Journal Of Triplet 07

Journal Of Triplet 07
Season 2 : Restu Ke Dua Orang Tua


__ADS_3

Setelah melihat pusara papah nya Via yang sudah 5 bulan. Keluarga Via dan Erick kembali ke mobil yang membawa mereka ke Jakarta.


Drrrrrrttt... Drrrrrttt... Ibu Negara memanggil.


"Halo mah, kenapa?" Jawab Erick yang masih di jalan menuju Jakarta.


"Kamu sudah sampai mana?" Tanya balik sang mamah.


"Sudah sampai tol Jagorawi ini. Sebentar lagi akan sampai kok." Jawab Erick yang melihat sisi kanan kiri.


"Keluarga Via nginep dimana?" Tanya sang mama lagi.


"Mereka nginep di hotel International mah." Balas Erick yang merasa akan ada ulah aneh dari sang mama.


"Yah, sudah. mamah dan papah ke sana. Kita tunggu kalian disana saja."Jawab mama dan benar saja yang menjadi dugaan.


Erick memberitahukan kalau kedua orang tuanya sedang menuju hotel dimana Via dan keluarga menginap. Oma dan Bunda menyambut nya dengan baik.


Perjalanan Jakarta sungguh macet dan panas sekali. Padahal jika bulan December Jakarta mempunyai curah hujan yang tinggi. Sejak Erick menerima telephone dari sang ibu, perjalanan ke hotel sedikit di percepat.


Karena sang orang tua Erick sedang menuju hotel untuk bertemu dengan orang tua Via. Erick memesan ruangan VIP restaurant di hotel tersebut. Rombongan Via dan keluarga sudah sampai. Seperti biasa Via memakai kacamata hitam agar tidak ada yang mengenali.


"Duh, selebgram." Ledek Widia yang membawa Via ke ruangan VIP restaurant tersebut.


"Males diminta foto. Lagi nggak mood!" Ambek Via yang sering banget di jahili oleh Widia dan Gerry.


Sampai di ruangan VIP tangan Via keringat dingin. Ini pertama kali ketemu calon mertua dan baru kali ini Via merasakan habis di Lamar. Orang tua Erick menyambut Via dan keluarganya yang ternyata sudah sampai terlebih dahulu.


Erick memesankan makanan kedua belah pihak. Tangan Via mulai basah akibat keringat yang terus keluar dari tangan nya.


"Bunda, Oma. Perkenalkan ini ayah saya Sony Hardjanto Wiguna, lalu ibu saya Megumi Kobayashi. Erick sendiri anak bungsu dari 4 bersaudara yang semua nya laki-laki." Kata Erick memperkenalkan kedua orang tuanya.


"Halo, Selamat siang. Maaf, tidak membawa buah tangan apapun. Perkenalkan nama saya Renee Moringka, ibu dari Novia Heidy. Lalu ini ibu mertua saya Lusye Wongkar dan ini sahabat Via, Widia dan suami nya Jerias."Balas mama nya Via yang memperkenalkan anggota keluarganya seperti yang lain.


"Novia Heidy juga anak bungsu dari 4 bersaudara, 3 kakak nya laki-laki dan sudah menikah. Lalu Novia sendiri dan belum menikah." Sambung sang mamah yang menambahkan informasi.


Makan siang terlihat seru dan ternyata mama Via bisa berbahasa Jepang dengan baik. Sehingga mama Erick merasa di terima dengan baik bersama dengan keluarga Via.


"Jadi, saya pun tidak akan basa basi lagi. Saya ingin punya mantu segera, biar saya bisa nimang cucu. Bagaimana kalau kita merencanakan pernikahan antara Erick dan Via?"Kata papah nya Erick yang membuat semua mata kaget karena cepat sekali.


"Kita tanya sama Via dan Erick bagaimana?" Tanya oma yang menengahi.

__ADS_1


"Erick sama Via bisa diskusi dulu nggak?" Balas Erick yang mulai pucat dengan obrolan sang ayah yang tidak kira-kira.


"Nggak, kamu terlalu lama milih. Nanti papa ga punya mantu lagi." Ledek sang papa yang suka bercanda tidak tahu tempat.


Kali ini Erick dan Via mengikuti saran dari kedua orang tua. Via tidak menyangka kan secepat ini. Selesai acara makan siang, papah dan mamah nya Erick langsung menuju ke rumah. Erick yang masih merasa debaran jantung yang tidak terkendali.


Widia dan Jerias tertawa terbahak-bahak saat mereka berada di kamar. Via hanya memijat kepalanya yang tidak pusing itu dengan tangan nya yang mungil. Erick menjatuhkan badan nya di sofa dekat jendela.


"Selamat anyway yah, Rick." Kata Jerias yang mengulurkan tangan nya.


"Gile, ini mah cepet banget." Jawab Erick yang masih keheranan.


"Gue sih sudah feeling pas elu ke London. Elu lebih cocok sama Via, ketimbang Vika yang nggak tau aturan itu."Kata Widia yang membuka penilaian tentang Vika.


"Ini bukan karena Via sohib nya bebih kan?" Tanya Via yang mendekat ke Widia.


"Bukan, susah di ceritakan." Balas Widia sambil ngemil makanan yang ada di meja.


