
Setelah berjalan pulang ke guest house KJRI*, Via, Widia dan Gerry langsung menuju kamar masing-masing.
Walau masih pada ketawa mengingat kejadian yang Via alami. Well, Via, Gerry dan Widia langsung pulas mengingat besok adalah pembukaan Christmas Market.
*Konsulat Jendral Republik Indonesia.
Namun ketika dikamar Panji masih terbayang dengan muka Via yang begitu menggemaskan. Baru kali ini ngelihat cewek begitu lucunya.
Berbeda dengan Widia yang sedari tadi sibuk dengan persiapan menuju California, USA. Yah, perjalanan menuju USA tidak mengajak banyak orang seperti kemarin saat ke Afrika Selatan. Fokus utama adalah membawa Via ke Disneyland di California, USA. Supaya tidak ditagih terus janjinya. Via, jika dijanjikan sesuatu pasti akan menagih sampai dapat.
Sehabis dari USA, Widia akan melanjutkan perjalanan menuju ke Himalayan, Nepal untuk pendakian Gunung yang sangat dipuja oleh seluruh anak pencinta Alam. Loh, kenapa tidak bawa Via dan Gerry?
Lebih baik meninggalkan Via sama Gerry daripada Liburan Alam akan terganggu dengan jeritan - jeritan anak manja dari Via. Masih teringat jelas ketika mereka liburan ke Afrika Selatan. Via orang yang selalu bertanya kapan pulang.
Christmas Market dijadikan ajang pekan budaya international. Via membawa kuliner Indonesia di pekan budaya Indonesia. Menu yang dijual berbagai macam. Mulai dari kue - kue kering, hingga makanan berat.
Via menjual Ote-ote (bala-bala/bakwan sayur), gorengan, indomie Goreng, dan tidak ketinggalan nasi goreng. Gerry dengan sigap membantu Via melayani semua pembeli. Widia? Jadi tukang tagih uang buat pembayaran.
"Viiii, gandasturi 1, singkong 1 bungkus." Teriak Gerry dari bangku pembeli.
"Okeeeh" Jawab Via sambil mengelap kringet nya yang mulai bercucuran.
"Wid, meja 3 bayar." Teriak Gerry ke Widia untuk memberikan bill pembayaran.
"Vii, Tahu isi 2, Pisang goreng roa 1." Teriak Gerry lagi ke Via yang menggoreng tahu isi.
Tepat jam 8 malam akhir nya selesai juga, dan masih ada besok hari terakhir. Via hanya mengambil 2 hari sebagai tenant* baru. Widia yang kecapekan duduk sambil mengangkat kakinya.
"Putus nih kaki... lama - lama" Kata Widia sambil memijit - mijit kaki.
"Woooh akhirnya besok terakhir!" Kata Gerry yang mencubit keras pipinya.
"Hi, Ger, Wid, Hi Piduuuth." Sapa Panji yang mulai mengakrabkan diri.
"Don't call me Piduth! You are not my friend to me even more not close to me. You are a Stranger!!" Kata Via dengan mata nggak santai.
(Jangan panggil aku Piduth, kamu bukan teman saya bahkan tidak dekat dengan saya. Kamu tuh orang luar).
Widia yang melihat itu langsung menengahi Via dan Panji. Mendengar kata - kata itu Panji merasa heran kenapa Via begitu cepat berubah.
"Vi, dia hanya nyapa saja loh." Kata Gerry yang meredam emosi Via.
"Via gak suka, dia panggil nama kesayangan Via dari kalian." Jawab Via melotot.
"Viii udah yah, si pong dah say sorry." Kata Widia mulai menengahi. Via pun terdiam ketika Gerry dan Widia bersabda.
Setelah drama mengenai nama Via membereskan barang - barang dan pasokan barang untuk besok. Widia melihat Via sibuk dengan inventory dan duduk di deket meja.
__ADS_1
"Kok belum balik? Via bisa kok pulang sendiri." Kata Via tapi suaranya berubah seperti habis nangis.
"Gue nunggu elu. Kita perlu bicara dikit ajah." Kata Widia yang melihat Via sering membuang muka kala melihat Widia.
"Owkwwkeh" Jawab Via sambil tetap merapikan 1 per 1 barang - barangnya.
20 menit menunggu Via bener-bener rapih pada tempatnya. Dan harus terstruktur rapih pada garisnya.
"Akhirnya selesai juga yak" Kata Widia sambil menggandeng Via di jalan.
"Via butuh koyo! Badan Via poklek banget lowh." Bales Via yang berjalan sekenanya.
"Viii, boleh kasih tau sesuatu?" Tanya Widia secara hati - hati sama princess kodok.
"Via minta maaf. Via janji, Via berusaha menerima orang lain." Kata Via dan sudah menitikan air mata sodara -- sodara sebangsa dan se tanah air.
