Journal Of Triplet 07

Journal Of Triplet 07
Season 3 : Golongan Darah O Rhesus Negative


__ADS_3

Selama Via berada di kamar ICU rumah sakit, selama itu juga Dewin sering mengunjungi Via tanpa ada yang mengetahui. Erick pun merasakan kesehatan nya mulai menurun, setiap malam Erick menatap wajah Via di layar telephone selulernya.


"I miss you sayang. Kamu yang kuat yah..." ujar Erick dalam hati hingga meneteskan air matanya.


Ben melihat sang ayah terus begini dan bunda tidak kunjung terbangun.Rasanya sudah frustasi ditambah ada banyak kejanggalan saat bunda menerima bantuan darah terakhir. Kehidupan bunda berubah normal namun tak kunjung bangun.


Via akhirnya dipindahkan ke rawat jalan, Erick meminta pihak rumah sakit untuk merawat nya di rumah. Namun Ben menolak nya karena kondisi Via bisa berubah sewaktu - waktu, dan penanganan medis lebih baik jika ada di rumah sakit.


Kamar VVIP tampak besar dan kosong, tangan Erick memegang tangan Via. Air matanya tidak pernah tidak turun.


"Tha, please bawa Via kembali. Gue tau elu kesepian, tapi Via masih banyak urusan yang harus diselesaikan." Ucap Erick tanpa sengaja keluar dari mulutnya.


Ben mendengar itu remuk lah hatinya, entah siapa yang ayah nya panggil. Lagi - lagi bunga Lilly pink di taruh sebelah Via. Erick pun mengucapkan terima kasih atas perhatian rumah sakit. Tidak bagi Ben yang penasaran.


"Papah Gerry, bunda itu penggemar bunga?" Tanya Ben penuh hati - hati dan selidik.


"Nggak, dia mana ada suka sama bunga. Nikah ajah minim bunga dia. Cuma bunga deposito bunda mu suka." Balas Gerry dengan penuh semangat.


"Emang kenapa Ben?" Tanya Widia yang menangkap kecurigaan Ben.


"Enggak mah, takutnya bunda alergi sama bunga yang di kirim." Jawab Ben ngasal dan berhasil membuat Widia merasakan hawa buruk.


"Bunga Lilly pink? Ayah mu kan yang kasih?" Cecar Widia membuat Ben sedikit gelagapan.


"Bukan Mah, itu dari rumah sakit. Aku cuma heran ajah." Balas Ben mencoba tenang.


Widia akhirnya tertawa mengingat Via sering berulah dengan jasa pelayanan jika tidak sesuai keinginan nya.


"Bunda mu VVIP guest. Jadi wajar kalau perlakuan nya sangat special. Ahk, lagi pula rumah sakit gak mau di complaint kalau bunda mu sadar." Ledek Widia mencoba menetralkan suasana.


"Jadi inget 25 tahun lalu, ditempat ini juga Via gak bangun. Bangun - bangun ketemu si Dyandra, kali ini ketemu siapa?" Tanya Dickson tiba - tiba menyela dan semua mata tertuju padanya.


Dyandra jadi inget kejadian waktu itu dan memeluk Dickson dengan erat.


"Tha, suruh Via balik. Kami merindukan nya, kasihan Erick sampe begini." Bisik Dyandra di kuping Via.

__ADS_1


Tidak lama dari bisikan itu Via muntah darah. Sesuatu hal yang mustahil bagi orang yang koma 3 bulan memuntahkan darah segar.


Dokter segera memeriksa Via dan melakukan scanning tubuh Via. Lalu ditemukan bahwa sistem peredaran darah Via tidak berjalan baik. Akhirnya Dewin memberikan darah nya lagi untuk Via.


...----------------...


Selama koma di rumah sakit, Via pun bertemu dengan Thata. Wajah Thata begitu sumingrah melihat Via.


"Tha, ia balik nih." Nada manja Via mewarnai ruangan tanpa waktu.


"Kamu belum saat nya kesini. Kamu selesaikan tugas mu." Kata Thata di ruang tanpa waktu.


"Lagi? Huh, aku sudah merindukan mu." Rengek Via yang mulai memekakan telinga.


"Kamu punya keluarga, ada bebih dan ayank. Apakah kamu tega melihat mereka menangisi mu?" Tanya Thata saat menatap muka Via.


