
Setelah Via keluar dari kamar mandi dan membenarkan perasaan nya, Gerry pun tetap pada pendirian nya yang menyatakan bahwa tidak semua harus di turuti.
Sementara Via yang merenungi sikap nya terhadap Gerry membuat nya perang batin.
"Kenapa semua ini harus terjadi sekarang ini?" Kata batin Via yang sudah menghantui pikiran nya.
Sekembalinya Widia dan Panji dari luar melihat Gerry yang sedang asik dengan laptop nya, dan mata Widia pun menyusuri sekeliling guest house mencari Via.
Via yang sibuk menyusun baju nya sesuai warna dan fungsinya. Karena malam semakin larut, akhirnya dia pun naik ke tempat tidurnya. Widia melihat Via tertidur cuma tersenyum karena hari ini sungguh melelahkan buat Via.
"Ini suara apaan yak? Kok serem amat sih, bunyinya?" Kata Widia yang terbangun dari tidurnya yang bersebelahan Via dan mendengar gemertakan gigi.
Widia membuka mata dan memperhatikan keadaan sekeliling. Lalu mendengar kembali suara gemertakan gigi tersebut dan akhirnya menemukan bahwa giginya Via yang berbunyi. Sungguh mengerikan jika mendengar suaranya.
"Sial, ini bocah selalu aja menakutkan. Tapi selalu menyenangkan kalau dia ada." Kata Widia dalam hati, dan segera Widia melanjutkan tidurnya.
Dan pagi harinya di mana pun Via berada serta Gerry berada, percayalah dunia tidak akan pernah damai. Selalu saja ada rengekan dari Via yang membuat seantero ruangan menutup telinga nya. Begitu pun dengan Gerry yang iseng.
"Geroooong, ahk elaaah Via mauuuuuu." Jerit Via yang sudah membahana.
"Enggaaaak, udah sana. Pokok nya Via boleh makan nanti siang."Balas Gerry yang mengambil jatah breakfast Via.
Widia yang mendengar kan akan gal itu sudah biasa dan hafal banget sama kelakuan ajaib Gerry dan Via. Setelah Via uring - uringan atau lebih dikenal merengek makan. Gerry sengaja membuat Via kelaparan dan mengajak Widia serta Panji untuk makan siang. Tidak lupa juga membawa Via yang sudah kelaparan.
" Gue traktir tapi satu syarat harus di penuhi?" Tanya Gerry dan sambil merangkul.
"Iyaaaaaaaaah, Via lapeeeeeeer" Kata Via yang sudah memelas mukanya.
"Batalin ke Himalaya, gue traktir sepuasnya." Kata pamungkas Gerry.
"Mending an Via kelaparan daripada batal." Bales Via dan pergi meninggalkan Gerry serta Widia.
Via merenungkan obrolan dengan Gerry, namun ke kerasan hatinya tidak mudah dapat dikalahkan Gerry begitu saja.
"Viii.. Nih sandwich. Buat ganjel dulu." Sapa Panji yang sempat membuat kikuk Via ke Panji.
"Hah, Makasih Panji." Balas Via yang masih kikuk dengan Panji setelah kejadian kemarin.
"Sorry yah Panji, Via terlalu kasar dengan Panji." Kata Via lagi mencoba memulai pembuka pembicaraan dengan Panji.
"Panji yang harusnya minta maaf, karena merusak keadaan." Bales Panji dan bak air mengalir Via mulai beradaptasi dengan Panji yang termyata menyenangkan sekali, ngobrol mengenai banyak hal.
Di sisi lain Gerry dan Widia menikmati Makanan yang sudah disiapkan. Makanan kesukaan mereka tidak lebih dan kurang Lè Petite Foie Gras, yang dipadu dengan anggur merah chandon membuat makan siang menjadi bermakna.
"Wid, gue nggak yakin Via bakal batalin niat nya?" Kata Gerry membuka pembicaraan kepada Widia mengenai pendakian tersebut.
"Well, gue punya rencana paling jitu." Kata Widia dan mereka berdua akhirnya berdiskusi mengenai masala ini.
"Kuping Via lebih cepat mendengar suara - suara aneh." Balas Gerry yang meyakinkan Widia bahwa usaha selanjutnya akan ada penuh drama kumbara.
