Journal Of Triplet 07

Journal Of Triplet 07
Season 2 : Pura – Pura Sempurna


__ADS_3


Penyesalan Dewin kali ini membuat hati nya hancur, dengan cepat Dewin mencoba menghubungi Prof. Bjorn, untuk mencari tahu dimana Via berada.


“Nomor yang anda hubungi tidak dapat menerima panggilan.” Suara dari operator telephone. Berkali – kali Dewin menghubungi Prof. Bjorn namun hasil nya nihil, Dewin pun tidak putus asa menghubungi Prof. Song Hwa.


“Nomor yang tuju tidak terdafta, mohon periksa nomor tujuan anda.” Suara dari operator telephone. Membuat Dewin putus asa dan mulai khawatir.


“Vii, aku mohon kamu jawab email ku. Aku bersumpah akan menceritakan semua nya.” Jerit Dewin dalam hati.


Sisca yang melihat Dewin yang seperti orang kehilangan kewarasan nya mencoba mendekatinya,


“Kamu kenapa Win?” Tanya Sisca saat menaruh minuman kesukaan Dewin namun tidak sama sekali di lirik oleh Dewin. Dengan langkah lunglai Dewin berjalan keluar kamar dan berjalan keluar.


“Win, kamu mau kemana? Berhenti aku bilang ke kamu saat ini. Atauuuuuuu…” Jerit Sisca dan membuat Dewin menoleh sebentar lalu mengambil jacket.


“Dewiiiin…Aku bilang berhenti atau gelas ini aku…” Jerit Sisca kembali sukses membuat Dewin memberhentikan langkah nya.


“Mati ajah kamu, akal sehat kamu dimana? Aku mencoba bertahan yah sama kamu. SAKIT JIWA KAMU!!” Balas Dewin tidak kalah menjerit. Membuat seisi rumah berhamburan menuju ke kamar Dewin dan menemukan Sisca dan Dewin yang sedang bersitegang.


“Sisca, Dewin. Ada apa?” Teriak mama nya Sisca yang melihat Sisca sudah memegang gelas yang di pecahin. Entah apa yang ada di kepala Sisca saat ini membuat Dewin entah mengapa tidak bisa mentolerir nya.


"Periksain diri deh, lama – lama yang sakit jiwa bukan hanya kamu. Tapi AKU JUGA. Yang tidak tahan sama kegilaan mu. Capek berpura – pura kalau kamu itu waras!!” Terus Dewin menjeritkan kata – kata yang menghujam kearah Sisca dan diisaksikan oleh seluruh anggota keluarga Sisca.


Plaaaakkkk suara tamparan di muka Dewin membuat mulut Dewin berhenti sementara,


“Tan, saya menyarankan tante membawa Sisca ke pskiater agar bisa di tangani dengan baik. Saya kesini hanya ingin mengambil barang – barang saya saja.” Kata Dewin membuat mama nya Sisca meledak suara tangisan.


“Kamu tega, Win? Anak tante tuh tidak gila. Apakah kamu tidak bisa memaafkan dia?” Isak tangis mama Sisca. Dengan cepat Dewin membereskan barang – barang nya berada di Vancouver dan bergegas keluar dari lingkar kegilaan ini yang tidak ada habis nya.


“Anak tante tidak gila, hanya jiwa nya terganggu. Tante ke pskiater secepat nya, saya akan bantu cari kan yang terbaik. Karena ini diluar kewajaran menurut saya pribadi, tante.” Jawab Dewin dengan tegas dan membuat isak tangis mamanya Sisca semakin pecah dan tidak terkendali lagi.


“Dewin, kamu pergi aku akan loncat dari sini.” Ancam Sisca semakin menjadi – jadi setelah melihat Dewin selesai membereskan pakaian dan barang – barang.


“Loncat lah. Jika kamu punya nyali besar? Kamu tuh harus pskiater daripada loncat. Lihat ini, kamu tidak kasihan dengan mama mu yang sudah berjuang buat kamu?” Kata Dewin sambal menunjuk mama nya Sisca yang masih menangis dan di saksikan keluarga Sisca lain nya yang tidak banyak membantu atas kelakuan Sisca saat ini.


