
Selama 1 jam Via dan Dickson membahas kisah masa lalu dan membuat kepala Dickson menarik garis kesimpulan mengenai jodoh.
"Jadi begitu kamu pulang ke Indonesia kamu daftar ke kampus Tritunggal?" Tanya Dickson penasaran dengan hidup Via.
"Iyah, aku daftar di kampus tersebut." Jawab Via dengan enteng nya.
"Well, kan Erick lulusan kampus Kesaktian Tour & Tourism Jakarta. Yang masih satu yayasan sama kampus Tritunggal. Kampus legendary tuh!" Kata Dickson berusaha mencari celah cocoknya.
"Aku jujur yah gak kenal kalian berdua, kalau bukan Thata yang kenalin kalian." Kata Via yang duduk sambil memijat halus kakinya.
Karena sudah hampir 2 jam, waktu yang diberikan Erick, Dyandra dan Dianne kepada Dickson dan Via menyelesaikan masalah. Sudah saat nya kembali ke apartment. Lalu melihat Via sudah tersenyum berarti tandanya sudah dalam posisi aman.
Dickson ikut tersenyum saat melihat ke arah Erick yang masih bingung dengan keadaan yang terjadi.
"Rick, nanya dong." Pertanyaan basa basi Dickson kepada Erick.
"Kenapa? Gue curiga elu melakukan hal..." Tuduh Erick yang mulai was - was.
"Kagak, tenang. Ini juga berlaku buat istri gue.." Kata Dickson secara percaya diri.
"Apaan?" Kata Erick dan Dyandra secara bersamaan tanpa mereka sadar.
"Kalian berdua pernah sadar kah ada Novia Heidi di SMU kita?" Tanya Dickson membuat Dyandra dan Erick bengong.
"Jelasin maksudnya apa?" Cecar Dyandra dan akhirnya Dickson menjelaskan semuanya.
Dickson menceritakan pertama kali Via masuk sekolah bersama dengan Thata. Sontak membuat muka Via terkaget. Dickson mengeluarkan foto dalam album foto di telephone selulernya.
Keseriusan Via, Dyandra, Erick dan Dianne yang merasa ada benang merah dengan semua itu, terlebih saat Via berada di Singapore untuk berobat. Dickson mengakui kalau sebelum bersama Dyandra, sempat menyukai Via. Ketika Via bersama dengan Dewin.
Disitu Erick mulai terbakar cemburu namun padam saat Via memeluk tubuh Erick. Muka Erick tidak bisa di bohongi kalau masih cemburu kepada Dewin.
"Yah, Rick. Intinya jodoh mah kagak kemana - mana kok. Cuma ditikung ajah sama Valentino Rossi." Ejek Dickson sedang mengambil makanan yang disajikan oleh Via.
"Kirain ada pertumpahan darah lagi..." Balas Erick yang sudah saling mengejek.
"Kagak lah, bersyukur malah gue sekarang. Elu saat ini sama Tuhan. Karena jadi penyambung doa elu dulu." Lanjut Dickson saat memberitahu Erick mengenai masa lalunya.
Via menatap keheranan kearah Dickson dan Erick, akibat mendengar keanehan doa nya Erick. Mendengar secara sesakma Dickson menceritakan semua dari awal hingga akhir. Rangkulan tangan Via di pinggang Erick semakin menguat.
__ADS_1
Air mata pun turun karena mendengar semua seakan mimpi dimana Erick bisa berdoa hal yang sama seperti Via.
"Ketika Tuhan mengatur jodoh mu, hidup mu, hari - hari mu. Tuhan akan bertanggung jawab menyelesaikan dengan baik." Kata Dickson sambil memeluk Dyandra juga Dianne.
"Tunggu, tumben otak elu sadar." Ledek Erick saat melihat kelakuan Dickson.
"Bener kata Via. Terkadang karma itu bukan datang dari orang lain. Tetapi dari orang terdekat mu."Lanjut Dickson sambil tetap dengan senyum jahil nya.
Well, Dickson dan Dyandra menginap di apartment nya Erick. Beruntung kamar ada 3 jadi Dianne bisa tidur di kamar bayi Via. Lalu kamar 1 nya untuk Dyandra dan Dickson.
Seperti biasa Via sibuk di dapur tanpa ada yang membantu. Erick menahan Dyandra tidak membantu Via saat beberes kecuali Via meminta nya.
"Kasian, Rick. Kan lagi hamil besar si Via." Kata Dyandra yang masih duduk di sofa bersama dengan Dickson juga Dianne.
"Via itu gak suka, daripada terjadi tragedi mending gak usah." Kata Erick meyakinkan Dyandra untuk nanti membantu Via.
