
Setelah pelaporan yang di lakukan Melissa terhadap Brad. Perlakuan Brad terhadap Melissa berubah, namun setelah berbicara dengan team kuasa hukum Gerry, Akhirnya Melissa tetap kepada pendirian nya yang teguh. Karena sudah 3 tahun bersama dan sudah berkali - kali juga Brad begitu.
Sambil membaca buku Melissa memandang kamar nya di London, England. Sang ibu melihat Melissa begitu tenang dan ....
"Mel, mamah boleh masuk?" Tanya mamah nya Melissa yang berada di pintu kamar Melissa.
"Boleh dong mah, silahkan. Kenapa?" Kata Melissa yang mempersilahkan mamahnya masuk ke dalam.
Duduk berhadapan dengan Melissa, membuat sang ibu menyesal melihat putri kesayangan nya hancur.
"Mamah, mau tanya sama kamu. Boleh?" Tanya sang ibu ke Melissa.
"Boleh, mah." Kata Melissa yang menutup buku nya dan menatap wanita paruh baya tersebut.
"Ben, mantan mu. Itu anak nya Novia Heidi?" Tanya sang ibu yang masih tidak percaya.
"Iyah mah, Aku pernah ketemu mamahnya Ben, jujur aku iri dengan Ben. Mamanya Ben itu Novia Heidi yang baik luar biasa." Kata Melissa yang mengingat semua kebaikan Via saat itu.
"Oh, gitu. Mamah hanya bertanya saja kok." Jawab mamah nya Melissa yang akhirnya keluar dari kamar. Lalu Melissa memejamkan mata nya dan tertunduk.
#Throwback
"Mel, kamu tuh bagaimana sih milih pacar kok urakan. Lihat itu di tindik kuping dan tatoan lagi, ibu nya pasti ngga bisa ngedidik anak nya." Kata sang mamah yang habis melihat Ben.
"Mah, dia itu anak terpelajar. Anak juara kelas di kampus ku, dia anak Beasiswa unggulan tanpa bantuan orang tua." Kata Melissa yang menjelaskan keadaan Ben.
"Iyah, makanya seperti itu dia. Karena merasa ada yang bayarin jadi ugal - ugalan." Timpal mamah nya Melissa yang menganggap sebelah mata.
"Mah, kan mamah belum kenal Ben. Apalagi mamah tidak tahu siapa Ben. Jangan kayak gitu dong." Balas Melissa yang kesal lantaran mamah nya berkata seperti itu.
Setelah hari dimana Ben bertemu dengan mamah nya Melissa. Dari situlah hari - hari Melissa berubah menjadi neraka. Jika Melissa pulang bersama dengan Ben, mamah Melissa mulai berulah dengan menyindir - nyindir penampilan Ben yang urakan.
Bahkan Melissa mengingat ketika ada Brad yang datang dengan mobil mewah nya.
"Aduuuh, Braaaaddd... Apa kabar? Thank you loh sudah mampir kesini. Ayo makan malam bareng yah.." Teriak mamah Melissa saat melihat Brad datang mampir di rumah nya Melissa dan Ben melihat nya.
"Permisi tante, saya pulang dulu. Terima kasih makanan nya." Pamit Ben yang membawa rantangan. Melissa mengantar Ben hingga kedepan rumah lalu Ben pergi menggunakan transportasi umum.
Jika Ben ingin pasti kedua orang tua nya akan menyediakan fasilitas tersebut. Tetapi Ben ingin menunjukan bahwa dirinya mampu bisa membiayai diri nya ini. Sifat ini mirip Erick yang menyukai kesederhanaan.
__ADS_1
Setelah Ben pamit, mamah nya memuji terus Brad. Hingga akhirnya Melissa gerah atas perlakuan ibu nya. Sang ibu meminta untuk memilih Brad sebagai kekasih Melissa bukan Ben. Dan akhirnya Melissa lebih mengikuti saran orang tua dengan berpacaran dengan Brad.
Namun semua ternyata hanya palsu, kekayaan yang di tonjolkan oleh Brad ke orang tuanya bahkan omongan tinggi nya Brad membuat orang tua Melissa percaya.
Hingga...
"Kamu kan sudah saya pacarin, kamu tidak bisa gratis tinggal disini. Biaya kamu mahal, jadi kamu harus kerja!" Perintah Brad saat Melissa datang ke Melbourne, Australia.
"Loh, kenapa?" Tanya Melissa dan kaget ketika melihat kenytaan.
"Kamu pikir saya Ben, yang memanjakan kamu seperti princess? Hello, nona manis!" Kata Brad yang menjambak rambut Melissa.
Isak tangis Melissa saat mengetahui kelakuan asli Brad. Melissa menutupi kelakuan Brad karena di depan orang - orang. Brad bisa berubah 180 derajat menjadi orang yang paling baik dan sangat memuja kekasih nya. Namun ketika orang - orang itu pergi Brad berubah menjadi manusia yang paling keji.
Ancaman Brad sering membuat Melissa ketakutan untuk berbicara kepada siapapun. Bahkan kepada orang tuanya. Ketakutan tersebut membuat Melissa tidak bisa keluar dari lingkaran toxic nya Brad, dimana Brad selalu menyerukan Melissa tidak berguna sama sekali.
