
Via, Yudha, Widia serta Claudia akhirnya kembali ke apartment dengan keadaan emosi akibat ulah Gerry.
"Kepala Via pusing banget ini." Kata Via yang memegang kepalanya.
"Lebay deh. Nggak sampai kayak gitu juga bau kentut gue." Kata Gerry mulai sensitive dengan perkataan Via.
"KENYATAAAN" Kata Via meninggi akibat dibilang lebay.
Via mulai masuk ke kamar mandi seperti orang yang kehilangan keseimbangan. Semua bilang Via hanya terlalu berlebihan. Claudia, Widia dan Yudha sudah kembali normal.
Dodododododokkkk dodododododok....
Gerry kebelet untuk buang air kecil sementara Via masih dikamar mandi belum keluar dari tadi masuk.
"Duuuuuttthhh, cepetan apah! Gue kebelet ini." Teriak Gerry yang menahan pipis.
"Duuuuuuuth, cepetan onyooonn.." Teriak an kedua Gerry.
Sementara Via tidak menjawab apa - apa. Gerry mulai emosi dengan lebih kenceng. Yudha yang baru balik beli makanan melihat Gerry sudah mulai emosi.
"Ger.. Kenapa?" Tanya Yudh
a dan membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci melihat Via yang tergeletak dengan muka pucat.
Yudha langsung menggendong Via dan membawanya ke mobil. Sementara Gerry masih bengong dengan Yudha membawa Via.
Widia yang melihatnya langsung ikut ke rumah sakit. Claudia pun menyadarkan Gerry untuk segera ikut kerumah sakit menyusul Yudha dan Widia.
Sementara dirumah sakit Widia merasa bingung karena melihat Via. semua pemikiran buruk keluar.
"Duuuh, gimana ini!" Kata Widia dalam hati melihat Via masih di observasi.
Gerry dan Claudia pun menyusul melihat Via yang masih di ruangan emergency. Yudha pun ingin tahu kenapa Via seperti itu.
"Keluarga Novia Heidy yang mana?" Tanya Suster yang baru saja keluar dari ruangan observasi.
"Kami dok!" Teriak semua orang disitu.
"Baik, keluarga intinya?" Tanya Suster kembali.
"Kami berdua suster." Kata Widia dan di ikuti anggukan kepala dari Gerry.
"Baik, ikut saya kedalam." Kata suster dan seketika tangan Widia memegang lengan Gerry sangat kuat.
Ketika melihat Via yang masih menggunakan oksigen untuk bernafas. Widia kalut karena pikiran buruk sudah melingkupi kepalanya.
"Ibu Widia, tenang. Novia Heidy sangat kuat kok. Untung saja dia hanya pingsan akibat keracunan zat polusi udara." Kata Dokter yang menenangkan. Dengan ekspresi muka marah Widia melihat Gerry.
"Dok, apakah se fatal itu?" Tanya Gerry dengan detail.
"Novia Heidy sepertinya sedikit mengalami gangguan di pernafasan. Lalu mencium sesuatu bau yang ada bakterinya. Tenang, ini pasti bukan pertama buat dia. Kalau saya diagnosa." Kata Dokter yang memberi penjelasan. Di lain pihak Widia memaksa Gerry untuk jujur dengan dokter agar Via mendapatkan penanganan lebih baik.
__ADS_1
Setelah 30 menit, akhir nya Via dibawa ke ruangan kamar inap. Menunggu Via terbangun dari pingsan nya tersebut.
Well, Gerry, Claudia, Widia dan Yudha masih bingung dengan apa yang terjadi.
Semalaman mereka ada di rumah sakit dan akhirnya Via membuka matanya.
"Geeee... Bebiiiiih..." Tiba- tiba Via manggil lalu menangis.
"Kita disini piaaaa" Kata Widia bangun dari tidur.
"Via kok disini? Ayo pulaaang." Teriak Via yang udah nangis lihat infus dan kamar rumah sakit.
"Tunggu dokter visit yah. Abis itu kita pulang yah." Kata Widia mencoba menenangkan Via yang sudah panik melihat kamarnya.
"Udah kita pulang ajah. Mahal bayar runah sakit tauuuk." Bisik Via ke Widia dan ujung - ujung nya Via di toyor karena mencoba melawak.
"Tenang, Gerry yang bayar. Nggak usah pake asuransi travelling nya elu." Kata Widia sambil menatap penuh kemenangan.
"Kalau gitu Via gak ke Afrika dong?"Tanya Via yang melihat muka Gerry.
"Kan 3 hari lagi kita berangkat. Kita cuma nunggu Romi sih." Kata Gerry mencoba tenang.
"Romi?" Kata Via yang keheranan ada nama baru keluar dari mulut Gerry.
Gerry yang keceplosan mengenai Romi dan mendapat hadiah tatapan tajam dari Widia. Via masih memikirkan siapa itu Romi dan kenapa Via ada di rumah sakit.
