
Tangisan Ben semakin pecah ketika Dewin memberikan tissue untuk mengelap wajah nya. Dewin akhirnya memeluk Ben karena ketika Via melahirkan Ben, Via harus mengeluarkan banyak darah dan membuat Via harus kehilangan rahim nya.
Sungguh pengorbanan bunda ke keluarga sangat luar biasa. Akhirnya Ben mengerti siapa yang mengirimkan bunga Lilly pink, karena di apartment ini ada bunga Lilly pink yang selalu di ganti oleh Dewin. Ben pun melihat begitu bahagia nya Via ketika bersama dengan Dewin. Senyum nya dari kuping ke kuping.
Bahkan Ben melihat lemari yang menyimpan semua baju dan sepatu Bunda. Ben juga melihat rekaman - rekaman bunda yang tidak ada orang yang mengetahui sisi gelap Via.
"Ini semua punya Bunda?" Tanya Ben yang bergetar saat kembali ke meja makan.
"Pernah kan om bilang ke kamu. Bahwa mencintai tidak harus memiliki, melihat yang kamu cintai berbahagia saja membuat kamu bahagia." Kata Dewin yang membuat Ben mengucurkan air mata.
"Berarti om kenal sama papah Dickson, papah Gerry, dan mamah Widia." Tanya Ben dan dianggukin oleh Dewin.
Ben kembali ke hotel lalu mempersiapkan meeting penting. Ternyata Bunda penuh dengan surprise dalam hidup nya. Setelah persiapan yang matang akhirnya CEJE Group perusahaan ternama di South Korea akhirnya menandatangani program kolaborasi product makanan Korasa Indonesia yang akan dipasarkan keseluruh dunia.
Impian Via adalah bisa memberikan yang terbaik untuk semua orang. Ben kembali ke London, England untuk menjemput Shasha sekaligus berbicara empat mata dengan papah Gerry. Perjalanan 20 jam Ben lebih menghabiskan membaca buku dan beristirahat sejenak di tempat VIP. Hilir mudik pramugari yang menatap Ben saat melewati tempat duduknya.
"Selamat sore Mr. Ben, apakah kami boleh meminta foto anda?" Tanya Pramugari Thailand Airways. Dimana perusahaan penerbangan ini selalu menjadi pilihan utama Via.
"Tentu saja boleh, ada lagi yang bisa saya bantu?" Tanya Ben lagi dan membuat buru - buru para pramugari mengambil telephone selulernya.
Wajah manis Ben saat berfoto membuat para pramugari di Thailand airways tersenyum terus. Setelah sampai di London, England Ben menuju rumah Gerry dan makan malam bersama dengan Gerry dan Claudia.
"Waduh anak bujang papah Gerry kayaknya super sibuk jadwalnya. Jangan lupa jaga kesehatan mu yah nak." Ledek Gerry saat melihat Ben dengan lahap memakan masakan Claudia.
"Pah, temani aku curhat yuk. Masalah pria nih.."Ajak Ben saat melihat Gerry sudah selesai makan.
"Kamu curhat masalah cewek? Aduuh anak papah udah gede yah!" Ledek Gerry sembari menanyakan apa yang ingin Ben curhat kan.
Gerry dan Ben berjalan di taman sambil meminum minuman bersoda. Ben melihat papah Gerry dengan sesakma.
"Kamu pasti kangen ayah dan bunda mu ya?" Tanya Gerry secara seksama.
"Iyah, pah. Terlebih bunda sih pah." Jawab Ben yang sudah menitikan air mata nya.
"Sama, kangen mereka berdua. Biasa nya jam segini kami selalu video call an. Sekarang hanya mamah Widia saja dan papah Dickson." Balas Gerry dan membuat muka Ben semakin banjir air mata.
"Pah, jika seandai nya bunda masih sama om Dewin. Apakah bunda akan pergi juga?" Tanya Ben tiba - tiba dan membuat Gerry terhenyak.
Gerry bangkit berdiri dan membuang kaleng soda bekas dirinya. Gerry menatap langit penuh bintang yang begitu indah nya. Sementara Ben masih menantikan jawaban dari pada Gerry.