Erick menjadi berfikir ada apa dengan alam semesta saat ini. Setelah Erick pamit pulang ke rumah karena harus menaruh barang-barang. Via pun mengantar Erick ke Lobby dan memeluknya dengan hangat sebagai sepasang kekasih.


"Sebentar yah, aku pulang. Sama Widia dulu nanti malam kita dinner bareng." Ucap Erick di telinga Via.


Lambaian tangan Via ke Erick dan kembali ke kamar menemui sahabatnya. Di perjalanan Erick berfikir penuh, kedua orang tua nya lebih memilih Via ketimbang Vika. Banyak tanda tanya di dalam pikiran nya Erick.


Gerbang rumah di daerah Taman Menteng, Bintaro saat ini di pandangi Erick begitu dalam. Kenangan di rumah ini menyimpan cerita Erick dan Vika.


"Eh, mas Erick pulang. Ibu dan bapak sedang sama Elbert dan Elven." Sapa assistant rumah tangga papa dan mama ku yang menemani ku dari kecil.


"Mbok, ada oleh-oleh nanti buat mbok Nem" kata Erick sambil berjalan masuk menggandeng wanita paruh baya tersebut.


"Oleh-oleh nya mantu yah? Kata ibu mas Erick, mba Via idaman ibu."Tanya mbok Nem yang terlalu jujur.


"Masa? Kalau sama Vika mantan nya Erick?" Balas Erick yang tidak percaya Via merebut perhatian 2 orang wanita yang Erick kagumi.


"Hmm, mbak Vika cuma modal cantik. Mbok gak sreg kalau sama mbak Vika."Jawaban jujur dari mbok Nem mengenai Vika.


Mesti diakui jika Vika terkadang suka arogan jika posisi nya terpojok. Erick melihat kedua kakak nya yang sedang ngobrol dengan kedua orang tua nya. Elbert dan Elven baru saja berkonsultasi mengenai pendidikan anak kepada orang tua.


"Weiiiy, ada pacarnya selebgram loh." Ledek Elven yang kadang mulutnya jebol saringan nya.


"Via bukan selebgram tetapi anggota United Nations, Ven." Bela sang mama.

__ADS_1


"Mama tahu dari mana?"Tanya Erick penasaran sama info sang ibu negara ini.


Mama nya Erick menunjukan Pinstagram akun social media Erick yang memajang foto Erick sedang memeluk Via di Disneyland Jepang. Lalu di tag ke Via dan sang mama lebih cepat bergeraknya ketika seorang mendekati Erick.


"Rick, papa cuma bilang sama kamu. Jika kamu menyembunyikan sesuatu dari mama mu, kamu harus berhati-hati sama mama mu yang akan mencari tahu melebihi CIA agen atau FBI agen." Kata papa Erick memberi penjelasan kepada Erick.


"Oooh, pantesan!" Jawab Erick yang menggeleng-gelengkan kepalanya akibat ulah sang mama.


Erick berpamit sebentar untuk menaruh barang-barang ke kamarnya dan akan turun kembali. Erick mempersiapkan baju buat nanti makan malam sama Via dan Widia juga Jerias.


Tookk Tookkkk...


Kamar Erick di ketok dan Erick membukanya, sang mama masuk lalu memberikan air mineral ke Erick.


"Rick, jaga Via. Mama sayang sama Via." Kata wejangan dari ibu negara.


"Pasti, mah. Erick boleh tanya sesuatu?" Tanya Erick.


"Vika? Mama gak setuju kamu sama dia. Kenapanya? Kamu akan mengerti nanti." jawab sang ibu negara membuat Erik mendesak untuk di beri tahu.


Mama Erick duduk di kursi kerja Erick yang nanti akan di ganti sofa. Erick duduk di depan mama nya menggunakan lemari nakas yang dari dulu menemani Erick.


"Rick, dalam pernikahan atau sebuah hubungan serius itu komunikasi nya dua arah yang saling terhubung. Bukan komunikasi 1 arah dan merasa lebih tinggi." Kata sang mama yang menatap Erick serius.


"Vika ama Erick saling kerja keras loh mah. Vika seperti itu bukan anak orang kaya seperti Via." Kata Erick mencoba menjelaskan.


"Rick, kerja keras atau bukan coba kamu koreksi. Seberapa sering Vika mengkomunikasikan ke kamu dalam hal apapun? Apakah dia menghargai kamu? Apakah Vika memberi ruang buat kamu berkembang?" Pertanyaan sang mama yang sudah membredel Erick yang membuat pikiran Erick buntu.


Pertanyaan sang ibu negara membuat Erick terdiam yang akhirnya sang mama pergi membiarkan Erick berfikir jernih. Kata - kata sang mama membuat Erick ke kamar mandi dan mengguyur badan nya dengan air dingin.


Semua kata-kata tersebut tidak Erick temukan dalam Vika. Erick kerap kali mengalah akan setiap keputusan Vika, kerap kali juga Vika mengambil alih keputusan. Demikian juga dalam hal memberi ruang dan menghargai. Vika jarang sekali memberikan Erick kebebasan dan menghargai keputusan Erick.


°


°


°


°


Duruduuu Lalllaaaaa Dududurudu... Yuk segera comment ceritanya lalu di like ceritanya. Terus di love novel nya dan di Vote juga novel nya. Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2