Dengan langkah gontai roh Via berjalan ke arah tubuhnya. Namun Via melihat dengan jelas ada Dewin yang menaruh bunga Lilly pink.


"Selesaikan, setidak nya kamu tidak menaruh dendam pada nya." Kata Thata yang berada disamping nya.


"Buat apa? Bukan kah dia ..." Isak Via yang masih belum bisa memaafkan Dewin.


Sejenak Via melihat Dewin yang terus memandang nya dengan penuh arti dan kelembutan.


"Didalam tubuh mu ada darah Dewin yang mengalir, kamu harus berterima kasih pada nya. Kamu tidak tahu kan, kalau Dewin lah si Mr Do do sol sol la la sol." Kata Thata mengingatkan sejumlah ke janggalan hidup Via selama ini.


"Nggak, tapi aku merasakan. Karena hanya Dewin yang selalu memainkan lagu itu." Jawab Via sedikit tersenyum.


Sejak percakapan Thata dan Via, keadaan badan Via mulai merespon apa yang diberikan dokter secara significant. Erick mulai optimistic kalau Via akan segera sembuh.


"Hanya keajaiban jika ibu Via lolos dari maut kali ini." Kata Dokter berupaya semampunya kepada Erick saat menemui Via dalam kunjungan rutin.


Wajah Ben sedikit memberikan senyuman, hati Ben terkoyak oleh omongan dokter. Sementara Shasha fokus untuk kuliah agar tidak terlantar. Ben yang mengambil alih kerjaan Via bersama dengan Widia, Claudia, dan Dyandra. Mengembangkan business menjadi perusahaan menuju besar.


"Ben, kamu gak istirahat?" Tanya Claudia saat melihat Ben duduk depan komputernya.

__ADS_1


"Mamah Clau nggak pulan?" Tanya balik Ben saat bertemu mata dengan Claudia.


"Sudah di jemput sama papah Gerry. Jaga kesehatan mu yah nak." Nasihat Claudia saat keluar dari kantor mereka.


Mata Ben terpejam mengingat hampir setengah tahun Via tertidur pulas. Ben berfikir mungkin ini membuat Bunda bisa beristirahat.


Sambil memainkan pulpen baru yang dikasih oleh salah satu provider telephone seluler. Ben membuka buku - buku Via. Ben menemuka buku journal Via yang biasa ditulis Via agar tidak lupa.


*Dear saya di kemudian hari.


Saya mau kasih tau kamu, bahwa kamu adalah permpuan terhebat yang bisa kamu lakukan.


Meskipun perjuangan mu berat, tetapi kamu kuat menjalaninya. Serta bukan hal yang tidak mungkin untuk sukses. Kamu pasti bisa asal mau kerja keras atas semuanya.


Tertanda Via di masa lalu yang banyak gagal nya*


Ben menitikan air mata setelah membaca buku journal Via. Ben mulai menelisik siapa sebenarnya pria yang ada di journal Via. Selain ayah nya, ibunya, kakak beradik, dan teman - teman nya.


Semakin hari semakin penasaran dengan apa yang Via tulis. Karena tidak mungkin itu ayah nya, secara Erick tidak pernah membuat Via menangis kecuali melahirkan.


Gubraaakkk...


Ben menabrak pria tinggi sepantaran umur ayah nya. Wajah pria itu memberikan senyuman dan meminta maaf atas kejadian tadi.


"Maaf, seharus nya saya yang harus nya meminta maaf." Ujar Ben seraya membersihkan kopi yang tumpah. Hidung Ben seperti anjing pelacak menemukan sesuatu yang sangat familiar.


"Tidak, saya juga yang lengah saat jalan tadi." Jawab Dewin membersihkan kopi yang tumpah akibat tabrakan tadi.


"Hmn, baik lah. Tetapi izinkan saya meneraktir anda dengan kopi baru menggantikan kopi yang tumpah." Balas Ben yang berjalan menuju kasir kopi ternama.


Saat sedang mengantri untuk membeli 2 gelas kopi tersebut. Ben memesan Fraffuchino extra karamel, variant yang selalu Via minum tanpa lepas.


°


°

__ADS_1


°


Terima kasih, yuk dukung cerita ini untuk comment, like, share serta vote.


__ADS_2