__ADS_1
"Seandainya papah Gerry tidak berbuat bodoh terhadap bunda mu. Mungkin nama mu bukan Hardjanto belakang nya. Tetapi Putra Al-Rasyid, namun karena papah Gerry lebih memilih ego harus merelakan bunda mu pergi dengan om Dewin yang kerjasama dengan dirimu." Kata Gerry yang membuat Ben sedikit kaget kenapa Gerry bisa mengetahui.
"Kok papah Gerry bisa tau aku sama om Dewin?" Tanya Ben semakin penasaran dengan apa yang Gerry ketahui.
"Bunda mu yang menyuruh papah Gerry menyelidiki nya. Karena bunda mu sudah ada feeling kamu bertemu dengan om Dewin. Lagi pula bunda mu menitipkan kalian semua juga ke om Dewin." Cerita Gerry yang mulai membuka semua tabir cerita kehidupan mereka.
"Jadi bunda sudah tahu semua?" Tanya Ben lagi sambil menatap heran ke Gerry.
"Ben, bunda mu itu punya feeling sangat kuat. Jadi Bunda mu sudah mengetahuinya." Jawab Gerry dan mengajak Ben pulang.
Dalam perjalanan Ben menceritakan versi Dewin, dan Gerry menambahkan versi Via dan Versi Gerry. Lalu Gerry memberikan alat pengaman pria kepada Ben. Muka Ben terlihat kaget saat Gerry memberikan alat pengaman tersebut.
"Aduuuh Ben, emang ayah mu tidak ngajarin kamu?" Ejek Gerry saat melihat muka Ben yang terlihat jijik.
"Ngajarin pah. Tapi Ben gak mau merusak anak perempuan orang." Oceh Ben yang setengah melotot ke Gerry.
"Eh, asal kamu tahu yah. Kamu dan Shasha hasil dari pertempuran ayah dan bunda mu sebelum menikah. Ketika mereka di Jaipur, India terus kamu bilang tidak merusak? Ini dipakai asal bertanggung jawab." omel balik Gerry yang melihat Ben panik.
"Apa? Hmn, ayah ternyata nakal juga yah." Kata Ben yang mulai nakal.
"Eh, ayah mu nakal bertanggung jawab. Habis berbuat sama bunda, langsung di nikahin. Ngga ada pacaran - pacaran nya." Cerita Gerry yang membuat Ben tersenyum.
Setiba di rumah Gerry. Muka Claudia dan Shasha heran dengan melihat Ben dan Gerry. Claudia dengan muka curiga nya langsung menanyakan kepada Ben.
"Ini mah, aku disuruh berjaga - jaga." Jawab Ben sambol menunjukan alat pengaman yang di kasih oleh Gerry.
"Gerrroooooooong.... Woooy lahhhh..." Teriak Widia yang mendengar nya.
"Woy laaah sayang. Kamu ngajarin yang gak bener ajah." Omel Claudia dan bercekak pinggang.
"Ben, jangan lupa kalau kamu pakai itu sebelum terlambat." Teriak Jerias yang mendukung Ben memakai alat itu.
"Ini kelakuan bapack - bapack yah!" Teriak Widia yang menggelegar.
Ben dan Shasha langsung menuju kamar tamu dan Ben tidur di sofa yang ada di kamar tamu tersebut. Shasha pun akhirnya menanyakan ke Ben perihal rumah di Los Angeles, California untuk di jual dan pindah ke London, England.
Tanpa basa basi Ben menyetujui untuk di jual dengan alasan agar bisa lebih dekat dengan papah Gerry dan mamah Widia. Sekaligus mengawasi kantor nya yang berpusat di London, England lebih mudah. Di tambah Shasha mau bergabung untuk memegang team R&D* di perusahaan Ben.
"Akhirnya punya rumah sendiri dan bisa mengembangkan usaha." Kata Ben dalam hati dan membereskan barang - barang yang sudah di packing dari Los Angeles, California.
__ADS_1
Sebenarnya secara tenaga kerja lebih murah di Los Angeles, California dan lebih anak muda di Los Angeles, California namun kebahagiaan keluarga jauh lebih penting daripada lain nya.
