
Pelarian kembali dilakukan oleh Via dan Dewin, entah sampai kapan mereka berdua lari dari kejaran sanak keluarga bahkan dengan teman – teman terdekat. Seakan – akan mereka adalah buronan kelas kakap, sehingga harus di buru sampai kapan pun.
"Vii, tidak terasa yah sudah 1 tahun kita berada di Maroko dan sebentar lagi akan pindah ke Lucerne - Switzerland." Kata Dewin menatap Via yang sedang membaca social media Via buat dengan menggunakan data orang lain agar tidak di lacak. Lalu memberikan senyuman nya kepada Dewin seketika saat mendengar celoteh Dewin.
Dewin melihat Via yang tersenyum dan sempat mempertanyakan apa isi yang ada di kepala Via saat ini, dan apa langkah selanjutnya. Sesungguhnya watak Via sangat lah susah di tebak oleh Dewin yang sudah menemani Via selama 3 tahun ini.
Kembali Dewin memperhatikan Via dan membuat Via akhirnya menyadari tindakan nya tersebut membuat Dewin tidak nyaman saat terus menatap Via dengan telephone selulernya. Dengan menaruh telephone seluler nya setelah melihat social media akhirnya Via berjalan mendekati Dewin yang masih menatap nya dengan keteduhan namun penuh tanda tanya di dalam kepalanya.
"Kenapa sayang? Adakah yang menggganggu mu, saat ini?" Tanya Via yang menggoda Dewin karena menatap nya tanpa jeda. Membuat nya merasakan keheranan dengan tatapan Dewin saat ini.
"Aku heran kamu serius sekali dengan telephone seluler mu, aku pikir ada yang mencoba mengganggu mu saat ini.” Balas Dewin sambil memeluk Via yang mendekat kepada nya, Via hanya tersenyum walau dalam hati nya Via sangat – sangat merindukan ke 2 sahabatnya yang ternyata meninggalkan Indonesia menuju Den Haag – Belanda dan Marseille – Perancis.
Lalu bagaimana Via bisa mengupdate data ke dua sahabatnya dengan mengstalker kegiatan mereka berdua melalui social media Pinstagram dengan menggunakan data orang lain sebagai usernamenya. Sehingga Via bisa melihat mereka berdua secara leluasa, hingga….
“Aku tidak bisa mengucapkan kata rindu kepada 2 sahabat ku. Maafin Via yah Bebih dan Ayang yang tidak mempunyai keberanian sama sekali untuk bertemu dengan kalian hingga saat ini.” Kata bathin Via yang disimpanya dalam lubang paling dalam di hatinya saat ini.
Mengingat sebentar lagi Via akan pindah ke Lucerne – Switzerland, kota yang terkenal dengan “Heart of Switzerland” dan kebanyakan orang – orang disana adalah percampuran dari Romania dengan German. Kota yang hangat dan sangat estetik jika melakukan pemotretan, dengan keindahan alam yang sangat luar biasa maka dari itu Via memutuskan untuk tinggal di Lucerne – Switzerland.
Namun tanpa di duga Via menemukan berkas – berkas surat nikah yang tidak kunjung Via terima setelah menikah dengan Dewin. Saat bebersih rumah di Morocco dan akhirnya semua terungkap saat melihat surat tersebut dan telepon seluler Dewin yang Via sama sekali tidak tahu akan keberadaan nya. Secara cepat Via mencoba mencharger lalu melihat isi dari telephone seluler tersebut, Via juga menemukan beberapa berkas yang sepertinya baru saja di print oleh Dewin jika melihat tanggal penerbitan surat tersebut.
Hati Via sangat hancur mengetahui Dewin sama sekali tidak berubah dari sifat nya saat pertama kali Dewin berkata kalau Via adalah adik saja bagi Dewin. Semua bayangan masa lalu kembali mendadak muncul tanpa kendali di dalam ingatan Via dan tidak terasa air mata Via jatuh juga menyesali kebodohan nya selama ini dengan gampang nya Via sangat percaya sama Dewin yang mengatakan akan berubah dari sifat nya yang terdahulu.
