara pun bungkam, wanita itu rasanya ingin melayangkan tangannya pada Iskandar, tetapi jarak mereka teralu jauh.
"Anda terdiam, maka tebakan saya benar!" ujar Iskandar.
"Saya tahu, Anda sangat terpukul, tetapi menuding orang tanpa berdasar, itu juga bukan jalan untuk menyelesaikan masalah—"
"Saya ingin, Putri Anda juga merasakan apa yang putra saya rasakan!" sergah Amara dengan wajah yang merah padam sambil menunjuk Queen. Rin langsung memeluk putrinya.
"Putra saya bahkan tak bisa memiliki gelar sarjana karena putri Anda! Ia bahkan hanya punya ijazah SMP karena tidak bisa melanjutkan studinya!" sesal Amara sambil bercucuran air mata. Ia tidak pernah lupa penyesalan terberat dalam hidup putranya.
Namum Iskandar hanya diam sambil diam-diam mendelik. Rin yang menyadarinya sangat tahu bahwa kekesalan Iskandar juga mencapai ubun-ubun.
"Kalau begitu saya akan bantu Anda," ujar Iskandar yang membuat Rin, Queen dan Bianca terbelalak.
Amara pun memandang Iskandar seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Sebelumnya saya akan jelaskan, kehidupan putra Anda yang tadi disebut hancur itu adalah kesalahan putra Anda yang teralu terobsesi pada Putri saya. Jadi, jangan menyalahkan putri saya atas apa yang putra Anda alami ," ujar Iskandar menekankan.
"Kedua, sebaiknya Anda berdamai dengan hal itu, karena Putra Anda pun tak mempermasalahkannya. Anda yang tidak bisa terlepas dari masa lalu, akan semakin memberatkan beban hidup putra Anda," sambung Iskandar lagi.
"Kemudian, Saya tekankan, Saya akan membantu Anda, bukan untuk menebus kesalahan putri saya, karena Putri saya sama sekali tak bersalah! Melainkan untuk membuktikan bahwa spekulasi Anda tak berdasar!" tegas Iskandar.
"Saya akan membantu agar penyelidikan kecelakaan ini bisa diketahui penyebab dan motifnya," ujar Iskandar lagi dengan sorot matanya yang tajam, yang mampu membuat siapa saja membeku.
***
Akankah terungkap penyebab kecelakaan ini?
Jangan lupa like komen favoritnya yaa
__ADS_1
Love you All