
Setelah menuliskan "Tous les Jours mon Tinkerbell"* sosok tersebut menyunggingkan senyum dimana dia telah menemukan apa yang dicari.
Tous les Jours mon Tinkerbell \= Setiap hari Tinkerbell ku.
Jelas saja Via langsung terlihat pucat ketika membaca tulisan tersebut. Via sangat mengenal dengan baik dan lama. Namun berbeda dengan pagi ini yang membuat Erick bersemangat menjalani hari - hari. Karena Via setuju untuk pindah ke Paris karena Disneyland Resort ada program baru.
Mau tidak mau Via harus ikut pindah bersama dengan Erick. Bagaimana pun anak - anak membutuhkan papah nya. Setelah berdiskusi panjang dengan Erick, Via menitipkan anak - anak bersama dengan Erick untuk berbelanja kebutuhan mereka selama seminggu kedepan.
Via pun memesan taxi dan langsung menuju supermarket yang di maksud. Tidak lupa dengan coupon ditangan nya. Permainan coupon selalu menantang buat Via, tidak untuk Erick yang selalu tertekan melihat angka pada mesin kasir.
"Selamat pagi bu Novia, boleh minta foto nya?" Tanya kasir yang sudah melihat Via dari jauh.
Muka tersenyum dan memamerkan lesung pipi nya lalu memulai pertarungan dengan mesin kasir. Semua orang melihat belanjaan Via yang luar biasa dan membuat tercengan.
"Total belanja hari ini 2,836 Euro. Mau dibayar menggunakan debit atau credit?" Tanya kasir tersebut dan di seringai senyum kemenangan.
"Saya bayar pakai coupons, yah." Balas Via yang tidak mau kalah dengan menang telak.
Bagaikan petir di siang bolong sang kasir melakukan scan code coupons hingga memotong jumlah belanjaan Via. Karyawan supermarket tahu kalau Via sering menggunakan coupon diskon untuk berbelanja bulanan atau mingguan. Jadi mereka sangat hati - hati kalau Via sudah belanja banyak.
Entah mengapa berasa menyenangkan untuk Via yang hobby sama voucher. Setelah selesai memindai voucher, semua barang masuk ke mobil delivery yang sudah siap mengantar barang ke apartment Via dan Erick.
Suasana hati nya senang dan bangga pada diri nya, ketika menyelesaikan game yang menegangkan. Sedikit pun tidak meleset tebakan Via. Sehingga Via memutuskan untuk berjalan kaki di taman lalu pulang untuk membereskan sisa - sisa perang dan barang jarahan.
Disudut taman ternyata ada yang memperhatikan Via, dan merasa ini takdir yang mempertemukan nya kembali. Sambil berjalan mendekati Via lalu mengikuti cara jalan Via yang dikenal nya belasan tahun lalu.
"Hi, Tinkerbell." Sapa orang tersebut dan sontak membuat Via langsung memucat.
"Nama saya Novia, bukan Tinkerbell." Jawab Via yang sangat angkuh dan penuh dendam.
"Oh, hai Novia." Sapa ulang orang tersebut.
...Via hanya melihat penuh kebencian hingga tidak ada keramahan yang terpancar dari mata nya....
__ADS_1
Orang tersebut masih melihat dengan seksama muka Via yang sama sekali tidak berubah hanya bertambah dewasa saja.
"Selamat yah, sudah jadi ibu. Semoga kamu bisa membimbing anak mu lebih baik." Kata orang tersebut.
"Kamu tidak perlu susah - susah untuk mengatakan nya, saya bisa menghadapinya. Kak DEWIN." Jawab Via yang mulai keringat dingin menahan amarah yang ingin meledak.
"Baiklah, saya pamit kalau begitu." Jawab Dewin yang melihat Via sudah tidak nyaman.
Dewin merasakan sakit yang luar biasa ketika melihat Via masih saja menatap dendam dirinya. Bayangan itu kembali menghantui Dewin ketika Via menemukan potongan masa kelam Dewin;
*Via masih dengan wajah nya yang datar dan seperti menyimpan banyak rencana jahat dalam dirinya. Segera mungkin Dewin mengambil tangan nya Via,
“Vi, kita tidak jadi ke Swiss?” Tanya Dewin dengan hati – hati sekaligus mempersiapkan hati dengan jawaban Via sering kali out of the box.
“Aku tanya sama kamu, sekali lagi dengan tegas. Apakah kamu menyembunyikan sebuah rahasia dari diriku?” Tanya Via yang sibuk memilih film bagus untuk di tonton saat penerbangan panjang serta dengan enggan nya menatap wajah Dewin saat diajak bicara bersama.
“Aku memang nya menyembunyikan apa? Bukan kah semua kamu tahu mengenai pernikahan kita.”Jawab Dewin berusaha meyakinkan Via dengan jawaban Dewin saat ini walaupun sangat ambigu. Dewin pun akhirnya menarik wajah Via untuk menatap mata nya ketika membicarakan hal ini.
“Hehh..” Keluh suara Via yang sudah malas mendengar kata – kata Dewin saat ini, yang masih saja menyembunyikan masalah atau mungkin lari dari sebuah masalah seperti biasanya.