"Bonjour, Nona Novia Heidy." Sapa Dokter saat visit ke kamar Via.
"Bonjour, Dok. Saya hari ini saya bisa pulang nggak?" Jawab Via dengan wajah ceria.
"Oh keracunan amoniak alami itu dok." Kata Via dan menatap muka Gerry.
Dokter pun sedikit bingung dengan pembicaraan Via. Sehingga membuat Via sedikit jahil.
"Saya keracunan kentut dok. Bisa kan di bayangkan berbahaya banget di sekap dalam ruangan sempit dan ada zat sampah terhirup."
Kata Via yang tidak ada filternya sambil tersenyum bahagia.
Sementara Widia, Claudia dan Yudha tertawa akibat omongan Via. Pembayaran rumah sakit akhirnya di tanggung oleh Gerry yang membuat tragedi di sini. Walaupun tragedi daripada di tahan akan membuat perut tidak baik.
Siang cerah banget di Paris. Dengan keinginan tahu yang besar akhirnya Via menggandeng Gerry seperti anak kecil. Gerry pun menikmati dan Claudia sedikit cemburu karena tatapan Gerry begitu lembut saat menatap Via.
"Jadi siapa itu Romi, Geyiii?" Kata Via semakin kepo.
"Kepo banget sih. Udah tanya sama bebih gih!" Kata Gerry yang bikin Via semakin kepo pengen tahu siapa Romi.
"Udah, kita mau dinner. Nggak usah bawel dan banyak perintah." Kata Gerry lagi memberikan perintah dan didengar sama Claudia.
Claudia yang melihat Via diperlakukan seperti itu sempat mulai emosi dengan status sahabat.
"Kan gue dah bilang Clau, jangan emosi dan cemburu." Kata Widia yang melihat Claudia yang marah dengan sikap nya Via.
"Kalian seperti itu semua?" Tanya Claudia ke Widia.
__ADS_1
"Iyah. Via, itu yang paling kepo. Jadi dia akan mencari tahu sampai dapat." Kata Widia memberitahukan Claudia.
"Dan bahkan buruk - burukpun bakalan Via tau." Kata Widia menutup pembicaraan serta mencari tempat duduk berdasarkan nama.
Widia duduk bersebelahan dengan Claudia dan Via juga Yudha di depan nya. Selang berapa lama ada seorang lelaki yang duduk di sebelah Widia. Seperti biasa Widia pun memperkenalkan lelaki tersebut ke yang lain.
"Bro and Sist. Kenalin ini bang Romi yang bikin kalian kepo. Terutama Via, seperti biasanya." Kata Widia yang memperkenalkan Romi ke yang lain.
"Gerry, bang." Sapa Gerry
"Claudia, bang." Sapa Claudia
"Yudha, bang." Sapa Yudha
"Novia Heidy, bang." Sapa Via dengan lengkap dan seperti biasa Via memasang benteng.
"Kenalin nama saya Romi Sullivan. Kerja di konsulat Indonesia di Dubai." Romi memperkenalkan diri.
Setelah memperkenalkan diri, lalu mereka semua duduk untuk makan malam di Louvre Museum. Via mulai tidak nyaman dengan obrolan dari tadi. Mulai gelisah dan entah mengapa ingin pulang.
Melihat gelagat seperti itu, Yudha memberanikan diri mengajak Via untuk jalan - jalan disekitar area.
"Yud, kalau mau langsung pulang ini kuncinya." Kata Widia yang memberikan kunci.
"Nggak, Wid. Mending elu bawa, gue cabs dulu." Bales Yudha dan menggandeng tangan Via.
Romi merasa aneh, dan menurut dia Via tidak sopan karena meninggalkan acara yang belum selesai. Gerry dan Widia sudah tau bakalan Via panik.
*Cabs bahasa slang dari Cabut/pergi.
"Kok, temen mu nggak sopan dek?" Kata Romi yang memotong daging steak di depan nya.
"Kasus khusus bang kalau Via." Jawab Widia yang masih memotong daging medium rare nya.
Claudia kali ini memesan baby octopus dengan pairing white wine. Claudia menikmati Liburan kali ini.
Yudha melihat Via yang masih berjalan dengan tanpa arah. Berjalan tidak sadar kalau Yudha ada di belakang Via yang terus melihat kearah air mancur.
"Happp." Yudha melingkarkan badan nya memeluk Via yang seperti orang berfikir keras.
"Eh, maaf." Kata Via yang melepaskan pelukan Yudha.
"Nggak baik, cewek cantik bengong." Kata Yudha memandang Via.
"Aku nggak bengong, cuma berfikir." Kata Via yang meyakinkan Yudha.
"Besok, kita terbang ke Afrika. Mending kita pulang yuk." Ajak Yudha yang di ikuti oleh Via dengan hati masih banyak menyimpan tanda tanya mengenai perasaan.
__ADS_1
*please like and comment yah. Lalu di vote juga yah. Thank you*