
Semula ingin cuek dengan apa yang Ben lihat. Namun akhirnya Ben semakin tenggelam dalam rasa penasaran. Erick menemukan Ben berdiri terpaku dengan menatap tajam wajah yang ada di foto tersebut.
"Itu mamah Thata, sahabat bunda zaman SMU. Sebelah nya Opa kamu, sebelah nya lagi buyut kamu. Sebelum kamu lahir dan ayah menikah sama bunda mu. Opa dan mamah Thata pergi ketempat lebih baik." Kata Erick yang mengagetkan Ben ketika menatap foto tersebut.
"Kalau sekarang tinggal oma doang kan? Kita juga tau, buyut ku pergi ketika aku masih kecil." Tanya Ben ke Erick dan di jawab pun dengan anggukan kepala Erick.
Erick pun ikut menatap semua foto tersebut, lalu menemukan foto ketika Via dan Erick bertemu pertama kali. Pertama kali juga Via merebut perhatian nya sebagai seorang perempuan.
"Ben, kamu mau lihat kan. Pertama kali ayah mu bertemu dengan bunda?" Tanya Erick yang matanya masih menatap wajah Via dalam foto tersebut.
"Aku sudah lihat kok." Jawab Ben dengan tegas.
"Ini, pasti kamu tidak memperhatikan ini." Balas Erick menunjukan foto tersebut lalu gantian Ben yang terkaget melihat foto bunda nya.
Dilihat nya secara seksama dan masih tidak percaya dengan wajah bunda nya.
"Kan, ayah juga bilang apa? Ayah dapat bunda berkah. Bunda dapat ayah musibah." Kata Erick yang sedikit berguyon dengan sang anak.
"Kalian tuh kayak anak muda ajah. Penuh dengan perbudakan cinta." Kata Ben yang geleng - geleng kepala.
Setelah berguyon dengan Ben, tiba - tiba mata Erick menemukan foto dimana ada bagian yang di robek. Yah, foto ketika Via dan Dewin melakukan pernikahan. Hati Erick bersyukur tidak bertemu dengan Dewin lagi.
"Ahk, sudah 28 tahun tidak bertemu dengan pria yang merusak Via. Tetapi bagus lah, jodoh tidak akan kemana - mana." Kata Erick dalam hatinya.
Mudik ke Geneva, Switzerland membuat suasana hati Via dan keluarga kembali membaik. Selama seminggu penuh mereka berada disana. Seminggu pula Via melakukan kesepakatan dengan United Nations untuk memberikan donasi.
Setelah mudik ke Geneva, Switzerland dan kembali ke Los Angeles, California. Keluarga Via akhirnya sibuk dengan kegiatan nya masing - masing. Seperti biasa Erick masih bekerja dengan Disneyland Resort, Ben melanjutkan S2 ke UCLA management of human resources dan si bungsu Shasha menyelesaikan Food Engineering di Le Cordon Bleu - Paris, France. Semua kembali pada rutinitas masing - masing di tempat.
Kebiasaan Via yang senang menggunakan kendaraan umum sering di protes oleh kedua anak nya. Namun berbeda untuk pagi ini yang secara suka rela diantar oleh Ben menuju kantor United Nations.
Perasaan Erick sangat kacau hari ini, entah mengapa. Beberapa kali Erick menghubungi Via namun tidak tersambung. Ben yang masih menyetir kendaraan nya dan memarkir kendaraan nya di kantor Via. Begitu turun dari mobil, Via mendapat serangan dari orang yang tidak dikenal.
"Pergi kalian! Kalau tidak wanita ini saya bunuh." Teriak lelaki bertubuh tegap dan perawakan putih.
"Bundaaaaaaa..." Teriak Ben yang membuat Via panik melihat Ben sudah mengambil ancang - ancang.
Ben yang juara Taekwondo dan dilatih khusus sama Gerry. Terus memantau pergerakan si penyekap bunda. Polisi pun akhir nya berhasil melumpuhkan penjahat namun Via harus terkena luka 3 tusukan di bagian leher dan perut.
