I Love You Queen

I Love You Queen
S2 : Siapa?


__ADS_3

Ryu menghisap rokoknya dalam-dalam, menikmati rasa manis dari ujung rokoknya sembari menghilangkan rasa penat di kepalanya. Entah kenapa dia tidak bisa jauh dari benda ketika sedang mengalami tekanan. Ryu lalu menghembuskan asapnya hingga mengepul di depan wajahnya.


Rasa bersalah itu masih menghantuinya. Tiba-tiba dari belakang, Scarlett, wanita yang lebih tua tiga tahun darinya yang sekarang sudah menjadi istrinya itu memeluk dari belakang.


"Tenanglah, Ryu ..." hibur Scarlett sambil menyenderkan dagunya di atas bahu kanan suaminya.


Ryu mengelus tangan Scarlett yang memeluk pinggangnya.


"Sebenarnya aku sudah menduga akan hal ini, tetapi rasa bersalah itu tetap ada, Kejora ..." ucap Ryu sambil menyebutkan nama asli Scarlett.


"Aku tidak tahu, berapa lama Queen akan pulih dari rasa patah hatinya ... Aku malah khawatir ia jadi tidak bisa membuka hatinya pada siapapun nanti," Mau bagaimanapun juga, Ryu sudah menganggap Queen sebagai adiknya, jika terjadi sesuatu pada Queen, ia tidak bisa berhenti memikirkannya.


"Kenapa jadi kamu yang repot, hm? Adlan dan Perry bilang, Queen adalah wanita yang kuat. Setidaknya itu juga yang harus kita percayai. Jangan membuatmu stress karena hal ini, oke?" ujar Scarlett berusaha menghibur suaminya itu.


Ryu menoleh ke arah Scarlett.


"Kejora?" panggilnya.


"Hm?"


"Apa kamu masih lelah karena semalam?" tanya Ryu.


Scarlett langsung bisa mengerti maksud dari pertanyaan Ryu. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya karena bingung harus jawab apa.


"Jika masih lelah, aku akan menunggu sampai kamu pulih ..." Ryu lalu melepas pelukan Scarlett, ia mematikan puntung rokoknya di asbak yang ia letakkan di samping dan memutar badannya hingga menghadap Sang Istri.


Ryu langsung menatap mata Scarlett dengan intens.


"Ryu ... mu-mungkin, sebaiknya kita lakukan lagi nanti malam, oke?" ujar Scarlett. Sejujurnya ia masih sangat lelah.


"Kamu janji?" tanya Ryu.


"Janji, Waa!!" Tiba-tiba Ryu malah menggendongnya ala bridal style.


"Kalau gitu, temani aku saja, peluk aku agar aku bisa lebih tenang, oke?" pinta Ryu lalu membawa istrinya ke atas ranjang.


***


"Besok kita sudah harus berangkat?" tanya Liza pada Mince, manajernya. Mereka baru saja selesai syuting iklan dan kini sedang istirahat sejenak sebelum melakukan siaran langsung bersama fans-fans-nya nanti sore.


"Yes, Sis ... Mereka baru bilang kalau pemotretannya itu dilakukan di Bali. Ini Mince juga baru dapet kabarnya," kata Mince menunjukkan ruang chattingnya dengan klien.


"Lalu, bagaimana tiket pesawatnya?" tanya Awan sambil menyedot Caramel Macchiato-nya.

__ADS_1


"Tenang, ganteng. Itu udah diatur. Untungnya mereka gercep, jadi Mince gak pusing-pusing amat," kata Mince sambil mengirim tiket pesawat Artisnya masing-masing.


"Kalau begitu aman, kan ... Hanya saja, kita perlu bersiap-siap untuk pergi ke sana?" ujar Sera yang langsung duduk di samping Awan.


"Ya," Mince lalu melihat ke arah jam tangannya.


"Masih ada waktu dua jam untuk mengisi koper kalian, setelah siaran langsung, kita langsung capcus," pesan Mince lalu menyentuh kepalanya dengan jari-jari lentiknya.


"Ugh, untung gak bentrok sama jam siaran langsung. Masalahnya ini berhubungan dengan fans, fans adalah jantung idolanya. Jadi fans harus selalu jadi prioritas," ujar Mince mulai nyerocos sendiri. Awan, Sera dan Liza hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Terimakasih, ya Mince," ujar Awan sambil melemparkan senyumnya yang paling manis.


Pria gemulai itu malah membalas senyuman manis Awan dengan tatapan sinis.


"Hu-uh, tidak perlu berterimakasih ..." Mince menyeka rambutnya ke belakang telinganya.


"Ini memang udah kewajiban Mince. Mince, tuh bosen ya, lihat senyuman Awan, ugh ..." keluhannya makin panjang.