“Aku sudah sangat jelas dengan semua maksud ku. Kamu saja yang berlibet dengan jawaban nya, seolah menutupi sesuatu. Aku akan langsung kepada intinya saja deh kali ini, jadi kamu bisa menentukan jalan hidup mu kedepan nya. Kamu akan pilih Sisca atau aku?” Tanya Via dengan harap – harap cemas menunggu jawaban Dewin dari hati terdalam Dewin.
“Kasih aku waktu untuk berfikir, aku cuma tanya sama kamu. Apa yang kamu temukan saat ini sehingga membuat ku terpojok?” Jawab Dewin sekaligus mencoba membela diri dari pertanyaan Via yang memojokan dirinya kali ini, Dewin kali ini salah prediksi mengenai Via yang dia kenal sekarang.
Perjalanan panjang yang di tempuh Via dan Dewin membuat mereka berdua berfikir, bahkan Dewin memikirkan terus apa yang terjadi, jika Dewin memilih salah satu dari mereka berdua. Dewin masih sayang dengan Via, namun tidak dipungkiri juga kalau Dewin sebenarnya masih sayang sama Sisca. Bahkan bisa di bilang belum sanggup meninggalkan Sisca yang selalu mengancam Dewin akan bunuh diri jika meninggalkan Sisca.
Maka karena alasan inilah Dewin pergi meninggalkan Sisca seorang diri dan menetap di Korea Selatan. Namun ternyata semesta berkata lain dan tanpa di sangka – sangka ketika Dewin sedang berada Seoul National University untuk negosiasi, malah bertemu Via yang sedang meregister ulang keberadaan nya sebagai mahasiswa S2 Hukum International – sub International Boundries. Ingatan itu kembali hangat dalam pikiran Dewin, namun lain hal nya dengan Via yang masih memasang wajah datar nya*.
Bayangan itu sangat jelas dimana Dewin kehilangan Via untuk selamanya. Hingga hidup dalam rasa bersalah. Tanpa disadari oleh Via, Dewin sering membantu Via. Walaupun Dewin tidak ingin terlihat membantu Via.
Dewin pun senang membantu Via dari jauh dan menjaga nya. Tanpa harus Via dan Erick mengetahui dengan pasti. Berjalan di taman setelah bertemu dengan Via, Dewin kembali ke Apartments nya.
...----------------...
__ADS_1
"Sayaaaaang, kamu ke minimarket dih. Tolong beliin cereal anak - anak." Teriak Claudia yang membahana ruangan.
"Okay!" Balas Gerry yang mengambil jacket dan langung menuju minimarket yang dimaksud Claudia.
Namun saat melihat di ujung jalan dan Gerry sangat mengenal sosok itu. Sosok dimana ingin sekali kepala nya di sliding sama Gerry. Dengan cepat Gerry mengikuti langkah kaki tersebut.
"Niat banget sih harus jadi penguntit?" Kata Dewin saat berasa di ikuti dari arah belakang.
"Hanya memastikan bahwa orang yang di depan saya tidak mengganggu kebahagiaan orang lain" Jawab Gerry dengan nada penuh dendam.
"Tenang, saya tidak sekeji itu. Saya tidak akan mengambil apa yang bukan hak saya. Lagi pula, wanita tersebut masih ingin saya mati." Jawab Dewin sambil masuk kedalam minimrket.
Gerry penasaran dengan apa yang Dewin katakan tadi. Setidak nya menjawab semua pertanyaan yang sangat konyol waktu dahulu tidak bisa ditanyakan.
"Posisi kita bukan nya sama yah? Menjaga jodoh orang dan beruntung nya saya lebih baik." Sindir Gerry yang mengikuti Dewin dari arah belakang.
"Setidak nya saya menikahi pujaan hati, ketimbang hanya memakai pujaan hati sebagai pelampiasan" Balas Dewin yang tidak mau kalah nge gass nya.
"Setidak nya juga, saya masih berhubungan baik sama pujaan hati karena pilihan saya tepat dan tidak mengorbankan pujaan hati." Balas Gerry lagi dan membuat Dewin menatap Gerry yang masih berdiri dibelakang Dewin.
Dewin mengajak Gerry untuk duduk tenang di dalam cafe mini market. Memesan kopi dan sepotong roti croissants, Dewin melihat Gerry yang sangat tidak ramah terhadap dirinya.
"Saya tidak pernah mengorbankan Via, namun pada kenyataan nya Via memilih jalan nya sendiri." Kata Dewin dalam membuka percakapan yang hanya diam selama 15 menit setelah memesan kopi.
"Hah, aneh. Via memilih jalan nya tanpa ada sebab?" Jawab Gerry yang mengenal Via dengan baik.
Selama 1 jam Gerry mendengarkan penjelasan Dewin sebagai pelengkap cerita yang hilang. Naluri sebagai kuasa hukum menilai apa yang di sampaikan Dewin dan bukti - bukti nya yang valid membuat Gerry menjadi percaya.
°
°
°
__ADS_1
Terima kasih atas dukukungan nya, jangan lupa like, comment, love dan vote yah.