Perasaan Via saat ini berkecamuk hebat dalam hatinya, dan segera Via membersihkan apa yang Via temukan saat beberes berkas – berkas tersebut. Lalu membuat makan malam untuk Dewin dan Via. Dewin melihat Via seperti habis nangis dengan hati – hati Dewin menanyakan masalah yang membuat Via seperti ini,
“Kamu kenapa jadi super sensitive sih?” Tanya Dewin membuka percakapan dengan Via sambil menyantap makanan yang ada di meja makan dan telah di siapkan Via mengingat sebentar lagi akan pindah ke negara kesukaan Via yaitu Swiss.
“Aku hanya ingin cepat pergi ke Lurcene, tapi aku mau nanya ke kamu. Apakah kamu tidak ada yang mau di ceritakan setelah 3 tahun menikah dengan ku?” Jawab Via yang membalikan pertanyaan kepada Dewin. Melihat raut muka Dewin yang sudah berubah menjadi heran sekaligus bingung membuat Via semakin melemparkan kata – kata yang halus dan menghujam hati Dewin namun menutupi emosinya dengan wajah datar nya, seolah – olah tidak tahu apa yang terjadi.
“Bingung kak? Kalau aku nanya soal Vancouver apakah ada penjelasan?” Tanya Via lagi membuat Dewin menyemburkan makanan yang sedang di kunyah oleh Dewin.
“Kamu ngomong apa sih Vi?” Bales Dewin yang mengelap mulut nya dari sisa – sisa sembuaran makanan lalu menatap wajah Via dengan serius dan berusaha mengalihkan pertanyaan Via yang sepertinya mengorek informasi masa lalu.
“Sepertinya kamu paham dengan apa yang aku kata kan pada saat ini.” Jawab Via yang menyudahi makan malam nya lalu mengambil dessert dari lemari es serta membawakan juga buat Dewin.
Dewin akhirnya memilih untuk berdiam diri seperti biasanya dengan apa yang Via katakan serta menghabiskan dessert yang Via kasih, Via pun akhirnya ikut terbenam dengan rasa dessert yang di buatnya sendiri. Layaknya seperti hari – hari bersama dengan Via, Dewin menganggap kalau kemarin hanya sebuah pertanyaan biasa bahkan melupakan pertanyaan Via, walaupun Dewin mengetahui jawaban pastinya. Karena ingin menghindar dari rasa bersalah di masa lalu.
Kejadian ini membuat hubungan Via dan Dewin semakin dingin dan renggang, terlebih Via yang sangat terlihat dari cara nya memperlakukan Dewin sudah mulai menjaga jarak. Hingga akhirnya tiba waktunya keberangkatan Dewin dan Via menuju Lucerne, sampai akhirnya di hari terakhir saat berada di Morocco…
“Aku tanya sama kamu, dan kali ini sangat serius” Tanya Via saat berada di Casablanca Mohammed V International Airport sebelum memasuki ruangan boarding pesawat. Dengan muka sangat santai Dewin menatap Via yang memberikan Frappucino Extra Caramel no Whipped Cream dari kedai Kopi ternama Setarbaks kesukaan Dewin sedari dulu.
__ADS_1
“Ada apa sayang? Sepertinya sangat – sangat serius.”Jawab Dewin membalikan badan saat Via mengajukan pertanyaan serius kali ini serta menatap wajah nya dengan pasti. Di dalam perasaan Dewin ada perasaan yang tidak bisa dikatakan dan seperti nya ….
“Kamu jawab jujur sama aku, dan aku harap ini terakhir kamu berbohong kepada ku.”Kata Via lagi yang menggenggam dengan erat tangan Dewin.
“Iyah, apa yang kamu mau tanyain sampe se serius ini?” Jawab Dewin yang menatap Via dengan sangat serius kearah mata Via sekaligus meyakinkan diri bahwa akan baik – baik saja, setelah menjawab pertanyaan Via kali ini.