"Percaya gue, Ger! Ini gak akan bikin drama kumbara." Kata Widia yang meyakinkan Gerry.
Setelah makan siang, mereka akhirnya kembali ke negara masing-masing. Gerry ke German, Via ke Switzerland. Dalam perjalanan Gerry merenungkan perkataan Widia agar jujur dengan perasaan, namun Gerry terlalu takut akan kehilangan Via.
Sementara Widia bersama Panji kembali ke apartment yang disediakan kantor di Paris.
"Wid, Via sudah punya pacar belum?" Tanya Panji tiba - tiba. Widia yang mendengarnya sudah tidak kaget lagi.
"Naksir yak?" Ledek Widia yang membuat Panji salah tingkah.
"Udah apa belum, Wid." Desak Panji ke Widia.
__ADS_1
"Lu kan kenal sama Yudha. Nah itu pacar nya Via sekarang." Kata Widia tanpa basa basi ke Panji saat mereka tiba di Paris.
Mendengar itu pun Panji menjadi putus harapan karena Yudha pria yang mengisi hati Via. Sebenar nya Widia ingin Panji dekat dengan Via. Namun Via masih belum bisa memilih antara Yudha dan Willy.
Dari pada memakan korban mending di infokan terlebih dahulu.
"Wid, terus hubungan elu sama si Romi bagaimana?" Tanya Panji tiba - tiba.
"Udah gak mau bahas lagi, lebih baik tutup buku." Kata Widia dengan muka santai.
"Tapi kayaknya elu lagi deket sama Rendy?" Selidik Panji yang tiba - tiba menjadi kepo.
Tanpa di jawab pertanyaan nya Panji, Widia langsung masuk ke kamar. Widia sedang dekat dengan pria berkebangsaan Mesir, namun belum berani di ungkapkan.
Waktu terus berputar akhirnya....
Drrrrrrrrrtttttttt.... BBM Via bergetar heboh...
Yudha: Uda ke airport belum?
Via: Udah.
Yudha: See you soon sayang.
Via: See you ❤
Percakapan terakhir sebelum boarding, kali ini pulang kampung terasa menyenangkan.
Via akhirnya membuka hati ke Yudha dan berusaha melupakan Willy.
Sementara di Paris seperti biasa ada yang hampir ketinggalan pesawat untuk pulang kampung. Sementara Gerry sudah tiba terlebih dahulu di Indonesia.
18 jam perjalanan Paris - Jakarta membuat Widia jetlag, sama Hal nya dengan Panji. Entah mengapa Panji bersikukuh ingin ikut pulang kampung.
"Ayoo, kita naik damri." Kata Panji namun Widia mencari - cari sosok yang sudah 3 bulan tidak bertemu.
"Bentar, Princess Kodok udah landing katanya. Soalnya kita pulang bareng dia nih." Kata Widia yang sambil mencari - cari Via. Buntelan berwarna pink pasti lagi repot dengan bawaan nya.
Panji pun ikut tersenyum ketika Via di mention oleh Widia. Setelah 20 menit menunggu dan mencari, akhirnya Via keluar juga dengan tas koper pink nya dan serta aksesoris bantal leher tidur berwarna pink juga.
"Viaaaaaa" Panggil Panji yang melihat Via seperti orang mencari - cari sesuatu.
"Heiii, Panjiii" Balas Via dan Ketika mendengar suara cempreng Via. Widia langsung tersenyum melihat buntalan berwarna pink tersebut. Yang sedang mendorong- dorong koper nya dan penuh senyum yang lebar.
Sambil menuju jalan keluar dan di depan pintu kedatangan ada sesosok pria dengan membawa Bunga Lily pink kesukaan Via. Dengan senyum merekah Via menghampiri pria tersebut.
"Maaf lamaaa, Via tadi salah ambil bagasi." Kata Via dengan cerewetnya.
"Yuk kita pulang, si bebih ikut?" Tanya si Pria tersebut yang ternyata Yudha.
"Ikut dong! Enak ajah gue di tinggal." Sahut Widia tiba - tiba. Dan langsung memeluk Yudha tanda persahabatan yang membuat Panji sedikit kesal. Karena melihat Yudha dengan segala atributnya.