“Win, aku mau ke psikiater asal kamu tinggal Bersama ku. Aku akan berubah, Win.” Rengek Sisca secara tiba – tiba ketika Dewin menantang nya untuk loncat ke bawah.

__ADS_1


“Nggak, aku harus ke Korea besok. Untuk mengejar istri ku, jelas aku bodoh dengan pemikiran ku kemarin, ternyata ini rasa nya jika meminta seseorang berubah namun tidak berubah.” Kata Dewin sekaligus pergi membawa barang – barang nya. Sisca melihat Dewin berjalan keluar untuk menyetop taxi dengan cepat Sisca langsung mengejarnya dan ternyata Dewin sudah di dalam taxi. Pergi begitu saja dengan sekuat tenaga Sisca mengejar taxi hingga…


Braaaaaak..........


Suara kencang dari arah belakang Taxi Dewin sehingga membuat Dewin melihat nya dan tercengang melihat tubuh Sisca terpelanting dan tepat di belakang taxi yang Dewin tumpangi, segera Dewin memberhentikan mobil taxi nya lalu melihat keadaan Sisca yang tertabrak mobil di belakang karena berusaha memberhentikan taxi kosong untuk mengejar Dewin.


“Siscaaa, Siscaaaa…” Panggil Dewin di dalam ambulance sambil memegang tangan Sisca hingga tiba di Emergency Room Vancouver General Hospital.



Dewin mulai merasa khawatir dengan keadaan Sisca yang parah, setelah operasi selesai keluarga Sisca berdatangan satu per satu. Mama nya Sisca dengan tatapan menuduh mendekati Dewin,


“Seandainya kamu tidak gegabah dalam pilihan mu. Putri saya tidak akan mengalami kecelakaan ini, tidak kah cukup bagi mu menyiksa dia dengan hilang nya kamu selama 5 tahun ini?” Isak mama Sisca yang menarik baju Dewin karena merasa ini semua gara –gara Dewin.


“Tan, saya 5 tahun tidak menghilang. Bahkan masih komunikasi dengan Sisca, dan semua surat – surat yang dimana saya menjadi penjamin bahwa Sisca akan berkelakuan baik pun saya kirim.” Kata Dewin dengan memegang tangan mama nya Sisca.


“Kenapa kamu kembali?” Teriak mamanya Sisca dan memukul Dewin melampiaskan kemarahan nya selama ini terpendam dalam hati karena keadaan Sisca seperti ini.


“Saya kembali karena saya ingin menyelesaikan masalah ini, yang sudah menghimpit saya dan istri saya. Tan.” Jelas Dewin dan sontak membuat mamanya Sisca terkaget dengan penjelasan dari Dewin.


dan menunjukan peningkatan yang mulai significant karena ada nya semangat hidup.


Sementara disaat yang bersamaan Dewin pun harus menghadapi tuntutan dari Prof. Bjorn mengenai pemalsuan data pernikahan dan mengajukan pembatalan pernikahan di Gereja dengan alasan data yang diberikan tidak benar. Dunia Dewin secara tidak langsung runtuh akibat pilihan nya. Via yang mendengar tuntutan tersebut langsung menemui ayah angkat nya yang berada di Geneva – Switzerland. Dari kantor ke airport hanya 30 menit, Via sibuk menghubungi ayah angkat nya di nomor pribadinya.


Drrrrrrrrrrrrrrrrrrrrtttttttttttttt suara telepon seluler Prof. Bjorn bergetar hebat.


“Yes, baby. Bagaimana New York, apakah kamu suka?” Sapa Prof. Bjorn saat melihat putri angkat nya menelepon nya. Padahal mereka ber 3 baru saja melakukan video call membahas pulang nya Via ke Geneva.


“Dad, kamu tuntut Dewin?” Tanya Via tanpa basa basi menanyakan mengenai tuntutan tersebut.


“Iyah, baby. Biar dia tahu berhadapan dengan siapa. Daddy tidak terima atas perlakuan Dewin terhadap putri Daddy.” Jawab Prof. Bjorn dan di barengi suara Prof. Cho Song Hwa yang mengiyakan perkataan Prof. Bjorn mengenai tuntutan terhadap Dewin.


