
Scarlett POV
Aku tidak tahu, bagaimana aku bisa jatuh cinta dengannya. Ya, laki-laki yang usianya tiga tahun lebih muda dariku, Ryuuji Rahyudi.
Seingatku, dulu saat pertama kali bertemu dengannya ketika bayi, aku hanya tertarik dengan pipi gembulnya yang berwarna merah. Sebagai anak yang lebih besar, aku selalu berusaha menjaganya.
Namun semua itu mulai berubah ketika kami mulai beranjak dewasa. Seorang Ryuuji semakin lama, semakin terlihat tampan. Sekalipun kacamata menghiasi wajahnya, tetapi hal itu malah membuatnya semakin keren. Dia juga sangat tinggi dan tidak pernah lupa untuk tersenyum, meskipun seberat beban dan masalah yang ia hadapi.
Aku benar-benar terhipnotis atas dirinya. Bisa-bisanya aku menyempatkan waktuku ke tempat yang tidak aku kenal ini hanya untuk bertemu dengannya.
"Ya, aku yang memintanya. Bukankah menyenangkan jika kita semua berkumpul." Katanya sambil melahap sandwich yang barusan ia beli. Di sampingnya kini duduk seorang gadis kecil yang sedang cemberut alias Liza.
"ah, sudah kuduga. Satu-satunya orang yang bisa menggerakkan hati Scarlett hanyalah Ryu." Yanuar menimpali. Mendengar itu, wajah Liza semakin mengkerut.
"Aah.., tidak juga. Awan juga memintaku, jadi sekalian saja...," Kataku.
Ryu menoleh ke arahku sambil mengkerutkan dahinya,
"Awan menghubungimu?" Tanyanya dengan nada agak kaget.
"Ya, tentu saja..., dia sering menghubungiku." Bolehkah aku pancing dia? Siapa tahu dia cemburu. Ya, siapa tahu. Kalau tidak, yah apa boleh buat.
Ryu malah menghadapkan tubuhnya terhadapku,
"Apa yang kalian bicarakan?" Ia malah melanjutkan pertanyaannya. Bolehkah aku berharap kalau dia cemburu.
"Kakak Ryu, Awan itu menganggap Scarlett sebagai panutannya. Palingan dia minta petunjuk tentang make up atau fashion." Liza yang menjawab dengan nada juteknya. Ya, aku paham perasaannya.
"begitukah?" Tanya Ryu yang kini menatap mataku, seolah mencari kebenarannya.
Aku tersenyum dan mengangguk. Aku tersenyum karena dia sebegitu penasarannya. Mungkinkah hatinya tergerak sedikit untukku? Selama 5 tahun ini, aku terus mengungkapkan perasaanku padanya, tetapi ia selalu menolakku.
"begitu...," Kata Ryu lalu sibuk lagi dengan sandwichnya.
"Tapi, Kenapa Yanuar bisa ada di sini?? Bukankah seharusnya lu di Berlin???" Tiba-tiba Liza memecah suasana.
"oh, ya ampun.., kenapa kalian bertiga menanyakan hal yang sama di saat yang berbeda. Aku benar-benar menyesal tidak merekam jawabanku !" Protes Yanuar.
"Dia ke sini untuk Sera. Bahkan Bucket bunga itu untuk Sera." Jawabku.
Liza langsung melotot,
"Serius??? Gue ketinggalan apaan, nih ??? Kok gue gak tau apa-apa???!!!" Kata Liza jadi heboh.
"Gak biasanya lu ketinggalan info..., emang Sera gak cerita apa-apa?" Tanya Yanuar.
__ADS_1
Liza menggeleng,
"Yanuar mau nembak Sera lagi...," Kataku.
"What ?!!!" Kata Liza tak percaya. Terlukis kekecewaan di wajahnya. Entahlah, mungkin merasa terkhianati karena Sera tidak bicara apapun padanya.
"kamu benar-benar pantang menyerah,ya...," Ryu malah terkekeh.
"Aku yakin, Sera juga memiliki perasaan yang sama denganku..., dia hanya tidak menyadarinya...," Kata Yanuar percaya diri.
"Oh,iya, Apa Queen belum selesai? Kenapa tidak terlihat?" Celetuk Ryu. Ternyata dia masih memedulikan Queen. Raut wajah Liza langsung kembali cemberut.
"entahlah.., Aku,kan penonton di sini...," Jawab Yanuar.
"Apa aku harus menghubunginya?" Ryu mulai mengeluarkan ponselnya. Ternyata dia sepeduli itu pada Queen. Ya ampun, tadi aku sempat melayang karena reaksinya yang seolah terganggu dengan kedekatanku dan Awan.
"harusnya dia sudah selesai !" Kata Liza.
"ha? Lalu dia dimana?" Tanya Ryu.
"kata Eben, dia lagi belajar. Untuk persiapan besok." Jawab Liza.
"Eben siapa?" Tanya Ryu.
"uhm.., Eben.., Eben itu..., Saudara kembarnya Galang !" Jawab Liza.