“Katakan dengan jujur hubungan kita ini apa? Benarkah kita sudah terdaftar sebagai sepasang suami istri?” Pertanyaan seakan bomb waktu membuat yang Dewin tersentak hebat. Via membalas tatapan Dewin tidak kalah serius seperti Dewin. Jawaban yang di keluarkan oleh
Dewin saat itu akan menentukan tindakan Via selanjutnya, tangan Dewin sedikit bergetar karena pertanyaan Via yang sangat sulit Dewin hindari. Sejak awal pertemuan nya dengan Via dan meminta Via menikah dengan Dewin, adalah suatu bomb waktu akan meledak pada saat nya dan tidak terelak kan lagi buat Dewin.
Dewin membuang gelas Frappucinno nya ke tempat sampah sebelum masuk ruangan boarding. Pikiran Dewin mendadak sempit serta terasa menyesak kan dada akibat pertanyaan tersebut. Via punya sejuta alasan dan cara untuk menghilang lagi seperti saat ini yang Via lakukan, Dewin merasa ini terperangkap dalam jebakan masa lalu yang ingin nya dilupakan namun tidak mau Dewin lepaskan.
“Aku tanya sekali lagi yah kak Dewin, siapa Sisca? Lalu ada apa dengan hubungan nya sama kamu?” Tanya Via Kembali dengan muka semakin serius ke arah Dewin. Diluar dugaan dan sangat tidak menyangka secepat ini Via bisa menemukan rahasia antara Dewin dan Sisca, sang mantan kekasih yang di tinggalkan Dewin saat berada di Vancouver – Canada akibat hubungan yang toxic.
“Kita sudah dipanggil harus boarding, kita akan diskusi kan lagi yah sayang.” Bujuk Dewin saat memaksa Via masuk ke pintu boarding menuju ruangan boarding.
“Okeh kalau begitu, pintu boarding nya kita di sebelah kiri.” Kata Via yang menarik tangan Dewin karena mengejar pintu pesawat yang akan di tutup. Serta tidak menyangka Dewin mengulur waktu lagi, persis dengan masa lalu. Tidak pernah bisa tegas dengan pilihan nya, sehingga semesta memilihkan jalan untuk nya.
Dengan muka kebingungan Dewin pun menuruti Langkah kaki Via yang memasuki pintu yang hampir saja di tutup karena Dewin dan Via sibuk dengan dunia nya saat itu, melihat tampang – tampang pramugari yang dengan ramahnya melayani Via dan Dewin saat memasuki pesawat dan duduk di bangku business class. Sehingga tidak menimbulkan kecurigaan mendalam terhadap apa yang akan dilakukan Via saat ini, yang memutar rute kepergian dari Morocco ke Lucerne menjadi Morocco – Vancouver tanpa sepengetahuan Dewin. Penerbangan kali ini Dewin mulai mengeluarkan peralatan tempur saat di dalam pesawat seperti bantal tidur dan earphone untuk mendengarkan music kesayangan nya.
Didalam pikiran Dewin yang sedang memikirkan kota Lucerne yang begitu indah sehingga Dewin lupa mengecheck apa yang Via lakukan saat ini, hingga terdengar lah suara pramugari memberikan arahan saat akan take-off.
“Ibu-ibu dan Bapak-bapak, selamat datang di Penerbangan nomor AT-200 dengan pelayanan dari Casablanca Mohammed V International Airport ke Vancouver International Airport. Kita sedang berada dalam antrian ke tiga untuk take-off, dan diharapkan untuk mengudara dalam waktu kira-kira sepuluh menit. Kami meminta anda untuk memasang sabuk pengaman anda saat ini, dan simpan semua koper di bawah kursi atau di kompartemen atas. Kami juga meminta agar kursi dan meja anda berada dalam posisi tegak untuk take-off. Tolong matikan seluruh perangkat alat elektronik yang anda bawa, termasuk telepon genggam dan laptop. Merokok dilarang selama penerbangan di seluruh bagian pesawat, termasuk di kamar mandi. Terima kasih sudah memilih The Airlines. Nikmati perjalanan anda.” Pengumuman dari pramugari cantik yang melayani penerbangan dari Morocco ke Vancouver sontak membuat Dewin merasa heran sekaligus melirik Via yang masih saja sibuk mencari – cari film di tv pesawat untuk menemaninya selama di pesawat.
