
Widia dan Gerry sudah mulai berkomunikasi dengan lancar seperti biasanya, Jerias pun akhirnya bertemu secara pribadi dengan Gerry. Disana Gerry mulai memahami sikap dari Jerias yang ternyata sangat menyanyangi Widia, berulang kali Gerry melihat status profil BBM nya Via yang baru di ganti dengan foto ber empat bersama Yudha dan Grandma nya membuat Gerry ingin berkomentar.
"Komen dong, gue baru ini komen." Ledek Widia yang melihat Gerry bolak - balik melihat status profil dari BBM nya Gerry.
"Nggak, nanti ajah." Balas Gerry yang menyeruput minuman nya sambil memainkan matanya karena tertangkap basah oleh Widia.
"Pinjem ponsel lu." Kata Widia lalu tanpa basa - basi ke Gerry lalu memberikan ponselnya dan dengan cepat Widia menghubungi Via melalui ponsel nya Gerry.
Drrrrrrrrrrtttttttttt......... Drrrrrrrrrrtttttttt.........
Gerry Putra Al Rasyid memanggil...
Via melihat nama Gerry tertera pada ponsel nya seakan jantung akan copot, detakan jantung Via tidak beraturan sama sekali. Well, setelah berdering dengan tiada hentinya akhirnya, Via memberanikan diri untuk mengangkat telepon selulernya.
"Halo duth, dimana u?" Tanya Widia pura - pura panik.
"Kenapa Bebiiiihh ?" Jawab Via ikutan panik
"Cepet kesini. Gue mau bicara sama elu."Bales Widia yang langsung menutup telephone selulernya Gerry.
Via yang panik, akhirnya meminta supir omanya mengantar Via ke Stasiun Kereta Bandung. Sambil menunggu kereta yang akan membawa nya ke Jakarta, Via yang asik mendengar Mp3 nya yang berbentuk Minnie Mouse hasil pembelian ketika di Disneyland Paris.
Akhirnya kereta nya datang, Via yang duduk di kelas bisnis dekat dengan jendela dengan santai melihat arah luar.
Hampir saja Gerry tahu kalau Widia menelpon Via. Untung saja panggilan nya di hapus setelah di kembalikan ke Gerry.
Drrrrrttttt BBM Widia bergetar karena pesan masuk.
Via: Baru setengah jalan. Mungkin 2 jam lagi akan sampai.
Widia: Okeh! Gue tunggu di Restaurant Italian. Ini alamatnya.
Widia: Send IMG_01099
Via: Noted.
Setelah menerima kabar dari Via, ...
"Sayang, kamu balik ke hotel dulu. Nanti aku nyusul." Kata Widia tiba - tiba ke Jerias dan membuat Gerry heran.
"Gak apa - apa kok, Wid. Nyantai ajah kali."Kata Gerry sedikit curiga.
"Aku mau ngomong pribadi dengan Gerry, ini masalah Via." Bales Widia dan akhirnya Jerias pamit pulang dengan taksi yang dipesan.
"Well, kita pindah resto Ger." Ajak Widia membuat Gerry semakin heran dengan kelakuan Widia.
Tanpa pikir panjang Gerry menuruti perkataan Widia yang entah mengapa mempunyai daya magis tinggi. Sehingga Gerry menuruti permintaan nya.
"Ger, elu masih sayang kan sama Via?" Tanya Widia tanpa basa - basi saat ada di dalam mobil.
"Masih, kenapa?" Jawab Gerry yang sudah mencurigai Widia.
"Via, bentar lagi sampai di resto itu. Kita selesain masalah Jerias. Lalu kita bahas masalah elu dan Via." Lanjut Kata Widia yang melihat muka Gerry yang mulai pucat saat membahas Via.
Widia dan Gerry tidak begitu lama menemukan Restaurant Italian yang ada di Kemang, restaurant tidak terlalu rame dan bisa private. Apalagi Italian Food adalah makanan kesukaan bertiga, selain Japanese dan Padang.
30 menit menunggu Via, akhirnya bocah tersebut datang juga dengan segala atribut yang berwarna pink / merah muda.
"Bebiiih..." Jeritan khas Via saat memanggil Widia.
Gerry yang melihat Via langsung kaget dan tidak bisa menyembunyikan rasa kangen dan gengsinya.
"Duttyyyy..." Bales Widia yang dengan cepat mencubit pipi gembul Via yang sudah dia rindukan selama ini.
"Haii Vii." Sapa Gerry berusaha tenang karena melihat Via.
"Mana oleh - oleh gue?" Kata Widia yang langsung menodong Via dengan cepat.
"Hii Ger, Hii bebiiih." Bales Via dengan wajah yang biasa.
"Jadi, kalian berdua bagaimana dengan Jerias?" Tanya Widia tanpa basa - basi yang mengatur makanan yang sudah dipesan tadi.
__ADS_1
"Gue jujur gak begitu setuju, tapi bagaimana pun yah. Kan elu juga yang menjalani hidupnya." Jawab Gerry ketika Widia menanyakan permasalahan Jerias.