"Pft..., jadi kamu memanggilnya dengan nama spesial?" Tanya Ryu.
"Bu,bukan ! Liza..., Liza cuman sulit nyebut namanya, makanya manggil dia begitu."
"Hahaha.., ya ampun..., adik kecil kita yang satu ini tidak mau mengakui pacarnya, kasihan sekali, hahaha...," Ledek Yanuar.
"Bukan__,"
"Aku juga merasa kamu cocok dengan Gibran, Liza...," Ryu malah menambahkan sambil tersenyum. Wajah Liza semakin mengkerut. Sepertinya mereka benar-benar tidak ada hubungan. Jadi, apakah aku belum bisa lega ?
BRAKK !!!
Tiba-tiba Liza menggebrak meja,
"MEMANGNYA AKU HARUS MENGATAKAN SELANTANG APA DAN SEBERAPA BANYAK AGAR RYU MENGERTI KALAU AKU HANYA MENYUKAI RYU ?!!!!!" Tiba-tiba Liza berteriak membuat orang-orang memperhatikan meja kami.
"Uhm.., Liza.., tenanglah...," Kata Ryu sama sekali tak menjawab pertanyaan Liza. Mungkin bom sebentar lagi akan meledak.
"LIZA TIDAK BISA TENANG !!! CEPAT KATAKAN PADA LIZA, HARUS BERAPA KALI LIZA BILANG SUKA PADA RYU AGAR RYU MENGERTI ??!!!!" Mata Liza mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Liza.., duduklah, dan kendalikan emosimu.., ini tempat umum...," Kata Ryu.
"LIZA TIDAK PEDULI !!!!" Kini Liza mulai menangis. Aku melirik ke arah wajah Ryu. Sama sekali tidak ada rasa bersalah di wajahnya, sebaliknya, ia malah terlihat kesal. Jika Liza mencintainya, sudah dipastikan, Ryu sangat tidak mencintai Liza.
"Baiklah akan Aku jawab !" Kata Ryu dingin. Belum pernah aku mendengar suara Ryu yang sedingin ini. Sepertinya dia benar-benar kesal.
"Aku tidak menyukaimu ataupun sejenisnya. Seberapa besar pun usahamu, hatiku tidak akan pernah berubah, jadi jangan lakukan hal yang sia-sia...," Kata Ryu dingin.
"kenapa....," Lirih Liza.
"Aku bukanlah Superman yang bisa mengendalikan gadis bar-bar sepertimu. Sekalipun kita bersama, itu tidak akan bertahan lama. Jelas?" Singkat, padat dan jelas, tetapi kejam. Jawaban Ryu sungguh kejam.
"Bar-bar? Queen juga bar-bar, Scarlett juga bar-bar !!! Apa bedanya dengan Liza ?!!!"
"memangnya mereka kekasihku?" Tanya Ryu sinis. Hal itu membuat Liza tertegun dan reflek menggigit bibir bawahnya.
"Bukan. Lalu kenapa kamu membandingkan mereka terhadap dirimu ?" Tanya Ryu masih dengan nada sinis.
Aku bisa melihat jelas bibir Liza bergetar, air matanya juga terus keluar dari sudut matanya tanpa henti. Ryu yang mana yang sekarang aku saksikan. Dia tidak pernah bersikap sejahat dan sedingin ini pada seorang gadis manapun. Seharusnya aku senang, tetapi melihat Liza, aku jadi agak sedikit kesal pada Ryu.
"Liza..., Liza..., Liza butuh waktu sendiri !!!" Kata Liza lalu berlari pergi.
"Liza...," Yanuar hendak mengejar Liza, tetapi Ryu mencegahnya,
"biarkan saja, Yanuar..., dia butuh sendirian...," Kata Ryu.
"Tapi, Ryu.., apa tadi kamu tidak keteraluan??" Ternyata Yanuar merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan.
"Dia memang harus diperlakukan seperti itu agar berhenti. Lagipula aku juga sudah gerah dengan sikapnya. Sekalian saja dia membenciku agar menjauh dariku...," Kata Ryu lagi. Sebuah kalimat yang tidak pernah kuduga bisa keluar dari mulutnya.
"haah.., Baiklah.., aku rasa kamu juga butuh menjernihkan pikiranmu, Ryu...," Kata Yanuar.
"Scarlett.., ayo, kita cari Awan dan Sera, aku harus memberikan Bucket bunga ini pada mereka." Kata Yanuar yang beranjak.
"uhm.., ya, tapi sebentar lagi." Entah kenapa, aku merasa bukan saatnya meninggalkan Ryu sendirian.
"haduuh.., ya sudah, terserah kalian.., Yang pastinya, jika kalian butuh aku, silahkan langsung hubungi aku. Aku mau memberikan Bucket bunga ini dulu. Daah..," Yanuar pergi begitu saja.
Namun berbeda dengan Yanuar, Aku rasa aku harus menjalani peranku seperti dulu. Ya, apalagi kalau bukan menjaga seorang Ryuuji Rahyudi.
*
*
*
__ADS_1