"Itu kedua, yang pertama gue mau ke gunung Himalayan. Kedua gak perlu janji, tapi coba deh hargai perasaan seseorang." Kata Widia mencoba mencari celah.
"Ke Himalaya berapa lama? Ngapain ke sana? Disana ada signal? Disana makan nya gimana?" Tanya Via ke Widia bagaikan rel kereta api.
"Seminggu disana, mau naik ajah, Masalah makan? Tenang ada makanan kaleng." Widia menghibur Via yang sudah mulai panic.
Via yang panic berusaha menghindar dari tatapan wajah Widia.
"Vi, setiap orang punya ketakutan nya masing - masing. Kalau begini terus bukan kah merugikan?" Kata Widia tiba - tiba menjadi bijaksana.
"Iyah beb, Via salah." Kata Via mengakui kejadian tadi sore saat Panji memanggil Via dengan nama kecilnya.
"Baik, besok Via ke Panji deh. Minta maaf yah?" Bales Via saat sudah mulai tenang memdengar Widia berbicara seperti itu.
Tiba - tiba Widia menjadi iseng, rambut ekor kuda Via di mainin saat jalan bersama. Via? tidak akan marah jika itu Widia atau Gerry.
Namun....
"Viii, kalau gue nanti nggak balik dari puncak gunung. Jangan nangis yah? Gue tau elu setronggg banget." Kata Widia iseng sambil melihat reaksi Via. Muka Via mendadak berubah lantaran Widia mengatakan ini.
Wajah manis Via berubah menjadi setengah merah padam karena ketakutan itu datang lagi.
"Kalau gitu Via ikut!" Kata Via yang tiba - tiba bersuara.
"Nggak, ntar elu nyusahin. Kita ke Disneyland ajah yah?" Kata Widia yang melihat Via menjadi posesif.
"Pokoknya Via ikut!" Via sudah mulai memaksa, dan Widia merasa menyesal ngeledek Via seperti ini.
Widia terdiam dan memikirkan perubahan pembicaraan sebelum Via semakin memaksakan kehendaknya. Yah, seperti biasa Via selalu memaksakan kehendaknya.
"Iyah elu ikut. Ntar gue kasih info perjalanan nya + tiketnya. Janji nggak nyusahin dan jerit - jerit." Kata Widia akhirnya mencoba menenangkan Via.
__ADS_1
"Beneran Bebih? Via ikut?" Kata Via dengan mukanya yang mengembang senyuman nya.
"Iyeeeh! Bawel dah." Kata Widia yang sudah mulai kesal.
"Wohoooohooo, akhiiiirrr nyaaa bebih setuju akhirnya bebih setuju..." Kata Via yang diulang - ulang sampai di Guest House KJRI.
Gerry yang melihat dengan heran langsung menanyakan ke Via.
"Wih senang banget ini muka?" Kata Gerry sambil ngambil minum.
"Via mau naik gunung Himalayan" Bisik Via yang gembira sehingga gerakan nya lucu bak anak remaja.
Dengan cepat tangan Gerry mencubit pipi tembam nya Via. Sepertinya Via langsung menjerit.
"Auuuuuuuuh" Rintih Via yang kesakitan dicubit sama Gerry.
"Biar sadar yah! Gak usah bikin rusuh lagi. Mandi sana, bau nya semerbak." Kata Gerry yang memberikan perintah.
"Siap grak!" Via langsung berpaling dari Gerry menuju kamar mAndi.
Saat mandi perabotan lenong pribadi nyemplung ke wastafel saat Via mengambil underwerarnya. Dengan kecepatan suara Via jerit ke Widia namun Gerry yang datang. Widia dan Panji sedang ada di luar lagi berbicara serius.
"Ini kolor elu." Gerry memberikan under wearnya Via berwarna hitam.
"Via kan bilang Gerry warna pink. Ambilin cepetaaaaan" Jerit Via lagi dan ditambah sedikit nangis.
"Nggak, Pake itu! Mau pake sendiri apa gue yang pakein ke elu?" Bales Jeritan Gerry yang gak kalah membahana.
"Nggak, sama Geriks hiks hiks hiks." Kata Via yang sesegukan.
"Pake cepetan. Gak usah rusuh!" Kata Gerry Lebih tegas lagi dan makin membuat Via ketakutan.
Dengan terpaksa Via memakainya dengan sesegukan. Gerry yang melihatnya gak tega Namun demi Via juga.
"Tidak semua yang Via inginkan Gerry kabulin. Via harus bisa menjadi normal, perfectionis boleh tapi merugikan banyak orang. Ngertikan yang Gerry maksud." Kata Gerry yang di sertai senyuman Via yang masih belajar Jangan terlalu perfect demi masa depan yang ada....
°
°
°
°
°
°
__ADS_1
°
Di komen yah 😊🙏 dan Di Like juga 👍