"Via setuju, karena Via rasa Jerias orang baik walau dia itu pendiam." Jawab Via dan serempak membuat Gerry dan Widia merasakan horror.
"Maksud elu apa Vi?" Kata Gerry mencoba menegas kan apa yang Via maksud.
"Well, Jerias pertama kali Via liat baik. Orang nya ramah dan pendiam. Nggak kayak Via, bawel kan?"Kata Via yang mengunyah Spaghetti Carbonara tanpa bawang combat dan beef, kesukaan Via ketika dia berada di restaurant italia.
Widia memperhatikan terus Via yang sedang mengunyah makanan kesukaan nya tersebut.
"Bebih, Via tau kalau bebih merasa aneh. Tidak akan ada apa - apa dari Via." Kata Via yang merasakan jika Widia sedang memperhatikan Via.
"Beneran?" Kata Widia mencoba meyakinkan.
"Lalu tahu dari mana kalau Jerias itu pendiam?" Kata Widia mencoba menilik Via.
"Just see his mind and I can tell you that he is a silent reader." Kata Via yang sudah selesai mengunyah makanan nya. Walau di piring masih banyak. Diantara mereka bertiga Via,Widia dan Gerry. Via lah yang paling lama jika makan, selain dia memilih makanan yang bener - bener suka dan memastikan dengan benar pesanan nya lalu hingga makanan nya sampai dan makan butuh 2 jam.
Mangkanya Widia memesan dahulu apa yang Via akan makan. Karena jika Via yang memesan akan terjadi pecah perang dunia ke 10.
"Vi, gue serious nanya nya. Darimana elu tahu kalau Jerias Silent Reader?" Kata Gerry mengulang semua pembicaraan Via.
"Via observe kok ketika dia ngobrol sama kita, Via lihat mata dia tidak lain - tidak bukan memperhatikan siapa yang bicara. Apalagi pas Via berantem sama Gerry." Kata Via yang tidak jadi memasukan makanan nya ke mulut.
Widia dan Gerry akhirnya merasa lega karena bukan hal yang aneh - aneh.
"Thank you piduuth. Emang elu terbaik!" Kata Widia lagi yang merasa lega karena Via sudah memberi lampu hijau.
"Via baru kali ini bisa nyaman ngobrol sama outsider. Setelah kejadian Claudia, dan Panji juga di luar bang Romi." Via melanjutkan omongannya lagi.
"Maksud lu?" Tanya Gerry dengan hati - hati ke Via.
"Via cuma merasa ajah, kalau orang baik past beda pembawaan nya." Jawab Via yang menatap tajam ke Gerry.
"Kalau bang Romi? Via merasakan ketakutan ketika dia mulai bicara. Ada banyak bohong nya." Kata Via mulai jujur dengan apa yang selama ini dirasakan ketika Via bertemu dengan Romi.
Widia pun mulai mengingat kembali prilaku Via ketika pertama kali bertemu. Widia menangkap semua apa yang Via rasakan, ternyata tebakan Via tidak pernah meleset.
"Baik, jika itu alasan nya. Lalu bagaimana dengan Jerias? Apa yang elu rasakan?" Tanya Widia lebih mendetail.
"Apaan hanya nya?" Sentak Gerry yang mulai gemes sama Via.
"Via mau muntah!" Isak Via yang merasa kaget terkena sentakan dari Gerry.
Dengan langkah cepat Via menuju toilet memuntahkan isi makanan nya.
"Kebiasaan kalau kena bentak dikit muntah." Kata Gerry dalam hati melihat Via yang pergi menjauh.
Gerry pun mulai menatap tajam ke arah Widia karena menanyakan mengenai Romi dan Jerias.
"Via tau kok, Jerias tidak satu agama dengan kita. Namun, ketika membandingkan dengan Romi? Sungguh berbeda." Kata Via tiba - tiba setelah sekembalinya dari toilet.
"To the point Vi." Gerry memotong semua nya.
"Intinya Jerias itu baik, hanya saja sikap dia yang pendiam sering membuat kita salah sangka." Kata Via memberikan penjelasan kepada Gerry dan Widia.
"Lalu? Ger, apa elu masih mau berantem sama Via?" Kata Widia mulai membuka pembicaraan mengenai permasalahan dengan Via.
Gerry hanya memalingkan muka karena masih gengsi untuk menyatakan kebenaran.
"Vi.. Mau berapa lama lagi kalian berantem?" Tanya Widia ke Via sambil menatap tajam ke arah mata Via.
Via pun merasa gengsi untuk menyatakan kebenaran apa yang jadi permasalahan kemarin.
"Ini kunci kamar gw, Hotel Ritz Carlton Kuningan." Kata Widia yang menyerahkan kunci kamarnya ke Via, lalu meninggalkan Gerry dan Via untuk berbicara empat mata Dan dari hati ke hati.
"Mau kemana elu Wid?" Teriak Gerry ke Widia yang sudah menghilang dibalik pintu restaurant.
Via masih memandang kearah jalanan karena nggak tau harus bicara apa dengan Gerry.
