
Acara Palais des Nations, Conference Room XVIII 2014 yang di hadiri oleh 193 negara yang datang membahas isu mengenai Hak Azasi Manusia di dunia. Baik dari hak azasi anak, wanita, korban perang dan lain – lain nya. Via bercengkrama dengan 193 negara yang mengirimkan para delegasinya untuk mengikuti acara tersebut. Selama 4 hari Via bergabung bersama mereka bertukar pikiran dan mencoba memahami system kerja berbagai negara.
Setelah acara selesai Via bersiap – siap ke hotel, selagi menunggu di jemput oleh orang hotel Via memandangi jalanan membuat Via berfikir mengenai dirinya;
"Merasa sendiri tidaklah menakutkan karena banyak sahabat yang bisa dihubungi. Namun satu hal yang sangat menakutkan adalah merasa sendiri ditengah kerumunan orang banyak." Kata Via dalam hatinya. Jiwa nya hampa dan seakan tidak ada arah cinta yang dituju dibalik keceriaan nya.
Pada keesokan harinya Via menghadiri malam ramah tamah bersama sesama delegasi dari berbagai negara anggota.
Selagi berinteraksi dengan sesama delegasi negara dari 193 negara anggota, Via mulai meruntuhkan benteng pertahanan nya untuk menghilang lagi. Keceriaan muka nya tertangkap basah oleh sepasang mata yang sangat - sangat mengenalnya. Sangat hati - hati sepasang mata tersebut memandangi sosok Via dari kejauhan. Karena Via akan kabur jika melihat sepasang mata ini.
"Kamu masih seperti yang dulu, selalu tegang dibalik keceriaan mu jika berhadapan langsung dengan orang baru." Kata sosok sepasang mata yang terus mengamati Via dari kejauhan.
Banyak delegasi negara - negara Uni Eropa menyapa Via karena relasi dari Prof. Bjorn, bahkan Delegasi dari Spanyol sangat antusias.
"Hola, Ms. Novia?" Sapa delegasi dari negara Spanyol ke Via saat Via berjalan menuju meja canape untuk mengisi para naga yang sudah berteriak minta di isi.
"Hola, Ms??" Jawab Via yang bingung mencari name tag nya.
"Michella Solepino, delegasi dari Spanyol. Ini Miguel Albatros delegasi dari Mexico." Penjelasan dari Michella kepada Via yang menjabat tangan nya. Jelas sekali logat Latin keluar dari mulut mereka.
"Panggil saya Via. Karena kalau panggil Novia akan sangat berbahaya buat kalian." Canda Via yang membuat 2 delegasi tersebut terdiam dan bingung.
"Kalau panggil saya Via, bukan Mi Novia. Saya sangat bersyukur." Kata Via lagi dan akhirnya meledaklah ketawa 2 delegasi tersebut.
Novia dalam arti Spanyol berarti pacar/ istri / terkasih. Jika tambah Mi artinya kepunyaan seseorang seperti Mi Novia. Berarti istri / pacar saya. Itu sebutan dari laki - laki terhadap kekasih / orang yang dia kasih tersebut itu perempuan. Jika perempuan akan menyebutnya dengan Mi Novio.
Sungguh lucu dan unik bahasa Latin, Via berbincang - bincang bersaama orang tersebut sambil makan - makan Canape yang disediakan.
Sepasang mata yang memperhatikan Via akhirnya mendapat informasi mengenai Via. Jelas dari orang - orang terpecaya di United Nation dengan hubungan baik.
__ADS_1
"Bro, apa kabar?" Sapa seorang cowok yang heran melihat teman nya memperhatikan orang.
"Ardrian Yudha!" Panggil cowok yang tadi sambil melotot hebat.
"Yudha, Via aman. Mau gue panggil?" Kata Cewe yang tiba - tiba menyelak.
"Yah ampun, Felli sekian tahun gue nyari Via. Akhirnya ketemu juga sama dia disini." Kata Yudha sambil memberikan gelas wine kosongnya ke waiters dan mengambil yang baru.
"Dia baru balik dari Maroko, sebelum nya dia di Korea Selatan namun ternyata berita buruk harus elu dengar..." Kata Krishna yang mencoba menjelaskan ke Yudha namun di potong sama Yudha, dengan halus.
"Via yang menikah dengan Dewin? Jelas gak ada bukti otentiknya. Gue dah check semua 1 jam yang lalu." Kata Yudha yang tersenyum ke Krishna saat menginformasikan info yang sudah Yudha dapat sebelum nya.
