Journal Of Triplet 07

Journal Of Triplet 07
Cinta Tak Akan Kemana - Mana...


__ADS_3

Setelah buang air kecil Via kembali ke mobil Gerry. Dan mereka melanjutkan perjalanan ke kawasan Kuliner Kota Tua Jakarta. Tak pelak wajah Via berbinar - binar karena baru pertama kali melihat festival seperti ini.


Tapi bagi Gerry adalah akhirnya ada yang menemani dia makan tanpa pusing memikirkan lingkar pinggang atau berat badan.


"Gerrr, foto in Via disini." Pinta Via sambil mengeluarkan ponselnya. Setelah memotret Via, Gerry meminta tolong orang untuk di potretkan mereka berdua.


"1,2,3" Kata orang yang memotretkan Via dan Gerry.


Setelah berterima kasih kepada orang tersebut Gerry dan Via menuju, tenant - tenant makanan yang mereka sudah incar. Mulai dari makanan ringan hingga makanan berat. Akhirnya mereka berdua kecapekan dan bertemu dengan seorang yang bisa membaca kartu tarot dan garis tangan yang meminta mereka menjadi klien berikutnya.


Karena Gerry iseng ingin tahu kartu tarot. Akhirnya mereka menyetujui permintaan sang peramal tersebut. Gerry dan Via bertatap - tatap apa hasilnya.


"Nama lengkap dan tanggal lahir?" Tanya peramal.


"Gerry Putra Al Rasyid. 07 July 1987."


"Novia Heidy. O7 July 1987"


Sang peramal kaget ketika melihat garis tangan mereka. Dan tersenyum lalu melihat kartu tarot mereka berdua.


"Kalian berdua pacaran apa suami istri?" Tanya si peramal tersebut.


"Kami sahabat." Jawab mereka serempak dan tanpa komando mereka mengulurkan tangan untuk flip - flop.


"Flip" Kata Via dan bersamaan sama Gerry mengucapkan.


"Flop." Kata Gerry. Senyum Via semakin merekah bebas.


Sang peramal tersebut cuma tersenyum melihat ulah mereka berdua. Dan karena penasaran oleh hasil,


"Duh, hasil nya bagus nggak sih?" Tanya Gerry ke peramal tersebut.


"Kamu percaya? Atau kamu nggak percaya?" Tanya balik dan Gerry dengan tegas memberikan jawaban mengejutkan.


"Kalau bagus yah diamin kan. Kalau jelek dijadikan guidance. Kami ber 3 jodoh kan?"


"Ber 3?" Wajah sang peramal tersebut ternganga.


"Iyah, kami 3 di ulang tahun yang sama."


"Kamu jam berapa lahir?" Tanya si peramal


"6 pagi kata mama saya. Via jam berapa?" Tanya Gerry ke Via yang tiba-tiba sibuk dengan telephone selulernya.


"Halo Wid. Kamu jam berapa lahirnya?" Tanya Via penasaran.


"Apaan siiih Piaaaa ampun dah." Jawab Widia.


"Ayolah Wid, penting ini yah." Rengek Via.


"Jam 12 siang kata emak gue." Jawab Widia setelah menanyakan mama nya di rumah dengan teriak.


"Baik lah. Eh, balik ke kost an gak usah ngerampok makanan di warung mamah kamu yah." Bales Via sambil memberitahu Widia, lalu memberitahukan perihal ini ke peramal.


"Nama lengkap Widia Oktaviani, lahir 07 July 1987 jam 12 siang." Via menginformasikan.


Seketika sang peramal tersenyum lebar banget.


"Ini keajaiban yang Tuhan. Kalian ini luar biasa." Kata si peramal tersebut.


"Suatu saat diantara kalian akan ada berjodoh hingga menikah." Kata Peramal tersebut.


"Maksudnya?" Gerry menyambar penasaran.


"Maksudnya diantara kalian akan ada yang jadi pasangan." Penjelasan si permal itu.


Setelah mendapat ramalan itu mereka tertawa karena lucu. Dan masih bingung dengan maksud nya si peramal tersebut.


"Maksud dari maddam tarot apa?" Tanya anak buah nya. Seketika setelah mereka berjalan kembali untuk masuk ke panggung.


"Sepasang tadi nanti akan menikah, karena mereka berjodoh. Cuma mereka berdua belum sadar." Jelas sang peramal tersebut.