"Untung orang nya sudah di penjara, seandainya ada bunda Via. Pasti ...." Ingat Melissa saat duduk di jendela dan akhirnya meneruskan kembali membaca.
Mamah nya Melissa sangat menyesal melihat pilihan nya untuk putri tersayang nya. Begitu naif saat melihat pribadi Ben.
...----------------...
Shasha, Ben, Kaori, Gerry dan Dewin akhirnya bisa berkumpul bersama. Bahkan di sambut hangat oleh Widia dan Jerias. Dewin bersyukur bisa bertemu dengan mereka ini. Well, kelakuan anak - anak selalu menggemaskan.
"Ayoo, kita liburan. Om Dewin akan jadi tour guide nya." Ledek Jerias dalam bahasa Indonesia terbata - bata.
"Bahasa nya Inggris please, guys." Oceh Ben dan membuat Widia mendapat ide untuk anak - anak nya.
"Okeh, mamah ada ide. Kalau kalian kumpul yah, kalian harus menggunakan bahasa Indonesia. Jika menggunakan bahasa lain 10 dollar akan masuk ke toples. Gimana?" Tantang Widia yang akhir nya di angguki semua anggota yang lain.
Semua mulai berbahasa Indonesia dan membuat Ben juga Kaori kesulitan. Sementara Shasha dan yang lain nya sudah mulai terbiasa dengan bahasa Indonesia.
"Aku... Lihat ini tidak? Boleh.." Tanya Ben yang membuat semua tertawa mendengar Ben berbicara.
"Hahahahahahahahah" Gelak tawa semua mendengar Ben berbicara bahasa Indonesia.
"Mungkin maksud nya kak Ben, Boleh lihat ini tidak?" Koreksi dari Shasha yang akhirnya membuat Ben menjadi menyerahkan 10 dollar nya ke toples.
"Semangat Ben, bunda mu pasti bangga. Walau sebenernya kasian kamu gak sempat dia ajarin bahasa Indonesia ke kalian." Ledek Dickson yang tertawa melihat Ben.
__ADS_1
"Papah Dickson coba kamu kasih 10 Dollar untuk bicara bahasa lain." Teriak Anya yang mengingatkan Dickson.
Acara keluarga membuat malam menjadi indah. Semua ribut untuk pulang ke Indonesia dan liburan di Indonesia. Dimana anggota keluarga sekarang sudah bertambah. Dianne dengan suaminya, dan Cia dengan pacar nya.
"Gerr, anak - anak dah pada gede yah. Sekarang Anya dah punya pacar, gue takut Anya di sakitin bisa berangas gue." Curhat Jerias ke Gerry saat ada di taman belakang rumah.
"Jer, gak usah elu. Gue ama Dickson ajah dah was - was anak - anak perempuan kita." Balas Gerry yang duduk manis sambil makan buah.
"Untung gue gak punya anak, bakalan curhat nya sama kek elu pada." Kata Dewin yang memainkan air di gelasnya.
"Win, anak elu dua. Dan ditambah ada mantu sekarang. Coba jelasin dimana elu ngga punya anak?" Tanya Gerry sedikit sensi saat mendengar Dewin bilang tidak punya anak.
Muka Dewin ternsenyum mengingat ada anak tambahan. Jelas biar gimana pun secara hukum Ben dan Shasha adalah anak nya, hasil dari istrinya.
Jerias dan Dickson tertawa terbahak - bahak atas penjelasan Gerry ke Dewin.
"Hmn, anak yah? Tiba - tiba gue pusing mengingat nya." Ledek Dewin yang bernada becanda kepada 2 pria di depan nya.
"Tapi jujur yah, elu kenapa gak nikah lagi? Emang udah impotent barang elu?" Tanya Dickson sedikit kepo.
"Adalah gue pembuangan. Tetapi semenjak gue pisah sama Via, entah kenapa jika gue deket sama cewek. Gak lama cewek nya ninggalin gue." Kata Dewin membuka pembicaraan.
"Dulu sama Via main berapa kali?" Tanya Gerry yang penasaran dengan kehidupan Via dan Dewin.
"Nggak tentu sih. Kadang seminggu full, kadang sehari 3x tergantung mood kita berdua." Jawab Dewin yang membuat semua bengong.
"Jadi sering " main" dong elu ama Via. Ckckck Erick ..."Kata Dickson yang membuat kepala nya ditimpuk bantal sama Gerry.
"Yah, namanya rumah tangga ya. Tapi bersyukur sih Dewin melakukan kesalahan. Kalau ngga kita ga ketemu sama Via." Ujar Gerry dan membuat Jerias mengangguk kepala.
Karena masih mereka ingat kejadian Via hilang dan pergi meninggalkan Indonesia untuk ke sekian kalinya. Bahkan menghilang nya Via membuat semua orang pusing.
°
°
°
°
__ADS_1
Yeay, Terima kasih telah membaca sampai saat ini.
like terus yah, comment juga, lalu share dan vote buat dukung author. 😍