Barang - barang Via dan Erick akhirnya dimasukan kedalam gudang yang ada di belakang rumah Ben. Tidak lupa juga Ben dan Shasha mengundang papah Gerry, mamah Widia dan papah Dickson untuk datang ke syukuran rumah baru mereka.
"Selamat malam semuanya, hari ini saya akan mengumumkan bahwa rumah ini resmi rumah Shasha. Dimana adik saya akan bertanggung jawab atas apa yang di berikan." Kata Ben mengawali pembukaan acara.
"Selanjutnya saya akan memperkenalkan calon istri dari Benaiah El-Gibbor Hardjanto dan memohon restu kalian semua." Lanjut Ben dan akhirnya disambut oleh riuh rendah nya tepuk tangan semua orang.
Hanya saja muka Shasha kaget mendengar apa yang ben katakan saat ini. Shasha terhenyak dan duduk memandang kosong ke depan. Widia yang melihat hal tersebut akhirnya menjelaskan fase ini kepada Shasha secara bertahap.
"Sha, tidak semua yang kamu punya akan ada disamping mu selamanya. Suatu saat nanti mamah Widia juga akan pergi." Kata Widia membuat Shasha memeluk Widia dengan erat.
"Mah, please. Aku masih belum bisa untuk saat ini." Rengek Shasha yang membuat Widia sedikit terguncang.
Acara terus berlangsung bahkan Ben mengumumkan perihal pernikahan nya dengan Kaori Yoshida ke keluarga inti. Kaori sudah memakai cincin pertungan yang Via pakai ketika di lamar oleh Erick. Bahkan Ben pun ikutan menggunakan konsep sang ibunda ketika melakukan sangjit.
Kaori dan Ben menggunakan Qipao namun memadu padankan dengan gaya modern. Selain itu Ben pun melakukan photo prewedding yang sangat unik. Sedikit berbeda dengan Bunda dan Ayah.
Mengambil Bridal Suite Ben dan Kaori yang tidak mau ribet. Menggunakan jas dengan tile yang dibuat sangat minimalist. Untuk dekorasi dan makanan Shasha yang bertugas dan bertanggung jawab untuk section tersebut. Gerrard yang bertugas untuk photography dan videography, Anya dan Bianca bertugas entertainment, Cia bertugas mengepalai semua section yang ada. Danny dan Damien bertugas mengatur transportation lalu Dianne bertugas mengawasi para orang tua ini.
Dunia social media sudah berkeriapan komen - komen yang tidak sedikit menjatuhkan Ben. Tidak sedikit juga menyemangati Ben. Tidak terkecuali Dewin turut diundang dalam acara pernikahan Ben dan Kaori.
"Benaiah El-Gibbor Hardjanto, apakah kamu bersedia menerima Kaori Yoshida. Sebagai istri mu yang sah, dan satu - satunya serta teman pewaris kerajaan semesta. Dalam sakit maupun sehat, dalam susah maupun senang dan dalam duka dan bahagia. Hingga maut memisahkan kalian berdua." Tanya penghulu pernikahan tersebut.
"Saya Benaiah El-Gibbor menerima Kaori Yoshida. Sebagai istri saya yang sah, dan satu - satunya sebagai teman pewaris kerajaan semesta. Dalam sakit maupun sehat, tidak akan membawa nya dalam kesusahan, dan selalu membuat dia tersenyum bahagia. Dihadapan sang pencipta semesta dan keluarga saya." Ucap Ben yang merombak semua kata - kata yang di ucapkan sang penghulu.
Setelah sah sebagai sepasang suami istri. Ben berkeliling sungkem kepada seluruh anggota keluarga. Ketika sungkem ke Dewin air mata Ben tidak bisa di bendung kembali.
"Kamu harus bisa menjaga Kaori, jangan pernah kamu melebarkan Ego mu ketimbang keluarga mu." Ujar Dewin memberikan nasihat kepada Ben yang sungkem terhadap Dewin.
°
°
°
__ADS_1
°
Like, Comments, Share, Vote dan terus support author untuk update setiap hari. Terima kasih teman - teman online untuk dukungan yang diberikan saat ini.