Mendapat penjelasan tersebut si anak buah cuma bisa tertawa karena mereka melihat keajaiban dari 3 orang yang lahir nya sama.


Hari semakin larut 2 anak manusia ini terus semakin terbenam dalam wisata kuliner. Setelah kenyang akhirnya mereka pulang juga.


"Kenyang bego, lapar juga tolol." Teriak Gerry yang suasana hatinya berubah gembira.


"Via bahagia Gerry! Terima kasih." Kata Via saat di dalam mobil. Dan mereka kembali ke kost an sambil menceritakan ulang keseruan - keseruan di Wisata Kuliner Kota Tua.


Kost an White House....


"Eh, Kak Toni. Kok tau gue nge kost disini?" Tanya Widia saat turun dari kendaraan kebesaran nya bajaj.


"Eh Wid. Iyah dari anak - anak mapala gue tau." Sahut nya.


"Ayo masuk." Ajak Widia yang membawa hasil jarahan kalau pulang ke rumah.


"Sini gue bantu." Kata Toni sambil mengambil barang - barang dari tangan Widia.


"Oh, thank you kak."


"Wid, elu dah makan?"


"Belum sih kak. Nunggu Via ama Gerry deh biar barengan makan."


"Makan sama gue mau?"


"Mau makan apa kak?"


"Ayam Bakar Rindu yuk."

__ADS_1


"Ayok dah!" Jawab Widia sambil menaruh barang - barang dan mengikuti langkah Toni ke motornya.


Sesampainya dimotor Toni, mereka langsung menuju Kedai Rindu yang terletak di belakang kampus Tritunggal dekat pintu samping kampus Uniter.


"Njiiiir, ini antrian nggak ada otak nya." Kata Widia saat turun dari motor. Lalu Toni mulai mencari tempat duduk yang memungkin kan.


"Wid, pesen apa?" Tanya Toni sambil menulis pesanan nya.


"Oh, ayam bakar paha. Pake nasi terus minumnya es teh manis." Kata Widia tegas, sambil melihat kanan kiri seperti mencari sesuatu. Dengan sigap Toni menuliskan pesanan yang Widia omongin.


"Wid, nyari apa?"


"Kagak, ini pesenan kita lama kagak?"


"Kagak. Itu antrian buat yang di bungkus" Kata Toni. Sambil mengaduk - ngaduk es teh manis yang sudah sampai.


"Ampun dah, ini cewek bocor abis." kata Toni membatin tapi bikin penasaran.


Makanan yang dipesan akhirnya datang juga. Setelah nunggu 15 menit, dan keluar lah ayam bakar sesuai pesanan.


"Kak, elu kesini ada apa? Kalau elu ngajak gue jadi anggota BEM. Jangan harap deh!" Widia membuka percakapan tanpa tendeng aling - aling.


"Enggak, gue mau ngajak elu nonton. Mau?" Jawab Toni terkena sekak mati.


"Nonton demo?" Bales Widia tanpa ampun.


"Nggak, nonton film horror. Yuk?"


"Oh, kapan? Soalnya jumat besok gue naik Gunung Bunder di Bogor bareng anak mapala UPW."


"Demen banget sih luh wid, sama yang begituan." Kata Toni sambil menyingkirkan setengah makanan nya. Karena sudah tidak berselera.


Tanpa banyak bicara Widia mengerti ada yang emosi. Masalahnya Widia bukan tipe yang langsung bisa di setir kemauan nya.


"Jadi kapan?" Widia menanyakan kembali.


"Tunggu elu balik dari Gunung Bunder, kita bicarain lagi."


"Baik lah." Widia sudah males membicarakan hal ini juga.


Sekembalinya ke kost an White House Toni dan Widia masih mengharapkan Widia berubah pikiran.


"Wid."


"Yah kak."


"Gue suka elu."


"Heh? Gak salah?"


"Pikirin ulang permintaan gue yah."


Widia pun berlalu menuju kamar kost an yang terletak di lantai atas bersamaan dengan Via dan Gerry.


"Gerrrrrrr....." gedor Widia nggak nyantai. Namun melihat Weny di kamar pojok yang asik belajar serius. Dan merasa ada yang melihat, Weny langsung menutup jendela nya dengan ngebanting.


"Gerrrrrr......" gedor Widia semakin keras.


Sementara dibawah Gerry dan Via baru menaiki tangga menuju kamar. Mendengar Widia manggil akhirnya mereka langsung ke sumber suara.