Pihak medis pun langsung membawa Via ke rumah sakit. Alat vital Via semakin melemah, tangan Ben terus menggenggam tangan Via. Teriakan Ben memanggil Bunda nya membuat Via terus bertahan.
Erick yang mendapat kabar pun lemas dan pingsan. Gerry, Widia, Dyandra langsung menuju rumah sakit untuk mengetahui keadaan Via dan Erick.
"Ahk, Erick gak bisa lihat Via di rumah sakit. Persis ketika 25 tahun lalu menunggu lahiran nya si Ben dan Shasha. Pingsan!" Ledek Widia untuk menghibur karena suasana hatinya kacau.
Pihak kepolisian pun meminta keterangan dari Ben di dampingi oleh Gerry sebagai kuasa hukum. Sementara Shasha terburu - buru menuju airport untuk pulang ke Los Angeles, California.
__ADS_1
Wajah sembab nya sudah tidak dipungkiri lagi, Shasha sangat takut kehilangan sang bunda. Perjalanan 8 jam terasa lama sekali, berkali - kali Shasha menyeka air mata dan berdoa tak pernah putusnya.
"Ben, tenang. Ini bukan pertama kali bunda mu mendapat serangan ini." Kata Gerry berusaha menenangkan Ben.
"Pah, aku sih tenang. Aku percaya kok bunda kuat." Jawab Ben yang menegar kan dirinya.
Erick pun tersadar dari pingsan, melihat keadaan Via yang mematung. Membuatnya tidak berhenti memandang terus pergerakan nya. Bolak - balik dokter ditanya oleh Erick, bagaimana kondisi terkini Via.
"Vii, kamu janji loh kita menua bersama. Bukan kamu yang pergi duluan.."Kata Erick di depan ICU rumah sakit memandan wajah Via.
Ben melihat ayah nya sangat sedih, tidak lama Shasha datang bersama team United Nation. Dengan jelas sekali guratan wajah nya yang habis nangis, dan sementara Erick yang belum istirahat dengan benar akibat memantau terus keadaan Via.
...----------------...
Sudah 7hari Via masih diruang ICU dan terpasang alat - alat penopang hidup. Sudah seminggu juga kasus penyerangan Via yang menghebohkan dunia, hingga semua pemerintahan turut mengecam kejadian tersebut.
Kepolisian menetapkan tersangka penyerangan Via murni tidak disengaja. Memang diakui akhir - akhir inj banyak remaja yang melakukan penyerangan akibat depresi.
" Seandainya Via sadar, pasti Via akan mengunjungi remaja tersebut lalu memberikan dukungan."Kata Widia disela - sela diskusi dengan Jerias, Gerry, Claudia, Dickson dan Dyandra. Karena kasus tersebut tidak bisa dibilang 100% kesalahan remaja tersebut.
Peran orang tua dan lingkungan sangat berpengaruh juga dalam keadaan psikologis sang remaja tersebut.
"Permisi... Saya mencari suami Novia Heidi, apakah ada yang bisa sambungkan?" Tanya Suster yang mencari keberadaan Erick.
Ben mencari ayah nya tapi akhirnya mengambil alih karena melihat keadaan sang ayah juga.
"Kami akan meminta darah untuk ibu Novia, semetara stock darah kita sedang kosong, untuk golongan darah seperti golongan darah ibu Novia." Kata Suster menjelaskan.
Shasha mencari golongan darah O yang beresus negative. Sangat susah sekali dan membuat Ben hampir menyerah, diantara keluarga Via pun. Hanya Via dan papahbnya beresus Negativ.
...----------------...
Drrrrrttt....
"Halo pak, saya mau informasi. Pasien yang anda cari sudah saya temukan. Bu Via dirawat di rumah sakit Los Angeles, California. Saat ini beliau kekurangan darah." Lapor orang yang ada di ujung telephone.
Sedangkan di ujung telephone satu lagi mendengarkan secara seksama. Lalu menghubungi sahabat nya direktur rumah sakit tersebut.
"Halo..." Sapa seseorang diujung telephone yang tidak melihat nomor yang masuk di layar.
"Melv, gue butuh bantuan elu sekarang." Kata seseoarang di telephone satunya.