Krishna dan Felli tersenyum karena Via akhirnya kembali setelah sekian lama dia berlari. Buat Krishna saat ini melihat Via bersama dengan Yudha jauh lebih baik bersama Willi. Sejenak Krishna mengingat kejadian dahulu dimana Willi membuat Via seperti orang bodoh. Disisi lain Krishna juga adalah saksi dimana Yudha memperjuangkan Via.
"Samperin nggak Yudh?" Ledek Krishna yang gemes melihat geraknya Yudha. Senyum nakal khas Yudha membuat Krishna mengerenyitkan dahinya akibat ulah Yudha.
"Belum saatnya bro. Nanti setelah perkaranya Via dan Dewin selesai. Gue akan deketin Via, by the way, thank you buat nomor Via." Jawab Yudha meninggalkan ruangan dan kembali ke hotel.
Dilihat nya foto – foto candid Via yang Yudha ambil saat malam terakhir dan dengan dada membuncah akhirnya Yudha mengirimkan pesan kepada Via.
+41435084205 : Hi, how are you?
Via : Yes, Via speaking may I assist you?
+41435084205 : Aku tanya kamu apa kabar?
Via : Siapa kamu?
WhatsApp Via tidak di balas lagi sama orang tersebut, dengan sedikit panik Via mencari tahu siapa yang mendapatkan nomor pribadi Via. Yudha yang ada di hotel merasakan kegembiraan yang luar biasa, lain hal dengan Dewin. Yah, Dewin sedang berjuang untuk mematahkan pembatalan pernikahan mereka yang Via ajukan lewat Prof. Bjorn. Namun untung tidak dapat di raih, malang pun menghampiri Dewin.
Dewin pun harus menerima keputusan pengadilan pernikahan Korea Selatan mengenai pembatalan pengajuan pengesahan pernikahan antara Via dan Dewin karena terbukti memberikan keterangan palsu juga sengaja menunda - nunda proses hukum.
Pil pahit harus di telan Dewin saat ini, semua teman - teman Dewin menyarankan Dewin untuk banding, namun Dewin memilih untuk berdiam dan melanjutkan hidupnya di Korea Selatan.
__ADS_1
Sudah sebulan Via sudah berada di Swiss, muka Via berbinar – binar melihat surat keputusan bahwa Via dinyatakan bebas tanpa tuntutan apapun. Namun di dalam hatinya Via masih menyimpan kepedihan mendalam. Akhir nya memutuskan untuk berjalan - jalan ke Musée dart et d'Histoire tempat kesukaan Via sambil memandang lukisan, disaat hatinya sedang tidak menentu.
Lagi - lagi Yudha melihat Via yang berjalan sendirian dan memandang lukisan penuh arti. Masih ingat dalam benak nya dimana Via suka sekali melukis dan main piano. Yudha pun memandangi Via dari ke jauhan.
Langkah kaki Yudha dengan pasti mulai mendekati Via dan mulai tersenyum di belakang Via. Merasa ada yang membuntuti Via mulai membentengi dirinya. Lalu....
"Hi, apa kabar nona manis?" Sapa Yudha saat Via memalingkan muka nya karena merasakan kehadiran Yudha.
"Hi, kamu sudah lama dibelakang ku?" Bales Via tanpa basa - basi.
"Baru saja. Tapi aku kalau mengganggu kamu biar aku pergi." Kata Yudha yang berpura - pura tidak enak hati.
"Tidak, kamu tidak mengganggu kok." Jawab Via dan akhir nya mereka berdua ngobrol hingga lupa waktu, karena keasikan mereka bergurau.
Pukul 7 malam Via pamit pulang karena sudah pasti Prof. Bjorn dan Prof. Cho Song Hwa menunggunya khawatir. Yudha pun akhirnya tersenyum mendengar penjelasan alasan Via meninggalkan Yudha waktu itu.
"Vi, janji jangan pergi lagi. Aku capek ngejar kamu, kamu gak capek?" Tanya Yudha saat mengantar Via ke rumah Prof. Bjorn dan Prof. Cho Song Hwa.
"Aku pergi? Tergantung dengan situasi apa yang menghimpit ku." Balas Via dan masuk ke rumah bergaya Eropa yang khas.
Yudha bahagia mendengar kata-kata Via, dan merasa ada secercah harapan untuk kembali ke pelukan Via.
"Sejauh apapun kamu berlari, sejauh kemana kaki mu melangkah. Kamu pasti butuh pulang hei, Novia Heidy." Kata Yudha dalam hatinya dan tersenyum melihat foto nya berdua dengan Via setelah mendapat izin nya dan dengan janji tidak mempublikasikan itu Via kepada siapa pun.
°
°
°
°
__ADS_1
Like, Love dan comment yah kawan - kawan sebagai dukungan ke Author. Terima kasih!