Via masih dengan wajah nya yang datar dan seperti menyimpan banyak rencana jahat dalam dirinya. Segera mungkin Dewin mengambil tangan nya Via,
“Aku tanya sama kamu, sekali lagi dengan tegas. Apakah kamu menyembunyikan sebuah rahasia dari diriku?” Tanya Via yang sibuk memilih film bagus untuk di tonton saat penerbangan panjang serta dengan enggan nya menatap wajah Dewin saat diajak bicara bersama.
“Aku memang nya menyembunyikan apa? Bukan kah semua kamu tahu mengenai pernikahan kita.”Jawab Dewin berusaha meyakinkan Via dengan jawaban Dewin saat ini walaupun sangat ambigu. Dewin pun akhirnya menarik wajah Via untuk menatap mata nya ketika membicarakan hal ini.
“Hehh..” Keluh suara Via yang sudah malas mendengar kata – kata Dewin saat ini, yang masih saja menyembunyikan masalah atau mungkin lari dari sebuah masalah seperti biasanya.
“Aku kali ini tidak bisa menebak apa yang kamu maksud Vi. Tolong kasih tahu aku ada apa masalahnya?” Kata Dewin mulai menegaskan setiap kata – kata tersebut membuat Via akhirnya menatap dengan pandangan aneh kea rah Dewin.
“Aku sudah sangat jelas dengan semua maksud ku. Kamu saja yang berlibet dengan jawaban nya, seolah menutupi sesuatu. Aku akan langsung kepada intinya saja deh kali ini, jadi kamu bisa menentukan jalan hidup mu kedepan nya. Kamu akan pilih Sisca atau aku?” Tanya Via dengan harap – harap cemas menunggu jawaban Dewin dari hati terdalam Dewin.
“Kasih aku waktu untuk berfikir, aku cuma tanya sama kamu. Apa yang kamu temukan saat ini sehingga membuat ku terpojok?” Jawab Dewin sekaligus mencoba membela diri dari pertanyaan Via yang memojokan dirinya kali ini, Dewin kali ini salah prediksi mengenai Via yang dia kenal sekarang.
Perjalanan panjang yang di tempuh Via dan Dewin membuat mereka berdua berfikir, bahkan Dewin memikirkan terus apa yang terjadi, jika Dewin memilih salah satu dari mereka berdua. Dewin masih sayang dengan Via, namun tidak dipungkiri juga kalau Dewin sebenarnya masih sayang sama Sisca. Bahkan bisa di bilang belum sanggup meninggalkan Sisca yang selalu mengancam Dewin akan bunuh diri jika meninggalkan Sisca.
Maka karena alasan inilah Dewin pergi meninggalkan Sisca seorang diri dan menetap di Korea Selatan. Namun ternyata semesta berkata lain dan tanpa di sangka – sangka ketika Dewin sedang berada Seoul National University untuk negosiasi, malah bertemu Via yang sedang meregister ulang keberadaan nya sebagai mahasiswa S2 Hukum International – sub International Boundries. Ingatan itu kembali hangat dalam pikiran Dewin, namun lain hal nya dengan Via yang masih memasang wajah datar nya.
“Aku sudah siap dengan apapun jawaban Dewin, aku akan memantapkan hati jika Dewin memilih wanita tersebut.”Bathin Via yang sudah menetapkan langkah – langkah taktis nya.
__ADS_1
Ternyata perjalanan 11 jam 45 menit membuat Dewin masih merasa gusar dan tidak bisa berhenti melepaskan tangan Via. Pilihan terlalu sulit untuk memilih diantara Via dan Sisca, ke dua wanita ini ada dimana masa – masa Dewin terpuruk. Via hadir ketika Dewin di tinggal ayah nya karena memilih kegiatan religious agama, namun menelantarkan keluarga. Sehingga ketika melihat Via, yang sangat ceria kala itu dan walau sama – sama rapuh membuat Dewin nyaman.
Begitu juga Sisca dimana hadir ketika Dewin tidak lolos sebagai calon mahasiswa kedokteran Universitas Indonesia. Lalu memilih Universitas Pegangan Harapan dan mengambil Management Business sebagai major nya.