"Apaaaah!" Jawab Gerry sambil membuka kamarnya.


"Elu berdua dari mana?" Tanya Widia dengan merebahkan diri di kasur.


"Makan lah. Kenapa?"


"Ger, gue ditembak sama Toni."


"Lalu?"


"Ahk gue ngga suka. Orang nya menye menye kayak perempuan."


"Emang elu bukan perempuan?"


"Gue kasus yang berbeda Gerry."


Setelah curhat sama Gerry di kamar Widia merasa lega. Dan membuat keputusan untuk menolak Toni.


"Ati - ati loh. Dia senior Wid, sekali bermasalah kelar hidup lu." Kata Gerry memberi nasihat.


"Iyah, tipe gue mah kudu strong Gerr. Kagak kena kalau menye - menye macam si Toni." Lanjut Widia sambil mengambil beer di Kulkas Gerry.


"Iyah, gue sih bilang nya ati-ati ajah. Nanti takut bahaya." Kata Gerry sambil mengganti kaos perginya dengan baju tangan buntung buat tidur.


"Elu sama Nori sudah putus?" Tanya Widia tepat sasaran.


"Sudah, abis elu kasih buktinya."


"Terus?"


"Yah, sempet mengelak. Tapi akhirnya Nori ngaku juga."


"Terus Via?"


"Udah gue beresin si Dewin. Jangan bilang Via."


"Sip, thank you Ger. Gue balik ke kamar dulu."


Berakhirlah sesi curahan hati Widia dan Gerry. Dan seperti biasa pagi - pagi mereka langsung menuju ke kampus.


"Selamat pagi, ayo kumpulkan tugas presentasi Psychology Hukum" Teriak William membuka kelas pagi ini.

__ADS_1


Dengan tertib anak - anak kelas C mengumpulkan dan terakhir Via. Hati William semakin tidak karuan. Melihat gelagat aneh dosen nya. Widia yang peka, melakukan test untuk membuktikan benar kah asumsi dia.


Setelah kelas berakhir Widia, dan Gerry menunggu Via selesai membereskan map - map presentasi. Lalu memulai test tersebut,


"Via, masih kepengen nggak donat Triple Cholate nya Don King di Putraland Mall?" Tanya Widia dengan membesarkaan suara agar William dengar.


"Mau, tapi antrinya panjang Wid. Via selalu ngga kebagian." Jawab Via lemes.


"Nanti gue antriin buat elu deh." Kata Widia masih dengan suara kencangnya. Dan William langsung mengirimkan SMS ke management Putraland Mall. Untuk kirim 5 lusin donat triple chocolate Don King ke kampus Tritunggal sekarang.


"Pak, ini sudah di rapihkan. Lalu ini catatan yang bapak minta." Kata Via membuyarkan lamunan William.


"Oh baik. Makasih yah." Bales William dingin seolah biasa sajah namun hatinya sudah mau copot.


Melihat itu Widia menahan ketawa karena dosen nya yang ini bisa juga suka perempuan seperti Via. Setelah membereskan map - map. Via mengajak Widia dan Gerry ke kantin.


"Pak, ini nomor telephone saya. Kalau butuh info soal Via saya bisa bantu." Kata Widia memberikan kertas ke William. Jelas banget muka William berubah kaget. Dan Widia menyusul 2 teman nya yang sudah berjalan duluan ke kantin.


Mendapat angin segar untuk mendapat pujaan hati. Segera William langsung menyimpan nomor Widia di telephone selulernya. Dan ketika menyimpan nomor Widia, telepon dari management Putraland masuk ke telephone seluler William.


"Pak, ini donat nya sudah di Kampus bapak." Kata orang yang menelepon.


"Taruh ajah di ruangan dosen di meja saya." Perintah William dan menutup telephone nya. Dengan lincah juga William menelepon Widia menanyakan mereka dimana. Tanpa mikir panjang William menuju Kost an White House dengan membawa donat yang Via inginkan.


15 menit dari kampus Tritunggal menuju kost an White House. Dengan muka cerah William langsung naik ke lantai atas. Disana ada Gerry, dan Widia yang duduk di ruang tamu sambil nonton berita terkini.


"Eh pak William. Ada apa?" Tanya Widia basa basi.


"Ini saya iseng, beliin ini. Kalian suka kan?" Kata William berubah grogi begini.