“Tunggu aku di Geneva Mom and Dad. Aku lagi jalan menuju kesana sekalian membawa pekerjaan untuk kalian berdua.” Kata Via lagi dan mengakhiri percakapan nya dengan kedua orang tua angkat nya, bahkan tidak terasa air mata nya keluar. Mengingat masa – masa kecil nya di habiskan Bersama sang nenek yang berada di Bandung. Selama pelarian nya Via, selalu Via memantau nenek nya dari kejauhan sempat ingin membawa nya ke Switzerland namun Via urungkan alasan nya adalah pasti Via akan ketahuan. Di sisi lain Via sangat tidak empati terhadap kedua orang tua kandung nya karena menelantarkan Via.


“Apakah kedua orang tua ku akan berlaku yang sama jika aku mendapatkan perlakuan seperti ini?” Tanya Via dalam bathin nya yang terdalam saat berada di John F. Kennedy International Airport menuju Geneva International Airport.


---------------------------------------------------------------------

__ADS_1


Sementara di Vancouver Dewin terus memikirkan apakah Via berada di Korea? Sementara Dewin melihat dari Pinstagram yang Via punya dengan nama orang lain agar Dewin bisa menebak Via berada dimana, namun Pinstagram Via tidak ada update sama sekali selama 1 bulan ini. Dewin memberanikan diri menuju Korea Selatan, dengan hati yang hancur berkeping – keeping namun harus berpura – pura terlihat sempurna di hadapan banyak orang.


Disaat bersamaan namun berbeda tempat, seseorang tercengang ketika melihat se sesosok orang yang dicari selama bertahun - tahun sedang berada di Bandara John F. Kennedy International Airport ternyata semesta berpihak kepada Widia dan Gerry.


Tanpa sengaja dan pikir lama - lama lagi Fifi memotret Via yang sedang memasuki ruangan VVIP menuju pintu pesawat pribadi, dengan cepat Fifi mengirim foto dan video sebagai alat bukti.


“Ketahuan kamu hei Novia Heidy dimana kamu bersembunyi.” Kata Fifi sembari mengirimkan pesan terhadap Gerry dan Widia.


Drrrrrrrrrrrrrtttttttt Drrrrrrrrrrrtttttt… WhatsApp Gerry dan Widia bergetar akibat pesan dari Fifi.


Fifi: Gue baru landing dari penerbangan Doha – New York, dan gue melihat Via sedang santai berjalan ke pintu boarding VVIP.


Gerry: Cuuuuuyykyok… Akhirnya ini anak ketemu juga.


Widia: Serius ini Via.


Obrolan langsung panjang akhirnya Gerry berusaha mencari tahu keberadaan Via melalui koneksinya di United Nation. Namun ternyata data – data Via sudah di hapus dan tidak ditemukan lagi, Gerry tidak menyangka Via sangat dilindungi. Usaha Gerry dan Widia terus mencari Via tidak patah karena Fifi memberikan secercah


harapan. Sesampainya Via di Geneva – Switzerland di sambut banyak kepala – kepala organisasi. Jelas Via menolak untuk ada media meliput. Via menghadiri Palais des Nations, Conference Room XVIII 2014 mengenai Hak Azasi Manusia di daerah perbatasan. Via mewakili Switzerland dan mewakili ayah angkat nya yang tidak bisa datang.



Prof. Bjorn pun ikut menyambut Via saat berada di airport, lalu mengajaknya untuk bertemu Prof. Cho Song Hwa. Via dengan muka berbinar – binar menemui Prof. Cho Song Hwa, hati ini selalu hangat jika Bersama dengan mereka berdua. Via dengan cepat menghilang bersama pasangan Prof. sehingga banyak orang mencari Via karena perwakilan dari departement Hak Azasi Manusia. Banyak media ingin mewawancarai topik yang akan di angkat oleh Via. Namun Via enggan bertemu dengan media saat ini, lantaran urusan keluarga yang harus Via hadapi ketika Via bersama dengan Prof. Bjorn dan Prof. Cho Song Hwa


°


°


°


°


°


°


Like, comment dan love cerita ini. Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2