Waktu semakin berjalan dengan cepat, akhirnya Via mendesak kepada Dewin untuk memberikan kepastian. Sambil terus berkutat dengan telephone seluler nya, akhirnya Dewin memilih untuk tetap diam.
“Kamu jadi memilih siapa? Aku atau Sisca?” Tanya Via secara tiba – tiba, Dewin yang mendengarkan langsung menatap memelas agar Via bisa memberikan kesempatan untuk memilih lebih lama lagi.
“Aku tidak bisa meminta waktu lagi untuk berfikir lagi?” Jawab Dewin yang meminta waktu kembali ke Via untuk memikirkan semua pilihan nya.
“Aku kasih waktu 2 jam tambahan ke kamu, sebelum semuanya berakhir seperti yang kamu pikirkan dan kamu akan kehilangan ke duanya.” Ancam Via ke Dewin saat menjawab permintaan Dewin, jelas sekali Via memperlakukan Dewin seperti mencecar seorang narapidana.
Dewin berjalan kearah pojok jendela coffe shop setarbaks, Via pun bersiap meninggalkan Dewin sendiri jika dalam 2 jam ini Dewin tidak memberikan sebuah kepastian. Menit ke menit berjalan membuat Dewin semakin engap dan sesak memikirkan pilihan nya saat ini. Masalah baru akan muncul jika memilih salah satu diantara Via atau Sisca, dan jika tidak memilih pun diantara Via dan Sisca akan terjadi bencana besar.
2 jam berlalu dan Via masih menunggu jawaban Dewin untuk menentukan pilihan nya sendiri, Via akhir nya memesan lagi Frappucino kesukaan Dewin dan roti Croissant dengan butter nya, Dewin masih melihat Via belum ada pergerakan akhirnya mengaktif kan telepon selulernya dan membaca pesan – pesan yang masuk. Disaat Dewin sibuk dengan telepon selulernya di saat juga kesempatan Via untuk melarikan diri ke pintu boarding menuju kota pelarian selanjutnya, 1 jam sibuk sendiri menyadarkan Dewin ketika makanan dan minuman ronde ke 2 tidak ada Via di samping nya.
Dewin berlari mencari Via dengan wajah panik, namun tidak menemukan Via. Jelas Via sudah berada di ruangan boarding menuju pintu pesawat yang membawanya pergi tanpa bisa di temukan lagi. Dewin akhirnya menyerah dan berlari menuju pusat informasi memberikan semua data Via. Namun yang di cari ternyata sudah menghilang entah kemana, Via memasuki pintu khusus penerbangan private.
Dewin menemukan email dari Via dan sudah dipastikan ini email terakhir dari Via, di dalam email tersebut Via menjelaskan betapa kecewa nya diri Via ketika melihat Dewin tidak bisa memilih.
**Dear Kak Dewin,
Warmest Greeting From Via!
Selama 3,5 tahun kita mengarungi hidup bersama membuat Via sadar juga percaya bahwa takdir cinta itu ada. Namun di sisi lain ketika melihat kenyataan yang semsesta berikan ke Via membuat dada Via sesak hingga tidak bisa bernafas dengan benar. Kak, jangan khawatir baju mu dan beberapa barang mu ada di bagasi hilang, untuk yang lain nya akan menyusul ketika aku sampai di tempat baru. Tempat dimana semua orang tidak bisa menemukan ku sebagai Novia Heidy. Kak, terima kasih atas kerjasamanya sama Via. Bersyukur banget Via bisa sama Kak Dewin, jaga kesehatan yah kak.
Yours truly,
Novia Heidy
Selesai membaca email tersebut Dewin, tidak bisa menyembunyikan ke kesalan sekaligus menyalahkan dirinya atas kebodohan yang Dewin perbuat. Dewin hanya bisa menangis tanpa bisa menjerit kehilangan Via untuk ke 2 kali nya dan dengan kesalahan yang sama.
̥°
°
°
°
°
__ADS_1
°
Love, Like dan Comment yah temen – temen. Thank you so much!