"Ayoo, gw anter elu ke hotel. Abis itu gw mau ke tempat lain." Kata Gerry yang mengajak Via untuk pulang. Via pun menurut dengan tidak membantah.
__ADS_1
Namun ketika dalam perjalanan....
"Ger, mau sampai kapan?" Kata Via yang memulai pembicaraan.
"Via tahu kesalahan Via dimana?" Bales Gerry yang menanyakan kembali.
"Menurut Via, Via benar kok. Apakah itu dosa? " Jawab Via yang menatap Gerry di tengah kemacetan jalan.
"Kalau menurut Via benar, apa Via bisa mutusin Yudha?" Kata Gerry lagi dan mendesak Via dengan pertanyaan yang membuat Via kaget.
"Gerry telat, hati Via sudah ada Yudha.Via tidak bisa bilang putus dari Yudha." Jawab Via yang kembali menatap jalanan.
"Begitupun juga Gerry, tidak bisa putus langsung dengan Claudia." Bales Gerry yang menambah kecepatan mobilnya.
Setibanya di parkiran hotel, Gerry dan Via langsung menuju kamar yang di kasih Widia. Seperti biasa Via menaruh barang - barang nya di kamar lalu mencuci mukanya. Gerry duduk menatap ke arah jendela yang melihat gemerlapnya malam dari ketinggian gedung.
Via yang melihat Gerry dari kejauhan akhirnya menghampiri dan duduk di pangkuan Gerry.
"Vi, berat. Gemukan yah?" Kata Gerry yang kaget ketika mendapati Via duduk dipangkuan nya.
Tanpa berfikir panjang Via mencium hangat Gerry di bibirnya. Tanpa ragu Gerry pun langsung membalas ciuman Via dan memeluk pinggang Via dengan erat. Via pun tidak kuasa melepaskan hasratnya ketika bersama Gerry. Tangan Via akhirnya bergelayutan di pundak Gerry. Sehingga membuat Gerry mengangkat Via kearah tempat tidur.
Dengan cepat Gerry ada diatas Via yang sedikit tersengal nafasnya saat Gerry menjamah kedua benda sintal Via. Adrenalin Gerry pun semakin berpacu dengan cepat ketika Via sudah mendesahkan suaranya di kupingnya.
Via pun semakin liar tangan nya masuk kedalam baju Gerry dan mulai membuka kancing celana Gerry.
"Vi, ini nggak bener." Kata Gerry mulai sadar saat Via memegang bagian sensitive Gerry.
"Kenapa? Dosa kah?" Kata Via mulai menantang Gerry dengan membuka kancing bajunya Via dan melepaskan pakaian nya.
"Kenapa Gerry ga mau?" Kata Via mendekatkan dirinya yang sudah tidak ada sehelai benang.
Pikiran Gerry semakin kalut dan menelan ludah dalam - dalam melihat Via kenapa bisa seberani ini. Via semakin mendekat kan diri ke Gerry lalu menciumi leher Gerry dan mulai melepaskan baju Gerry hingga tidak tersisa apapun. Gerry pun menelan ludah semakin dalam karena perbuatan ini salah.
Via semakin liar, entah belajar darimana.
"Vi, kita punya pasangan masing - masing." Kata Gerry yang mulai menyadarkan Via.
"Bukan kah ini yang Gerry selalu lakukan ke setiap cewek?" Tanya Via ke Gerry lalu mengambil kemeja Gerry yang ada sebelah nya.
"Nggak semua harus begini Vi. Gue akuin gue suka. Tapi gue lebih memilih persahabatan kita ketimbang perasaan." Jawab Gerry yang mengenakan celananya.
"Lantas? Kenapa kemarin harus marah?" Balas Via yang membuka lembaran pahit itu.
"Vi, kemari kita sama - sama panas, emosi, sama seperti tindakan kita saat ini. Nyesel? Gerry pun menyesal saat harus bertengkar dengan Via." Jawab Gerry yang membersihkan diri dari bekas ciuman Via.
Melihat Gerry membersihkan diri, Via pun ikutan membersihkan dirinya dari sisa - sisa bibir Gerry. Perasaan bersalah pun menyelimuti Via, dikala seperti ini malah mengkhianati Yudha.
Malam pun berlalu, Yudha berkali - kali menghubungi Via namun tidak ada jawaban. Perasaan bingung dan khawatir terus menghantui Yudha.
Drrrrrrrtttt....
Via: Via lagi beresin masalah dengan Gerry. Maaf, kalau Via telat respond.
Yudha: Oh, kalian berdua tidak apa - apakan?
Via: Nggak, kita bertiga sudah berdamai kok.
Yudha: Good lah. Setidaknya kalian masih bersahabat.
Via: Iyah, thank you!
Via melihat Gerry yang disebelah nya sudah tertidur karena kelelahan. Hari ini sungguh melelahkan buat Via, Gerry dan Widia. Perjalanan pertemanan mereka di uji oleh Cinta, bukan karena harta dan tahta.
°
°
°
°
__ADS_1
°
Please like dan comment yah... 😍😍