"Yaelah, Win. Gue kira siapa?" Jawab Melvin yang mengenal sahabat karib nya ini.
"Via kan? Gue bantu. Dia butuh darah golongan darah O rhesus negative." Tebak Melvin langsung kepada pokok nya.
__ADS_1
"Gue minta tolong, tidak ada yang boleh tau kalau gue bantu Via." Kata Dewin memberitahu Melvin.
Dewin akhirnya menuju rumah sakit dan menuju ruangan Melvin. Sejumlah orang sudah bersiap untuk mengambil darah dewin.
"Win, sekalipun elu nolong Via. Pendarahan Via cukup parah. Lagi pula tidak bisa menolong jika gue ambil 2 kantong ke elu." kata Melvin memperingatkan Dewin.
"Kalaupun elu harus menguras darah gue, buat Via. Gue nggak masalah kok, gue mau dia bahagia." Jawab Dewin yang terus memikirkan keadaan Via.
Proses pengambilan darah 2 kantong selesai dan langsung di distribusikan ke Via. Melihat Dewin sedikit bengong, Melvin memberikan baju ICU dokternya ke Dewin.
"Buat apa ini?" Tanya Dewin sedikit bingung dengan Melvin.
"Well, elu mau lihat Via kan?" Jawab Melvin yang menanyakan balik ke Dewin.
Dewin pun mengganti bajunya dengan cepat. Lalu mengikuti langkah Melvin dari belakang. Sejenak Dewin memperhatikan muka Via yang tidak berubah hanya bertambah dewasa. Dewin pun melihat Erick dari dalam ruangan ICU dan Ben anak Via.
Setelah selesai Melvin berpura - pura memeriksa Via, lalu berjalan cepat ke ruangan. Dewin pun mengikuti dari belakang. Setelah kembali ke ruangan Dewin pun kembali ke apartment nya.
"Kamu tolong beliin bunga Lily berwarna pink. Kirim ke ruangan pak Melvin, lalu kasih pesan untuk ditaruh diruangan ibu Via." Perintah Dewin kepada sekertarisnya.
"Baik pak, saya akan lakukan." Jawab Sekertaris Dewin saat membuka pintu mobil Dewin.
"Lakukan setiap hari. Dan selalu Lily pink segar, pastikan tidak ada yang boleh tau selain pak Melvin saja." Perintah Dewin dengan penuh penekanan.
Melvin mengkordinasikan kepada perawat bahwa ada bunga untuk Via dan bisa diambil diruangan nya. Ben menyadari ketika hari ke dua saat perawat mengganti bunga tersebut.
"Permisi, ini bunga dari siapa yah?" Tanya Ben kepada perawat tersebut.
"Saya hanya diperintahkan mengganti bunga ini saja oleh pihak rumah sakit." Jawab Perawat tersebut dan memberikan senyuman.
Ben menjadi penasaran siapa yang memberikan bunga tersebut. Berkat kemampuan Via yang menurun kepada Ben, Erick adalah orang yang pertama di tanya oleh Ben.
"Yah, aku mau beli bunga buat bunda. Bunda suka bunga apa?" Tanya Ben tanpa sadar Erick terjebak.
"Bunda tidak suka bunga, kamu kan tahu kalau Bunda anti kasih bunga. Ayah ajah yang suka iseng kasih bunda bunga." Jawab Erick yang matanya masih tertuju kepada Via.
"Ohh..." Jawab Ben yang ternyata mengetahui kalau ayah nya masih kurang mengenal bunda.
Sungguh ajaib saat kantong darah ke dua memasuki tubuh Via, pendarahan Via mulai berhenti. Sehingga tidak membutuhkan kantong darah lagi. Sudah hampir 2 minggu Via terbaring tidak sadarkan diri akibat penyerangan tersebut. Selama itu juga Erick dan Ben berjaga saling bergantian.
°
°
°
__ADS_1
°
Like lalu comment terus share dan vote yah teman - teman online. Senang sekali bisa menyapa kalian semua lagi di sini. Terima kasih atas semuanya yah daaaaahhhh