Yudha pun memeluk hangat Widia, yang telah membantu dia mendapatkan Via. Lalu mata Yudha tertuju pada sosok Panji yang ada di dekat Widia dan setengah memanggil.
"Panjiii?" Tanya Yudha yang sedikit heran.
"Iyah, gue Panji." Jawab Panji dan Yudha...
"Pa kabar bro?" Tanya Yudha yang merangkul Panji dengan serunya.
"Baiiik, jadi playboy kelas kakap nya SMU Sang Timur Bogor di taklukin sama Princess ini?" Jawab Panji sekaligus meledek Yudha.
__ADS_1
"Oooooh emang udah playboy yah... Hmmmnnn..." Sindir Via ke Yudha dan menatap nakal ke Yudha walau dalam hatinya terkekeh melihat muka Yudha yang sudah memerah akibat Panji.
"Ahk, jangan dibuka dong di depan calon istri gue. Kan gak enak yah?" Bales Yudha membuat Panji sedikit menyesal meledek Yudha.
"Calon istri? Semua cewek elu bilang calon istri." Kata Panji dan Yudha merasa di skak mati oleh Panji.
Setelah bercengkrama akhirnya mereka menuju mobil Yudha dan pulang ke arah Bogor. Well, cerita zaman SMU Yudha membuat Via terkekeh sama kelakuan Yudha.
3 jam perjalanan tidal terasa dan akhirnya tiba dikediaman Yudha.
"Sambil menunggu Gerry, bagaimana Nyonya Ardrian Yudha masak makan malam?" Kata Yudha sambil menggoa Via.
"Apaan? Nyonya?" Tanya Widia ke Yudha dengan muka Anehnya.
"Iyah beb, bentar lagi kita saudaraan." Kata Yudha dengan nakalnya.
"Bijimane ini? U kan masih suka nge like foto cewek - cewek di Friends Book." Bales Widia yang mencoba melihat reaksi Via yang melihat Yudha diserang.
"Ya owoh! Kagak ada beb. Parah lu!" Jawab Yudha melihat Via sudah memasang muka tidak enak.
Via menuju dapur dan berpura - pura marah ke Yudha. Ketika melihat Via yang cemberut karena kesal Yudha langsung menyusul menjelaskan semua yang Widia katakan.
Jangan tanya Via, dia hanya berpura - pura marah. Karena sebenarnya Via tau apa yang Yudha lakukan, namun Via pengen Yudha yang bercerita.
Makan malam terasa hangat dan banyak canda juga tawa. Sementara Gerry yang ditunggu belum juga dateng. Panji dan Widia pamit untuk istirahat di rumah nya Yudha.
Yudha tidak menyia - nyiakan kesempatan untuk bersama dengan Via.
"Sayang, maaf aku berbohong mengenai like di friends book." Kata Yudha penuh dengan penekanan rasa bersalah.
"Siapa yang bilang kamu bohong? Kamu merasa?" Tanya Via yang berpura - pura curiga.
"Aku sih merasa ngebohongin kamu. Jujur aku cuma temenan kok dan sekedar like saja." Jawab Yudha dan muka Yudha semakin memelas.
"Sayang, aku gak marah kok. Aku tahu kamu sering nge love atau nge like cewek- cewek tersebut." Kata Via dalam senyum yang penuh arti.
"Kok kamu diam? Apa aku close ajah akun friend book ku?" Kata Yudha mencoba mencari titik terang.
"Buat apa? Aku diam karena kamu yang suka cerita tentang cewek yang kamu love atau like di friend book." Kata Via yang memeluk Yudha dan Yudha langsung memeluk Via.
"Hati mu terbuat dari apa Novia Heidi? sehingga kamu bisa seperti ini? Sungguh bodoh dirimu William! Menyia - nyiakan Wanita seperti ini" Kata Yudha dalam hati dan memeluk Via semakin erat.
"Sayang, aku janji akan selalu bikin kamu menjadi prioritas ku." Kata Yudha membuat Via semakin tersenyum.
"Jangan berjanji ketika kamu lagi bahagia. Berjanjilah ketika kamu waras." Kata Via yang membuat Yudha memeluk Via semakin erat.
°
°
°
°
°
°
°
Maaf lama update, karena author kemarin hilang sinyal. please comment dan like nya yah!
__ADS_1