"Hey, Mince harusnya kamu merasa beruntung, orang-orang membayarku hanya untuk senyumanku, loh," ujar Awan menyombong, dua temannya hanya menggeleng-gelengkan kepala karena tak sanggup dengan kesombongan seorang Awan.


"And then???" tantang Mince.


"Seharusnya kamu merasa terhormat karena aku memberikannya gratis, pft ..." Awan langsung tertawa karena tak tahan juga dengan dirinya.


"Ada air keras? Pengen gue siram ke muka lu rasanya!!" kata Liza mulai kesal.


"Hahaha ... Kamu harus hati-hati, Awan, haters-mu ada di satu grup denganmu," tawa Mince puas.


"Sudah-sudah, kita harus segera pulang dan bersiap-siap," tegur Sera.


"Aarghh ... Ratu disiplin kita tidak membiarkan kita istirahat," rengek Awan.


"Sudah, Nona Sera benar, Ayo segera ke mobil," perintah Mince. Ketiga artisnya itu segera beranjak dan mengikuti Sang Manajer yang berjalan keluar ruang istirahat.


Ting!


Tiba-tiba ponsel Awan berbunyi. Ada sebuah video kiriman di sana dari Ryuuji. Awan mengernyitkan dahi.


"Oh ... jangan bilang ia mau memamerkan momen bersamanya dengan Queen," gumam Awan yang sebenarnya agak miris, tetapi ia mengabaikannya asalkan wanita itu bahagia.


Awan langsung membukanya. Matanya membulat begitu lihat isi videonya.


"Awan, kenapa kamu masih di sini?" tanya Mince yang membuat seorang Awan terhenyak.

__ADS_1


Awan yang masih memasang wajah kagetnya menatap ke arah Sang Manajer.


***


Sementara itu. Queen yang sudah tersadar hanya bisa menatap ke arah lautan dengan tatapan kosong. Sedangkan Perry dari tadi berlarian ke sana kemari sambil mencari kerang. Kini mereka hanya berdua karena Adlan ada urusan sebentar.


"Mau minum, Sayang?" tanya seorang pria yang tiba-tiba datang, Queen menoleh ke arah asal suara. Si empunya suara rupanya hendak duduk di samping Queen.


"Papa Odi ..." lirih Queen. Pria itu langsung tersenyum begitu namanya disebut. Ia lalu menyodorkan segelas es jeruk pada Queen.


"Minumlah, otakmu akan sedikit segar, Sayang ..." kata Odi. Queen langsung menerima gelas berisi jus jeruk itu, tetapi kembali menatap ombak di lautan.


"Papa Odi ..." panggil Queen sambil menyeruput minumannya.


"Iya, Sayang?" tanya Odi sambil memandang ombak di lautan juga.


"Papa pernah patah hati?" tanya Queen. Matanya kini sembab karena sudah menangis sejak tadi pagi hingga sore sekarang menjelang matahari terbenam.


Odi malah cekikikan sendiri.


"Ya pernahlah ..." jawab Odi.


Queen jadi memandang Odi karena saking kagetnya.


"Ditinggal nikah juga, Papa?" tanya Queen berusaha mengorek masa lalu Odi.


Mendengar pertanyaan itu Odi malah tertawa, Ia juga tahu kalau Queen baru patah hati karena Ryu yang sudah menikah dengan Scarlett.


"Tentu ditinggal nikah, tetapi salah Papa juga karena meninggalkannya selama delapan tahun," ujar Odi membuka masa lalunya.


"Berapa lama hati Papa bisa kembali seperti semula?" tanya Queen.


Odi memandang sahabat putrinya yang juga putri dari sahabatnya. Ia lalu membelai kepala Queen lembut sambil menorehkan senyumnya.


"Setiap orang berbeda-beda, Sayang, Kamu hanya perlu sadar bahwa ada seseorang yang pasti juga mencintaimu sama seperti kamu mencintai orang yang telah meninggalkanmu. Semakin cepat kamu menyadari itu, maka semakin cepat kamu bisa kembali seperti semula," ucap Odi sambil tersenyum.


Queen tertegun. Orang yang mencintainya? Kalau dipikir memang banyak. Namun ia tidak pernah mau melihat mereka.


"Papa!!! Perry dapat kepiting!!" seru Perry girang.


"Mana, Papa mau lihat!" timpal Odi.


"Sayang, Papa tau, kamu tidak bisa memilih semua lelaki yang mencintaimu, tetapi lihatlah orang yang paling bisa memahami," pesan Odi lalu beranjak menghampiri putrinya.

__ADS_1


Queen hanya terdiam sambil memikirkan semua perkataan Odi.


"Siapa? Memangnya ada?" tanyanya. Baginya orang yang paling memahaminya hanyalah seorang Ryuuji Rahyudi.


__ADS_2