" Yah elah pak. Nyantai ajah sih, Via nya masih mandi. Bentar lagi juga selesai, sabar yah pak." Widia menginformasikan.


Sementara Gerry masih bingung dengan kejadian ini memilih untuk diam dan melihat donat yang dibawa dari kejauhan.


"Ini donat nya di buka ajah." William mempersilahkan Gerry dan Widia untuk makan.


"Nanti ajah pak. Yang ngidam lagi mandi soalnya." Kata Gerry sambil menunjuk Via yang baru saja keluar dari kamar mandi memakai kimono handuk pink ke kamarnya.


Berpakaian sopan, Via nyari celana sate hitam dan kaos yang agak longgar. Langsung menyisir rambutnya yang habis keramas dan mengenakan bandana polka-dot pink hitam. Serta tidak lupa mengenakan lip balm andalan berwana pink cerah.


"Malam pak, aduh ada apa yah kesini?" Sapa Via. Ke William dan muka William tidak bisa di bohongin karena terkejut dan senyum juga bertingkah bodoh.


"Mau ajak kamu makan, boleh?" Jawab William sambil mengutukin kebodohan dirinya.


Via yang bingung dan merasa aneh menatap memohon kepada 2 teman nya.


"Pergi ajah Via. Kita lagi malas makan juga, lagi pula besok kan libur?" Rayu Widia yang menjerumuskan.


"Ini apaan pak, banyak banget!" Via mengalihkan pembicaraan dan menurunkan ketegangan.


"Ini Donat Don King, semoga kamu suka." Kata William yang membuka kotak nya. Dengan muka berseri - seri Via mencomot donat yang fenomenal antrian nya. Dan membaginya ke Widia dan Gerry.


"Udah sana makan gih. Kasian pak Williamnya nunggu." Cubit Widia ke pipi Via yang membuat William melotot karena pujaan hatinya kesakitan.


Setelah membagikan donat yang kebanyakan, Via mengikuti William untuk makan malam.


"Mau makan apa?" Tanya William.


"Makan ayam Mak Donal ajah, paket amigos." Jawab Via yang bener-bener diluar dugaan kebanyakan wanita.


kost an White House....


"Wid, elu nggak lagi nyomblangin Via kan?" Tanya Gerry yang menangkap maksud busuk Widia.


"Iyah, ternyata bener gossip itu dan gak nyangka sukanya sama Via." Jawab Widia mulai sok - sok misterius.


"Apaan?"


"Iyah, si William digosipin kalau dia naksir junior. Terus ngga berani ngomong, gue kira gossip doang. Ternyata beneran pas siang tadi ke gep ama gue." Widia memberi penjelasan ke Gerry.


"Jadi elu bantuin tuh si William?"


"Iyah. Kan elu ngga tau siapa William, dia itu cucunya owner Putraland Group tapi ngga mau kelihatan."


"Kata Siapa lu?"


"Kata Abud senior di Mapala temen sekelas nya William."


Gerry melotot dan percaya dengan apa yang ditunjuk sama Widia soal Donat Don King yang dimakan mereka berdua.


Dan di tempat makan Mak Donal, Via menanyakan apa yang mau dipesan oleh William.


"Mau apa pak?" Tanya Via yang dengan lembutnya seperti biasa.


"Aku pesen paha bawah pake nasi." Jawab William.


"Oh oke, Aku mbak. Pesen ayam dada mentok pake nasi sama kentang ukuran XL." Kata Via sambil memberitahukan pesanan nya.


"Baik mbak, total semua 98rb." Kata kasir nya.


"Ini mbak pakai kartu." Kata William menyodorkan kartu unlimited access nya dia.


"Mohon maaf pak, kami hanya menggunakan cash saja." Kata Kasirnya yang membuat panik William karena cash nya kurang.


"Ini mbak, 100rb. Sisanya untuk donasi yah mbak." Kata Via memecahkan permasalahan.


"Via, aku ganti yah uang nya." Kata William panik dan menjadi aneh.


Setelah mencari tempat duduk dan mengambil saus tomat dan cabai. Via kembali ke tempat duduk nya.


Muka William bak kepiting rebus yang memerah dan mengetik SMS ke semua management Mak Donal Fried Chicken untuk menambahkan mesin EDC disetiap outlet nya. Karena Via, wanita pujaan nya suka banget makan disini.

__ADS_1


__ADS_2