"By the way, Via hamil berapa bulan?" Tanya Dyandra ke Erick.
"Via hamil 5 bulan, dan anak gue itu kembar Dy." Kata Erick yang menjelaskan keadaan Via saat ini yang sudah kondisi memasuki trisemester ke 2.
Wajah Dyandra dan Dickson langsung melotot dan tidak percaya dengan apa yang Erick beritahukan mengenai kehamilan Via saat ini.
"Yah, gue juga gak tau sih. Intinya dapet ajah sudah syukur." Jawab Erick yang malu - malu dengan pertanyaan Dickson.
"Dianne, kalau kamu mau tambah adek gak?" Tanya Dickson ke Dianne yang sibuk dengan telephone selulernya.
"Nggak, Dad. Aku gak mau nambah adek, sepertinya akan merepotkan. Aku mau holiday ajah sama kalian." Jawab Dianne dengan diplomatic.
Dianne menjelaskan kalau punya adik, akan tidak ada waktu Dianne mengenal papa nya. Dianne ingin merasakan keluarga utuh. Dyandra tiba - tiba merasa sedih dengan penuturan dari Dianne.
Penjelasan Dianne yang membuat Dickson tersentuh dan akhirnya menanyakan kepada Dianne untuk daerah tujuan liburan yang di inginkan anak semata wayang nya.
"Well, daddy akan nurut sama putri semata wayang daddy. Kamu mau liburan kemana?" Tanya Dickson yang sudah menyiapkan telephone selulernya.
"Aku mau di sini, dimana aku bisa liburan dan belajar seperti tante Via. Aku mau jadi anggota United Nations yah Dad." Jawab Dianne dan membuat Erick dan Dickson memuntahkan minuman nya yang sedang di minum. Tidak terkecuali juga Dyandra.
Muka Dyandra menjadi keheranan karena permintaan anak nya tersebut. Bujukan Dyandra kepada Dianne pun dilancarkan. Tetap tidak menggoyahkan pendirian Dianne.
"Kalau begitu kamu akan punya adik, jika kamu bersikukuh akan terjun ke dunia politik." Ancam Dyandra tidak mau kalah dengan kemauan Dianne.
__ADS_1
"Aku tidak akan gentar mah. Dianne udah punya pilihan." Kata Dianne menatap Dyandra dengan mantap.
"Nak, dunia politik tuh jahat. Sudah lah mending jadi pengusaha ajah kek daddy." Kata Dyandra yang terus membujuk Dianne.
"Makan yuk, nanti keburu dingin." Teriak Via setelah selesai mempersiapkan makan malam.
Dianne menanyakan dengan serius bagaimana bisa masuk United Nations. Hingga apa yang paling alasan mendasar Via menjadi anggota di United Nations.
Keseruan percakapan tersebut membuat Dianne sangat bahagia. Entah mengapa Via malah menyarankan Dianne untuk mengikuti saran daripada Dyandra. Berbeda dengan Dickson yang meminta Dianne untuk masuk sekolah art atau music. Karena bakat sang anak lebih menonjol kearah sana.
"Intinya sayang, daddy dan mamah ingin kamu yang terbaik. Sesuai kapasitas kamu, bukan karena dibilang keren. Seperti yang tante Via katakan."Kata Dickson menengahi perdebatan antara Dianne dan Dyandra.
"Terima kasih, Dad." Ucap Dianne menuruti permintaan Dickson.
Makan malam pun terasa hangat, Via dan Erick pun menikmati makan malam dan kembali ke memikirkan jika anak mereka besar seperti apa?
...****************...
"Sayaaaaaang.... anak kita butuh bantuan. Aku lagi di kamar mandi. Tolong kasih asi nya sebentar." Teriak Widia yang meninggi dari arah kamar mandi.
Jerias yang sedikit mengantuk di tempat tidur pun terbangun. Langkah kakinya yang gontai membuatnya salah mengambil susu asi yang sudah disediakan.
"Sayaaaaaangg... Itu loh susu nya aku siapin di deket pemanas susu." Teriak Widia lagi dan mengagetkan Jerias.
Oweeeeek oweeeeeeekk... Tangisan kejer dari Jevannya membuat Jerias mulai sadar.
"Sebentar sayang, papah lagi buat susu Anya yah." Bujuk Jerias yang mengambil susu disebelah pemanas.
Setelah mengambil akhirnya Anya kembali diam dan menikmati susunya. Mata panda Jerias sungguh diluar dugaan. Semua berubah dari keadaan sebelum nya.
°
°
°
°
°
__ADS_1
Halo... Terima kasih telah menyukai cerita ini. Tetap dukung dengan like, love, comment dan vote yah teman -teman online. Terima kasih.